
Shasa memperhatikan foto itu dengan seksama. Foto gadis berjilbab itu diambil dari samping sehingga tidak jelas wajah aslinya. "Ini bukan aku. Ini siapa?"
"Namanya Raline."
"Iya, dia siapa?"
"Adikku."
"Hah?" Shasa terlihat bingung. Masa dia tidak tahu wajah adiknya sendiri? "Kamu jangan bohong! Masa kamu tidak mengenalinya? Aku dan dia kan beda." Ia menyerahkan HP itu pada pemiliknya.
Raven mengambil HP-nya. "Ayah Ibuku bercerai 5 tahun yang lalu dan Ibu membawa Raline ke Palembang sedang aku ikut Ayah tinggal di Jogja. Sejak itu, belum pernah sekalipun kami saling bertemu lagi.
Setiap kali aku tanya pada Ibu tentang Raline, dia selalu marah-marah. Aku minta foto adik, selalu dikirim gak jelas begini, yang sebelah lah, dari samping lah, lagi nunduk lah, seolah-olah ia takut aku akan membawanya lari hingga terjadilah kejadian 2 tahun yang lalu itu. Mereka, kakek, nenek, ibu dan Raline naik kapal laut ke Jakarta. Aku dan ayah menyusul berharap bisa saling bertemu tapi ternyata di tengah jalan kapalnya karam. Yang lain jasadnya ditemukan kecuali Raline. Aku masih berharap seseorang menemukan dan merawatnya walaupun dia lupa ingatan mungkin, karena itulah aku kuliah di Jakarta."
Shasa hampir tak percaya mendengarnya tapi semua yang dikatakan Raven menjawab teka-teki sikap anehnya.
"Maaf aku menyingkap jilbabmu kemarin malam karena adikku punya bekas luka di bahu kirinya. Aku hanya ingin memastikan." Pemuda itu mengusap belakang kepalanya karena gusar. Ia merasa bersalah.
"Kan kamu bisa bertanya," oceh Shasa.
"Ku-rang sa-bar." Raven minta pemakluman.
Shasa sebenarnya iba, tapi ia sedikit terusik dengan gaya Raven yang suka semaunya, tapi akhirnya ia mengucapkan belasungkawa. "Aku turut berduka cita."
"Tapi aku dengar kamu juga tidak punya orang tua."
Shasa hanya menatap pemuda itu dengan mengerut kening.
"Kamu punya Kakak?"
"Tidak."
"Adik?"
Sekarang dia bermaksud apalagi? Shasa meninggalkannya dan berniat masuk ke dalam kamar. Ia tidak berniat untuk kenal pemuda itu lebih jauh lagi. Cukup hanya seorang tetangga.
"Hei, aku belum selesai bicara." Pemuda itu meraih tangan gadis itu.
"Raven, ini sudah malam. Aku mau tidur. Assalamu'alaikum." Shasa tak mau meladeni pemuda itu takut tingkahnya malah menjadi-jadi. Ia bisa melihat dari sikap Raven yang bila dijawab ramah, ia makin ingin menguasai.
"Jawab dulu pertanyaanku." Raven menarik gadis itu mendekat sehingga Shasa kembali mundur.
"Raven ...."
"Kau tak punya adik kan? Berarti kamu sendirian?" Pemuda itu terlihat senang. "Aku boleh jadi Kakakmu?"
"Enggak."
"Kenapa?"
"Karena aku gak kenal kamu." Shasa berupaya melepaskan diri dari genggaman Raven tapi sia-sia. Raven belum ingin melepasnya.
"Besok pagi Abang anterin kamu kerja ya?"
Abang? "Gak usah."
"Abang maksa."
Sia-sia Shasa melepaskan diri dari pemuda itu, dan Raven hanya tersenyum saat Shasa kelelahan.
"Apa kamu gak ingin tahu rasanya punya Kakak, mmh?"
Shasa hanya bisa merengut karena susah menolak keinginan pemuda bebal itu.
"Besok pagi ya, Abang antar." Raven mengusap pucuk kepala Shasa. Tiba-tiba pemuda itu menarik belakang kepala gadis itu membuat tubuh gadis itu bergerak maju sehingga ia bisa mencium keningnya. Ia juga langsung memeluk Shasa membuat gadis itu terkejut. Sebelum gadis itu sempat menolak, Raven telah melepasnya.
Pemuda itu segera melangkah ke kamarnya. Begitu cepatnya ia bergerak seperti tahu, Shasa pasti menolaknya. Seperti pemuda rapuh yang tak ingin ketahuan pernah terluka.
Shasa hanya bisa melihat punggung belakang pria itu. Antara harus bersyukur, marah atau kesal ia tidak tahu. Yang pasti pemuda itu adalah pemuda yang kesepian. Ia tidak tahu apa pemuda itu kini sedang menangis atau sedang tersenyum. Ia tidak tahu, tapi biarlah ia tidak tahu karena ia juga tak ingin tahu.
---------+++---------
Pintu diketuk berulang kali dan akhirnya terbuka.
"Lama amat sih?"
"Iya." Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya, tapi kemudian ia terkejut melihat wajah Damar. Ia menunjuk wajah pria itu. "Lah itu muka kenapa?"
Damar menepisnya. "Yang sopan, nunjuk-nunjuk muka Kakakmu kayak gitu." Dengan nada kesal.
"Ohoho, gue tau. Abis berantem lo ya?"
__ADS_1
"Brengsek! Gue Kakak lo ya? Jangan ngetawain gue sembarangan." Damar meletakkan tangannya ke belakang.
"Dih, gitu ...."
Damar membulatkan matanya, membuat Rika terpaksa diam.
"Dah, cepet masak. Gue udah laper!"
Rika bergerak maju.
"Eh, eh, eh! Rambut lo, iket!"
Rika memutar bola matanya dan mendesah pelan. Ia kembali memutar arah demi mengambil karet rambutnya lalu keluar.
Damar kemudian menyusul dan pergi ke ruang tengah. Ia duduk di samping meja makan. Makanan datang kemudian ketika ia masih sibuk dengan HP-nya. Ia melihat dengan seksama makanan yang terhidang di depan matanya. "Apaan nih?" Ia mengangkat dengan garpu, telur dadar yang setengah hancur. Juga sedikit hangus.
"Yang lo minta."
"Gila. Parah banget masakan lo!"
Rika merengut.
Hanya sosis yang terlihat mulus. Damar mencobanya.
"Udah kan? Gue tidur lagi ya?" Tanpa butuh jawaban, gadis itu berlalu pergi.
"Huek! Apaan nih? Masih mentah. Rika, lo bisa masak gak sih?" Damar memuntahkannya kembali ke piring dan menoleh mencari adiknya itu.
"Kan gue udah bilang, gue gak bisa masak. Nah elonya aja yang maksa." Gadis itu menaiki tangga.
"Aaah!" Damar kesal hingga menyapu piring itu dengan tangannya hingga jatuh ke lantai.
Rika menoleh dan kembali merengut, tapi kemudian ia berusaha acuh dan kembali menaiki tangga.
Damar benar-benar kesal. Makin hari hidupnya makin tak nyaman saja. Kepergian Shasa dari rumah itu membuat segalanya menjadi tidak baik-baik saja. Makannya, tidurnya hingga dengan siapa Shasa pergi dan tinggal. Ia mengkhawatirkan segalanya. Padahal ia sehari-hari juga disibukkan dengan kerja kantoran tapi pikirannya tak bisa berpaling. Shasa, Shasa dan Shasa. Hanya itu isi kepalanya tapi makin hari, gadis itu makin sulit diraih. Apalagi kini, gadis itu punya tetangga yang mampu menghalangi niat itu.
-----------+++----------
Shasa mengintip keluar kamar. Sepertinya masih sepi, tidak ada orang di luar. Shasa yang sudah rapi berpakaian, keluar dengan mengalungkan tas slempangnya. Ia mengunci pintu dan bergegas ke arah pagar.
Tin, tiiin!
Gadis itu menoleh.
"Ngak usah."
"Naiiik ...." Mobil Raven masih mengikuti.
Shasa terus melangkah.
"Raline, Raline, Raline."
"Aku bukan Raline!" Shasa menghentikan langkahnya.
"Kalo mau dipanggil Shasa, naik dong!"
Shasa cemberut. "Aku gak langsung ke kantor, mau mampir-mampir."
"Ya bagus kan, gue anterin." Raven mulai santai bicara dengan Shasa.
Shasa berpikir sejenak.
"Ayo, ntar keburu telat."
Shasa kemudian naik mobil Raven. "Aku mau ke tukang nasi kuning di depan."
"Gimana kalau kita makan nasi kuning yang di depan gang aja. Tempatnya lebih bagus."
Shasa cemberut. "Aku mau bawain untuk orang sakit."
"Kamu ngerawat orang sakit juga?" Raven terkejut.
"Jangan banyak pertanyaan deh!"
"Ok, ok, Abang cuma penasaran aja."
Mobil terparkir sedikit agak jauh dari tempat nasi kuning itu. Pasalnya tempat itu cukup ramai dengan pembeli, baik yang makan di sana atau yang dibawa pulang.
Shasa mengantri sedikit lama dan kembali membawa bungkusan. Ia masuk ke dalam mobil. "Ini satu untukmu." Ia memberikan satu bungkus untuk Raven ketika pemuda itu menjalankan mobilnya.
Raven hanya tersenyum.
__ADS_1
Padahal Shasa tahu Raven mengendarai mobil mewah tapi ia tak malu menawarkan nasi kuning murah itu pada pemuda itu.
"Kenapa kamu punya sepupu aneh yang suka maksa seperti kemarin itu sih?"
"Lah kamu? Saudara bukan, sama maksanya," sindir Shasa.
Raven kehilangan kata-kata. "Kita ganti topik saja. Bagaimana kalau ...."
"Itu. Belok sana. Aku mau masuk apartemen itu," potong Shasa.
Raven membelokkan mobilnya memasuki halaman apartemen itu.
Gadis itu turun dari mobil pemuda itu. "Kamu pulang saja, aku agak lama di sini. Aku bisa ke kantor sendiri."
Raven hanya diam. Ia melihat saja saat Shasa memasuki gedung apartemen itu dengan tergesa.
---------+++---------
Selain Rika, semua orang geger melihat Damar datang sarapan pagi dengan pelipis sedikit membiru.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Papa pada Damar.
"Kejedot dinding Pa."
Rika menahan tawa.
"Mmh."
"Tidak semudah itu membohongi Mama ya?" sahut Mama melirik pemuda itu. "Kamu pasti bertengkar dengan orang lagi."
Damar menarik kursi dan duduk di sana. Ia mengambil piring untuk nasi gorengnya.
"Jangan gampang emosian Damar. Emosian bisa membawamu pada penyesalan."
"Iya, Ma."
Damar memang sangat patuh pada Mamanya. Satu-satunya orang yang paling dihargainya di rumah selain Papa tentunya.
Rika melirik Damar dengan wajah sinis sedang Damar melirik adiknya dengan wajah sangar, tapi Rika merasa menang.
-------------+++-----------
Shasa terkejut melihat Raven masih menunggunya di luar. Raven pun terkejut melihat Shasa keluar dengan seorang pria tampan. Siapa pria itu? Bukankah dia bilang tadi ingin mendatangi orang sakit? Bukan orang yang sudah tua ya, orang yang masih muda. Tampan pula. Bagus juga selera adikku. Raven keluar dari mobilnya.
"Kamu kok masih di sini? Kan aku bilang aku bisa pergi sendiri," ucap gadis itu bingung.
Abra melihat ke arah Raven, pemuda dengan baju kotak-kotak dan celana jins, lalu Shasa. "Siapa Sha?"
"Oh, tetanggaku."
"Oh, apa ini pacarmu?" tanya pemuda itu pada Shasa. Ia menoleh pada Abra dan menyodorkan tangannya. "Saya Raven."
"Abra."
"Eh, bukan. Dia klienku." Wajah gadis itu tersipu-sipu.
"Oh, maaf. Eh, bagaimana kalau kuantar saja. Mau ke mana?"
Shasa menoleh pada Abra.
"Ya sudah," putus pria itu.
Keduanya masuk ke dalam mobil Raven. Pemuda itu membawa mobilnya keluar area apartemen. "Eh, maaf ya tadi aku asal bicara," ucap Raven pada Abra yang duduk di sebelahnya. Ia sedikit bingung melihat Abra karena pria itu tidak terlihat sakit. Apa Shasa bohong padaku?
"Oh, tidak apa-apa, tapi hati-hati saja bicara karena Shasa memang sudah punya pacar."
"Oh, beneran Sha?" Raven melirik pada cermin kecil di atasnya.
"Iya, makanya kamu gak usah anterin aku ke kantor. Cukup anter Pak Abra saja," jawab Shasa.
"Gak papa Sha, Abang cuma ingin tahu kantor kamu di mana."
Abra melirik sekilas pada Raven. Beruntung juga Shasa punya teman seperti ini di kos-kosannya. Setidaknya bisa ada yang menjaganya karena dia tidak punya siapa-siapa di luar sana. Pemuda ini kelihatannya orang baik.
Raven menurunkan Abra di depan pintu masuk stasiun TV Indo. Shasa ikut turun dan mulai memegangi baju belakang Abra.
"Kamu ngapain Sha?" tanya Raven heran.
____________________________________________
Ayo ceki-ceki novel ini. Bagus kok!
__ADS_1