Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Mengetahui


__ADS_3

"Dan kamu belum pernah melihat mereka untuk terakhir kalinya kan?"


"Sudah."


"Mmh?" Raven mengerut kening.


Shasa mulai berpikir pemuda itu sengaja untuk mencari simpatinya. Tidak butuh waktu lama, gadis itu kembali menarik pemuda itu keluar. "Ayo keluar, ini kamar cewek."


Pemuda itu mendekati pintu dan menutupnya. Ia berbalik menghadap Shasa. Gadis itu terkejut. Raven mendekatinya membuat gadis itu mundur karena panik. "Bukannya ibumu saja yang meninggal?"


"Apa? Ayahku juga sudah meninggal." Eh, kenapa aku memberitahu informasi ini padanya? Dia kan bisa memperalatku.


"Apa kamu tidak hilang ingatan?"


"Apa?" Kini Shasa mengerutkan dahi. Ini sudah keterlaluan. Ia ingin tahu siapa dirinya dengan menebak-nebak. "Aku waras ya, jadi tolong keluar dari kamarku!" gertak Shasa marah.


Kemarahan Shasa tidak menyurutkan tindakan berani Raven. Pemuda itu malah menarik dan mendorong gadis itu ke tempat tidur lalu menghimpitnya.


"Hei, kau mau apa?"


Raven menahan satu tangan kiri Shasa dan menyibak jilbab instan di lehernya. "Maaf, aku ingin tahu."


"Eh, lepaskan aku!!" Shasa memukuli pemuda itu kuat-kuat.


Namun pemuda itu bergeming. Ia menarik pakaian yang menutupi bahu kiri gadis itu tapi ia tak bisa menemukan apa yang dicarinya. Sebuah tanda. Jelas, ia telah salah orang.


Pemuda itu segera berdiri dengan pandangan nanar. "Eh, maaf. Sepertinya a-aku salah orang," ucapnya gugup. Kemudian dengan cepat pemuda itu melangkah ke arah pintu, membukanya lalu keluar.


Apa itu tadi? Orang itu mau apa sih sebenarnya? Shasa setengah syok. Tidak sopan! Ia mencoba duduk. Sempat terlintas di kepalanya, pria itu hendak memperkosanya tapi ternyata itu tidak terjadi. Netranya sempat berkaca-kaca tapi ia bersyukur, tidak terjadi apapun pada dirinya.


Terdengar bunyi notif dari HPnya. Shasa segera mengambilnya.


Dari Damar. 'Aku menunggumu di bawah.'


'Aku sudah pindah.' Gadis itu mengetik jawabannya.


'Apa?'


'Iya, aku sudah tidak tinggal di sana. Kan syutingnya sudah selesai.'


'Sekarang kau tinggal di mana?'


'Tidak penting. Sudah, jangan cari aku lagi.'


'Sha, ada yang penting yang ingin aku bicarakan.'


'Kalau aku tidak mau dengar, bagaimana?'


Damar kesal. Ia melangkah ke sofa di lobi apartemen dan duduk di sana. 'Semenjak kau pergi, banyak yang berubah di rumah.'


Shasa mengerut kening. 'Apa?'


'Rika tadi di jemput orang tuanya.'


Shasa semakin bingung membacanya. 'Lho, Rika kan anaknya Om Adam?' Ia memastikan.


'Bukan ternyata. Papa impoten dan Rika adalah anak selingkuhan mantan istrinya.'


Shasa tak percaya dengan apa yang dibacanya. 'Kak Damar, hati-hati ya kalau bicara. Kakak gak boleh bohong karena ini menyangkut nama baik orang tua sendiri.'


Damar tersenyum dan kemudian membalasnya. 'Aku gak bohong. Makanya aku tuh dulu bingung waktu pertama kali ketemu Rika, gak ada mirip-miripnya sama Papa. Wajahnya, sifatnya, semua bertolak belakang. Ternyata mereka tidak sedarah, sedang kamu, kamu satu-satunya yang sedarah dengan Papa malah pergi dari rumah.'


Shasa berpikir sejenak. Ia sebenarnya iba mendengar nasib Rika karena ia tahu Omnya itu juga sayang pada Rika. Pasti sangat sedih harus ditinggal oleh Rika walaupun Rika itu bukan anak kandungnya. Terbukti Omnya itu membesarkan Rika tanpa memberitahu siapa orang tua gadis itu sebenarnya. 'Jadi Rika pergi dengan kedua orang tuanya?'


'Enggak. Dia kan jijikan. Dia anti banget disentuh orang miskin. Aku dengar orang tuanya jatuh bangkrut dan berniat buka usaha baru. Ia berniat mengambil kembali Rika untuk membantu usahanya tapi Papa gak setuju. Akhirnya diputuskan agar Rika tetap tinggal sama Papa tapi dia juga harus mengenal saudara-saudaranya yang lain. Rika ternyata punya 2 adik lagi yang sudah putus sekolah. Papa janji mau bantu modalin usaha mantan istrinya asalkan Rika jangan diganggu. Kalau dipikir-pikir hebat banget Rika ya? Selama ini bukan siapa-siapa tapi sok berkuasa.'


'Ya, dia kan sekarang saudaramu.'


'Aku rindu kamu pulang ke rumah. Kapan kamu pulang? Rika sudah gak bisa segalak dulu lagi kok!'

__ADS_1


Ya, tapi tidak untuk tinggal denganmu, itu bodoh namanya. 'Aku mau dilamar sama Bima.'


Damar syok membacanya. 'Beneran?'


'Iya.'


'Sha, aku tidak mau kamu menikah dengannya. Aku tidak setuju!'


'Terserah.'


Damar segera menelepon Shasa tapi gadis itu tidak mengangkatnya. Bahkan sampai berulang kali. Ia kesal hingga membanting HPnya ke sofa samping, sedang Shasa hanya tersenyum dan meletakkan HPnya di atas meja nakas. Setelah menutup pintu, ia pun melangkah ke pembaringan dan pergi tidur.


------------+++-----------


"Damar." Pria itu langsung disambut dengan panggilan saat masuk dari pintu depan. Pembantu yang membukakan pintu segera menyingkir ke dapur.


"Oh, Papa." Damar mendatangi Papa di meja makan. "Mama mana?"


"Di kamar." Pria paruh baya itu sedang meletakkan cangkir tehnya di atas meja. "Kamu Papa lihat belakangan sering keluar lagi, malam. Kamu ke mana? Apa kamu sudah punya pacar?"


Damar tersenyum miring.


"Lho, serius. Papa suka kalau kamu punya pacar. Sudah waktunya kamu serius membenahi diri. Lagipula umurmu sudah cukup dan punya pekerjaan yang walaupun belum tinggi nanti akan naik sendiri seiring kamu serius dengan keluarga kecilmu."


"Entahlah."


"Lho, kamu kenapa ragu? Punya istri itu enak Damar. Pulang ada yang memasakkan, menyambutmu pulang, tempat bercerita, dan pikiranmu tidak akan ke mana-mana bila punya seorang istri. Tujuanmu pasti ke rumah. Apalagi kalau punya anak-anak. Kamu pasti betah tinggal di rumah."


Entah kenapa saat Damar membayangkan apa yang dikatakan Papa padanya ia membayangkan Shasa. Ini sedikit membingungkan. Baru kali ini ia menyadarinya. Apakah ia ... ah tidak mungkin! "Pa, aku sudah ngantuk, aku mau langsung tidur aja ya?" Ia pura-pura menguap.


"Ya sudah. Tidurlah."


Damar segera menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar. Di kamar ia segera berbaring terlentang di atas tempat tidur. Ia masih memikirkan kata-kata yang diucapkan Papa padanya. Apa aku tidak salah? Setiap ingin pulang aku memikirkan dia? Ei, tidak. Aku cuma terbiasa ada Shasa di rumah dan pada saat ia tidak ada memang aku uring-uringan, tapi ....


Ia tak bisa meneruskannya. Sungguh aneh! Sebelum ada Shasa, dunianya tidak jungkir balik seperti ini.


Dulu, karena stres dengan pekerjaan, ia memanfaatkan sepupu barunya itu untuk mengerjakan berbagai macam hal untuk dirinya dan kebetulan gadis itu mahluk yang lemah saat itu, tapi tidak sekarang.


Dan Damar, semakin sulit tidur.


---------+++--------


Pintu sudah diketuk ke sekian kalinya dan akhirnya terbuka. Terlihat wajah letih Rika dari balik pintu.


"Kok tidur mulu sih lo!"


Gadis itu mengerutkan alis. "Jangan cari gara-gara deh, gue lagi gak mood!"


Damar tertawa. "Siapa yang lo sebut tuan rumah sekarang, hah! Lo bukan siapa-siapa di sini, TAU LO!" Ia bicara di depan wajah gadis itu membuat gadis itu tak berkutik. Rambut Rika yang kusut pun disentuh Damar dengan kedua ujung jarinya. "Iket rambut lo, berantakan banget sih!"


Rika terpaksa mengambil karet rambutnya ke dalam kamar. Damar mengikuti.


"Ada apaan sih?" Gadis itu mengikat rambutnya.


"Lo bisa masak?"


"Ya ilah. Itu mah kerjaan pembantu!"


"Jadi lo gak bisa masak?" Damar cukup syok mendengarnya.


"Ya enggak lah. Ngapain juga gue masak?"


"Kan keluarga lo miskin. Lo harus bisa masak biar hemat," ledek Damar dengan senyum lebar.


Rika geram mendengarnya tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu, Damar sedang menjalankan aksi balas dendam padanya.


"Ok, kali ini lo bisa lolos tapi gak ada lain kali. Besok lo harus belajar masak. Gue gak mau tau, pokoknya besok malam lo harus masakin gue telor dadar dan sosis, persis seperti yang dimasak Shasa buat gue. Ngerti lu!"


"Suruh aja dia balik lagi, apa susahnya sih?"

__ADS_1


"Susah. Dia udah gak mau balik. Apalagi dia mau dilamar Bima."


Rika terkejut. "Yang bener?"


"Iya."


Gadis itu terdiam.


"Gara-gara elo dia jadi mau nikah sama Bima."


Rika melirik Damar. "Emang kenapa?"


"Gue gak suka sama Bima."


Rika tertawa. "Apa urusannya?"


Damar menunjuk wajah Rika. "Diem lu! Lu bukan siapa-siapa di sini. Kalau gue kesel gue bisa usir lo dari rumah ini, ngerti?"


Rika menelan ludah dan terpaksa menahan amarahnya. Percuma saja ia melawan karena takkan bisa sebab sekarang Damar lah yang berkuasa. Ia sekarang hanya seorang penumpang.


"Jadi besok malam harus bisa masak ya? Awas aja kalo lo gak bisa," ancam Damar sambil melangkah ke luar kamar.


Ingin rasanya ia mencekik pria itu tapi ia kini tak bisa apa-apa. Dia bukanlah lagi siapa-siapa. Jadi, ia hanya bisa menghentak-hentakkan saja kakinya ke lantai.


-----------+++---------


Pagi itu Shasa keluar rumah dengan pakaian rapi. Dilihatnya Raven menunggunya diluar.


"Eh, mmh, boleh gak aku bicara?" Raven salah tingkah dan berusaha bicara hati-hati tapi Shasa tak menggubrisnya.


Gadis itu segera mengunci pintu.


"Sha, a-aku bicara gimana ya? Aku ingin menjelaskan yang semalam."


Bola mata gadis itu hanya bergerak-gerak mengikuti gerak tubuhnya, menghindar.


"Sha, apa kau sibuk? Sini aku antar kau mau ke mana?" bujuk pria itu tapi gadis itu tetap tak mengindahkannya.


Shasa menghindar dan langsung pergi.


"Sha!" Pria itu menjenggut rambut ikalnya seiring melihat gadis itu meninggalkannya.


----------+++----------


Abra mendengar pintu di buka. Ia mengintip dari pintu kamar dan melihat gadis itu datang.


"Kak, ayo sarapan. Aku bawa nasi kuning. Kakak belum sarapan kan?"


Abra segera keluar dari kamarnya. Rambutnya masih berantakan karena sepertinya baru bangun tidur.


"Baru bangun Kak?"


Apa aku harus menceritakan padamu bagaimana hati ini berjuang agar tidak sakit hati dan mampu bertahan melihatmu, yang pada akhirnya aku menyerah. Menyerah kalah. Aku sakit hati, tapi tak mampu berpaling. Abra menguap. "Mmh."


"Sudah sholat belum?" Shasa mengumpulkan piring dan sendok dan meletakkannya di atas meja.


"Sudah." Wajah Abra terlihat letih. Ada lingkaran hitam di sekitar matanya.


"Kakak mau tidur lagi habis ini?"


"Iya, sebentar."


"Ya udah, aku tunggu."


"Tunggu? Gak usah Sha, kamu ke kantormu saja."


"Kan hari ini aku ikut Haris untuk melihat-lihat stasiun TV. Kalau kamu gak ada ya sama juga bohong dong."


____________________________________________

__ADS_1


Novel terbaru dari Author Nazwa. Yuk, kepoin!



__ADS_2