Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Pantai


__ADS_3

Seorang pria paruh baya melewati sebuah ruangan yang tertutup kaca separuhnya. Diintipnya semua pegawai di sana dan salah seorang gadis yang dicarinya ada di sana. Gadis itu menekuni pekerjaannya.


Pria itu tersenyum senang melihat Diandra mulai fokus dengan pekerjaan. Sebelumnya gadis itu memang tipe yang fokus melakukan apapun hanya kadang ia tidak punya tujuan. Di saat seperti itu ia akan luntang-lantung ke mana saja tanpa tujuan karena itu ia mengarahkan anak perempuan satu-satunya itu untuk bekerja.


Kemudian ia melangkah ke tempat lain.


-----------+++-----------


"Kita jalan-jalan yuk Sha," ucap Abra setelah lama terdiam.


"Apa? Ke mana? Kak Abra kan bahunya masih sakit."


"Ke pantai yuk?"


Seketika Shasa terkejut. Secepat itu impiannya jadi kenyataan, tapi ia tidak bermaksud ...."Apa tidak terlalu jauh Kak?"


"Apa? Aku kan tidak sakit. Aku sehat. Hanya bahuku saja yang sakit. Aku tidak bisa berada di apartemen seharian terus menerus tanpa kegiatan, rasanya tubuhku sakit semua, " keluh Abra. "Ya?"


"Ya sudah." Shasa pun bernegosiasi dengan supir taksi online untuk membawa mereka ke pantai. Abra menyebutkan tempat yang ingin ditujunya dan kemudian mobil pun berubah haluan.


Mereka akhirnya sampai ke sebuah hotel di pinggir laut. Mereka masuk ke hotel itu dan memilih makan di belakang hotel yang mengarah ke laut.


"Kak Abra gak laper? Ini udah telat jam makan siangnya. Habisnya Kakak pilih tempat yang jauh."


"Ngak papa. Kamu mau makan dulu?"


"Aku sholat dulu."


"Ya udah aku sholat juga."


Keduanya kemudian sholat Zuhur lalu kembali ke tepi pantai. Di sana udara sedikit teduh dan angin sepoi-sepoi. Mereka makan di sebuah meja di belakang restoran tak jauh dari bibir pantai.


Abra menghirup udara segar di pinggir pantai dengan mata terpejam dan mulut yang tersenyum lebar. "Mmh, sudah lama aku ingin liburan di tepi pantai. Kamu?"


Aku harus jawab apa? Impiannya sama dengan impianku saja aku sudah bingung. Ia tak mungkin tahu isi kepalaku kan, tapi aku tidak bermaksud berselingkuh seperti ini. "Mmh, kita masih pacar pura-pura kan?" Ah, aku kenapa menanyakan ini, bodoh! Dia kan tidak tahu.


"Eh, apa? Apa maksudnya?"


Tuh kan dia tidak tahu! Aaaah .... "Eh, enggak. Maksudku, setelah syuting aku sudah boleh kembali ke tempat kerjaku kan?" Mudah-mudahan aku gak salah ucap. Aku ngomong apa sih sebenarnya? Shasa ingin memukul mulut karena berbicara asal.


Kenapa dia mengingatkanku soal ini? Apa aku begitu membosankan ya? Raut wajah pria itu menjadi tak segar. "Iya ..." jawabnya pelan. Abra kemudian lebih banyak diam saat makan. Ia menunduk dan makan dengan pelan.


Shasa melihatnya dan merasa bersalah. Apa kata-kataku menyinggung perasaannya? "Eh, apa aku salah bicara?" Ia langsung menanyakannya.


"Maaf ya, kamu aku 'seret' ke sini." Abra masih menunduk.


"Oh, bukan gitu ...."


"Iya, bilang aja gak usah bohong."


"Bukan. Aku hanya ...."


"Hanya apa?"


"Aku tadi memikirkan pantai juga."


"Masa? Mana mungkin!"


"Iya, bahkan aku memikirkan pergi denganmu."


Abra mengangkat wajahnya dan menatap gadis itu tak percaya. "Kamu ... mikirin aku?"


Merah padam wajah gadis itu mendengar pengakuannya sendiri yang terlanjur keluar dari mulutnya. Ia bersembunyi dengan menunduk.


"Bohong ya?"


"Ih, enggak!" tapi gadis itu semakin malu karena sadar terjebak ucapannya sendiri.


"Kamu enggak ...." Abra sadar kemudian bahwa gadis itu sangat polos dan telah tak sengaja bicara. Ia bisa melihat dari wajahnya yang merah padam di depannya. "Kalau ... gak ... keberatan ... kita lama di sini gak papa kan?"


"Ngak papa," jawab gadis itu masih sambil menunduk. Ia masih malu dengan pengakuannya barusan.


Abra tersenyum. Ia memulai semangat baru dengan makanannya dan ia mengunyahnya dengan senang.


Sehabis makan siang mereka pergi ke pantai. Abra duduk di pasir tak jauh dari bibir pantai sedang Shasa menyusuri pinggir pantai yang berombak kecil. Gadis itu tak pernah pergi jauh dari Abra, setiap langkahnya terlanjur jauh, ia akan kembali.


Abra melihat langit yang biru dan awan berarak. Udara siang itu mendukung mereka berada di sana.


"Kak!" Shasa menghampiri dan duduk bersimpuh di sampingnya. "Katanya mau ke pantai, kok cuma duduk aja?" Wajah gadis itu bersemu merah tapi terlihat bahagia. Abra bisa melihat bahwa gadis itu tidak bohong soal senang berada di sana.


"Mau jalan ke mana?"


"Udaranya segar Kak. Kita jalan di pinggir pantai sambil main air."


"Aku susah buka pasang sepatuku." Abra menggerakkan-gerakkan kakinya.


"Mau aku bukain?" Tangan gadis itu sudah bergerak membuka sepatu Abra. Ia sendiri sudah sedari tadi melepas sepatunya sejak menjejakkan kakinya di pantai.


"Eh ...." Abra terpaksa membiarkan saja gadis itu membuka sepatu dan kaos kakinya.

__ADS_1


"Ayo Kak." Shasa membantu Abra berdiri. Pria itu kemudian melangkah menyusuri pantai mengikuti gadis itu.


Gadis itu kemudian berhenti dan menatap langit. "Udah mau sore Kak."


"Sebentar lagi senja kan?"


"Iya."


"Kita kembali ke meja kita tadi saja, melihat senja di sana sambil minum es kelapa."


"Ok." Gadis itu tersenyum.


Abra tidak mengerti arti senyumannya dan langsung berbalik arah untuk kembali tapi tiba-tiba seseorang mencipratinya dengan air laut dan ia terkejut. "Shasa ...." Ia membalikkan tubuh menatap gadis itu.


Gadis itu malah tertawa.


Tingkahnya membuat Abra gemas hingga ia membalasnya. Gadis itu memekik dan berlari menjauh. Abra mengejarnya.


Sore hari mereka habiskan dengan menunggu senja menghilang sambil duduk-duduk di kursi makan dekat hotel. Mereka menikmati sambil melepas lelah bermain di pantai tadi. Senja pun menghilang berganti malam.


"Kamu mau makan di sini atau kita pulang?" tanya pria itu pada Shasa.


"Kita pulang saja Kak."


"Ok."


"Pak Abra?"


Abra dan Shasa menoleh.


Seorang pria datang menghampiri bersama seorang wanita. "Aku tidak mengira kita akan ketemu di sini."


"Oh, Pak Jarot." Mereka bersalaman.


"Aku dengar Bapak kecelakaan, iya?"


"Oh, iya tangan kiri saya, bahunya retak."


"Ah!" Pria tersebut membayangkan sambil mengerut kening. "Tapi kenapa Bapak bisa sampai kemari?"


"Tanganku tidak bisa aku gerakkan tapi fisikku tidak sakit, karena dikasih libur jadi aku memilih kemari."


"Ow, begitu, tapi kebetulan sekali. Aku kemarin mencari Bapak, tapi tidak ada. Sekarang kita ketemu, apa boleh aku membicarakan bisnis sekarang?"


"Mmh ...." Abra menoleh pada Shasa.


"Oh, maaf. Apa kami mengganggu? Apa ini pacar Bapak?" Jarot menatap gadis itu.


"Saya lagi ada projek dengannya," terang Abra.


"Oh, sedang berdiskusi ...." Jarot menyimpulkan.


"Oh, bukan, bukan." Sekilas menoleh pada Shasa. "Kami diminta untuk membintangi iklan sebuah produk," jelas Abra.


"Benarkah? Oh, hebat. Ternyata Bapak punya bakat terpendam rupanya."


"Oh, tidak. Ini hanya kebetulan saja. Mereka mengira aku model iklan."


"Tapi, tidak salah kan Pak. Saya pun kalau tidak ada yang memberi tahu Bapak CEO stasiun TV itu juga pasti mengira Bapak salah satu artis di sana."


"Ah, Bapak bisa saja." Abra tersenyum lebar.


"Bener lo Pak. Oh iya, apa bisa kita bicara tentang kerja sama? Kita bisa bicarakan sambil makan malam, bagaimana?"


Kembali Abra melirik Shasa. Gadis itu hanya diam.


"Dengan nona ini juga boleh. Sekalian saja, kebetulan aku juga datang bersama istriku." Jarot memperkenalkan wanita yang sejak tadi berada di sampingnya.


Mereka pun berkenalan. Abra pun akhirnya bersedia untuk makan malam bersama.


-------------+++----------


Kevin mengangkat HP-nya. "Hallo Yah."


"Kamu sedang apa? Sedang sibuk?"


"Sedikit."


"Kevin, kamu tidak punya pacar? Jangan sibuk terus dengan pekerjaanmu. Carilah pasangan yang bisa mengimbangimu."


Kevin tertawa kecil. "Ayah tumben bicara begini."


"Apa kamu tidak ingin punya orang yang menunggumu pulang, atau diajak makan malam bersama?"


"Iya Yah ...." Kevin terharu mendengar perhatian ayahnya.


"Cari dan kejar wanitamu."


"Iya nanti dipikirkan."

__ADS_1


"Jangan dipikirkan, tindakan. Kalau kamu terlalu lama, nanti gadis incaranmu bisa disamber orang lo! Bergerak cepat."


Kevin tertawa ringan. "Iya, iya."


"Ok ya?"


"Mmh."


Telepon dimatikan. Kevin terdiam sejenak. Ia kemudian kembali mengangkat HP-nya dan menelepon seseorang. "Abra, apa kamu sudah makan malam?" Ia harus menelan kecewa karena Abra sedang makan malam di luar bersama seorang klien dan Shasa. Ia menutup teleponnya.


--------+++--------


Sehabis sholat Maghrib Abra dan Shasa pamit. Di perparkiran mereka hendak berpisah dengan Jarot dan istrinya.


"Eh, Bapak pulang naik apa?" Jarot kemudian menyadari kondisi Abra yang tidak mungkin menyetir mobil.


"Naik taksi Pak."


"Kalau tidak masalah, biar saya antar pulang Pak." Jarot menawarinya tumpangan.


"Aduh ... saya tidak mau merepotkan ini ...."


"Tidak apa-apa, tidak repot kok Pak. Sekalian kami pulang. Memang Bapak tinggal di mana?"


"Apartemen dekat Stasiun TV."


"Oh, searah. Bagaimana, mau saya antar?"


"Tapi saya ...."


"Tidak repot kok Pak," bujuk pria itu.


Abra menggaruk-garuk dahinya dan menoleh pada Shasa. "Ya sudah." Ia menyerah.


Mereka kemudian menaiki mobil mewah milik Jarot dan duduk di belakang. Mobil kemudian keluar area hotel menuju jalan raya.


"Kalau Nona ini rumahnya di mana, biar sekalian saya antar."


Kini Shasa dan Abra kebingungan. Seharusnya mereka tidak naik mobil itu karena akan bertemu pertanyaan sulit ini.


"Eh, saya diturunkan di apartemen Pak Abra saja," jawab Shasa sedikit mengangguk.


"Tidak apa-apa kok, saya anterin. Tinggal di mana Nona?" tanya Jarot lagi. Ia melirik ke cermin kecil di atasnya dan melihat Abra dan Shasa saling melirik. Akhirnya ia sadar, ada yang dirahasiakan di antara mereka berdua. Apa mereka tinggal bersama? "Eh, kalau maunya begitu akan saya antarkan."


Shasa dan Abra akhirnya lega.


Jarot tidak ingin banyak bertanya karena ia sedang fokus dengan promo produknya dengan mensponsori ulang tahun TV Indo. Ia tidak mau mencampuri urusan pribadi Abra karena pria itu tempat ia menggantungkan usaha bisnisnya saat ini.


"Terima kasih Pak," ucap Abra.


"Eh, iya tidak apa-apa."


------------++++-----------


Abra baru saja beranjak ke tempat tidur ketika HP-nya berbunyi. Ia mengangkatnya.


"Bra, kamu belum tidur?" tanya Kevin.


"Baru mau Kak, kenapa?"


"Besok pagi aku ingin main ke tempatmu boleh? Aku akan bawakan sarapan. Kau mau apa?"


Abra mengerut dahi. Kenapa kini Kevin tiba-tiba mau mengakrabkan diri padanya? Apa disuruh ayah? "Kak Kevin kan ke kantor, iya kan?"


"Eh, oh ... sebelum masuk kantor aku ke situ sebentar. Kamu tidak ke mana-mana kan?"


"Enggak Kak."


"Jadi kalian mau apa buat sarapan? Sekalian juga buat Shasa, aku bawakan. Apa mau kubawakan bubur atau ada yang lainnya?"


"Apa saja Kak."


"Oh, ya sudah. Eh, tadi pergi ke mana? Kenapa kamu ketemu klien, bukankah kamu seharusnya istirahat di apartemen?"


____________________________________________


Author Ayu Andila bercerita tentang gadis remaja dengan kenakalannya.



Aleta Winandra. gadis ceria yang suka membuat kegaduhan dimana pun dia berada bersama dengan teman-teman semaksiatan nya.


Mereka suka melakukan sesuatu hal diluar kewarasan manusia lainnya, dan selalu membuat orang lain sial saat berada di dekat mereka.


Namun suatu ketika, terjadi masalah dalam keluarga Aleta yang membuatnya harus melakukan sebuah rencana besar.


Dalam rencananya itu, Aleta melibatkan seorang pengusaha terkenal bernama Agra Mahesa.


"lihat saja. aku akan menjeratmu dan mengikatkan rantai diseluruh kehidupanmu," ucap Aleta disuatu malam.

__ADS_1


Apakah Aleta bisa menjerat Agra ? atau malah Agra yang akan membakarnya dengan sifat liciknya ?


Yuuk ikuti kisah mereka yang penuh dengan tawa dan kegaduhan.


__ADS_2