Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Pintu Hati


__ADS_3

Shasa terbangun saat mendengar suara kicauan burung. Samar-samar dilihatnya jendela kaca mobil dengan pemandangan halaman depan kos-kosannya. Di situ terparkir beberapa motor milik penghuni kos-kosan itu.


Eh, aku di tempat parkir? Di dalam mobil? Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan meluruskan tubuhnya yang tidur miring ke samping. Didapatinya Raven tidur di sebelahnya di kursi pengemudi.


Oh, aku tidur di mobilnya? Kenapa dia tidak membangunkanku? Shasa mengucek-ngucek matanya dan memperhatikan wajah Raven dari dekat. Ah, kenapa dia tidak juga mengerti, aku bukan masa lalunya. Lagipula, dia sepertinya punya banyak masalah dengan banyak wanita, seperti wanita yang semalam menyiram wajahku.


Wajah tampan seperti Raven pasti banyak yang suka di kampusnya, tapi dia bukan seleraku. Aku, tidak ingin dekat-dekat dengan orang yang pembawa masalah karena masalah hidupku juga sudah cukup rumit.


Shasa kemudian membuka pintu mobil di sampingnya dengan pelan. setelah turun ia kembali menutupnya pelan-pelan. Di saat itu Raven terbangun.


"Mmh, Shasa?" Pemuda itu mengangkat kepalanya.


Shasa dari balik kaca melambaikan tangan kemudian pergi. Ia meninggalkan jaket Raven di kursi mobil.


Seperti biasa setelah sholat subuh dan mandi, ia pergi ke apartemen Abra. Sempat ia melihat Raven yang duduk di depan kamarnya sambil minum secangkir kopi.


Setelah membantu Abra berpakaian Shasa pamit.


"Kamu gak anterin aku ke kantor?" tanya Abra heran. Biasanya Shasa memaksa ingin mengantar hingga ke depan ruang kerjanya.


"Sabtu Minggu aku libur Pak, dan lagi katanya Bapak bisa sendiri, " terang Shasa. Ia berusaha membatasi diri karena sebentar lagi Bima akan melamarnya. Ia juga menyadari belakangan ia sedikit memaksa Abra untuk mengikuti peraturannya padahal ia sendiri tidak suka dipaksa dekat dengan Raven. Ia berkaca dari masalahnya dengan Raven.


Abra sedikit kecewa. Ia bisa merasakan Shasa berusaha membatasi diri dengannya. Ia harus belajar sadar, gadis itu bukan untuknya. "Apa kamu bisa pesankan taksi online?"


-----------+++----------


Agak siang, Raven kembali keluar kamar. Ia ingin mencuci mobilnya. Ia menyiapkan sabun mobil, spons dan menarik selang yang terhubung ke keran di halaman kos-kosan. Terpikir mengajak Shasa mencuci mobil, ia mendatangi kamar gadis itu dan mengetuknya.


"Apa?" Shasa membuka pintu.


Raven terkejut dengan penampilan Shasa yang berada di hadapannya. Ia berdandan cantik dengan pakaian gamis sederhana berwarna oranye. "Kamu mau ke Mal?"


"Enggak. Mau pergi sama Bima ke rumah Omku."


"Ommu? Ngapain?" Dari mengkerut kening pemuda itu merubah wajahnya menjadi terkejut. "Oh ... jangan-jangan kamu mau dilamar?"


"Iya." Gadis itu tersenyum.


"Apa?" Dengan ... Bima? Gerak cepat juga dia, tapi ... apa memang mereka sudah mantap bersama? "Kamu yakin?"


"Apa? Dengan Bima?" Gadis itu kembali tersenyum. "Menurutmu?"


Terdengar sebuah mobil sedan memasuki halaman kos-kosan mereka.


"Oh, Bima. Aku pergi dulu ya? Assalamu'alaikum." Shasa menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Waalaikum salam." Raven hanya melihat saja ketika gadis itu melewatinya dan mendatangi mobil Bima. Mobil itu berangkat setelah Shasa naik ke atas mobil.


--------------+++-------------


Damar memperhatikan Shasa tak berkedip. Ia belum pernah melihat Shasa berdandan secantik itu. Beberapa hari ini ia belum bertemu dengan gadis itu, sungguh, ada sesuatu yang sedang meluap di dalam dada.


Di atas meja makan itu, ada begitu banyak rasa yang sedang berkecamuk. Shasa terlihat banyak tersipu-sipu karena dialah yang menjadi bintangnya saat itu. Bima mengutarakan keinginannya untuk melamar Shasa pada Adam, Om Shasa dan disambut baik oleh Om dan Tante gadis itu.

__ADS_1


Rika yang berada satu meja hanya bisa diam. Ada hal yang tidak bisa diungkapkannya saat bertemu Bima kembali. Bima pun di satu sisi, seperti takut kehilangan Shasa setiap kali pandangannya tak sengaja bertemu Rika. Di saat itu ia akan berusaha menggenggam tangan Shasa yang berada di atas meja untuk menguatkannya.


Bagaimana dengan Damar? Ia terkurung dalam keraguan. Ia tak tahu apa yang sedang dirasakannya, tapi yang ia tahu ia serasa hampir gila duduk di sana menyaksikan Shasa akan dilamar Bima. Gila karena ia sendiri tak yakin mencintai Shasa tapi tak rela Bima melamarnya. Namun ia bisa apa, kedua orang tuanya menerima Bima dengan tangan terbuka.


Kemudian setelah acara makan siang selesai, pembicaraan dilanjutkan di sofa ruang tamu. Damar dan Rika tidak ikut karena merasa pembicaraan masuk ranah serius sehingga mereka memilih kembali ke kamar masing-masing.


Damar tidak segera ke kamar, ia pura-pura ke dapur agar tetap bisa mengintip Shasa dari sana.


"Apa liat-liat? Pergi sana!" Damar mengusir pembantu-pembantunya yang melihat heran pada keberadaannya di dapur. Mereka segera bubar dan pergi.


Rika yang masuk ke dalam kamar, terlihat iri pada Shasa. Entah kenapa ia mengingat-ingat lagi saat pertemuan pertamanya dengan Bima. Ia kesal tapi tak tahu kenapa. Akhirnya ia membenamkan diri dalam selimut tebal di atas tempat tidur.


"Jadi sebaiknya sekalian saja ya, mengingat orang tuamu yang jauh di luar kota," saran Om Adam.


"Iya. Terima kasih Om. Memang kebetulan sepupu saya ada yang akan menikah juga dua bulan ke depan jadi paling aman 3 bulan lagi saya melamar dan langsung menikah dengan Shasa karena saya ingin semua saudara saya yang di daerah ikut hadir di pesta pernikahan saya nantinya Om. Saya sudah bicarakan ini pada orang tua di kampung."


"Tapi sebaiknya di jeda sehari saja. Lamaran di hari sebelumnya, biar panitianya gak kelelahan," imbuh Tante Sarah.


"Mmh, boleh juga. Biar bagaimanapun mengurus acara pernikahan itu sulit. Apalagi, acara lamaran, Om ingin bikin acara sendiri biar di sana para sana kerabat bisa saling berkenalan agar saat menikah nanti kita sudah saling mengenal. Bagaimana menurutmu?" tanya Om Adam pada Bima.


"Saya senang-senang saja Om," jawab Bima sambil tersenyum.


Setelah beberapa saat mengobrol, Bima dan Shasa pamit. Om dan Tante Shasa mengantar mereka sampai ke pintu depan.


Om Adam menyentuh punggung Shasa. "Sering-sering main ke sini Sha, biar Om tahu kabarmu."


"Iya Om."


Shasa dan Bima masuk ke dalam mobil. Sekilas Bima sempat melihat Rika yang mengintip dari balik pintu. Entah kenapa, ia masih saja marah setiap melihat Rika. Apa mungkin karena kemarahannya di masa silam tidak tersalurkan, karena itu ia masih menyimpan dendam? Entahlah. Yang pasti, ia tak ingin tahu.


"Kak, Kakak kan sedang nyetir. Bahaya!" Shasa memperingatkan.


"Mmh ...."


"Kak!" Shasa bingung, apa yang terjadi dengan Bima.


Pria itu akhirnya melepas genggamannya. Ia melirik gadis itu dari cermin kecil di atasnya. "Apa kita beli cincin kawin saja sekarang?"


Shasa melongo. "Masih lama kan Kak, acaranya."


"Aku takut terlalu sibuk jadi tidak sempat dan akhirnya lupa."


Akhirnya Shasa mengiyakan dan mereka pergi ke sebuah toko perhiasan emas.


Toko itu cukup besar dan pilihan perhiasan emasnya cukup banyak. Mereka melihat-lihat perhiasan emas, gelang, cincin dan kalung.


"Kamu maunya satu set perhiasan atau gimana?" tanya Bima pada Shasa.


"Aku cincin saja sudah cukup Kak." Shasa tak mau membebani Bima karena pria itu sedang merintis perusahaan kecilnya jadi ia tidak ingin minta macam-macam.


"Bener, hanya cincin saja? Mumpung aku lagi pegang uang yang cukup untuk beli satu setnya," tawar Bima.


"Lho, justru Kakak harus nabung Kak, nanti kalau ada keperluan mendadak di perusahaan gimana?"

__ADS_1


Bima mencubit pipi Shasa lembut. "Kamu pengertian sekali, sampai-sampai aku tidak tahu kekuranganmu di mana. Kau sangat sempurna."


Pujian dan pandangan mata pria itu sempat membuat gadis itu melayang jauh ke awan. Membuat wajahnya bersemu merah. "Ngak gitu Kak, aku cuma manusia biasa yang punya banyak kekurangan juga. Kak Bima terlalu berlebihan memujiku."


"Tidak, aku merasa tidak salah pilih. Aku saja bingung mau mencari cincin yang bagaimana untuk orang sesempurna dirimu."


"Kakak ah ...." Shasa terlihat malu.


"Mau dibantu Mas?" Seorang penjaga toko wanita memberanikan diri untuk membantu mereka sebab dari tadi ia melihat Bima sibuk memuji Shasa.


"Oh, iya Mbak. Bisa minta tolong untuk cincin nikahnya?" tanya Bima.


"Oh cincin pasangan. Ada Mas banyak, di sebelah sini."


Wanita itu menggiring mereka ke sebelah kanan. "Ini Mas, yang ada, tapi kalau tidak ada yang cocok bisa dibuatkan."


Bima dan Shasa melihat beberapa.


"Bagaimana dengan yang ini Sha?" Bima menunjuk cincin dengan hiasan satu berlian kecil di tengahnya.


"Terlalu mewah Kak, ini saja." Shasa memilih yang sederhana. Sebuah cincin emas yang polos tanpa hiasan apapun.


"Dicoba dua-duanya bisa. Bagaimana Mas?" tawar wanita itu.


Bima setuju. Wanita itu mengeluarkan kedua pasang cincin itu. Pertama mereka mencoba cincin bermata berlian. Bima memakainya dengan pas, tapi Shasa kesempitan. Kemudian mereka mencoba yang satu lagi. Bima juga kali ini pas memakainya cuma saat dipakaikan pada Shasa cincin yang satu lagi, cincin itu longgar.


"Kau suka cincin ini?" tanya Bima memastikan.


"Tapi kan besar," keluh Shasa.


"Tidak apa. Nanti kalau jadi Nyonya Bima juga nanti gemuk sendiri. Apalagi kalau kamu hamil. Pasti muat," Bima tertawa terpingkal-pingkal.


Shasa kesal dan mencubit Bima dengan manja. Wajahnya kembali memerah.


Setelah habis tawanya ternyata Bima membeli cincin itu.


"Lho Kak, kok dibeli?" Shasa bingung dengan keputusan Bima.


"Cincin ini kalau gak dibeli, pasti ada yang ngambil. Bener kan Mbak?" Bima beralih pada penjualnya.


"Oh, iya benar."


"Jadi aku beli saja karena kamu suka cincin ini. Nanti cincin ini bisa dikecilin kok. Iya kan Mbak?" Kembali pria itu bertanya pada sangat penjual.


"Iya betul."


"Jadi tanganmu diukur saja dulu, tapi nanti dikecilinnya dekat-dekat waktu kita nikah. Gimana?"


Shasa setuju. Tangan gadis itu kemudian diukur dan mereka pulang dengan membawa cincin itu. Bima mengantar Shasa pulang. Sebelum gadis itu turun, Bima menyerahkan kotak cincin itu pada Shasa.


"Tapi Kak, kan katanya mau dikecilin. Kakak saja yang pegang."


"Tidak. Mulai sekarang aku ingin mencoba menitipkan sesuatu pada calon istriku. Ini yang pertama." Bima menyodorkan kotak cincin itu pada Shasa.

__ADS_1


Shasa terlihat bingung. Haruskah ia menyimpan cincin itu, tapi mau tak mau ia menerimanya karena Bima adalah calon suaminya.


Ia kemudian turun dari mobil dengan membawa kotak itu. Mobil Bima pun keluar dari halaman kos-kosan itu.


__ADS_2