
"Pak Abra minggu lalu kecelakaan di studio. Bahunya retak gara-gara gantiin aku tertimpa besi," terang Shasa.
"Ngak gitu Sha," tolak Abra pelan.
"Iya, bener!"
"Sha."
"Udah ah!" Shasa merengut.
Abra diam sejenak, berusaha mencari topik lain yang tidak membuat gadis itu emosi. "Sha, aku bisa jalan sendiri ke kantorku kamu gak usah khawatir. Kamu berangkat aja ke kantor ya?"
"Enggak, entar tangan Kakak ke senggol lagi."
Kakak? Ini mereka hubungannya apa sih? Shasa katanya gak punya kakak, tapi juga sudah punya pacar. Kakak bukan, pacar bukan. Jadi mereka apa? TTM? Teman Tapi ... Mesra? Kelihatannya ....
Raven melihat mereka berdua berbantah-bantahan sebelum akhirnya gadis itu mengantar pria itu masuk ke dalam gedung stasiun TV itu. Gadis itu mengekor di belakang. Raven melihat lucu pada tingkah Shasa.
Aku penasaran, pacar Shasa seperti apalagi orangnya, Raven tersenyum membayangkan. Tak lama Shasa kembali. Raven kemudian mengantar Shasa ke kantornya.
Di jalan, pemuda itu senyum-senyum sendiri membuat Shasa penasaran.
"Apa?"
"Lo berdua kelihatannya dekat."
Shasa tak menyahut.
"Gimana kenalnya?"
"Pekerjaan."
"Terus?"
"Apa sih?" Shasa terpaksa menoleh.
"Kok kayak deket."
"Iklan," jawab gadis itu kembali memandang lurus ke depan.
"Hah?"
Shasa terlihat kesal. "Ck, apa sih? Mau tau aja deh!" Namun kemudian dia bercerita. "Aku kerja di perusahaan iklan dan Pak Abra datang minta dibuatkan iklan untuk TVnya tapi kemudian ada klien lain yang melihat dia dan minta dia jadi bintang iklannya."
"Oh, lalu?"
Shasa menoleh. Bagian ini ia malas ceritakan. "Terus dia mau, asal aku pasangannya."
Raven menoleh sebentar pada Shasa. "Berarti itu bukan pertemuan pertama dong?"
"Iya sih."
"Lalu kapan?"
Shasa menoleh lagi dengan mengerut kening. "Mau tau banget urusan orang!"
Raven tertawa.
Mobil akhirnya sampai di kantor Shasa. Kedatangan mobil itu berbarengan dengan mobil Bima yang lebih dulu datang. Shasa turun dari mobil.
"Pak!"
"Oh, Shasa." Bima menoleh. Ia bingung melihat Shasa yang turun dari mobil yang tidak dikenalnya. "Kamu dengan siapa Sha?"
"Oh, tetangga."
Di luar dugaan, Raven kembali turun, membuat kesal gadis itu. "Kenalkan saya Raven. Bapak pasti bosnya Shasa." Ia menyodorkan tangan.
__ADS_1
Walaupun kelihatan aneh, seorang tetangga ikut datang dan berkenalan, Bima tetap dengan ramah menyambutnya karena pemuda itu tetangga Shasa yang dengan rela mengantar gadis itu ke kantor. "Bima. Saya bos dan pacar Shasa."
Raven terkejut. "Oh, kamu pacarnya?" Ia hampir tak percaya. Bima bukan tidak ganteng tapi terlalu tua untuk Shasa. Begitulah kesan pertama saat Raven melihatnya. Apa gak salah?
"Iya."
"Sudah ya?" Secara halus, Shasa mengusir Raven.
"Oh, i-iya."
"Oya Sha, iklan kamu sudah selesai tuh! Honornya sudah ditransfer ke rekening kamu. Selamat ya, sebentar lagi iklannya bakal tayang di TV."
"Wah ... aku bukan artis tapi penasaran juga sih Pak, mau lihat iklannya."
Bima tersenyum. Mereka berdua masuk ke dalam kantor tanpa mempedulikan Raven. Pemuda itu masih belum percaya dengan penglihatannya. Shasa pacaran dengan pria itu? Yang benar saja! Bagaimana ceritanya?
Raven pulang kembali ke kos-kosannya. Ia membawa keluar dari mobil, bungkusan yang berisi sarapan pagi yang dibeli Shasa untuknya. Ia makan di kamar. Sambil makan, ia terus saja memikirkan pertemuannya dengan Shasa dan orang-orang di sekeliling gadis itu. Hidupnya kembali baru.
Sudah lama ia merindukan adiknya. Seseorang yang selalu ia ganggu ketika masih bersama. Seolah dengan kehadiran Shasa, ia bisa melepas rindu dan ingin melakukan apa yang belum sempat ia lakukan pada adiknya, lewat diri gadis itu. Ia tidak merasa sendirian lagi. Hidupnya kembali berwarna.
---------+++--------
Raven kembali tertawa mendengar candaan temannya itu bersama teman-temannya yang lain ketika Rika masuk ke kantin itu bersama kedua temannya. Keduanya pura-pura tidak tidak saling melihat dan sibuk dengan teman mereka masing-masing.
Vania melirik Raven sembunyi-sembunyi dari meja mereka. "Ka, lo gak pernah dihubungin Raven lagi?" bisiknya pada Rika.
"Mmh? Udah gue tolak cintanya, gak bakal berani dia deketin aku lagi," Rika berbohong.
"Mmh? Yakin? Gimana caranya?" Jeslyn yang baru menyeruput jus jeruknya dari sedotan, mendekatkan diri penasaran.
"Ada deh!"
"Ah, pelit deh ...." Vania merengut.
Sementara teman-teman Raven juga melihat ke arah Rika dan teman-temannya.
"Ven, lo kok udah kendor aja ngejar dia?" Teman Raven di samping menyenggol bahunya.
Temannya menepuk tangan. "Siapa nih? Anak mana?"
Yang lain juga ikut mendengar.
"Ada deh. Kalo yang ini gue gak mau share(bagi informasi)."
Teman di samping Raven itu kesal hingga mendorong bahunya. "Ah, brengsek lu! Tumben lu gak mau bagi cerita. Istimewa banget tuh cewek. Penasaran gue."
Raven tertawa.
Berbeda dengan Rika dan teman-temannya yang berbicara sambil berbisik. Raven dan teman-temannya berbicara cukup jelas hingga terdengar ke meja Rika. Telinga gadis itu sedikit panas mendengar perkataan Raven. Setelah apa yang telah mereka lakukan bersama, begitu mudahnya pemuda itu melupakannya. Ia bahkan sudah mendapatkan penggantinya.
Sebenarnya Rika tak begitu ingat apa yang telah mereka lakukan berdua tapi ia sangat yakin ia telah menyerah keperawanannya pada Raven entah dengan cara pria itu merayunya atau ia yang menyerahkan dirinya, hingga ia sangat kesal mendengar Raven sudah punya pengganti. Ia juga salah dengan mudahnya menyerahkan diri pada pemuda yang baru dikenalnya saat mabuk. Itu hal terbodoh yang pernah ia lakukan.
Sementara Raven, ia berharap tak harus berhadapan dengan Rika lagi mengingat kejadian di kamarnya waktu itu. Ia hanya ingin berganti-ganti pacar saja, tapi tak ingin melanjutkannya hingga ke hubungan ranjang.
--------+++--------
Shasa mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan. Abra masih sibuk dengan berkas-berkas dihadapannya hingga tak menyadari kedatangan gadis itu.
"Kak." Shasa berdiri di sisi pria itu sehingga pria itu langsung menoleh.
Abra terkejut. "Oh, cepat sekali kamu datang. Kamu gak ngetuk pintu?"
"Udah ...," ucap gadis itu dengan tawa berderai. Giginya yang kecil berderet rapi dan terlihat indah saat ia membuka mulut. Senyumnya menambah manis wajahnya. Seketika, pemandangan itu membuat Abra terasa sejuk setelah setengah harian suntuk hanya melihat berkas-berkas di atas meja.
Untuk beberapa detik ia terpana.
"Kak."
__ADS_1
Kalimat barusan, membawa Abra kembali ke dunia nyata. "Eh ...."
"Gak pulang?" Kali ini gadis itu tak lagi memaksa. Ia menunggu reaksi Abra dengan tenang.
Abra mengusap wajah dan menyugar rambutnya ke belakang. "Aku lagi banyak kerjaan. Boleh gak aku agak lama pulangnya?" Ia coba meminta izin.
"Banyak banget ya?" Shasa pun iba.
"Maaf aku agak sedikit lama menahan kamu di sini. Gak papa?"
"Ya udah." Shasa mengiyakan. "Tapi Kakak udah makan belum?"
"Itu nanti saja, aku lagi banyak yang mau diperiksa ini. Ada budget yang ...."
"Sssttt!" Gadis itu meletakkan jari telunjuknya di depan mulut. "Ma-kan."
Sepertinya soal itu tak bisa ditawar lagi. Abra terpaksa menurut. Shasa memesan makanan via online dan kemudian mereka makan bersama. Abra sedikit lama makannya karena ia sibuk melihat berkas-berkas. Terpaksa sambil makan Shasa menyuapi Abra.
"Aku bisa sendiri Sha," protes Abra.
"Tapi dari tadi makannya ngak maju-maju," jawab Shasa kesal. "Udah, makan aja kenapa sih?"
Abra menatap kedua bola mata gadis itu yang mulai marah. Sepertinya ia lebih baik menurut saja daripada kejadian gadis itu menangis seperti kemarin itu terjadi lagi. Sudah untung hari ini gadis itu mau bersabar menunggu, kalau tidak, bakal ada drama perang Dunia Ketiga lagi, dan itu akan memusingkan kepalanya. Hah ... Sabar Abra, sabar.
Setelah makan malam, Abra memutuskan untuk pulang karena matanya yang mulai lelah dan ia tidak ingin Shasa pulang terlalu malam.
Setibanya di apartemen, Shasa melakukan tugasnya seperti biasa hingga akhirnya ia selesai memakaikan Abra baju kaos sebelum tidur. Gadis itu diam sejenak menatap pria di depannya.
"Ada apa?" tanya Abra hati-hati. Ia melihat pandangan Shasa sedikit berbeda malam itu.
Gadis itu mengeluarkan kartu hitam milik Abra. "Aku ingin mengembalikan ini." Kemudian ia menyodori kartu itu sambil memandang pria itu dengan tersenyum. "Apa kau bisa mencari suster lain atau teman yang bisa memasangkan perbanmu sebab aku akan dilamar Bima dan aku ...."
Abra segera menggenggam tangan gadis itu. "Tidak." Aku egois tapi aku tidak peduli. Selagi aku sakit, aku ingin bersamanya. Dimanjakannya sebelum Bima mengambil yang menjadi miliknya. Saat ini dia milikku. Aku kan tidak minta banyak, hanya memasangkan dan melepas perban dan di saat lain memandanginya. Toh, Ayah sudah membayar biaya perawatanku, aku wajib menagih jasanya kan? Iya kan? KATAKAN aku tak salah!
"Kak ...."
"A-aku janji aku akan menuruti semua saranmu, semua permintaanmu tapi tolong bantu aku beberapa minggu lagi. A-aku sedang sibuk-sibuknya Shasa, dengan pekerjaanku. Mana sempat aku mencari suster atau orang untuk membantuku. Minta tolong Kak Kevin, tidak bisa, apalagi ibu tiriku. Semua anggota keluargaku orang sibuk. Tolonglah kau berbaik hatilah untukku. Please, aku mohon. Cuma kamu tempat aku memohon bantuan. Lagipula pacarmu tau kan dan dia gak marah, terus kenapa tidak diteruskan saja?" Abra mencoba membujuknya.
Shasa menghela napas. Ia tidak ingin mendua tapi kalau terus bertemu Abra besar kemungkinan ia tidak bisa memilih salah satunya. Ia ingin berpisah dari Abra agar pikirannya tenang dan fokus dengan Bima saja karena belakang ia mulai sadar, ada sisi emosional setiap kali bertemu Abra dan ia takut perasaan ini berubah menjadi sesuatu yang tidak diharapkannya. Suatu perasaan baru yang tumbuh yang tidak semestinya, dan pada akhirnya ia tidak bisa menghentikannya. Sebelum itu terjadi ia harus sudah menghentikannya tapi bagaimana caranya bila Abra sudah meminta seperti ini? "Kak."
Abra makin mengeratkan genggamannya dan Shasa baru sadar bahwa sedari tadi pria itu sedang menggenggam tangannya. Ia kemudian mencoba melepaskan tangan dengan melibatkan tangannya yang satu lagi untuk membukakan jemari Abra yang sedang menggenggam tangannya.
Abra panik dan segera menurunkan tawarannya. "Dua minggu saja, aku minta dua minggu! Mudah-mudahan bahuku cepat sembuh," ucapnya cepat.
Shasa menatap pria itu dan kembali menghela napas.
"Aku mohon Sha, aku mohon." Jangan pergi dariku karena aku belum mampu. Aku mohon. Abra menundukkan kepalanya.
"Ya sudah," jawab Shasa pelan.
Kepalanya seperti dialiri air pegunungan yang sejuk, Abra terlonjak dari duduknya. Saking senangnya ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan ....
Cup!
Ia mencium kening Shasa.
"Eh?"
____________________________________________
Bagaimana dengan novel author yang satu ini?
Namaku Husna Almaida, yang lebih akrabnya di panggil Alma. Menjadi seorang Ibu adalah impian setiap para wanita, tapi bagaimana jika Allah belum berkehendak untuk itu semua??
Aku menikah dengan seorang Manager, dan di dalam pernikahan kami yang sudah berjalan dua tahun, aku belum kunjung hamil hingga suamiku memilih berselingkuh demi mempunyai keturunan.
Hati wanita mana yang tidak sakit, saat melihat suami sendiri bercinta dengan wanita lain di ranjang yang biasa aku gunakan saat melakukan hubungan dengan suamiku. Akankah aku bisa memaafkan suamiku atas segala kesalahannya? Atau aku lebih memilih bercerai dan hidup menjanda?
__ADS_1
Simak kelanjutannya berikut !!!