Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Dilamar 3


__ADS_3

"Shasa? Kamu sedang apa di sini?" Kevin pura-pura terkejut bertemu Shasa di sana.


"Pak Kevin?" Kenapa aku harus bertemu dengannya setiap saat sih? Hah!


"Aku janjian dengan teman, kamu?"


"Dengan Pak Abra." Gadis itu berbicara dengan gaya malas. Ia tak mau setelah ia memberi tahu Kevin, pria itu kembali menceramahinya.


"Oh, begitu. Boleh aku duduk di sini?" Kevin menunjuk kursi kosong di hadapan Shasa.


Gadis itu tak menjawab karena biar bagaimanapun Kevin kakak Abra dan atasannya. Dua hal yang sulit untuknya mengusir pria itu.


Toh, pria itu pada akhirnya duduk tanpa diminta. "Terima kasih." Ia mengeluarkan sebuah kotak cincin berwarna hitam dari sakunya.


Shasa sedikit was-was tapi Kevin tidak mengucapkan sepatah kata pun membuat gadis itu penasaran. "Itu punya siapa?" Akhirnya rasa ingin tahunya mengalahkan semuanya.


Kevin tersenyum nakal. Ia memang sengaja memancing Shasa untuk menanyakan soal kotak itu tanpa harus bersusah-payah menyodorkan dan gadis itu sudah masuk dalam perangkap Kevin. "Oh, ini cincin tunangan temanku. Dia memintaku membelikannya tapi dia tidak tahu ukuran jari calon istrinya. Ia meminta aku mencobakannya pada wanita yang berjari langsing untuk memastikan. Mungkin seperti jarimu itu barangkali, aku tidak tahu." Ia melirik jemari gadis itu.


"Cincin itu tidak bisa dibeli begitu saja Pak, harus disesuai dengan jari orang yang memakainya. Jari langsing tetap ada ukurannya, bisa saja tidak muat atau kebesaran karena jari tiap orang berbeda. Yang aman memang harus diukur dan dibuat sesuai ukurannya karena yang ada di penjual biasanya jarang yang sesuai dengan jari pembelinya."


Kevin pura-pura kecewa. "Ya, jadi yang aku beli kemungkinan tidak muat ya, atau kebesaran? Sayang, padahal aku sudah beli mahal-mahal." Ia terlihat sedih. Dibukanya kotak cincin itu dan terlihatlah sepasang cincin emas yang bertahtakan berlian kecil berwarna pink(merah muda).


"Tapi bisa kok nanti dikecilin atau dibesarkan atau dibuat lagi saja sesuai ukuran. Aku rasa mereka mau membuatkannya," terang Shasa lagi.


"Mmh ...." Kevin melirik Shasa. "Mumpung cincin ini ada padaku, bagaimana kalau kamu mencoba memakainya. Sekedar menghiburku. Mungkin saja cincin ini nanti tidak muat dengan pemiliknya," bujuk Kevin lagi.


"Ah, tidak. Cincin itu terlampau mewah." Gadis itu menggeleng.


"Ayolah, hibur aku." Kevin menarik tangan Shasa dan memasangnya di jari manis gadis itu tapi ternyata tidak muat. Hanya separuh jalan, cincin itu masuk, selebihnya tersendat, tapi Kevin sedikit memaksanya masuk lebih dalam.


Dengan cepat Shasa menarik jemarinya. "Sudah Pak, sudah tidak muat jangan dipaksakan nanti susah dibukanya. Lagi pula ini untuk teman Bapak."


"Oh, iya ya, aku lupa." Kevin pura-pura bingung, padahal dia menyeringai senang.


Shasa kini berusaha membuka cincin itu tapi ternyata susah. "Aduh Pak, kan sudah kubilang ...."


"Sini aku bantu." Kevin mencoba menarik jemari Shasa.


"Aduhh ... bagaimana ini ...." Shasa bingung melihatnya.


"Apa itu?" ucap Abra yang sedang melangkah mendatangi mereka.


Dengan serta merta Shasa menyembunyikan tangannya ke belakang punggung dan berdiri. Begitu pula Kevin yang ikut-ikutan berdiri menghadap Abra.


"Mmh ...." Shasa menoleh ke arah kevin yang pura-pura bingung.

__ADS_1


"Ayo katakan padaku, ada apa? Apa yang kau sembunyikan Shasa? Coba lihat?" Abra menyodorkan tangannya.


"Mmh ... itu. Aku mencoba cincin teman Kevin tapi kekecilan." Takut-takut Shasa memperlihatkan jemarinya. "Pak Kevin tadi memaksa memakaikannya."


Abra melihat jemari Shasa yang tidak muat memakai cincin emas bertahtakan berlian itu yang cukup cantik melingkar di jemarinya.


"Hei, jangan bohong! Kamu sendiri yang pakai, kamu salahkan aku memaksamu," Kevin memutar balikkan fakta.


Shasa syok. Ia merasa telah dijebak Kevin. "Kamu tadi membujukku untuk memakainya!" ucapnya kesal.


"Tidak. Sha, kenapa kamu tidak terus terang saja pada Abra. Kamu tadi kulamar, dan kamu menerimanya. Saat kau coba cincinnya, cincin itu ternyata kekecilan."


Shasa benar-benar marah mendengar kebohongan Kevin. "Pak, aku tidak serendah itu ya, menerima pinangan semua orang. Apa aku sudah gila, mendekati orang lain tapi juga menerima pinangan orang yang berbeda?"


"Mungkin," jawab Kevin sedikit sinis dan pura-pura marah.


Shasa menatap Abra dengan kesal. "Dan kamu juga tidak percaya padaku? Baik, kita sudahi saja semua ini!" Gadis itu segera angkat kaki dari situ.


"Hei, cincinku!" teriak Kevin.


Shasa berhenti dan berusaha melepas cincin itu tapi tak bisa. Air matanya sudah terlanjur jatuh.


Abra sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya adalah orang yang ia percaya takkan mungkin berkhianat padanya tapi kini ia menemui kenyataan lain. "Salah satu dari kalian pasti berbohong."


Kevin dan Shasa menoleh.


Orang-orang yang sedang makan di sana sudah sedari tadi melihat drama yang menghebohkan ini.


Shasa benar-benar kesal cincin itu tak juga lepas. "Baik, Pak Kevin. Aku akan kembalikan cincin ini. Pasti akan aku kembalikan! Ingat baik-baik, AKAN AKU KEMBALIKAN!!!" ucap Shasa dengan berurai air mata. "Aku akan resigned(mengundurkan diri dari perusahaan)." Gadis itu pun pergi.


Kevin terdiam.


Sebenarnya Abra merasa Shasa sudah berkata jujur walau alasannya tidak bisa ia percaya, apalagi Kevin sudah pernah memperingatkannya terlebih dahulu mengenai Shasa yang akan menerima lamarannya, karena itu Abra masih bimbang. Ia akan menyelidiki masalah ini sebelum memastikan siapa yang bersalah.


Padahal hari itu otaknya sudah kelelahan, ditambah persoalan Shasa dan Kevin yang rumit baginya. Ia yakin Shasa mencintainya tapi ia melihat sendiri Shasa mengambil cincin Kevin. Kenapa kalau Shasa mencintai dirinya tapi menerima pinangan Kevin? Bukankah gadis itu selalu menunjukkan pada dirinya bahwa gadis itu lebih memilih dirinya daripada Kevin? Sekarang, haruskah ia meragukannya?


Abra melirik Kevin yang terlihat bingung. Perasaannya meneriakkan untuk mengejar gadis itu tapi pada saat ia keluar gadis itu sudah tidak ada. Ia terlambat mengejarnya. Atau terlambat menyadari? Bila benar apa yang dikatakan gadis itu, berarti ia kini dalam masalah besar. Ia telah meragukan hatinya untuk sesaat dan hasilnya .... Abra mengusap wajahnya kasar.


Shasa pulang dengan taksi dan segera berlari masuk ke dalam kamar kos-kosannya setelah membuka kunci pintu.


"Sha, Shasa!"


Namun panggilan Raven tak diindahkan gadis itu. Raven yang curiga segera mengejar, tapi terlambat karena Shasa sudah masuk dan mengunci pintu.


Terdengar suara isak tangis Shasa yang menangis tersedu-sedu di dalam kamar. Raven tak tahu apa yang terjadi. Ia mencoba mengetuk-ngetuk pintu kamar gadis itu tapi tak didengarkan. Pintu kamarnya tetap terkunci dan pemuda itu tidak bisa masuk untuk menenangkannya. "Sha, Shasa. Ada apa? Ada apa denganmu?" Pemuda itu mengetuk-ngetuk pintu itu berulang kali, tapi percuma. Terpaksa Raven menunggu di depan pintu.

__ADS_1


Sementara itu Kevin yang baru saja membuat berantakan hubungan Abra dan Shasa malah tidak bahagia. Ia yang sedari awal tidak begitu yakin bisa memisahkan keduanya dengan siasat itu, merasa kecewa. Mungkin saja Abra dan Shasa berpisah tapi Shasa dengannya? Apakah akan ada cerita indah setelah keduanya benar-benar bubar dan tidak lagi bersama? Shasa sudah membencinya. Akibat kebohongan itu gadis itu juga berhenti dari pekerjaannya. Lalu apa yang ia dapatkan kini? Tidak ada. Ia mungkin akan dibenci Abra dan dijauhi Shasa, dan ia ... kembali sendirian.


Kevin membelokkan mobilnya ke sebuah hotel. Di sana ia pergi ke sebuah bar dan mulai mencoba minuman keras. Segelas telah ia coba dan rasanya tidak enak tapi entah kenapa ia memesan lagi minuman yang sama. Mungkin ... karena setelah meminumnya bebannya terasa ringan. Entahlah.


Tak lama ia merasa beban pikirannya menghilang entah ke mana. Ia begitu senang hingga langsung membayar minumannya dan berjalan pulang. Ia heran kenapa bartender-nya menawari mengantarnya pulang padahal ia hanya tidak bisa berjalan lurus saja, selebihnya ia waras. Terbukti ia bisa bernyanyi dan memanggil orang dengan suara keras. Ia mengaku akan naik taksi sehingga bartender itu tidak lagi cerewet mengurusnya pulang.


Kevin melenggang hingga ke lobi hotel tapi ia tak sengaja bertemu Bima.


Bima yang baru selesai bertemu klien terkejut melihat Kevin yang berjalan sempoyongan. Ia menghampiri. "Kevin!"


Kevin hanya menoleh sekilas lalu tetap melanjutkan langkahnya ke arah pintu hotel.


"Kevin, kau mabuk?" Bima meraih lengan pria itu.


Kevin menepisnya. "Apa sih? Berisik aja!" Kembali ia meneruskan langkahnya.


Bima mengikuti Kevin. Biar bagaimanapun jahatnya Kevin padanya, ia iba pada keadaan Kevin sekarang.


Pria itu sedang mabuk dan berbahaya untuk mengendarai mobil.


"Kevin, biar aku bantu mengantarmu ke rumah," bujuk Bima.


"Jangan sok suci kamu. Kamu ingin Shasa kembali padamu kan, dengan menjilatku. Heh, percuma!" Wajah Kevin tiba-tiba murung. "Ia sudah tidak memperdulikan aku lagi ...." Pria itu menunduk dan menangis. Kembali ia berjalan sempoyongan ke arah pintu.


Bima tak bicara. Ia masih mengikuti Kevin dari belakang.


Sesampainya di perparkiran Kevin mendekati mobilnya dan berusaha membuka pintu mobil dengan kunci mobil yang dimilikinya tapi ia tak sanggup membukanya. Bima segera merebut kunci itu dan membukanya tapi kemudian ia menarik Kevin mengitari mobil untuk masuk ke sisi yang satunya. Kevin hanya sedikit mengomel tapi kemudian mengikuti apa yang disuruh Bima. Bima sendiri mengambil alih dan duduk di kursi kemudi. Ia menjalankan mobil itu.


"Kevin, kau tinggal di mana?" tanya Bima.


"Untuk apa kamu tahu?" jawab pria itu ketus. "Kamu mau cerita ke semua orang bahwa karena akulah kau putus dengan Shasa, iya?" Kevin tertawa. "Shasa itu milikku, tidak ada yang boleh mendapatkannya selain aku. Kamu tidak punya bukti untuk mencemarkan nama baikku kan?" Kevin tersenyum lebar. "Tentu saja karena Rika takkan membocorkannya. Ia telah aku takut-takuti seakan benar dialah pelaku dari robohnya besi penyangga lampu yang menimpa Abra waktu itu. Padahal itu adalah ulahku." Kevin tertawa terbahak-bahak.


Bima terkejut sekaligus syok. Dengan mabuknya Kevin, ia malah membeberkan kejahatannya sendiri pada Bima.


"Lalu kenapa kamu mabuk, kalau sudah mendapatkan Shasa?"


"Mana mungkin aku bisa mendapatkannya, Shasa ternyata suka pada adikku sendiri, Abra!" teriak Kevin membuat bau alkohol seketika menguar dari mulutnya.


"Apa?"


"Iya, mereka saling jatuh cinta dan aku baru mengetahuinya belakangan. Betapa bodohnya aku kini ...." Raut wajah Kevin kembali sedih.


Bodoh ... aku juga bodoh. Kenapa aku tidak mengetahuinya? Pasti gara-gara iklan itu mereka makin dekat dan sekarang ... percuma saja aku menyesalinya, nasi sudah jadi bubur. Sha, apa kau bahagia bersamanya?


Tiba-tiba Kevin menyerang Bima dari samping dengan mencekik leher dengan kedua tangannya. "Pasti kamu mau balas dendam padaku kan? Ayo KATAKAN!!!" ucapnya marah dengan mata kemerahan.

__ADS_1


"Ah, apa maksudmu? Agh ... lepaskan!!!" Bima berusaha melepaskan diri dari cekikan Kevin seraya menyetir mobil tapi ia tidak bisa melakukan keduanya. Air matanya menggenang karena sulit bernapas, cekikan Kevin juga mengganggu konsentrasinya. Menyetir mobil atau ... Tiba-tiba is teringat pada Shasa. "Sha ...."


Brakk!!


__ADS_2