Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Berpisah


__ADS_3

"Bang, udah Bang. Biarkan aku bicara berdua dengannya." Shasa mendorong Raven menjauh.


"Dia berani bilang salah paham lagi? Udah jelas-jelas dia tertangkap basah, masih ngelak aja. Pria macam apa kamu itu?!!" Raven coba bertahan untuk bicara sambil mengacung-acungkan tangan karena marah mengetahui penghianatan Bima.


Tentu saja keringat dingin mengucur dari dahi Bima ketika mendengar Raven mengatakan ia berhianat karena sejujurnya ia merasa Raven benar. "Maaf, maafkan aku." Ia tertunduk. "Sejujurnya aku ... ah, rasanya hanya mencari alasan saja," gumamnya. Ia menatap Shasa. "Aku ... salah ya?" Ia mencoba tersenyum.


"Kak Bima." Shasa diam sejenak. "Kakak gak salah sepenuhnya."


"Shasa!" teriak Raven makin meradang karena gadis itu seperti membela pria itu.


Tangan gadis itu memberi kode supaya Raven mendengarkannya. "Aku juga menyukai orang lain."


Bima terkejut.


"Intinya, dari awal kita berdua tak pernah jujur dengan perasaan kita masing-masing. Kita menjalani hubungan ini dengan setengah hati sehingga kita berdua berakhir tersakiti. Rasanya sudah cukup hubungan ini bagiku karena mulai hari ini aku ingin hidup jujur dengan perasaan hatiku sendiri. Aku tidak ingin terbebani oleh rasa bersalah lagi."


"Apa karena kamu tidak bisa memaafkan kesalahanku?"


"Cih!" ledek Raven.


"Coba Kakak kembali pada Kak Rika. Perbaiki hubungan kalian. Mungkin dari situ akan ketemu jawabannya."


Bima kembali emosi. "Aku tak mungkin kembali berbaikan dengan Rika, Shasa! Dia ...."


Namun kemudian dipotong oleh omongan Shasa. "Dari cara Kakak bicara saja sudah bisa menegaskan ada masalah antara Kak Bima dengan Kak Rika. Coba tolong perbaiki. Kalau setelah itu Kakak masih ingin kembali, aku akan coba dengarkan."


"Shasa! Kamu jangan terlalu baik padanya!" teriak Raven lagi-lagi naik darah.


"Itu untuk membuktikan kalo Kak Bima benar."


Bima hanya diam membisu.


"Kak, kita sudah sepakat, kalau di antara kita tidak cocok kita bisa putus. Iya kan? Tolong ikhlaskan aku."


Bima menyentuh lengan Shasa. "Apa pria yang kau suka juga menyukaimu?"


Shasa menggeleng. "Aku tidak tahu."


"Sha, kau yang terbaik yang pernah ada dalam hidupku, bagaimana mungkin aku melepasmu?"


Shasa menyerahkan kotak cincin beserta Surat Pengunduran Dirinya. "Mulai hari ini, aku mengundurkan diri dari kantormu." Air mata gadis itu kembali berlinang. Dengan berat hati, Bima menerima keduanya. Ketika ia ingin mencoba menghapus air mata gadis itu, Raven menghalangi dengan menarik Shasa ke belakang tubuhnya.


Itu membuat Bima kesal. "Kamu siapa sih, mengganggu saja dari tadi," keluhnya.


"Aku sudah dianggap Kakak oleh Shasa," Pemuda itu memproklamirkan dirinya.


Bima gemas tidak bisa menyentuh gadis itu. Apa lagi Raven mengusirnya dengan gerakan dan lambaian tangan. Mau tak mau ia harus meninggalkan tempat itu tanpa sempat pamit pada Shasa. Ia segera menaiki mobilnya dan pergi dari kos-kosan itu.


Raven segera berbalik dan menatap gadis itu. Shasa sedang mengusap sisa-sisa air matanya.


"Kamu gak papa?"


"Iya, aku gak papa." Gadis itu berusaha tersenyum. "Aku sudah lega. Sudah selesai." Ia berusaha tertawa walaupun sangat tipis dengan menangis.


"Kenapa sih kamu memberinya kesempatan kembali?"


Shasa memukul dada bidang pemuda itu pelan seraya merengut.


"Ok, ok. Aku gak ikut campur."


Shasa yakin sulit bagi Bima berbaikan lagi dengan Rika mengingat sifat sepupunya itu yang judes dan sering bersikap semaunya, tapi bukan berarti karena itu Shasa menjanjikannya bisa kembali.


Memang ada yang rumit antara Bima dan Rika yang harus diluruskan dengan begitu kesalahpahaman cepat terselesaikan. Masalahnya, kedua-duanya sama-sama keras kepala untuk duduk bersama menyelesaikan masalah mereka karena mereka lebih suka berdiri di balik ego mereka masing-masing.


"Kamu udahan, main putri-putriannya?"


Senyuman gadis itu mulai mengembang. "Iya, udahan."


"Mmh."


Terdengar bunyi handphone berdering. HP Shasa, dari Abra. "Halo."


"Besok kita syuting."


"Ok."


"Aku jemput ya?"


-----------+++-----------

__ADS_1


Shasa mengunci pintu kamarnya dan kemudian mendatangi mobil Abra. Ia kemudian naik di kursi depan.


Abra segera menghidupkan mesin mobilnya. "Kamu belum ke kantor Yang."


"Belum tapi udah nyerahin Surat Pengunduran Diri kemarin."


"Apa? Sudah?"


"Kak Bima datang ke kos-kosanku kemarin."


"Oh, begitu. Kalau gitu, aku bisa mendaftarkanmu di Kantorku sekarang dong," ucap Abra senang. Kini ada peluang yang besar di depan mata. Ia tak akan menyia-nyiakannya. "Mana ijazahmu?" Ia menyodorkan tangannya.


"Besok-besok saja ya Kak ...."


"Sayang." Abra membetulkan.


"Sayang."


"Enggak, sekarang aja. Mana cepet!" Abra masih menyodorkan tangannya.


"Ck!" Shasa melipat tangan di dada, mengerucutkan mulut serta menautkan alisnya.


"Ayo ... Pasti kamu mau kabur ya?" Pria itu menggerak-gerakkan jemarinya.


"Enggak ...."


"Ya udah. Mana?" Abra masih menagihnya.


"Iih!" ucap Shasa kesal. Ia malas ke kantor Abra karena pasti bertemu Kevin.


Abra mencondongkan tubuhnya ke arah Shasa. "Ayo, atau mau kupeluk Sayang."


Shasa mundur. "Eh, iya, iya." Ia membuka pintu dan segera turun.


Abra tersenyum simpul. Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di kantor Abra dan pria itu sudah menyerahkan data dan ijazah Shasa pada HRD. "Ini tolong segera diproses ya? Orangnya untuk sementara masih belum bisa masuk karena masih ada projek dengan saya. Segera setelah saya masuk, dia juga masuk."


"Baik Pak."


"Ok" Abra kemudian beralih pada Shasa yang menunggunya dekat pintu. "Ayo kita pergi."


Tempat yang dituju berikutnya adalah tempat syuting. Sebuah studio yang cukup besar di mana di dalamnya ada beberapa bangunan permanen tanpa atap dengan berbagai dekorasi ruang. Potongan bangunan ini di letakkan terpisah seakan-akan bagian dari sebuah ruangan di dalam sebuah rumah.


"Sayang." Kembali Abra membetulkan.


"Iya, Sayang." Dengan wajah khawatir.


Netra pria itu masih tertuju pada skenario yang didapatnya. "Ngak papa. Kerjakan saja. Kan kamu gak ada dialog. Oh, kita punya anak!" Abra menunjuk keterangan dialognya. "Kau akan memasak untukku dan untuk anak kita." Abra tersenyum lebar.


"Iya, tapi bagaimana melakukannya?" Shasa tampak cemberut.


"Lho, kan sudah pernah, kenapa masih meragukan kemampuan sendiri sih?"


"Bukan bidangku," jawab gadis itu sedikit ngambek.


"Memangnya kerja di periklanan, bidangmu?" ledek Abra. Pria itu berhasil membungkam Shasa yang masih cemberut.


Mereka kemudian di dandani di ruang berbeda. Ketika mereka keluar kamar, mereka telah di dandani dengan gaya berbeda. Shasa dengan dandanan yang lembut keibuan sedang Abra dengan pria muda yang tidak mengurangi ketampanannya. Keduanya mengagumi satu sama lainnya.


Sutradara datang membawa seorang gadis kecil bule berambut panjang. "Ini namanya Carol, akan jadi anak kalian di iklan nanti ya? Silahkan mengakrabkan diri. Orang tuanya ada di luar. Ia sudah ada beberapa kali ikut iklan makanan jadi dia sudah terbiasa. Aku beri kalian waktu untuk saling mengenal selama setengah jam, ok?" Pria itu pun pergi.


"Apa? Cuma setengah jam? Mana mungkin?" Shasa membelalakan matanya.


"Tante ini orang baru ya? Masa gitu aja gak bisa sih?" Gadis kecil itu melipatkan tangannya di dada.


"Tante? Aku ini masih muda ya!" Sambil menunjuk diri, Shasa membulatkan matanya.


"A ha ha ha ha." Abra tertawa sambil bertepuk tangan.


"Apanya yang lucu?" Kini Shasa bertanya pada Abra.


"Kan kita akan jadi orang tuanya."


"Oh, iya ya."


Gadis kecil itu memutar bola matanya. "Aduh Tante ini ...." Ia menggeleng-gelengkan kepala.


"Tapi bahasa Indonesiamu lancar ya?" tanya Abra memuji.


"Ya iyalah. Kalo enggak, gak mungkin kan aku disewa iklan di Indonesia," jawab gadis itu dengan gaya orang dewasa membuat Abra senyum-senyum bicara dengannya.

__ADS_1


"Kamu kok gayanya tua banget sih? Memang umurmu berapa tahun?"


Carol cemberut. "Aku baru kelas 4 SD Om. Masih kecil tau!" Ia makin mengerucutkan mulutnya.


Shasa menahan tawa.


"Oh, iya maaf. Kamu mau manggil kita apa? Papa Mama, atau Ayah Ibu?"


"Terserah!" Gadis kecil itu melengoskan wajahnya ke samping, ngambek.


Abra dan Shasa saling berpandangan. "Papa Mama aja ya? Yuk, sekarang kita main apa? Boneka?" tanya Abra lagi.


Ternyata di sana disediakan beberapa mainan anak untuk maksud mengakrabkan diri dengan anak-anak.


"Ih, mainan anak kecil."


Shasa tertawa.


"Lah, trus ... mainan apa?"


"Games aja." Gadis kecil itu mengeluarkan HP-nya.


"Oh, sini Papa mau lihat." Abra menarik gadis kecil itu ke pangkuan.


Gadis kecil itu membuka permainan yang diminatinya.


"Oh, battle(pertarungan) ya? Kamu tomboy juga."


Sebentar kemudian, keduanya tenggelam dalam permainan games itu. Shasa kemudian membawakan mereka keripik dan mereka menikmatinya sambil bermain games.


"Sudah selesai?" Sang Sutradara masuk memeriksa.


"InshaAllah Pak," ucap Abra memberi tahu.


"Ok, kita mulai. Adegan pertama yang mau diambil sesuai urutan. Mbak Shasa akan menghidangkan makanan tapi Carol tidak suka dan Pak Abra juga bosan dengan makanannya. Ok?"


"Ok," ucap mereka bertiga kompak.


"Ok, ayo kita take(ambil gambarnya)."


Semua mengikuti Sutradara ke panggung yang telah disediakan. Di sana di atas panggung, ada dekorasi dapur dan ruang makan. Mereka syuting di meja makan di mana Abra dan Carol duduk di sana. Telah disiapkan baki berisi beberapa piring makanan dan Shasa hanya beradegan meletakkannya saja di atas meja. Carol dengan mudahnya berakting muak seraya mendorong piring makannya sedang Abra berakting malas melihat makanan. Adegan pertama pun lolos.


Adegan kedua, Shasa harus berkutat di dapur memikirkan makanan yang harus dihidangkan. Inilah yang menyulitkan Shasa, karena dia berakting sendirian. "Kak, aku bagaimana?"


"Sayang." Abra mulai kesal.


"Iya, Sayang. Bagaimana?" Shasa menggenggam jemarinya.


"Sayang, Sayang, Sayang ...," ucap pria itu berkali-kali karena Shasa terus saja lupa.


"Iya, Sayang. Maaf."


Kini Carol yang terkekeh.


"Tuh, lihat Sayang, anak kita tertawa. Kamu tidak pernah ingat aku sebagai suamimu."


Kembali Carol tertawa.


"Iya, maaf Sayang." Shasa tertunduk.


"Coba ingat-ingat lagi yang sudah aku ajarkan padamu. Aku akan berdiri di depanmu dan membantumu berakting seperti yang diminta."


"Tapi aku belum pernah sendirian." Gadis itu merengut manja.


"Ih, penakut!" ledek Carol memajukan mulutnya.


"Eh, emangnya kamu pernah berakting sendirian?!!" Shasa kini menatap Carol dengan bertelak pinggang. Ia gemas gadis kecil itu terus meledeknya.


"Lho, justru ini pertama kalinya aku punya partner(lawan main). Sebelumnya aku selalu sendirian."


Ucapan Carol membuat Shasa makin tidak percaya diri. Ia kembali merengut.


"Udah, percaya aja omonganku pasti lancar-lancar aja," bujuk Abra.


Seorang gadis cantik menyelinap masuk studio itu. Ia terkejut melihat Abra.


____________________________________________


Halo, reader. Aduh dengan semangat 45 author menulis karena lagi batuk dan flu jadi gak konsentrasi. Terus dukung author ya, dengan like, vote, komen, hadiah iklan atau koin. Makasih. Ini visual Abra dan Carol yang bawel. Salam, ingflora. 💋

__ADS_1



__ADS_2