Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Ingin


__ADS_3

"Eh, ini kamar kamu kan?"


Baru bertanya begitu, Diandra sudah menariknya ke tempat tidur. Mereka berdua duduk di tepian tempat tidur dengan saling berhadapan. "Ada yang mau aku tunjukkan ke kamu." Wanita itu mulai membuka kancing atas kemejanya.


Damar panik. Eh ... apa yang mau dia lakukan di sini bersamaku? Pria itu menoleh ke samping dan menemukan bantal. Ia mengambil bantal itu untuk dijadikan sekat di antara mereka berdua. "Tunggu dulu! Kamu mau apa?"


"Apa?" Wanita itu tampak terkejut.


"Kita bukan mahram, kita tak boleh melakukan ini."


"Hah? Aku hanya ...."


"Maaf, tapi aku tak tertarik dengan wanita yang sudah menikah. Aku tak ingin bermasalah lagi."


"Tapi Damar ...." Wanita itu sedikit bergerak maju dan Damar kembali mengerakkan bantal itu agar ia hanya bisa melihat wajah Diandra.


"Ndra, aku sangat menghormatimu sebagai saudara," ucap pria itu masih kebingungan. Bagaimana caranya ia bisa keluar dari tempat itu dengan selamat? Kenapa semua jadi begini? Ia menyesali kenapa ia begitu bodoh dan mau saja mengikuti wanita itu tadi masuk ke dalam rumahnya.


Diandra mencondongkan tubuhnya ke depan membuat wajah pria itu semakin pias. Bisa saja pertahanannya runtuh dan sekali lagi ia akan membuat kesalahan. "Kak, dengar dulu. Kau harus lihat ini."


"Sudah, sudah, sudah. Begini saja." Aduhh, aku harus bicara apa ... "Kamu memang wanita cantik dan menarik dan aku tidak bohong soal itu."


Diandra tertegun.


"Tapi apa yang kamu inginkan? Jadi wanita yang hanya memenuhi hasrat atau wanita yang dicintai dan dihargai?


Kembali wanita itu terdiam.


"Ndra, kamu berharga. Jangan buat dirimu jadi pelampiasan hasrat. Jadilah wanita yang dicintai dan dihargai. Jangan hancurkan dirimu karena keinginan sesaat."


Wanita itu termenung sesaat dan kemudian menatap Damar. "Kau benar." Diandra mengancingkan kembali kancing kemejanya yang telah terlanjur ia lepas.


Damar menurunkan bantalnya.


"Ayo kita keluar."


Pria itu bernapas lega.


Saat mereka baru keluar dari kamar, mereka dikejutkan dengan kedatangan Erik dan Regan, suami Diandra yang masuk ke dalam rumah. Erik dan Regan pun terkejut melihat Diandra dan Damar yang baru keluar dari sebuah kamar.


"Kamu, siapa?" tunjuk Regan pada Damar.


"Eh, dia iparmu. Sepupu Shasa, istri Abra." Namun Erik juga heran melihat Diandra dan Damar keluar dari sebuah kamar. Apa yang dilakukan keduanya di sana?


"Tapi kenapa kalian berdua keluar dari kamarku, kamar kita Andra?!!" ucap Regan mulai keras. Ia berusaha menahan amarahnya karena ada mertuanya di sana. Ia tak berani memarahi Diandra di depan mertuanya.


Sejak tadi wajah Damar tampak pias. Baru keluar dari mulut singa kini ia masuk lagi ke dalam mulut harimau. Bagaimana caranya ia bisa menghindar dari ini semua sedangkan ia tidak melakukan apa-apa.


Kenapa saat ia ingin meluruskan hidupnya, ada saja godaan yang datang mengganggunya padahal ia sempat masuk penjara dan masuk ke dalam penjara lagi pasti begitu mudahnya dan setelahnya, tak ada lagi yang akan percaya pada perkataannya.


Jangankan nanti, sekarang saja, orang sudah tidak ada yang percaya padanya lagi karena label penjara sudah melekat erat di tubuhnya.


"Tunggu dulu jangan salah sangka," Diandra maju membela Damar.


Namun apa mau dikata, Regan yang sudah tak bisa menahan emosinya langsung menyerang Damar dengan meninju wajahnya.


Bug!


"Hei, stop! Kita harus bicara baik-baik di sini. Jangan asal tuduh!" teriak Erik pada Regan.


"Tapi apa perlu bukti lagi sementara kita bisa menilainya dari apa yang kita lihat, hah?"


Bug!


Regan kini meninju tubuh Damar yang memang tidak melawan. Erik segera melerai keduanya dengan menarik tangan Regan.


"Jangan salahkan Damar Yah, Damar tidak bersalah!" Diandra berusaha menahan air matanya, tapi satu-satu menetes juga air mata wanita itu. "Aku sudah muak, aku sudah benci diriku sendiri saat bertahan seperti ini!"


Ketiga pria itu menoleh ke arah Diandra.

__ADS_1


Wanita itu membuka dua kancing kemeja atasnya dan memperlihatkan bekas membiru di sekitar bahunya. "Mas, aku sudah tak ingin kau sakiti lagi. Aku minta cerai!"


Damar dan Erik kini menatap ke arah Regan yang mulai salah tingkah.


"Jadi selama ini kau menyakiti anakku, hah? Kini kau timpakan kesalahan itu pada Damar?" Erik menunjuk Damar. "Sungguh ... manusia macam apa kamu!!" teriak Erik berang. "Kalau begitu, ceraikan anakku sekarang juga!"


"Eh, ini kesalahpahaman Yah. Dia jatuh dari tangga dan ia membuat seolah-olah dia aku aniaya. Itu tidak mungkin Yah. Dia pasti berselingkuh dengan Damar hingga dia membuat cerita ini," bujuk Regan pada mertuanya.


"Kamu mau aku melucuti seluruh pakaianku, agar semua orang tahu kekejamanmu!" Derai air mata membasahi pipi wanita itu. Perasaan tertekan yang selama ini ia pendam ia keluarkan. Berkat perkataan Damar tadi ia memutuskan untuk mengungkapkan aib suami pada Ayahnya yang selama ini ia tutup rapat pada semua orang termasuk kedua orang tuanya.


Damar telah membantunya keluar dari penderitanya yang terus ia telan selama setahun ini. Ia berniat untuk berpisah dari suaminya.


Damar datang dan segera merapatkan baju wanita itu di leher. "Tutup pakaianmu. Malu dilihat para pekerja rumahmu," ucap Damar dengan suara lembut.


Damar sudah melihat para pembantu rumah tangga dan penjaga rumah sudah mulai bermunculan mengintip kejadian di dalam rumah itu.


"Aku takkan menceraikanmu Andra, sampai KAPANPUN!" ucap Regan lantang.


Damar yang kesal mendatangi Regan.


Bug! Bug!


"Sudah, sudah, sudah!" Erik melerai. Ia menatap Damar dan Regan. "Malam ini, aku memutuskan akan membawa anakku pulang. Aku minta kau Regan, ceraikan anakku segera."


"Yah, jangan percaya mereka Yah, mereka selingkuh dariku!"


"Lebih baik mereka selingkuh daripada membiarkan anakku besok menjadi mayat!" Erik menarik Damar. "Ayo Damar."


Damar dan Diandra pergi mengikuti Erik.


"Ayah, jangan percaya mereka Yah!" Regan masih berusaha membujuk Erik.


Erik membalikkan tubuhnya dan menunjuk Regan. "Kau sebaiknya menceraikan Andra atau kau masuk penjara," ucapnya dengan nada mengancam.


Ketiganya keluar dari rumah itu.


Di luar, Erik bicara pada Damar. "Tolong bawa putriku ke rumah sakit untuk divisum. Ini untuk bukti agar ia cepat bercerai."


"Eh, ba-baik Pak," jawab pria itu terbata-bata.


Erik memperhatikan wajah Damar yang juga biru di pelipisnya. "Kau juga diobati di sana."


"Apa benar aku boleh mengantarnya Pak?"


Pria paruh baya itu kembali menatap Damar. "Kau juga harus tau, aku mengikutimu dari belakang, jadi jangan macam-macam dengan putriku," ucapnya seraya tersenyum.


"Eh, baik Pak."


Diandra mengikuti Damar ke mobilnya sedang Erik naik ke mobil miliknya. Mereka beriringan ke rumah sakit.


"Maaf ya Damar. Gara-gara aku kamu jadi kena masalah," Diandra menunduk dengan sesal.


"Oh, gak papa." Pria itu mulai tersenyum. Diandra telah membelanya tadi sehingga ia lolos dari masalah dan ia merasa sangat bersyukur. "A-aku kira kamu mau apa tadi buka baju. Maaf aku salah sangka!" Pria itu menggaruk-garuk kepalanya.


Ya, sebenarnya pada saat di kamar itu Diandra ingin menunjukkan pada Damar memar akibat dipukul suaminya, tapi pria itu salah menanggapi hingga terjadilah miskomunikasi di antara mereka. Namun akibat salah paham itulah Diandra sampai pada kesimpulan untuk bercerai dengan suaminya. Benar-benar sebuah kesalahpahaman yang berujung pada kelegaan.


----------+++---------


"Pok ame-ame, belalang kupu-kupu. Siang makan nasi, kalau malam siapa yang minum susu?" Raven menjepit hidup Lione kecil dengan lembut hingga bayi itu tertawa. "Lione ya?"


"Lina," jawab Lina kecil dengan serius.


Raven menoleh pada bayi di pangkuan Shasa. "Oh, iya. Lina juga ya? Mmh." Ia mencubit dagu kecil bayi perempuan itu.


Lina yang sudah berumur setahun lebih itu, sekarang sering mengikuti kata-kata yang dibicarakan orang di depannya. Apalagi ia sudah mengenal namanya sendiri sehingga setiap nama Lione disebut, ia selalu menyertakan namanya, apapun itu ceritanya.


"Lione sampai sekarang belum bisa bicara ya Sha?" tanya Raven pada Shasa yang sedang sarapan di sampingnya.


"Lina," ucap Lina kecil mendengar kembarannya disebut.

__ADS_1


"Oh, iya." Raven mengusap kepala Lina seraya tersenyum lebar.


"Jangan disebutin nama kembarannya pasti Lina akan menyebut namanya sendiri," terang Shasa.


"Oh, gitu."


Lina menatap ke arah ibunya karena namanya disebut dan Shasa hanya tersenyum.


"Iya, kembarannya belum bisa. Aneh juga."


Abra keluar dari kamar dan merentangkan tangannya. Ia baru bangun karena semalam sibuk menidurkan kedua bayi kembar itu yang entah kenapa berbarengan bangunnya di tengah malam sedang Shasa masih terlelap.


Pastinya gara-gara Lina karena bila bayi perempuan itu bangun lebih dulu, dia menggoda saudara kembarnya Lione hingga ikut terbangun.


"Pagi Kak," sapa Raven melihat Abra yang baru terbangun.


"Pagi ...." Pria itu masih menyipitkan mata seraya mengintip sarapan pagi hari itu. "Anak-anak sudah makan Mi?" tanya Abra pada Shasa.


"Mamito," ralat Lina lagi.


"Oh, iya. Mamito ya Sayang ya?" Abra mendekati Lina dan menangkup wajahnya. "Sudah Emam, Sayang Papito?"


Bayi perempuan itu menengadahkan tangannya minta digendong Abra dan pria itu segera mengangkatnya.


"Anak-anak sudah pada sarapan. Mas gak sarapan?" tanya gadis itu menengadah.


"Mmh, mau." Abra duduk di samping istrinya. "Tapi suapin."


Shasa segera mengambilkan piring untuk Abra.


"Mmh, jomblo panas nih, jomblo panas," ledek Raven.


Shasa dan Abra tertawa.


"Mau? Aku jodohin sama temenku?" tawar Abra.


"Waduh, maaf aja nih. Aku jomblo berkualitas," pemuda itu merapikan kerahnya.


Abra kembali tertawa sedang Shasa hanya tersenyum.


"Jadi nanti kamu kapan kuliah Mi?" tanya Abra pada istrinya.


"Mamito," ralat Lina.


"Oh, iya Mamito, Sayang." Abra menempelkan wajahnya pada wajah Lina yang tertawa geli karena merasakan rambut-rambut kasar yang baru tumbuh pada sekitar rahang Abra. Pria itu tersenyum.


"Nanti, lagi diurus Pi."


"Papito." Kembali menyahut Lina.


Shasa hanya tersenyum melihat Lina berkali-kali membeo ucapan orang yang didengarnya. Ia menyuapi suaminya sambil mengusap pucuk kepala Lina.


"Kamu tinggal satu tahun lagi kan Ven. Terus, kamu mau ngapain? Pulang ke Jogja?" tanya Abra beralih ke Raven.


"Ngak tau deh. Antara pengen nerusin S2 atau kerja," Raven masih bercanda dengan Lione dengan memegangi mainannya.


"Widih, keren. S2. Aku kalah nih," ledek Abra.


"Kamu mau kuliah juga Mas?" tanya gadis itu.


"Mmh, mau dong tapi gantian sama kamu aja Yang, soalnya kita lagi bangun rumah juga kan?"


"Tapi katanya mau selesai?" sela Raven.


"Beberapa bulan lagi."


"Ya kalau begitu, sama-sama aja kuliahnya."


"Ngak bisa, kan harus ngurus perusahaan dan jaga anak. Aku sebisa mungkin jaga si kembar. Kalau kerja kan waktunya fleksibel tapi kalau kuliah enggak. Aku biar nunggu Shasa selesai kuliah dulu baru gantian kuliah."

__ADS_1


__ADS_2