
"Ih, apaan sih? Jangan ngarang deh! Ngadu yang enggak-enggak!" Shasa melotot.
Tiba-tiba wajah gadis kecil itu berubah sedih. Kemudian berganti menangis. "Huaaaaaa ...."
"Eh, eh, eh ... ma-maaf. Maaf." Shasa malah bingung bagaimana cara mendiamkannya.
"Mama jahat! Huuu ...."
Orang-orang di sekitar menatap Shasa dengan pandangan aneh.
"Eh, kamu tuh ya ...." Shasa masih dalam keadaan bingung tapi ia tahu gadis kecil itu mengakalinya, menjadikannya ibu yang jahat.
"Ada apa ini?" Abra datang membawa makanan dan kebingungan. Juga Danisa.
"Pa, Mama jahaaat, hu hu huuu ...," adu Carol.
Abra malah tertawa. "Iya, cup, cup Sayang jangan menangis."
Danisa juga hanya bisa tersenyum lebar. Shasa lega, gadis kecil itu tidak mengatakan apapun pada Abra. Beberapa menit kemudian, gadis kecil itu asyik dengan burger dan kentang gorengnya. Abra hanya tersenyum melihat gadis kecil itu kembali ceria dan melirik Shasa yang masih dengan wajah kebingungan karena ulah anak itu.
"Jadi ternyata kamu belum lama juga ya di Jakarta?" tanya Denisa.
"Ya, kalau dihitung-hitung, baru sembilan bulan."
"Mmh ...." Denisa mengangguk-angguk. Ia melirik Shasa dan Abra. "Terus bagaimana kalian bisa jadi satu frame(syuting bersama) kalau awalnya kalian klien dan pegawai perusahaan iklan?"
Abra tertawa. "Di situlah uniknya. Aku tadinya datang ingin menyewa jasa mereka eh, tapi tiba-tiba ada klien lain yang melihat aku dan mengira aku bintang iklan."
"Oya? Tapi masuk akal sih." Danisa memindai wajah dan tubuh Abra.
"Nah, aku bercanda tuh. Aku bilang mau, asal sama Shasa, eh kliennya mau. Ditambah atasan Shasa mendukungnya. Jadilah kami bintang iklan berdua. Lucunya, iklan pertama sukses dan membuat kami berdua laku di jagad periklanan jadi ini iklan kami yang kedua."
"Oh, begitu. Hebat ya? Selamat untuk kalian berdua. Aku doakan kamu sukses terus Bra."
"Terima kasih ya? Kalau bukan karena dukunganmu, entah jadi apa aku sekarang." Abra menyuap kentang gorengnya.
"Tidak juga. Ini semua hasil kerja kerasmu. Kamu pantas mendapatkannya." Danisa menyentuh lengan Abra. "Kamu tuh pintar, sopan, dan selalu punya banyak ide cemerlang, hanya saja belum banyak yang melirikmu."
Abra menyentuh tangan Danisa yang sedang menggenggam lengannya. "Kalau bukan karena kamu, tidak ada yang mau melihatku, bahkan melirik kemampuanku. Aku bangga pernah bertemu kamu dalam hidupku."
Shasa menautkan alisnya. Apa ini mantan pacar Abra? Ia makin kesal saja melihat mereka berduaan bermesraan di depannya. Apa mereka mau balik lagi?
Si kecil Carol berdehem. "Kalian mantan pacar ya? Mau balikan lagi?" Entah kenapa Carol seperti bisa membaca pikiran Shasa dan mengatakannya.
Danisa dan Abra saling berpandangan lalu keduanya tertawa.
"Kami apa ya?" Danisa masih tertawa.
"Danisa itu penolongku," jawab Abra.
"Ah, bisa aja," jawab wanita itu merendah.
"Jadi tuh dulu Papa mukanya jelek," cerita Abra pada Carol.
"Masa?" Carol dan Shasa berucap berbarengan.
"Iya benar. Oh ya, aku masih menyimpan fotonya." Danisa mengeluarkan sebuah foto dalam dompetnya. "Ini."
Carol dan Shasa menatap foto yang diletakkan di atas meja. Sungguh, mereka hampir tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Sebuah foto dengan sepasang pelajar di dalamnya. Yang perempuan gampang dikenali karena wajahnya tidak jauh berubah sedang yang laki-laki wajahnya pucat, rambut berponi, dan berkacamata tebal.
"Ini Kak Abra?" tanya Shasa memastikan.
Abra menutup wajahnya malu. "Kenapa kamu masih menyimpan foto itu?" katanya pada Danisa sambil tertawa.
"Abra dulu adalah seorang kutu buku. Ke mana-mana selalu membawa buku. Murid paling pintar di sekolah. Sayang tidak ditunjang dengan penampilan."
"Biasa, anak Bunda. Dari kecil hingga dewasa dandanannya begitu aja, gak berubah. Mungkin karena terlalu fokus dengan buku dan tidak pernah peduli dengan penampilan, tapi di situlah letak salahnya. Di mana sebagian anak-anak yang baru puber mulai memikirkan penampilan dan aku tidak. Karena berbeda, aku di-bully oleh teman-teman sekolahku."
__ADS_1
"Aku awalnya kasihan padanya. Padahal orangnya ramah tapi tetap saja orang-orang memandangnya sebelah mata."
"Karena Danis berteman denganku, aku malah makin dimusuhi karena banyak yang naksir Danisa pada waktu itu, ditolaknya." Abra tertawa.
"Aku pada waktu itu serius belajar eh ketemu sama orang ajaib ini. Enak diajak diskusi sampai akhirnya aku bujuk untuk merubah penampilan dan ternyata ok. Malah lebih dari Ok. Abra sempat operasi mata dan aku ganti model rambutnya dan ternyata, yang naksir banyak karena saking gantengnya." Danisa tertawa.
"Tapi karena kita selalu bersama, orang menganggap kita jadian. Padahal ...."
Abra dan Danisa saling berpandangan kemudian kembali tertawa.
"Udah ah, jangan dipamerin lagi foto itu sama orang lain. Malu," ujar Abra sambil tertawa.
"Iya, iya." Danisa kembali menyimpan foto itu dalam dompetnya.
"Jadi Papa gak pacaran sama Tante itu?" tanya Carol memastikan.
"Sudahlah, ayo cepat makannya. Kita kan harus segera kembali ke studio." Abra mengusap pucuk kepala Carol.
"Mmh." Carol mengangguk.
Sementara Shasa masih bertanya-tanya dalam hati apa benar Abra tidak pernah pacaran dengan Danisa, tapi cukup mengejutkan juga hubungan pria itu dengan Danisa karena rasanya tidak mungkin hanya berteman saja karena mereka terlihat sangat akrab. Apa mungkin seorang wanita bisa hanya berteman saja dengan seorang pria?
Setelah makan siang mereka kembali ke tempat syuting. Kali ini mereka syuting adegan selanjutnya. Meletakkan makanan di atas meja. Makanan telah dibuat ulang dan di sajikan secantik mungkin.
"Nanti Carol dan Mas Abra akan melihat makanan ini begitu menggiurkan ya?" terang sutradara.
"Oh, ya ya."
Carol hanya memperhatikan.
"Kok sudah dingin ya? Apa tidak apa-apa?" tanya Shasa.
"Nanti pas proses editing gambar bisa diperbaiki kok jadi seolah-olah makanan masih hangat, ok?"
Mereka kemudian kembali syuting. Shasa membawakan makanan baru ke atas meja yang membuat Abra dan Carol penasaran. Abra mencoba dan ia menyukainya. Ia menyodorkan jempol untuk Shasa.
"Cut, ok selesai," teriak sangat sutradara.
"Jadi Carol sudah selesai ya? Sudah boleh pulang. Om tadi sudah telepon orang tuamu. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Sedang Mbak Shasa dan Mas Abra masih ada satu adegan lagi ya?"
"Ok," jawab Abra. Matanya menatap Carol yang mendatangi dan memeluknya. "Jangan cengeng ya?"
Gadis kecil itu hanya tersenyum. Ia juga memeluk Shasa. "Suara Tante waktu nyanyi ternyata lebih bagus dari suara Mommy-ku."
Shasa tertawa kecil dan memeluknya. "Jangan nakal ya, Sayang?"
Carol menarik tubuh Shasa hingga makin membungkuk. Ia berbisik di telinga gadis itu. "Kalo suka sama Omnya cepetan bilang. Nanti di samber orang lho!"
Merah padam wajah Shasa mendengarnya.
"Carol, orang tuamu sudah datang tuh!" teriak sutradara itu.
Sepasang suami istri muda dengan istrinya seorang bule masuk dalam studio itu. Carol melambaikan tangan pada Abra dan Shasa, sebelum berlari mendatangi orang tuanya. Mereka kemudian meninggalkan studio.
"Sekarang giliran adegan kita berdua ya Sayang," tanya Abra mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
Wajah Shasa kembali merah padam. "Eh, iya."
"Kalau cepat selesai kita ke kantor yuk!" Abra mengejar Shasa yang menghindar karena wajahnya kemerahan.
Mendengar kata kantor, gadis itu jadi malas. Ia teringat Kevin. "Eh, kalau gak capek."
"Kamu gak usah ngapa-ngapain dulu juga gak papa. Temenin aku aja."
"Aku juga mau dong ikut ke kantormu lihat-lihat. Boleh gak?" tanya Danisa.
"Boleh," jawab Abra. "Atau aku sama Danisa aja?" Ia menoleh pada Shasa.
"Aku ikut kok!" ucap Shasa tiba-tiba. Ia sewot Danisa ikut mereka.
__ADS_1
"Ok, jadi kita bertiga." Abra senang, kedua orang kesayangannya ikut dengannya ke kantor.
Danisa senang sedang Shasa ... cemberut.
Syuting berikutnya Abra dan Shasa sedang memperhatikan dengan baik apa yang dikatakan sutradara itu.
Saat sedang memperagakannya di panggung, mereka tidak sadar ada Danisa yang mengendap-endap di belakang mereka. Ketika sutradara itu mengetahuinya, wanita itu memberi tanda agar pria itu pura-pura tidak melihat. Ia mendekati keduanya dari belakang. Seketika, Danisa mengambil kedua tangan Abra dari belakang dan dipelukkan ke tubuh gadis itu erat-erat.
Abra dan Shasa sontak kaget. Abra yang menyadari itu tangan Danisa langsung tertawa sedang Shasa yang mengira Abra menjahilinya panik, dan wajahnya memerah seketika. Ia baru menyadari kemudian bahwa ia dijahili Danisa ketika mendengar Abra tertawa.
"Danisaaa ... kamu tuh ya, jahil banget!" Abra menoleh sambil tertawa.
Danisa telah berlari menjauh tapi tangan Abra masih tetap merangkul pinggang Shasa.
"Maaf ya Sayang, Danis tuh yang nakal," ucap pria itu tepat di depan wajah gadis itu yang masih memerah.
"I-itu." Shasa menunjuk tangan Abra yang masih melingkar dipinggangnya.
Abra yang melirik ke bawah langsung sadar dan melepas pelukan. "He he, maaf Sayang."
Sutradara pun berdehem melihatnya. Abra jadi malu karena diperhatikan Shasa, sutradara dan kru lain yang ada di sana. Tentu saja, Danisa tergelak di salah satu sudut ruangan melihat Abra salah tingkah.
Syuting kemudian dilanjutkan. Shasa memasak dan didatangi Abra. Pria itu menengok masakan gadis itu dan tersenyum bahagia bersamanya. Syuting pun selesai dengan mulusnya.
"Akhirnya ...." Abra merentangkan kedua tangannya karena saking senangnya. "Alhamdulillah, selesai dalam satu hari."
"Iya." Shasa menggerak-gerakkan kepalanya dan menyentuh leher karena terasa penat.
"Yuk, kita langsung ke kantorku aja, biar bisa istirahat di sana," ajak pria itu.
"Kamu gak capek-capeknya kerja ya? Bukannya udah ngambil cuti?" gerutu Shasa.
"Kan kalo cuti, kerja menumpuk gak ada yang bantuin, Sayang. Jadi bukan tambah rileks libur panjang tapi tambah pusing karena kerjaan tambah banyak."
"Kok panggil Sayang? Kan udah selesai syutingnya?" tanya Shasa heran.
"Kita kan dikontrak jadi Brand Ambassador juga, jadi kita gak boleh lupa bilang 'Sayang' kalau lagi diundang keluar atau lagi roadshow (berpergian keliling kota mengiklankan produk)."
"Oh iya." Shasa menyentuh keningnya, ia lupa.
"Aku ikuuut!" Tiba-tiba Danisa datang menyambangi mereka.
"Ke mana? Kantorku?" tanya pria itu.
"Iya. Tadi kan sudah bilang."
"Kamu gak kangen-kangenan sama Kakakmu dulu?" ledek Abra.
"Nanti saja, pulangnya."
Abra dan Danisa membawa sendiri-sendiri mobilnya. Shasa ikut di mobil Abra.
Sambil memasuki stasiun TV itu, Abra mengenalkan beberapa tempat pada Danisa. Shasa mengekor. Sebelum mereka sampai di ruang HRD, mereka bertemu Kevin.
"Oh, ada apa ini ramai-ramai? Oh, ada Danisa." Kevin mengenal gadis cantik berambut panjang itu.
"Halo Kak Kevin," sapa Danisa ramah.
"Aku mau ngecek ke HRD, apa ada pekerjaan yang cocok untuk Shasa," terang Abra.
"Apa? Kenapa?" Kevin sudah mulai mengira-ngira. "Shasa berhenti dari pekerjaannya?"
"Iya."
Bagus. Berarti tidak sia-sia uang yang kuberikan pada Rika. Dia sudah menjalankan pekerjaannya dengan sangat baik. "Kalau begitu, Shasa bekerja padaku saja karena aku kebetulan membutuhkan seorang Sekretaris." Ia menarik lengan gadis itu tiba-tiba sehingga gadis itu jatuh dipelukannya.
"Aduuh!"
____________________________________________
__ADS_1
Halo reader, ketemu lagi dengan author di sini. Jangan lupa vitamin author ya? Ini visual Abra waktu masih SMA bersama Danisa. Salam ingflora. 💋