Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Cemburu


__ADS_3

"Ok langsung ya," ucap sang sutradara.


Kamera langsung menyorot Shasa yang berada di depan meja. Setelah mengucap bismillah dalam hati, ia mencoba menghayati perannya yang ia bingung harus bagaimana.


Sementara itu Abra berdiri di belakang kamera memperhatikan gadis itu berakting. Saat sedang fokus, tiba-tiba seseorang menutup matanya dari belakang sehingga ia kebingungan. Namun ia ingat seseorang yang akrab seperti itu. Dia adalah .... "Danisa?"


Wanita itu membuka tangkupan tangannya yang menutupi mata Abra, dan tersenyum saat pria itu menoleh. "Aduh, kok kamu hapal sih? Duh, kamu makin ganteng aja Bra?" Ia menepuk bahu Abra


Mereka tertawa dan berpelukan.


Shasa yang memperhatikan mereka dari jauh, kesal. Seorang wanita cantik telah mengambil alih perhatian Abra darinya. Bahkan berpelukan dan tertawa. Shasa yang saat itu sedang disorot kamera, tidak sadar. Ia membuat semua yang ada di depannya, disenggolnya berantakan. Sendok, garpu, garam, merica, semua berhamburan di depannya. Ia ngambek dan kesal Abra tidak memperhatikannya seperti janji pria itu padanya.


"Oh, sebentar ya, aku lagi ngarahin orang untuk akting." Abra kembali fokus. Ia menatap Shasa. "Sha!" panggilnya.


Gadis itu malah melengos, kesal.


Tiba-tiba seseorang menyodorkan bumbu masak instan itu di hadapannya. Ia terkejut dan baru menyadari ia sedang disorot kamera, tapi terlambat ....


"Cut!(Selesai!) Ok, kita ke adegan berikutnya," ucap Sutradara lagi.


"Apa? Ta-tadi itu ok?" Shasa tak percaya.


"Iya, tadi itu bagus Mbak. Ekspresi tiap orang beda sih, tapi aku lihat tadi Mbak ekspresinya yang paling komplit. Saya tadi pikir, apa adegannya dibuat sedang mencari inspirasi untuk masakan saja sudah cukup tapi pas lihat akting Mbak, saya baru tahu kalau ada yang kurang. Harus ada ekspresi kesal karena tidak diminati makanannya. Itu yang lebih nyambung dari adegan sebelumnya. Jadi saya pakai akting Mbak tadi untuk adegan kedua," terang sutradara.


"Benarkah?" sahut Shasa memastikan.


"Iya Mbak. Kita akan ke adegan ketiga ya? Panggungnya disiapin dulu." Sutradara itu meninggalkan gadis itu tapi dicegat wanita itu.


"Kakak!" teriak Danisa.


Sutradara itu dan Abra terkejut.


"Nisa, kamu sudah pulang dari Paris?" ucap sutradara itu.


"Lho, dia Kakakmu?" tanya Abra.


"Iya, dia Kakakku. Kak, ini teman SMAku dulu."


"Oh," ucap kedua pria itu berbarengan dan saling berpandangan.


"Gimana Nis? Lagi libur pemotretan?" tanya sutradara itu.


"Iya, Kak. Jadi ke Jakarta. Padahal mau kasih surprise untuk Kakak eh, akunya yang kaget malah ketemu temen sekolah di sini." Wanita cantik tinggi semampai itu berbicara pada keduanya sambil tertawa.


"Iya, sudah hebat kamu sekarang ya? Jadi Foto Model Internasional, wow!" Abra menggeleng-gelengkan kepalanya. "Oh iya." Abra hampir lupa pada Shasa. Ia menarik gadis itu turun dari panggung. "Kenalin ini teman kerjaku," ucapnya pada Danisa. "Sha, ini teman SMAku," sahut pria itu pada Shasa.


Kedua wanita itu berjabat tangan.


"Danisa."


"Shasa."


"Dia ini sudah jadi Foto Model Internasional lho di luar negeri. Mondar-mandir Paris, Tokyo, New York dan London," terang Abra bangga.


"Ah, biasa aja," ujar Danisa merendah. Pipinya kemerahan. Ia menyibak rambutnya yang panjang ke belakang.


Tentu saja saat itu Shasa merasa levelnya jauh dibawah wanita itu. Cantik, tinggi, putih, berhidung mancung, dan sangat ramah. Siapa yang tidak tergila-gila padanya? Dan pastinya dia anak orang kaya terlihat dari gayanya. Lagi pula pekerjaannya juga luar biasa. Pasti dengan mudahnya ia mencari uang hanya dengan bergaya di depan kamera. Belum lagi kalau dikontrak ekslusif dari merek produk mewah tertentu, ia pasti hidup dengan bergelimang harta, Shasa membayangkan.


"Sorry, kalau kamu kerjanya apa?" tanya Danisa pada gadis itu.


"Oh, dia tadinya kerja di perusahaan iklan," Abra mewakili.


"Kalau sekarang?"


"Oh, dia aku tawari kerja di perusahaanku," ucap Abra senang.


"Oya? Kerjanya pasti bagus, sampai ditawari kerja di tempat lain."

__ADS_1


"Begitulah."


Shasa yang diam sejak tadi hanya mendengarkan Abra menceritakan tentang dirinya. Aslinya ia malu membicarakan dirinya yang bukan siapa-siapa dan tidak bisa apa-apa.


"Nanti makan siang, bareng yuk!" ajak Abra pada Danisa.


Shasa melirik Abra yang tersenyum senang pada wanita itu. Ia mengerutkan dahi.


"Kenapa? Mau inget yang dulu lagi?"


Abra tertawa berderai. Shasa begitu sedih. Pria itu bisa tertawa pada wanita lain dengan begitu bahagia, seolah-olah pria itu tidak melihat Shasa ada di sana.


"Ayolah, rindu sama masa-masa sekolah dulu."


"Ya udah, tapi aku yang traktir ya?"


Abra menepuk tangannya. "Waduh, keren nih! Cewek yang traktir." Ia mengacungkan ibu jarinya ke depan.


Wanita itu tersenyum senang. Diam-diam Shasa bergeser menjauh. Tidak enak rasanya ikut dalam percakapan yang tidak melibatkan dirinya, apalagi ia serasa menjadi benalu.


"Eh, mau ke mana?" Abra meraih lengan Shasa.


"Mau ke ruang tunggu."


"Aku ikut."


"Tapi kan kamu lagi sama temen kamu?"


"Danisa? Urus pekerjaan dulu. Dia nanti saja jam makan siang."


Keduanya masuk ke ruang tunggu. Di sana rupanya ada Carol sedang menangis ditemani salah satu kru syuting.


"Ada apa Carol?" tanya Abra mendekat. Ia mengusap pucuk kepala Carol.


Gadis itu masih mengucek-ngucek matanya. "Aku ngantuk tapi gak ada yang kukenal. Hu huuuu."


"Oh, tidur aja Carol. Kan ada kami di sini," ujar Shasa pelan.


Carol menyentuh tangan Shasa. "Kamu bisa nyanyi?"


"Apa?" tanya Shasa heran.


"Mommy biasa nyanyi supaya aku bisa tidur nyenyak."


"Eh ... tapi suaraku jelek."


"Hu huuu. Aku ngantuk ...." Gadis kecil itu masih menangis.


"Ya ... ya sudah." Shasa mengalah dan melirik Abra sekilas yang tersenyum melihat tingkah Carol. Biar bagaimana pun dewasanya ia bicara, ia tetap anak-anak.


Shasa duduk di sofa panjang itu di samping Carol. Gadis kecil itu menaikkan kedua kaki lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Shasa. Gadis itu mengusap pelan pucuk kepala gadis kecil itu.


Shasa mulai menyenandungkan lagu Nina Bobo dengan suara lembut. Ia menatap gadis kecil itu sambil menepikan rambut dan menghapus air mata gadis itu perlahan. Gadis kecil itu kemudian berhenti menangis. Ia seperti terhipnotis dan mulai memejamkan mata.


Abra ikut terhanyut melihat kelembutan Shasa. Ia ingat ibunya yang juga lembut dan selalu menjaganya dari orang-orang yang menjahatinya, termasuk dari Ibu Tirinya.


Adegan berikutnya diundur karena Carol. Gadis kecil itu masih tidur di pangkuan Shasa. Ia terbangun ketika waktu menunjukkan setengah jam lagi menjelang makan siang.


Mereka terpaksa meneruskan lagi adegan walaupun sudah mendekati makan siang karena adegan berikutnya Shasa harus tersenyum pada masakan di kompor sambil membubuhkan bumbu instan pada masakan itu.


Masakan sudah dibuat setengah jadi dan terlihat menggiurkan. Bila ditunda lagi, tim kru harus membuat hidangan baru lagi untuk kedua kalinya. Padahal, masakan dibuat berdasarkan keindahan mata tapi tidak rasanya, karena setelah syuting berakhir masakan akan dibuang.


"Eh, apa ini? Kok tidak enak." Shasa yang mencicipi langsung meludahnya kembali.


"Ini masakan khusus syuting Mbak, jadi yang dicari keindahan gambar padahal aslinya belum matang," ucap seorang kru, menerangkan.


"Oh, iya benar. Belum matang." Mata gadis itu menyipit karena masih merasakannya di ujung lidah.

__ADS_1


Danisa yang sedang mengobrol dari jauh dengan Kakaknya, hanya tersenyum.


Abra menahan tawa. Gadis kecil itu dibawa Abra bersamanya karena takut menangis lagi di ruang tunggu karena sendirian. Selama bersama Abra, ia banyak bersandar pada pria itu karena masih mengantuk.


Carol memang tipe yang gampang akrab, tapi hanya bagi orang yang dikenalkan padanya.


Syuting kembali digelar. Shasa berdiri di samping kompor yang baru dihidupkan. Ia mendengarkan arahan sutradara sambil menunggu kompor panas. Setelah itu syuting dimulai.


Kamera menyorot Shasa. Ia sibuk mengaduk-aduk masakan sambil tersenyum ke arah kamera seraya memperlihatkan bumbu masak instan itu. Kemudian ia seolah-olah membubuhkan pada makanan di atas kompor, produk bumbu masak itu. Terlihat ia berusaha keras melakukannya, bahwa ia bisa, di depan Abra dan di depan Danisa. Ia tak mau kalah dengan wanita itu.


"Cut! Bagus Mbak." Sutradara itu kembali menyodorkan ibu jari.


Shasa bangga pada diri sendiri, apalagi Abra juga menyodorkan ibu jari ... bersama Danisa. Syuting dilanjutkan setelah makan siang.


"Yuk, makan siang keluar," ajak Abra pada Shasa.


"Bukannya kamu mau makan berdua temanmu?"


"Danisa? Oh, tidak. Kita makan sama-sama aja." Pria itu meraih tangan Shasa.


"Ah, gak enak ah! Gak diajak." Shasa menepis tangannya.


"Dia sih gak pernah marah sama siapa aja yang aku bawa."


"Tapi Kak."


"Sayang!"


"Iya, Sayang."


"Nah, gitu." Abra kembali meraih tangan Shasa.


"Eh, bukan begitu maksudku." Shasa memegangi tangan pria yang sedang menggenggam tangannya.


"Udah, ikut aja. Ini aku juga bawa Carol." Pria itu memperlihatkan tangan yang satunya menggandeng Carol.


Mau tak mau terpaksa Shasa ikut.


"Hei, pada pergi ke mana?" Sutradara menyetop mereka karena keluar dari lokasi syuting.


"Mau makan keluar Kak, gak jauh kok!" terang Danisa.


"Sebenarnya mereka gak boleh keluar selama syuting berlangsung dan makanan juga di sediakan karena takut mereka tidak pulang tepat waktu."


"Aku janji, aku akan usahakan mereka kembali tepat waktu." Danisa mengangkat tangannya.


Tak butuh waktu lama buat pria yang terdiam sejenak itu memutuskan untuk memperbolehkan sebab ia tahu adiknya itu selalu menepati janji. "Ya sudah, tapi kenapa Carol dibawa?"


"Oh, katanya orang tuanya sudah pulang tadi. Jadi, daripada ditinggal sendirian dan menangis lagi, jadi aku berinisiatif membawanya ikut dengan kami," terang Abra.


"Oh, ya sudah. Jaga dia baik-baik ya?"


"Ok."


Mereka berempat kemudian naik mobil milik Danisa yang berada di parkiran. Abra di depan dan Shasa beserta Carol di belakang. Mobil mereka kemudian mendatangi sebuah restoran cepat saji burger agar Carol juga tidak kesulitan makan. Carol sangat senang karena ternyata ia sehari-hari makan nasi. "Aku mau yang itu ya?" ucapnya setelah berulang kali melihat gambar menu yang ada di papan gambar di atas.


"Boleh. Nanti kita pesan sama-sama ya?" sahut Danisa ramah.


Setelah mengetahui pesanan, Abra dan Danisa mengantri memesan makanan sedang Shasa dan gadis itu menunggu di depan meja mereka.


Selama mengantri, Shasa selalu memperhatikan mereka berdua. Terlihat sangat akrab. Kadang mereka saling berbisik, tertawa, dan bercanda berdua. Gadis itu merengut melihatnya.


"Eh ... ketahuan ... Cemburu ya?" Carol menunjuk wajah Shasa.


"Ih, enggak. Kata siapa?" Shasa pura-pura tak peduli dan menoleh ke arah lain.


"Itu kelihatan lagi!" ledek gadis kecil itu.

__ADS_1


"Ih, cuma lagi lihat-lihat aja. Bosen tau!" Shasa pura-pura mengedarkan pandangannya berkeliling.


"Ntar aku bilangin Papa lho!" ledekan setengah mengancam Carol dengan mulut setengah terbuka membuat shasa membulatkan matanya dengan sempurna.


__ADS_2