
"Nenek bagaimana Om?" tanya Shasa ketika masalahnya terselesaikan dengan pikiran tenang.
"Oh, nenek sudah lumayan sehat. Kakek di sana juga jadi gak khawatir lagi."
"Mmh, maaf ya Om, aku gak ikut nengok nenek ke sana." Wajah gadis itu penuh penyesalan.
"Oh, gak apa-apa kok, lagipula nenek cuma sakit sehari. Begitu lihat kita datang, langsung sembuh. Itu namanya sakit rindu." Mereka semua tertawa.
Diam-diam Damar memperhatikan Kevin. Seorang pria tampan berkulit putih bersih dengan penampilan pria mapan mengenakan jas abu-abu tua. Sosok yang sempurna di mata bukan saja wanita, pun juga pria. Damar cukup iri melihat penampilan pria itu yang juga seakan melindungi Shasa. Ia sendiri di perusahaan ayahnya masih berstatus Manager yang berbanding jauh dengan pria di depannya. Hah ... Shasa. Kenapa kamu selalu dikelilingi pria-pria mapan? Apa kau mau pamer padaku dengan membawanya, heh!
Kevin menyadari kemudian bahwa Damar sedang mengamatinya. "Eh, maaf." Ia menoleh pada Papa Rika dan menunjuk Damar dengan angkuhnya. "Ini anak Bapak?"
Sial! Dia menunjuk wajahku, Tuan muda sombong!
"Oh, iya. Anakku ada 2. Sepasang. Ini kakaknya."
Damar tanpa bicara, menganggukkan kepala, patuh.
"Yang satu lagi ...."
"Rika kan? Sempat kerja di perusahaanku tapi kemudian berhenti. Sayang sekali," Kevin memamerkan wajah menyesalnya.
"Ah iya, Rika itu adik Damar. Damar ini Kakaknya." Papa Rika menyentuh bahu Damar. "Maaf ya, kalau anakku selama kerja di sini telah merepotkan."
Kevin melirik Shasa yang sepertinya tak ingin bicara apa-apa. Om Shasa sepertinya tidak tahu apa-apa ya tentang tingkah anaknya? "Oh, tidak apa-apa Om. Oh ya, sebentar lagi makan siang, apa mau makan siang bersama?"
"Oh, maaf aku hanya sekedar mampir dan tidak mau mengganggu pekerjaan kalian. Aku baru saja pulang dari luar kota, jadi hanya ingin lekas pulang dan beristirahat," ucap Papa Rika yang kemudian pamit pulang bersama Damar.
Mereka mengantarnya hingga pintu kantin, lalu kemudian berbalik arah.
"Pak, aku mau ngecek Pak Abra dulu."
"Oh, iya," jawab pria itu sedikit kecewa.
Keduanya mendatangi ruang kerja Abra.
"Ahh ...," terlihat Abra sedang mengaduh memegangi lengannya sendirian di kursi sofa.
" Lho Kak, kenapa?" gadis itu bergegas menghampiri Abra dengan duduk di sampingnya.
Abra mengangkat kepalanya. "Tanganku kram!"
Shasa segera menarik tangan pria itu dan coba memijat lengannya dengan pelan, sesekali ia memperhatikan wajah Abra dengan cemas. "Sudah mendingan?"
Alis pria itu masih bertaut. "Belum ...." Wajahnya tampak frustasi. Rasa kebas di lengannya itu membuatnya tak nyaman. "Ah!"
"Eh, maaf." Shasa tak sengaja menyenggol lengan pria itu sedikit kasar. Gadis itu segera melepaskan. "Kenapa jadi begini Kak?" Ia tercengang tapi juga bingung bagaimana menolongnya.
"Tidak tahu." Dengan memicingkan mata pria itu masih menahan rasa kebas di lengannya.
"Apa perlu di bawa ke rumah sakit lagi?" Kevin mencoba membantu.
Gadis itu tak mengindahkan karena sedang berpikir cepat. Apa karena perbannya terlalu lama dipasang jadi dia kram? "Kak, ini perbannya udah berapa lama dipasangnya?"
"Apa ... Dari kemarin ... aku belum lepas," ucap Abra dengan susah payah.
"Apa? Belum lepas?"
"Iya. Bukanya susah ... jadi aku pakai terus! Aku juga belum mandi sampai sekarang."
"Astaga." Dengan cepat gadis itu membuka kancing baju Abra satu persatu dari atas.
"Mau apa?" tanya pria itu bingung.
Yang ditanya wajahnya memerah malu. "Maaf Kak, tapi perbannya harus dilepas dulu, mungkin aliran darahnya gak jalan."
Kevin yang melihat adegan itu hanya mampu tertegun melihat keberanian gadis itu membuka pakaian Abra tanpa bertanya. Ia hanya bisa iri pada adiknya itu tingkat dewa.
Abra hanya diam memperhatikan wajah gadis itu yang masih saja memerah, bahkan saat Shasa membantu membuka pakaiannya dan kemudian melepas ikatan perban di dada bidangnya.
Gadis itu sebenarnya juga sedikit dipusingkan dengan debaran jantungnya yang berdetak tak menentu, ditambah sorot mata kedua pria itu yang sedang mengamati apa yang sedang dikerjakannya. Tentu saja bukan ia tidak tahu keduanya sedang memperhatikannya dan itu membuatnya semakin merasa tidak nyaman. Wajahnya makin memerah dengan kegelisahan yang terdalam. Kenapa mereka memperhatikanku sampai seperti itu sih? Gadis itu menunduk malu.
Perlahan ia mencoba menarik turun perban di lengan Abra.
"Ah!" Pria itu menahan nyeri.
"Oh, maaf." Gadis itu melepas sebentar. Namun ia kemudian meneruskannya lagi dengan lebih hati-hati. Abra menahan bahunya dari samping dan Shasa menurunkan perban instan itu pelan-pelan hingga terlepas. "Ah, akhirnya."
Abra merebahkan kepalanya ke belakang dengan bernapas lega sedang Shasa menatap pria itu kembali.
__ADS_1
"Gimana Kak?" Shasa menumpukkan bantal di bawah lengan pria itu agar tak menggantung di dudukan sofa.
"Masih kram." Pria itu mengangkat kepalanya.
Shasa menarik lengan pria itu pelan dan mencoba memijitnya kembali. Kali ini manjur. Kramnya hilang perlahan.
"Lumayan Sha."
"Iya, Kakak kenapa gak dilepas?"
"Mmh, takut merepotkanmu."
Shasa menatap mata lembut pria itu yang berusaha jujur. Tentu saja, pastinya ia tidak ingin gadis itu semakin sungkan karena harus direpotkan membantunya berpakaian atau melepaskan saat hendak atau setelah mandi.
"Aku kan diminta Ayahmu membantumu tapi kalau tidak ada yang mesti dibantu ya aku cari kos-kosan aja."
"Eh, jangan, jangan, jangan." Abra menggenggam jemari gadis itu. "Iya, ya udah. Mulai sekarang aku pasti minta bantuanmu, walaupun semerah apapun wajahmu." Ia mencolek hidung mungil Shasa sambil tersenyum nakal.
"Ih, gak ada!" Gadis itu coba menyangkal dan menepis tangan Abra.
"Iya!"
"Gak ada!" Shasa merengut.
"Ya, ya udah ...." Abra mengalah. Ia takut gadis itu malah ngambek dan benar-benar mencari kos-kosan segera padahal ia masih ingin berdekatan dengan gadis itu lebih lama dan membantu kesehariannya yang sekarang tidak bisa ia kerjakan sendiri.
"Apa kalian tidak ingin makan siang?"
Keduanya menoleh pada Kevin. Mereka lupa ada Kevin di sana yang harus melihat kemesraan mereka berdua tadi.
Shasa membetulkan suaranya. "Kita makan siang di sini saja ya Kak, Kak Abra sepertinya makannya harus disuapi."
"Aku bisa ...."
Namun saat Abra melihat Shasa menoleh padanya dengan mulut mengerucut, ia menghentikan bicaranya.
"Jadi pesan makanan saja?"
Tak lama kemudian, Kevin memesan makanan. Makanan datang 20 menit kemudian. Ia memesan pizza. Ini pun sengaja ia pesan agar ia tidak melihat drama Abra disuapi makan oleh Shasa. Pria itu bisa makan sendiri tanpa bantuan gadis itu.
Abra memperhatikan gadis itu makan.
"Kenapa kamu makan pizza, sambelnya banyak banget sih? Kan jadi gak terasa pizzanya. Itu rasa sambel," kritik Abra.
"Ih, ini enak. Jadi terasa bumbunya."
"Mana ada, kan jadi pedes!"
"Justru di situ enaknya."
"Kamu, semua-semua dikasih sambel. Apa enaknya?" Abra masih saja mengkritik Shasa.
"Ini coba." Gadis itu menyodorkannya ke mulut Abra.
"Enggak!" Pria itu memiringkan wajahnya.
"Enak, tau. Ngak suka cabe ya? Atau jangan-jangan takut cabe lagi." Shasa tersenyum nakal.
Abra menatap gadis itu dengan raut wajah sungguh-sungguh. "Aku bisa kok makan sambel."
Shasa kembali menyodorkan pizza di tangannya ke mulut pria itu. "Mana?"
Abra menggigit pizza yang disodorkan Shasa. Ia mengunyahnya sambil tersenyum. "Tuh, gak papa."
Apa mereka selalu begini setiap makan? Ribut? Ah, Abra. Aku juga kepingin. Kevin hanya bisa melihat keributan mereka berdua tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia kembali memakan pizzanya sendirian.
Sehabis makan, Shasa kembali memasangkan perban instan Abra dan kemejanya. Ia mengancingi kemeja pria itu.
Abra menahan senyumnya memandangi Shasa. Andai saja ini takkan berakhir.
"Kak, pulang saja ya?" pintar Shasa.
"Lho kenapa?"
"Badan kakak kan kurang sehat. Tadi aja kram."
"Cuma kram."
"Cuma? Kalo aku gak ada gimana?" Nada suara Shasa mulai meninggi.
__ADS_1
Abra menggenggam tangan gadis itu. "Jangan begitu dong. Jangan ngancem."
"Lagian juga belum mandi. Parah!" ledek Shasa.
Abra tak mampu menjawab karena ia memang tak sanggup melakukannya. Ia hanya mampu menelan ludah.
"Sudah, sudah, sudah, kalian pulang saja." Kevin menengahi. Ia juga tak tahan melihat mereka berdua bertengkar karena selalu berakhir manis dan ia tidak suka itu.
Abra menurut. Shasa memesan taksi online dan mereka pulang.
Abra kembali ke kamarnya tapi tak lama ia keluar.
Shasa yang sedang mencuci piring, memperhatikannya. "Ada apa Kak?"
"Mmh ...." Pria itu sedang menimbang-nimbang mengatakannya. "Aku mau mandi."
"Oh." Shasa mengikuti Abra masuk ke dalam kamar pria itu.
Mereka berdua duduk di tepi tempat tidur. Shasa mulai membuka kancing baju pria itu, seperti tadi, dan kejadian itu terulang kembali. Pipi memerah dan debaran jantungnya. Ia tak bisa mengontrol semua itu, apalagi mereka hanya berdua di kamar itu.
Abra menyentuh tangan gadis itu membuat Shasa terkejut. "Biar aku buka sendiri saja."
"Tapi ...."
"Aku bisa!" Abra menarik bajunya dengan sedikit kasar membuat gadis itu kembali terkejut.
Ada apa dengannya?
Abra menunduk tak berani menatap gadis itu tapi terdengar ia menahan tangis. "Sayang Bunda tak ada," gumamnya.
"Kak ... kamu kenapa?"
"Aku bukan ...." Pria itu menghela napas berusaha mengatur kata yang ingin diucapkannya tapi sulit. "Aku bukan pria yang mencari kesempatan saat aku sakit."
"Aku tahu," jawab Shasa bingung. Walaupun begitu ia menunggu. Apa cowok labil bila sedang sakit?
"Ah." Dia tidak mengerti apa yang aku maksud. Aku ingin mengatakan padanya aku menyukainya tapi nanti dia akan pergi. Dia sangat memegang janjinya pada Bima. Sedang aku, aku sudah di pintu sabar. Aku ingin mengadu, tapi pada siapa? Tidak ada Bunda tempat aku bertanya.
Saat Abra terdiam, gadis itu menarik kembali kemeja pria itu untuk membuka kancing bajunya.
"Sha."
"Aku gak ngerti masalah Kakak apa tapi pasti Tuhan tahu. Adukan saja padaNya."
Kalimat itu membuat Abra sadar betapa besar keinginannya untuk mendapatkan gadis itu. Apakah takdir yang mempertemukan mereka adalah untuk hatinya agar menetapkan, atau hanya bertamu? Ia tak tahu karena takdir memang misteri. Semoga Allah memberikan hati yang lapang untuknya menerima ketetapan itu.
Abra diam saja saat Shasa melepas kemeja dan bahkan perbannya. Gadis itu kemudian mengusap tubuhnya dengan waslap hangat.
------------+++----------
"Jadi sekarang kamu mau apa Ka? Mau melamar kerja lagi?"
Ayah melirik Rika saat istrinya bicara.
"Gak ah, susah banget. Pasti dapatnya yang sama lagi. Model begituan." Gadis cantik itu melipat tangannya di dada.
Damar menahan tawa.
"Lalu?" Mama masih mengunyah makanannya. "Bagaimana kalau kamu kuliah saja, ya Nak ya?"
Rika menggulung bibirnya ragu. Papa dan Damar hanya mendengarkan sambil mengunyah makan malam mereka.
"Kalau kamu kuliah kamu bisa lebih pintar dan lebih dihargai kalau bicara," bujuk Mama lembut.
"Iya Ma?"
"Iya."
Rika masih berpikir.
_____________________________________________
Cerita tentang dosen, tapi gak jauh dari kata selingkuh, yuk kepoin.
Naura Anindhita gadis yang berusia 21 tahun masih bersatus mahasiswi di sebuah Universitas terpopuler di ibukota, dijodohkan dengan Wahyu Pratama yang berusia 29 tahun dan sudah bekerja di salah satu perusahaan ternama di ibukota, serta menjadi kepercayaan temannya yang merupakan anak dari pemilik perusahaan tersebut.
Meski pernikahannya berawal dari sebuah perjodohan, Naura sangat bahagia karena diperlakukan dengan sangat baik oleh suaminya. Semua perhatian dan sikap yang ditunjukkan oleh Wahyu, seolah dia sangat mencintai istrinya. Namun, siapa sangka. Ternyata itu semua hanyalah sebuah cover yang Wahyu gunakan untuk menutupi hubungannya dengan Diandra, kekasihnya sejak masa SMA.
__ADS_1
Setelah satu tahun pernikahannya bertepatan dengan Naura yang bergelar sarjana, dia mengetahui hubungan suaminya bersama Diandra yang ternyata adalah dosennya sendiri.