Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Makan Malam Dengan Damar


__ADS_3

"Kak, tunggu aku. Bisa gak, sabar nunggu?" ucap gadis itu lembut pada pria itu yang sedang memejamkan mata karena menahan ngilu di bahu. "Kalo Kakak kerjain sendiri nanti tulangnya nyambungnya bengkok."


"Itu kan untuk patah tulang. Ini kan hanya retak," sanggah Abra.


"Jadi Kakak ingin membuktikan teoriku atau teori Kakak yang benar, gitu? Kalau teoriku yang benar nanti keburu bahunya udah bengkok dong!"


"Aduh, cerewet banget. Bantuin aja kenapa sih?" Abra mengerut dahi.


Shasa membulatkan matanya mendengar jawaban Abra. Ia langsung mencubit pipi pria itu keras-keras.


"Aaauhh!"


"Rasain!"


"Ih, sadis banget sih. Aku kan sedang sakit," gerutu Abra. Ia mengusap pipinya yang mulai memerah.


"Biarin! Biar kamu tahu, Susternya galak! Kalau gak mau nurut, tangannya yang bicara." Shasa bertelak pinggang.


Abra menahan tawa. Gadis itu mulai tersenyum.


Setengah jam kemudian, setelah mencuci piring Shasa masuk ke kamar. Bertepatan dengan itu, dari hp-nya terdengar bunyi notif masuk. Ia segera mengambilnya. Dari Damar. 'Aku sudah di bawah.'


Kenapa sih orang ini gak bisa berhenti menggangguku? Apa tidak ada orang lain lagi yang bisa diganggu selain aku? Cari pacar kek, misalnya. 'Mau apa?'


'Mau ketemu kamu.'


Shasa memutar bola matanya dan berpikir sejenak. 'Ok.' Ia mengambil tas kecilnya dan di slempang ke bahunya. Ia pun keluar. "Kak, aku pergi sebentar!" teriaknya saat melewati kamar Abra.


Pria itu yang baru saja menyusup ke dalam selimut, segera berhenti. Apa? Damarkah itu? Ia menghela napas dan segera menepikan selimutnya.


Shasa segera keluar dan turun dengan naik lift. Saat sampai pria itu telah menunggunya di depan pintu lift. "Kak Damar?" Shasa segera melangkah ke depan agar penumpang lift lainnya bisa keluar, dan berganti dengan yang ingin masuk.


Kesempatan ini dipakai Damar untuk menarik gadis itu bersamanya.


"Eh?"


"Temenin aku makan malam ya?"


"Aku udah makan."


"Ya udah temenin aja."


"Tapi ...."


Damar terus menariknya ke luar gedung. Ia membawa Shasa ke mobilnya dan membukakan pintu.


"Kak Damar aku ...."


"Udah ikut aja, aku kan saudaramu sendiri. Kenapa takut sih? Aku gak gigit kok." Pria itu memaksa masuk. Akhirnya Damar bisa membawa Shasa pergi, dengan catatan; wajah gadis itu terlihat kesal. Ia memperhatikannya sekilas saat menyetir. "Kok gitu amat sih pergi sama aku. Ngak suka ya?"


"Itu tau!" jawab gadis itu sewot.


Pria itu mencubit pipi gadis itu lembut dan gadis itu menepisnya dengan kesal. Damar tersenyum lebar. "Aku suka melihatmu marah. Ngegemesin!"


Shasa menyipitkan matanya tak mengerti.


"Sha, aku merindukanmu saat tak ada di rumah. Tak Ada yang memasakkanku makanan saat tengah malam."


"Kenapa Kak Damar tidak menyewa pembantu khusus untuk itu saja?"


"Pertanyaan yang bagus tapi itu karena bukan kamu."


"Apa? Maksudnya apa?" Dia ingin merundungku terus, gitu?


Pria itu hanya tersenyum. Tak lama mereka sampai ke sebuah restoran di sebuah komplek pertokoan. Mereka pun turun. Restoran seafood itu cukup ramai di malam hari.


Damar memilih sebuah meja di salah satu sudut ruangan. Mereka duduk di sana. Pria itu kemudian memesan makanan. "Kamu beneran gak mau makan? Aku traktir lho meskipun bukan makanan mewah seperti makanan yang di pesan pacar-pacarmu?"


Shasa mengerut kening. Apa maksudnya itu? Mau mempermalukanku di tempat seramai ini?


Sebelum Shasa sempat berdiri, Damar segera menggenggam tangannya.


"Maaf, maaf. Maaf ya? Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku minta maaf." Pria itu mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


Apa ini? Kenapa dia berubah? Dia tak pernah meminta maaf. Euhh, wajahnya menggelikan mau dimanis-manisin di depanku. Shasa menjauhkan wajahnya, dengan perasaan aneh.


Ya, saat itu Damar memperlihatkan wajah manjanya yang membuat Shasa syok. Apa yang diinginkan pria itu padanya?


"Ya udah, kamu mau minum apa, gitu?" Pria itu berusaha bersikap baik pada gadis itu dan gadis itu walaupun belum hilang syoknya berusaha menjawab pertanyaan Damar.


"Jus jeruk saja Kak," jawab Shasa hati-hati. Ia tidak mengerti apa arti perubahan pada sepupunya itu tapi ia seperti mencium gelagat aneh yang tidak menyenangkan dan karena itu ia harus hati-hati dalam berbicara.


Makanan pun di pesan. Damar kemudian menatap Shasa dengan serius. "Bagaimana? Kamu masih berpacaran dengan Bima?"


"Kak Bima."


Pria itu hampir tertawa. "Ok, kak Bima."


"Masih."


"Kau bisa putus kalau kamu tidak suka."


"Maksudmu apa?"


"Kau tidak cocok dengannya. Aku tidak suka."


"Bukan urusanmu."


Damar memandang gadis itu dengan pandangan ingin menerkamnya tapi ditahannya. Ia mencoba menahannya sejauh yang ia bisa. "Lalu untuk apa kamu tinggal dengan laki-laki lain? Untuk apa jilbabmu itu!"


Saat itu juga Shasa berdiri. Kata-kata Damar sudah keterlaluan dan Damar dengan sigap ikut berdiri dan memegang lengan Shasa.


"Maaf, maaf." Pria itu menghela napas. "Aku minta maaf. Aku hanya khawatir padamu karena aku saudaramu. Aku peduli dengan hidupmu agar kamu tidak hidup sembarangan."


"Maumu apa sih?" ucap Shasa kesal dan menepis tangan Damar dengan kasar.


"Mauku kamu tinggal denganku." Pria itu tertawa.


"Apa?" Shasa menautkan alisnya.


"Enggak, bercanda. Ayo duduk lagi dong!" bujuk Damar.


"Tidak ada." Pria itu menggeleng. "Aku ..." Ia menjatuhkan pandangan kemudian kembali menatap Shasa. "Rindu padamu."


Shasa tercengang kemudian tertawa.


"Apanya yang lucu. Aku bicara jujur dari hati kecilku."


"Kamu ngak usah menjebakku dengan perkataan seperti itu. Itu hanya siasat yang beralih rupa. Isinya tetap sama kan?"


Damar mengeratkan gerahamnya, kesal.


Tak lama makanan datang. Damar pun mulai makan. Ia sesekali menatap Shasa.


"Kenapa?" Shasa kini mulai berani bertanya, mulai berani menentang dan mulai berani mengatakan 'tidak' sehingga Damar bingung mengaturnya.


"Bagaimana kalau begini. Kamu kan sangat ingin hidup mandiri diluar sana. Bagaimana kalau aku sewakan kamu kos-kosan jadi sesekali waktu aku bisa ke sana."


Kembali Shasa menautkan alisnya. "Untuk apa?"


"Untuk a-pa?" Damar tak habis mengerti, gadis itu sangat susah di aturnya kini.


"Iya, untuk apa kalau aku bisa sendiri?"


"Untuk ... untuk melindungi kamulah, karena kamu perempuan. Sendirian lagi." Damar mencari-cari alasan.


"Kan aku kerja, dan mungkin Kak Bima yang mengantar aku pulang."


"Bima lagi ... Bima lagi, aku tak suka padanya, aku bilang."


"Dan aku tidak peduli." Shasa menyeruput es jeruknya dari sedotan.


Kembali Damar harus menahan amarahnya. "Shasa, aku datang untuk berdamai denganmu bukan untuk bertengkar."


"Dan aku ... tidak mau dan juga tidak peduli," jawab Shasa enteng. Ia sudah jengah diperlakukan tidak adil oleh sepupunya ini dan sudah saatnya sepupunya itu tahu ia bukan Shasa yang dulu yang begitu mudah ditindas dan dipermainkan.


Seperti juga teman-teman sekolahnya dulu yang selalu membela Rika karena mereka sama-sama sekolah di sekolah mahal dan Rika selalu mengatakan pada mereka bahwa dirinya hanya sepupu yang menumpang, yang yatim piatu dan miskin dan itu membuat dirinya dirundung hampir seluruh teman sekolahnya.

__ADS_1


Namun setelah bekerja, Shasa baru sadar di lingkungan yang baru itu ia lebih dihargai karena apa yang bisa ia raih dan kerjakan di sana. Seakan ia menemukan dunia yang telah mengakuinya. Karena itu ia tidak akan membiarkan orang menindasnya karena dirinya berharga. Siapa lagi yang akan menghargai usahanya kalau bukan dirinya sendiri? Di situlah letak harga diri seseorang, jika dia bisa menghargai dirinya sendiri.


Keberadaan Bima baginya amat berharga sebab darinya ia tahu banyak tentang kemampuannya, menemukan harga dirinya dan percaya suatu saat ia akan menggapai cita-citanya. Karena itu Bima bukan saja sebagai pacar baginya tapi juga sebagai guru yang banyak membimbingnya ke pintu sukses. Pria itu seakan mengajarkan padanya bahwa mimpinya suatu saat akan menjadi nyata asal bisa kerja keras, tak pandang bulu siapapun orangnya dan dari mana ia berasal. Karena itu ia akan sangat marah bila ada yang menghina dan merendahkan Bima seperti Damar.


"Sha."


Gadis itu terlihat tak peduli. Sampai saat diantar pulang oleh Damar pun ia susah dibujuk. Tentu saja sulit karena ia sudah tahu siapa Damar sebenarnya, hanya saja ia tidak tahu keinginan Damar sebenarnya pada dirinya.


"Sha."


Shasa turun dari mobil. "Gak usah susah-susah cari aku lagi, gak ada gunanya."


Damar ingin mengatakan sesuatu tapi gadis itu telah meninggalkannya. Ia menghela napas.


Shasa membuka pintu apartemen dan terkejut melihat Abra duduk di kursi sofa sedang menonton TV. Bukankah dia tadi ingin tidur? "Kak, Kakak kenapa ada di sini? Bukannya sudah telat malam?"


"Kamu kenapa telat pulang?"


"Eh, itu, eh ...." Shasa menggaruk-garuk kepalanya.


"Ketemu Damar?"


Shasa membulatkan matanya. "Dari mana Kakak tahu?"


"Maaf Sha, aku gak sengaja buka hp-mu waktu di hotel. Damar saudara Rika ya?"


"Iya, memang kenapa?" Shasa menghampiri.


"Hati-hati Sha, jangan gampang termakan bujuk rayunya."


"Kakak gak usah mikirin itu. Sebaiknya Kakak istirahat saja."


Abra mematikan TV dengan remote di tangan. "Sebaiknya kamu gak usah ketemu dia lagi."


"Eh, Kak. Kakak kan belum pernah ketemu dia." Shasa mencoba membantu pria itu berdiri.


"Tapi rasanya aku was-was aja."


"Eh, untuk sementara Kakak istirahat dulu aja ya, jangan mikir macam-macam." Gadis itu membawanya ke kamar.


"Tapi Sha ...."


"Iya, iya. Nanti aku pikirkan." Shasa membawa Abra ke kamar hingga ke tempat tidur.


Pria itu terpaksa menurut.


"Sudah ya Kak selamat tidur." Shasa menutup pintu dan kembali ke kamarnya. Di sana ia telah meletakkan bunga mawar itu pada gelas besar. Ia meletakkannya di atas meja nakas.


Sebelum ia tidur ia mengagumi bunga itu sebentar. Kak Abra, terima kasih atas bunganya. Walaupun kita berteman sekarang, aku tidak akan melupakanmu sebagai khayalan tertinggiku. Pasti beruntung wanita yang mendapatkanmu karena kamu pria baik yang pernah aku kenal. Shasa berusaha ikhlas karena ia sudah punya Bima dan ia tidak tahu akan isi hati Abra.


-------------+++----------


Pagi itu kantor itu seperti biasa sibuk dengan dateline (waktu akhir penyerahan tugas). Bima masuk ke dalam ruang kantor dan tidak menemukan Shasa. Ia melihat Haris. "Ris, Shanum mana?"


"Ah, dia minta libur karena lagi cari kos-kosan." Wajah Haris nampak tegang.


"Oh, kok dia gak bilang ya? Kan bisa aku temani. Biar aku telepon saja." Bima berjalan ke ruang kerjanya sambil menyambungkan handphone-nya.


"O ow," gumam Haris.


"Skakmat!" Toto menunjuk Haris dengan pulpennya.


____________________________________________


Dendam dan cinta. Kepoin author satu ini.



Karena dendam pada seorang pria yang di yakini merebut wanita pujaannya sejak kecil, Alvino Maladeva akhirnya berencana membalas dendam pada pria itu melalui keluarga tersayang pria tersebut.


Syifana Mahendra, gadis lugu berusia delapan belas tahun yang memutuskan menerima pinangan kekasih yang baru saja ditemui olehnya. Awalnya syifa mengira laki-laki itu tulus mencintainya hingga setelah menikah dirinya justru mengetahui bahwa ia hanya di jadikan alat balas dendam pada kakak satu-satunya.


Lalu apakah Syifana akan terus bertahan dengan rumah tangga yang berlandaskan balas dendam tersebut? Ataukah justru pergi melarikan diri dari kekejaman suaminya sendiri?

__ADS_1


__ADS_2