
Shasa, apa masih berpacaran dengan pacar lamanya ya? Ah, sudahlah. Masalah anak muda, aku tak perlu ikut campur. Mereka berusaha tapi alamlah yang akan menyeleksinya. Itu takdir. Tinggal izin Allah lagi, direstui atau tidaknya. Hah ... Aku berharap salah satu dari anakku bisa mendapatkan gadis itu, karena sepertinya gadis itu juga membawa pengaruh positif bagi keduanya.
----------+++----------
Bima masih terdiam di dalam mobil. Ia masih ragu untuk keluar. Namun akhirnya ia paksakan diri untuk keluar juga. Didatanginya pintu gerbang itu dan mereka memberinya izin masuk karena mengenali Bima. Ia melangkah ke dalam.
Pintu utama akhirnya dibuka. Terlihat papa Rika sedang mengobrol dengan istrinya. Ia terkejut dengan kedatangan Bima malam-malam ke rumahnya. "Bima? Wah, ada apa ini?" Namun ia melihat ada yang berbeda dari wajah pria itu. Segera ia menghampiri dan menemaninya di ruang tamu. Mama pun ikut datang kemudian.
Setelah memberi salam Bima memulai. "Maaf malam-malam begini datang ke rumah Om tapi aku harus mengatakannya sebelum semuanya terlanjur." Ia mengatakannya seraya menundukkan kepala.
"Iya, ada apa? Kenapa tidak datang dengan Shasa?"
Bima melirik sekilas dan kembali menunduk. Ia sedang berusaha menyusun kata-kata.
Namun Adam segera tahu apa yang terjadi. "Jangan bilang pernikahan kalian ditunda?"
Bima kembali melirik sekilas.
"Dibatalkan?" tanya pria paruh baya itu tak percaya. Ia menutup mulutnya yang menganga. "Bagaimana itu bisa terjadi?"
Dari lantai atas Rika yang
baru saja akan keluar kamar, terkejut melihat kedatangan Bima. Ia masuk kembali dan mengintip.
"I-ini murni kesalahan saya jadi saya minta maaf. Shasa tidak salah. Dia tidak tahu apa-apa."
"Apa maksudnya ini?"
Bima terdiam dan masih menunduk. Adam hanya bisa menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Ini sepertinya perkara rumit yang hanya keduanya yang tahu masalah ini, tapi Bima cukup kesatria dengan datang dan memberitahuku. Biarlah alasannya menjadi misteri bagiku. Untung saja belum menyebarkan undangan padahal aku sudah memberi tahu pihak keluarga lainnya, hah ....
"Wah, keren ini. Gak jadi nikah!" Damar meninju telapak tangannya. Ia berdiri di dekat tangga di lantai dua. "Aku bilang juga apa, mereka tidak cocok satu sama lain, tapi berarti Shasa pasti udah gak kerja sama Bima lagi dong ya? Atau bagaimana?"
Rika yang sedang mengintip mendengarkan gumaman Damar. Ketika pria itu membalikkan tubuhnya, gadis itu merapatkan pintu agar Damar tidak tahu ia sedang mengintip. Pria itu segera masuk kamarnya. Gadis itu kembali mengintip dan mendapati Bima sudah berpamitan dengan kedua orang tuanya.
Segera ia mengambil dompet dan keluar dari kamar. Dilihatnya kedua orang tuanya telah kembali ke ruang tengah. Ia turun ke lantai satu.
Adam melihatnya. "Rika, kamu mau ke mana?"
"Oh, ke minimarket Pa." Gadis itu keluar rumah dengan tergesa-gesa.
Adam mengerut dahi. Ia tahu betul Rika dan Bima dulu pernah dekat sebelum Bima berpacaran dengan Shasa. Ia penasaran hingga bangkit dari kursinya dan melangkah ke arah pintu. Pembantu yang hendak mengunci pintu akhirnya kembali ke dapur melihat majikannya mengintip di pintu utama. Pria itu melihat Rika mengejar Bima dengan dahi berkerut. Ada apa dengan mereka? Apa ada hubungannya dengan batalnya pernikahan Shasa dan Bima? Apa Bima ... ayah dari bayi Rika? Adam menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mungkin! Ah, aku harus pastikan dulu. Ia menyentuh bibirnya.
"Bima!"
Bima menoleh. Mengetahui bahwa itu Rika, ia melengos dan melanjutkan langkah keluar gerbang.
Rika tetap mengikuti. Bahkan ketika Bima menyebrang ke arah mobilnya. "Bima!"
Pria itu terpaksa berhenti dan menghela napas. Pikirannya kembali kacau. Entah kenapa amarahnya pada gadis itu tak pernah usai. Apalagi gara-gara gadis itu ia malah kehilangan Shasa. Ia sendiri juga bingung dengan kejadian waktu itu, ia diam saja saat gadis itu menciumnya. Eh, lebih tepatnya, bingung. Terjebak dalam rasa yang ia tidak tahu apa. Suatu kebodohan yang sialnya disaksikan Shasa.
Ia memberanikan diri menatap gadis itu. "Jadi maumu apa sekarang, hah?"
Gadis itu terdiam. Ia seperti ragu untuk mengatakannya.
"Rika, aku ...." Namun ia menatap gadis itu kembali. Tubuhnya sedikit berisi, beda dari biasanya tapi tetap cantik. Entah kenapa ia kembali ingat masa-masa mereka pertama kali bertemu. Gadis itu adalah gadis ceria dan manja tapi kenapa ia berubah jadi seperti ini? "Kenapa kamu waktu itu—"
"Ada orang lain yang menyukai Shasa."
"Apa? Tapi apa hubungannya denganmu?"
"Menurutmu, aku melakukannya dengan senang hati, gitu?!" ucap gadis itu kesal.
__ADS_1
"Apa?" Pria itu mencoba mencerna kata-kata Rika. Butuh waktu beberapa detik untuk segera mengerti maksudnya. "Se-se-orang mengancammu?"
Rika hanya diam. Melihat Bima mengerti, ia segera meninggalkan pria itu dan pergi ke minimarket.
"Rika, Rika! Katakan siapa orangnya! Rika!"
Gadis itu terus saja berjalan. Air matanya jatuh tanpa diminta. Shasa. Kalau aku tak bahagia, kau tak boleh bahagia. Tak boleh! Keduanya tak boleh memilikimu. Air matanya mulai deras mengalir.
Bima menendang ban mobilnya. "Sial! Siapa yang menginginkan Shasa sampai berlaku curang seperti itu!" gumam Bima geram. "Apa Kevin?" Hanya nama itu yang muncul di kepalanya. Awas saja kalau itu benar. Awas saja! Aku sudah tidak bisa kembali lagi dengan Shasa gara-gara pria itu, Shasa tak mungkin percaya, tapi aku harus cari tahu dulu kebenarannya. Ia segera masuk ke mobil.
Sementara itu, Adam berdiri di pintu ketika Rika pulang. "Kamu dari minimarket?"
"Oh, eh, Papa. Iya Pa." Rika terkejut papa berdiri di balik pintu.
"Papa tadi lihat kamu bicara dengan Bima."
"Oh, eh." Papa apa dengar ya?
"Apa kamu ada hubungannya dengan batalnya pernikahan Shasa dan Bima, Rika?"
"Oh, mereka membatalkan pernikahan mereka?" ucap Rika pura-pura tidak tahu.
"Rika jangan bohong sama Papa. Ayo katakan, ada apa?"
"Apa Pa?" elak Rika.
"Apa ini ada hubungannya dengan kehamilanmu? Bima bukan—"
"Bukan Pa, bukan dia. Aku dan Bima hanya berteman kok!" Gadis itu terlihat kesal.
Papa melihat kesungguhan dari wajah Rika. "Jadi sebenarnya ayah bayimu itu siapa Rika?" Ia kembali bertanya.
Adam hanya bisa menatap anak gadisnya itu menaiki tangga, kemudian ia menghela napas.
-------+++---------
Sudah lewat lima belas menit, tapi pria itu tak juga muncul.
"Sudah Sha, Abang anterin aja." Raven mengeluarkan tangannya dari jendela mobil.
"Ngak!" Gadis itu cemberut seraya menyambungkan teleponnya.
Yang ditelepon, Abra sedang tertidur di atas tempat tidurnya ketika telepon dari Shasa masuk. Sedikit mengganggu nyenyak tidurnya hingga ia terbangun. Matanya masih memicing ketika ia mengangkat HP-nya. Ia telah melihat siapa yang meneleponnya. "Halo?"
"Kamu gak ke kantor?"
"Kantor, tapi habis Jum'atan. Aku mau olahraga dulu."
"Olahraga? Olahraga apa?"
"Tinju, tapi bukanya agak siang, jadi aku tidur dulu. Ada apa Sha?" Abra mencoba duduk di atas tempat tidur. Ia menguap.
"Oh ...." Gadis itu memainkan pasir di dekat sepatu hak tingginya. "Kalau gitu aku ke sana ya?"
"Apa?"
Namun HP-nya telah dimatikan. Shasa bergegas keluar dari halaman kos-kosannya.
"Sha, ngak jadi aku anter Sha?" tanya Raven lagi dari dalam mobil.
"Ngak!" teriak gadis itu dengan lantang. Ia segera mendatangi warung nasi uduk dan membeli 2 porsi dan kemudian ke apartemen Abra. Ia mengetuk kamar pria itu dan segera masuk.
__ADS_1
Terlihat Abra kembali tidur. Pria itu terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu oleh Shasa. "Mmh ... kenapa kamu ke sini?" ujarnya malas. "Kamu gak ngantor?" katanya menarik selimutnya.
Shasa duduk ditepian tempat tidur. "Ngak. Aku mau ikut kamu aja ke tempat olahraga."
Abra membuka matanya lebar-lebar. "Kamu gak takut di pecat?"
"Mmh, kamu gih yang teleponin kakak kamu kalau aku ikut kamu."
Abra mengangkat kepalanya dan mengenyitkan dahi. Kenapa Shasa tiba-tiba ingin mengikutiku? "Sha, kamu kerja padanya bukan padaku."
"Tolong dong, Sayang," ucap gadis itu manja. Ia tiba-tiba ingat untuk mengucapkan kata 'sayang' pada pria itu.
Abra menyipitkan matanya. Gadis itu pasti ingat karena ada maunya.
"Sayang ...."
Aduhh, tau saja titik lemahku. "Ya udah." Abra kemudian menelepon kakaknya.
Tepat saat itu Kevin hendak menjemput Shasa ke kos-kosannya. Ia sudah berada di parkiran sehingga terpaksa ia mengurungkan niatnya. Ia kembali ke dalam stasiun TV itu.
"Sudah, sudah aku telepon tuh!" Abra kembali merebahkan kepalanya dan memejamkan mata. "Sudah ya, aku mau tidur."
"Aku beli nasi uduk. Kamu mau makan bareng gak?" Kembali gadis itu berucap manja.
Abra kembali membuka matanya. Ada apa dengan gadis ini? Kenapa dia berubah seakan-akan ingin menggodanya?
"Nasinya masih anget lho!"
Beberapa hari belakangan ini Abra sedang banyak pekerjaan, sedangkan ia tiba-tiba bertemu teman lamanya Danisa yang sudah lama tidak bertemu. Ia ingin mengobrol dengannya tapi waktunya sempit. Saat ia mengajak wanita itu untuk menemaninya bekerja, Danisa mau saja karena keluarganya yang di Jakarta semuanya sibuk. Mereka hanya sempat bertemu sebentar hingga saat Abra mengajaknya menemani saat bekerja, wanita itu mau saja.
Kebetulan Danisa ingin beralih profesi mengerjakan pekerjaan kantoran karena ia punya perusahaan keluarga yang akan ia warisi dari orang tuanya. Kakaknya tidak mau mengambil alih perusahaan karena memilih berkarir jadi sutradara.
"Mmh." Abra menatap gadis itu. Apa Shasa menyukaiku? Andai itu benar. "Ya udah." Ia bangkit dari tempat tidur.
Mereka kemudian sarapan bersama. Setelah itu Abra memilih kembali tidur.
"Kenapa kamu tidur lagi Sayang?"
Abra yang baru naik ke atas tempat tidur, menoleh. Kenapa dia sekarang ingat bilang 'Sayang' sih? Apa ada yang diinginkannya? "Karena semalam aku begadang cari ide untuk program baru TV."
"Oh, ya udah." Gadis itu kemudian keluar kamar dan menutup pintu.
Abra hanya menggaruk-garuk kepala melihat tingkah gadis itu dan kemudian kembali tidur.
Beberapa jam kemudian pria itu kembali keluar dengan pakaian santai. Dilihatnya apartemen telah dirapikan oleh Shasa. "Ayo Sayang kita ke sasana tinju."
Mereka berangkat. Tempatnya ternyata tidak jauh dari apartemen Abra. Yang mengejutkan, Danisa telah menunggu di sana.
Shasa kembali cemberut. "Kamu mengajaknya ke sini juga?"
"Dia hanya ingin tahu. Lagipula aku tidak mengira kamu akan ikut Sayang, kamu kan gak suka olahraga yang banyak keringatnya."
"Sekarang aku suka."
"Mmh?" Abra kembali bingung dengan sikap aneh Shasa yang telah berubah dari biasanya. Ada apa dengannya? "Eh, iya. Nanti lain kali aku ajak." Pria itu kemudian mengganti pakaiannya dan mulai latihan. Setelah memakai sarung tangan tinjunya ia meninju bantal yang berbentuk panjang berkali-kali hingga keringatnya keluar. Ia juga bertemu pelatih yang mengajarkannya cara memukul yang benar.
___________________________________________
Halo reader. Jangan lupa vitamin author, like, komen, vote, dan hadiah. Kalau sempat, author nulis bab berikutnya hari ini. Ini visual Abra sedang latihan tinju. Salam, ingflora💋
__ADS_1