
Sebentar kemudian, Shasa menggeser menjauh.
"Mau ke mana Sayang? Aku masih ingin memelukmu."
"Sekarang jam berapa sih? Kok aku lapar?"
"Setengah satu." Abra melihat jam di atas meja nakas.
"Mmh, pantesan. Aku mau mandi, mau sholat. Jangan ngintip ya?" Gadis itu menyorot Abra sambil menarik selimut menutupi tubuhnya hingga ketiak. Rambutnya yang sedikit basah karena keringat itu berantakan tapi malah terlihat seksi apalagi bahunya terbuka sehingga terlihat lekuk lehernya yang indah.
Pria itu tersenyum lebar. "Aku gak boleh minta lagi nih?" bujuk Abra. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu saat gadis itu menelungkup ke bawah memunguti bajunya di lantai. Punggung polos gadis itu terlihat jelas tanpa gadis itu sadari. Abra menyentuhnya lembut dengan ujung jari telunjuknya.
"Ah, Kakak ...." Ia membalikkan tubuhnya karena geli.
Abra tertawa. "Kan kelihatan, jadi pengen lagi."
"Aku mau mandi, mau sholat," ucap gadis itu cemberut.
"Iya, iya Sayang, iya."
Shasa mengenakan pakaiannya. "Aku sudah lapar."
"Aku juga Sayang."
"Aku mau mandi."
"Ambil saja handuknya di lemari."
Gadis itu mengambil handuk dari lemari yang di tunjuk Abra, kemudian ia melangkah ke kamar mandi. Tak lama ia keluar dengan handuk di kepala dan pakaian yang sama.
"Ngak ada hair dryer ya?"
"Ngak punya Sayang." Abra beranjak berdiri dengan menutup setengah tubuhnya dengan selimut dan menghampiri lemari. Ia mengambil handuk, dan kemudian ia mengganti selimut itu dengan handuk dan melilitkannya di sekitar pinggang. Ia meletakkan selimut itu kembali ke atas tempat tidur. "Aku mandi dulu ya Sayang. Mau sholat bareng gak?"
"Mmh." Shasa memungut baju Abra yang berserakan di lantai dan memasukkannya di keranjang kain kotor.
Tak butuh waktu lama, Abra keluar dengan masih memakai handuk. Rambutnya nampak basah. Ia segera mengganti handuk itu dengan pakaian kantor yang ia ambil dari lemari. Sebentar kemudian ia telah memakai sarung untuk sholat. Pria itu mengeringkan rambut seadanya dengan handuk.
Shasa yang telah memakai mukena, mendatangi suaminya yang duduk di tepian tempat tidur. Ia membantu mengeringkan rambut pria itu dengan handuk. Abra senang. Diperhatikannya istrinya yang sedang berada di hadapan dan mencoba melingkarkan tangannya di pinggang ramping gadis itu. Ia menarik tubuh gadis itu mendekat.
"Eh, udah!" teriak gadis itu menepuk bahu suaminya yang mulai menjahilinya dengan hampir membuatnya jatuh dalam dekapan.
Abra tertawa. "Ayo."
Shasa yang beruntung masih menyimpan mukenanya di kamar sebelah, segera bersiap-siap. Abra berdiri di atas sajadah yang sudah disiapkan istrinya di depan dan Shasa di belakang. Mereka kemudian sholat bersama.
Seusai sholat, Shasa memesan makanan online. Abra bermain-main dengan rambut istrinya yang panjang yang masih setengah basah.
"Sudah di pesan Kak."
"Kok Kak sih? Mas dong!"
Gadis itu menoleh pada suaminya dan tersenyum lebar. "Mmh, Mas." Ia mendongakkan kepalanya manja.
Abra menarik dagu istrinya mendekat dan mengecupnya. "Mmh, Mas jadi makin sayang sama kamu." Pria itu mencubit dagu istrinya.
Gadis itu masih menampakkan senyumnya. "Nanti kita kerja kan?"
__ADS_1
"Iya tapi santai aja. Kamu kan bosnya lagi di rumah sakit. Sebisa mungkin mengumpulkan data dari karyawan yang masuk dan laporannya langsung ke aku aja ya?"
"Ok."
"Terus, jangan cerita-cerita ke siapapun tentang pernikahan kita."
"Mmh."
"Untuk sementara kamu tinggal di kos-kosan kamu dulu ya Sayang."
"Kok?" Dahi gadis itu berkerut.
"Ya, biar gak ada yang curiga."
"Ya, tapi kan kita sudah menikah," protes gadis itu.
"Sabar ya, nanti akan ada saatnya kita bersama."
Tak lama makanan datang. Abra mengambilnya di lantai bawah karena rambut istrinya masih basah. Ia mengambil langsung keluar gedung karena pengantar makanannya masih berada di motor. "Makasih ya?" Ia mengambil bungkusan yang disodorkan.
Tanpa disadari, sepasang mata tengah memperhatikannya dari sebuah mobil yang terparkir di dekat situ. Bahkan sebenarnya Abra sudah dibuntuti dari rumah sakit hingga ke apartemen. Sepasang mata yang kecewa, sepasang mata yang sedang patah hati. Matanya sudah berkaca-kaca sejak sampai di tempat itu dan kini air matanya mengalir seiring ia melihat Abra turun mengambil makanan pesanannya. Dilihatnya terus pria itu hingga kembali masuk ke dalam gedung.
Ia memukul stir mobil dengan lengannya karena kesal. Damar merasa kecolongan dengan Shasa menikah tiba-tiba dengan pria itu. Pria yang bernama Abra itu, seharusnya juga ia curigai tapi tidak. Ia malah mencurigai Kevin karena selalu dekat dengan gadis itu padahal ia tahu, gadis itu sering ke apartemen itu tapi ia percaya saja waktu gadis itu bilang ia tak punya hubungan apa-apa dengan pria itu. Hanya sebatas teman kerja, dan sekarang, ia melihat sendiri Abra menggandeng Shasa datang ke rumah sakit mengaku telah menikah dengan Shasa, sepupunya itu.
Ia merasa geram, ia merasa dibohongi oleh Shasa.
Waktu mendengar Bima dan Kevin kecelakaan dan menyebabkan keduanya mengalami lumpuh dan koma, ia merasa di atas angin. Merasa jalan untuk mendekati sepupunya itu terbuka lebar hingga papa bercerita bahwa Rika dan Shasa akan menikah berbarengan dan itu membuatnya syok. Gadis itu, kenapa cepat sekali mendapat penggantinya? Atau selama ini ia tak tahu, dengan siapa sebenarnya sepupunya itu sedang dekat.
Ya, tentu saja. Ia hampir jarang bertemu dengan sepupunya itu sejak tidak tinggal serumah. Sulit untuknya mengetahui kabar tentang Shasa kecuali dari mulut gadis itu sendiri atau ia menyempatkan diri memata-matainya seperti sekarang ini tapi sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, gadis itu sudah menikah dengan pria bernama Abra dan ia sudah terlambat untuk mencegahnya.
Pria itu menghapus air matanya. Baru kali ini ia merasakan sakit ditinggal Shasa menikah dengan orang lain. Ia tak terima, tapi mau bagaimana. Segalanya telah terjadi sebelum ia sempat mencegahnya.
Di dalam apartemen, Abra menatap istrinya yang sedang mengoles pizza dengan sambal.
"Apa?" Shasa menyadarinya.
"Boleh tanya gak?"
"Mmh?" Shasa meliriknya seraya membulatkan mata.
"Berarti Bima sudah selingkuhin kamu lama ya?"
Shasa cemberut.
"Eh, aku kan tanya. Dari pada aku tanya ke orang lain kan? Apa kamu tahu?" Abra bertanya hati-hati.
Dalam cemberutnya Shasa menjawab. "Aku gak tau. Setahuku Kak Bima udah lama gak ketemu Kak Rika. Disuruh ketemu aja dia gak mau jadi gak mungkin dia selingkuh waktu sama aku. Kayaknya mungkin kejadiannya waktu sebelum jadian sama aku deh. Karena itu, mungkin dia marah banget saat Kak Rika nyuruh dia pacaran sama aku."
"Nyuruh pacaran?"
Shasa akhirnya membongkar cerita yang sebenarnya. "Apa kamu gak tau, waktu itu Kak Rika naksir kamu? Padahal waktu itu Bima lagi ngejar-ngejar Kak Rika."
"Oh ... begitu, tapi kenapa kamu beneran pacaran sama Bima?"
"Bimanya yang mau. Aku juga tadinya gak yakin sampai dia akhirnya melamarku."
Abra tertawa pelan. "Aneh juga, tapi yang namanya rencana manusia pasti ujung-ujungnya kesandung sama rencana Tuhan. Karena itu manusia diminta selalu berdoa agar rencananya diridhoi oleh Allah. Seperti rencanaku terhadapmu." Ia menatap lembut pada istrinya.
__ADS_1
Gadis itu tersipu-sipu. "Apa kamu nggak merasa terlalu berlebihan memujiku Mas. Aku gak sekolah tinggi, gak cantik, dan gak bisa apa-apa," ucapnya seraya menunduk.
"Justru itu hebatnya kamu. Kamu tidak punya semua yang kamu sebutkan itu saja, kamu mampu memikatku, apalagi kalo kamu jadi sesuatu. Kamu adalah berlian seperti yang ada di cincinmu itu yang hanya perlu diasah lagi hingga kamu semakin bersinar."
Shasa melirik cincin nikah di jari manisnya.
"Aku lihat kamu sangat sabar dengan klien sehingga banyak yang betah bekerja sama denganmu apalagi aku dengar kamu telah berani merubah divisi marketing semakin hidup dan semangat bekerja. Aku mengharapkanmu seperti juga Ommu agar kamu mau segera kuliah sehingga kamu punya modal untuk memajukan perusahaan."
"Apa aku seperti itu?" tanya Shasa tak percaya.
"Makanya kuliah, agar pengetahuanmu bertambah," ucap pria itu sambil tersenyum.
Shasa menyuap pizzanya.
"Eh, satu lagi. Apa Raven kenal Rika?"
"Tidak, tapi dia kenal Damar, Kakak Kak Rika."
"Damar?" Abra mengenyit dahi. Ia mengingat seorang pria muda yang berada di rumah sakit itu waktu itu. "Oh pria itu ...."
"Iya." Gadis itu masih mengunyah makanannya.
"Tapi benar, Raven ngak kenal Rika?"
"Seingatku aku pernah cerita tentang Kak Rika tapi Raven belum pernah bertemu langsung dengannya."
"Oh, begitu."
Setelah makan siang, Abra mengantar Shasa ke kos-kosannya untuk berganti pakaian kantor dan setelah itu mereka langsung kembali ke kantor. Mereka menempati kantor mereka masing-masing. Gadis itu melakukan tugasnya seperti yang diminta suaminya dan melapor pada pria itu. Sekitar jam lima sore Shasa pulang dan Abra masih melanjutkan pekerjaannya hingga larut malam.
Handphone Shasa berdering tepat saat ia memutuskan untuk tidur karena suaminya belum juga meneleponnya. Dari Abra.
"Halo."
"Sayang, kamu sedang apa?"
"Di tempat tidur."
"Mmh, seandainya aku di sana ...." Pria itu menghela napas.
Shasa malah tertawa. "Salah sendiri. Maunya begitu ya udah, diturutin."
"Jangan begitu dong Sayang, aku rindu ingin peluk istriku."
"Padahal aku mau lho, ngelayanin kamu malam ini," goda Shasa.
"Sayang, jangan begitu. Aku jadi pengen," rengek Abra, pusing kepala.
Shasa makin tak bisa menahan tawanya. "Apa besok aku beli lingerie(pakaian dalam) yang seksi aja ya?" Makin hebat saja godaan yang datang dari gadis itu sehingga pria itu terdiam. "Sayang?"
Tak terdengar apa-apa dari ujung sana.
"Mas?"
"Kamu kok jahat gitu sih sama Mas?"
Shasa kembali tertawa. "Sudah ah, sudah malam." Ia menyelesaikan tawanya. "Selamat malam suamiku." Ia menutup teleponnya dengan ledekan. Ia pun masih tersenyum saat menyusup masuk selimutnya.
__ADS_1
Belum lama ia memejamkan matanya terdengar ketukan di pintu. Shasa bangun dengan malasnya. Ia memakai jilbab instan dan mengomel. "Bang, ada apa sih malem-malem gini?" Ia mengintip sekilas pada jendela, ada seorang pria yang memunggunginya di depan pintu. Ia membuka pintu.
Pintu belum terbuka sepenuhnya, tiba-tiba pria itu langsung menyergap dan mendorongnya ke belakang. Ia tak bisa melihat karena pria itu memeluknya di dada. Yang pasti, pria itu lebih tinggi darinya. Dengan cepat pria itu mengunci pintu dalam keadaan masih memeluknya dan menariknya ke tempat tidur.