
"Ah ...."
Kini Damar menatap ke arah tempat tidur di mana Abra tengah terbaring. Dengan langkah pasti ia mendatangi tempat itu dan mengangkat pisau itu tepat di atas dada pria itu. Matanya liar menunggu kepuasan batinnya terpenuhi.
Ketika ia menghujamkan pisau itu dengan kedua tangan, di luar dugaan pria itu membuka matanya dan menahan kedua tangan Damar. Damar terkejut, karena pria itu bangun dan melakukan perlawanan. Abra berusaha menahan kedua tangan Damar agar pisau itu tak menyentuh tubuhnya tapi kekuatan Damar dengan emosinya yang cukup besar membuat terjadi penggumulan hebat yang akhirnya dimenangkan juga oleh Abra. Pria itu mendorong Damar jatuh ke lantai.
Kesempatan itu malah dipakai Damar untuk melirik Shasa. Gadis yang setengah tak sadarkan diri itu berusaha membuka matanya dan Damar mendekati dan berniat membawanya pergi.
"Hei, jangan bawa istriku!!!" teriak Abra dari atas tempat tidur.
"Mas ...." Shasa yang samar-samar mendengar suara Abra memanggilnya.
Abra yang panik ingin turun, segera membuka maskernya dan melepas jarum infusnya. Ia segera menghadang Damar. Ditariknya baju pria itu dari belakang dan dihempaskan ke samping.
Saat itu Raven datang dengan tergopoh-gopoh. Ia mendengar keributan hingga kopi yang dibelinya langsung ia buang di jalan. Ia terkejut ketika ia masuk ke ruang perawatan Abra, ia menemukan Damar telah berada lantai di hadapannya. Abra pun tengah berdiri dan diujung sana Shasa tergeletak di lantai dekat dinding. "Ada apa ini? Oh, orang ini ...." Ia menatap Damar tajam dan tanpa ampun lagi Raven segera menghajarnya.
Abra segera mendekati istrinya. Dilihat gadis itu tak berdaya tergeletak di lantai dan dari roknya keluar darah segar. "Shasa!" Pria itu panik.
Bersamaan dengan itu, serombongan polisi datang dan segera menangkap Damar.
"Maaf Pak, kami kecolongan karena dia menggunakan pakaian dokter jadi kami tidak memperhatikannya," lapor salah seorang polisi pada Raven.
Sia-sia Damar melawan karena ada 6 orang polisi yang meringkusnya.
"Raven! Tolong Shasa, dia pendarahan!" teriak Abra.
"Apa?"
Polisi dengan cepat tanggap segera melapor ke pos suster sedang Damar segera dibawa pergi.
Shasa segera mendapat penanganan, sementara Abra juga diperiksa kesehatannya setelah bangun dari pingsannya. Keduanya kemudian dimasukkan ke ruang perawatan bersama.
Abra segera menyambut istrinya turun karena Shasa di pindahkan dari brankar ke tempat tidur pasien di sampingnya yang telah disediakan untuk Shasa.
Gadis itu sudah siuman tapi masih terlalu lemah untuk banyak bergerak.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya pria itu pada dokter yang mengiringinya. Ia begitu cemas istrinya keguguran atau harus menggugurkan kandungan karena kejadian ini.
"Mmh, kandungannya riskan."
Mata Abra berkaca-kaca.
"Tapi masih bisa diselamatkan asal ibunya istirahat total di atas tempat tidur."
"Apapun akan kulakukan dok, apapun."
"Jadi usahakan istrimu jangan turun dari tempat tidur."
Abra meraih tangan dokter muda itu dan menjabatnya dengan kedua tangannya. "Terima kasih dok, terima kasih," ucapnya haru.
__ADS_1
Dokter dan perawat pun pamit. Pria itu mendatangi istrinya bersama Raven. Saat Abra menggenggam tangan gadis itu, Shasa menggenggam balik dengan erat.
"Mas, kamu gak papa?" ucapnya lemah.
Abra mendekati istrinya dan mengusap pucuk kepalanya. "Justru Mas yang harus bertanya itu ke kamu. Kamu tidak apa-apa?"
"Syukurlah Mas tidak apa-apa." Gadis itu memeluk tangan suaminya dan memejamkan mata. "Supaya aku bisa bertemu Mas lagi besok."
Ucapan istrinya membuat Abra terharu dan menitikkan air mata. Sebegitu besarnya cinta istrinya padanya dan ia baru mengetahuinya sekarang. Ia mengusap pipi gadis itu lembut dengan penuh perhatian.
Raven yang mengetahui segala sesuatunya telah berjalan normal hanya bisa meregangkan tangannya ke udara. Ia melangkah kaki ke arah kursi sofa. "Begini nih gak enaknya jadi orang jomblo, ah! Selalu disuruh jagain istri orang."
Abra tertawa.
--------+++---------
Hari berganti. Abra pun kembali sehat dan bekerja di kantor. Sehari-hari Raven menemani Shasa di rumah sakit bila tidak sedang kuliah sedang Abra yang telah menyewa seorang pembantu rumah tangga, kini dapat meninggalkan apartemennya dengan aman. Ia tidur di rumah sakit menemani istrinya dan siang hari bekerja.
Pada suatu kesempatan, pria itu meminta bertemu dengan Damar di penjara. Ia di pertemukan di sebuah ruangan dengan seorang sipir yang menjaga. Damar dibawa masuk oleh seorang sipir dengan tangan diborgol. Terlihat sekali dari wajahnya, ia ingin menghindari pertemuan ini tapi tak bisa. Bukan tak bisa tapi tidak berguna. Walau tidak di sini tapi di suatu tempat lainnya pasti mereka akan bersua jadi, ia akhirnya memutuskan untuk menerima pertemuan itu.
Mereka duduk berhadapan di sebuah meja. Abra begitu penasaran dengan apa yang dipikirkan pria itu padanya hingga ingin menghabisi nyawanya. "Sebegitu cintakah kau pada Shasa hingga batas kewarasanmu hilang?" Ia membuka percakapan itu dengan pandangan Damar yang melengos padanya. "Hingga tak peduli siapapun yang menghalangimu termasuk aku suaminya?"
Damar menoleh pada Abra dengan pandangan menusuk. Ia menyeringai miring dengan bersandar pada kursi di belakangnya. "Kamu tak pernah merasa bersalah? Kamu tidak mengerti bagaimana aku bisa membencimu?"
Abra menaikan satu alisnya.
Abra terperangah. "Aku membuatmu—"
"Bagaimana jika kamu jadi aku? Aku berusaha melupakan Shasa saat tahu ia menikah denganmu tapi kamu datang ke kantor milik Shasa dan bekerja di sana. Kau bercerita tiap hari bagaimana kalian hidup bahagia, dan bercerita tentang dia setiap hari padaku. Apa kamu pikir aku tidak gila?!!" bentak pria itu dengan kesal.
"Aku pikir kau akan senang karena kau kan saudaranya," ucap Abra pelan. Ia kini tidak lagi meyakini apa yang ingin dikatakannya pada pria itu karena memang tidak ada asap bila tidak ada api dan dialah api yang mengundang asap itu.
Padahal ia tak bermaksud untuk membuat orang lain patah hati tapi memang begitulah yang terjadi. Dialah penyebab segalanya bisa terjadi. "Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menjadi seperti ini. Aku tidak ... ah!"
Nasi telah menjadi bubur. Damar terlalu pendiam hingga ia tidak tahu apa yang dipikirkannya. Miskomunikasi ini membuat masalah semakin rumit. Andai saja waktu itu Damar bisa mengkomunikasikan apa yang ada dalam benaknya waktu itu, segala sesuatunya tidak harus berakhir seperti ini. "Baiklah, aku minta maaf."
Kalimat Abra justru mencengangkan Damar. Kenapa tiba-tiba orang ini mengampuniku?
"Aku akan urus masalah ini, agar kamu bisa segera dibebaskan."
Apa karena ... kebaikan orang tuaku?
Abra seperti mengerti apa yang dipikirkan Damar. "Aku berbuat ini karena aku membenarkan apa yang kau katakan. Aku bersalah karena itu, maafkan aku." Ia segera berdiri dan meninggalkan Damar.
Pria itu, netranya mulai berkaca-kaca. Bulir-bulir air mata penyesalan mulai jatuh membasahi pipi. Kini, pembenaran apalagi yang ingin ia ucapkan atas nama cinta. Semua sudah hanyut bersama air mata yang kian mengalir deras.
Padahal ia berharap Abra marah, geram dan meninjunya. Ia berharap pria itu menghukumnya tanpa ampun, tapi apa yang terjadi. Pria itu meminta maaf? Jadi apa gunanya kejahatannya selama ini? Ia mendapat maaf ... harusnya ia tak termaafkan. Setelah apa yang telah ia lakukan pada Shasa, seharusnya ia mendapat hukuman yang lebih besar lagi, tapi maaf ... pria itu memberinya maaf? Apa ... ia pantas mendapatkannya. Damar menunduk dalam dengan derita batin yang tak kunjung usai.
------------+++-----------
__ADS_1
Pintu diketuk dan Om Adam masuk.
"Oh, Om. Ada apa?" Abra menutup berkas yang sedang dilihatnya.
Adam melangkah mendekat. "Bra, makasih ya? Kamu mau meringankan hukuman Damar. Sebenarnya aku tidak tahu harus bagaimana karena anakku telah merusak segalanya. Aku sendiri baru tahu kalau anakku itu sudah lama menyukai Shasa. Ia tak pernah mengatakannya padaku karena dulu saat Shasa tinggal bersama ia tak pernah menunjukkan tanda-tanda ketertarikannya pada Shasa jadi ...." Ia melirik Abra. "Entahlah. Aku tak tahu apa yang aku katakan. Tahu pun aku tak tahu harus berbuat apa." Pria itu menyerah berkata-kata.
Abra berdiri menghampiri Om Adam dan menepuk bahunya. "Kita ini berkeluarga. Kalau ada yang bisa diperbaiki agar hubungan ini kembali baik kenapa tidak. Aku akan mengusahakannya.
" Mmh, terima kasih."
-----------+++-----------
"Gimana Sayang hari ini?" Abra pulang kerja dan mendatangi istrinya di ruang perawatanya.
"Bosen," ucapnya cemberut.
"Aduh, maaf ya Sayang aku agak malem pulangnya. Lagi banyak kerjaan. Kebetulan tadi ketemu buyer(pembeli) asing yang datang langsung ke kantor jadi terpaksa aku layani. Dia kebetulan pemilik salah satu supermarket di Sydney, Australia jadi—" Abra yang baru duduk di tepian tempat tidur terdiam saat jari telunjuk istrinya menyentuh bibir tebalnya.
Gadis itu masih merengut. "Kamu udah gak sayang ya, sama aku Mas?"
Aduuh, mulai lagi deh ngambeknya kalau lama ditinggal. Apalagi sejak gadis itu tinggal di rumah sakit, praktis ia tidak bisa melakukan apapun. Tidak bisa mengurus rumah, kantor, cuti kuliah, sedang Abra membayar penalti karena telah mengundurkan diri jabatan Brand Ambassador produk bumbu masak itu karena tak sanggup melanjutkan tugasnya mengingat keadaan istrinya sekarang. Shasa jadi sensitif sejak tak bisa melakukan apapun selain beristirahat di atas tempat tidur. "Sayang, kok ngomongnya begitu sih?"
"Habis aku ditinggal sendirian." Masih merengut.
Abra melingkarkan tangannya di pinggang gadis yang tak lagi kecil itu karena ada buah cinta mereka di dalam perutnya yang mulai tampak jelas belakangan ini. "Ya udah, kamu mau ke mana Sayang?"
"Mmh, jalan-jalan ...." Masih dengan bibir yang menggulung ke bawah, ia mendekatkan tubuh mereka dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Mmh, ya udah kita jalan-jalan." Abra mengusap sebentar belakang kepala istrinya sebelum melepas pelukan. Ia menyiapkan kursi roda yang berada tak jauh dari tempat tidur, kemudian menggendong istrinya menaiki kursi roda. Pria itu mendorong kursi roda itu keluar ruangan.
Sambil berjalan-jalan ia mengajak istrinya mengobrol. "Aku berpikir untuk membeli rumah."
"Mmh?" Shasa menoleh.
"Bukankah menyenangkan punya rumah dengan halaman luas biar kita bisa bermain dengan anak-anak kita, punya kolam renang kecil dan bisa mengadakan pesta barbeque-an di sana."
"Karena kamu ingin anak banyak sehingga kita bisa main sepak bola di sana ...." Kembali gadis itu merengut.
Abra tertawa. "Bukan begitu Sayang, apartemen kita terlalu sempit untuk anak kembar kita dan pembantu tidak bisa tinggal di sana. Intinya, apartemen kita memang diperuntukkan untuk mereka yang belum menikah atau belum punya anak dan sudah saatnya aku rasa kita punya rumah sendiri yang tidak harus mewah tapi cukup untuk seluruh anggota keluarga kita."
____________________________________________
Author lagi kurang enak badan akhir2 ini tapi tetep semangat menulis. Jangan lupa vitamin author ya? Like, komen, vote, dan hadiah. Ini visual Shasa di atas kursi roda. Salam ingflora💋
Ada novel on going baru, yuk cekidot!
__ADS_1