Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Ramai


__ADS_3

Pesawat akhirnya mendarat di bandara Jakarta. Seharian berada di pesawat membuat tubuh wanita itu pegal. Beda dengan Raven yang sekali waktu ia berjalan di dalam pesawat agar kakinya tidak pegal karena harus duduk terus di dalam pesawat. Mereka kemudian bersiap-siap keluar.


Setelah melewati pemeriksaan dan mengambil koper, keduanya menunggu taksi. Raven yang mendapat taksi lebih dulu. "Mbak, Mbak Danisa ...." Pria itu melambaikan tangan karena Danisa berada di urutan terjauh antrian.


Wanita itu melihatnya.


"Pakai taksi ini aja Mbak." Raven menawarkannya pada Danisa.


Wanita itu datang dengan bergegas bersama kopernya. "Terima kasih ya?" Danisa masuk ke dalam taksi lewat pintu yang dibuka Raven.


"Tidak apa-apa." Setelah menutup pintu, Raven melambaikan tangan pada taksi Danisa.


Wanita itu menoleh ke belakang lalu kembali. Dia sangat ramah tapi sekaligus cuek, Danisa mengerucutkan mulutnya.


------------+++-------------


"Aduh, gak enak banget ini kepala." Abra menatap wajahnya di kaca.


"Pokoknya harus jadi. Kalau gak jadi, ulang!" teriak Lina sewot sambil melipat tangannya dada.


"Astaga Lina, ini Papi perih dan juga panas ini kepalanya." Pria itu menatap gulungan rambut yang penuh di kepalanya.


Ia menoleh pada Lione yang cemberut sejak tadi melihat tingkah Lina. Kepalanya juga sama dipenuhi banyak gulungan rambut sedang Lina yang berambut panjang hanya diberi gulungan rambut di ujungnya saja.


"Lilin, Pi. Curang ...," keluh bocah laki-laki itu pelan.


Shasa yang berada tak jauh dari mereka hanya tersenyum simpul mendengar celotehan mereka bertiga.


"Aku kan figuran berdua Mami. Lione penyanyi dan Papi yang main gitarnya. Jadi berdua harus kompak di panggung."


"Ya, tapi kenapa Papi harus dikeriting berdua Lione sih?" protes Abra.


"Lione kalo gak dikeriting, matanya sipit banget Pi, kayak orang Cina. Bagus mana, dikeriting atau diwarna rambutnya?" Lina memberi pilihan yang sulit.


"Kalian kan masih sekolah, gak mungkin rambutnya diwarnai."


"Nah, bagusan dikeriting kan?"


"Tapi kamu dikeriting sedikit."


"Kan tadi Lina bilang, Lina cuma figuran bareng Mami." Lina merapikan duduknya.


Gadis kecil ini memang di rumah sering mengatur segala hal yang menurutnya harus ia atur termasuk Kakak kembarnya Lione. Apalagi sejak Lione tanpa sengaja bertemu produser yang mendengar suara emas bocah laki-laki itu yang langsung mengorbitkannya menjadi penyanyi cilik.


Abra selaku orang tua selalu mengikuti Lione dan menawarkan diri menjadi pemetik gitar untuk lagu-lagu anaknya itu. Besok adalah hari di mana ia dan Lione manggung pertama kali setelah album Lione meledak di pasaran dan Abra mengajak istri dan kembaran Lione, Lina, untuk jadi figuran di panggung.


Abra menoleh pada istrinya. "Mami enak banget gak harus dikeriting rambutnya," keluhnya membuat Shasa tergelak.


Sejam kemudian, mereka akhirnya keluar dari salon itu.


"Pi, laper," pinta Lione menggandeng tangan Abra.


"Belum. Kita belanja dulu baju buat besok manggung." Lina sudah membuat rencana berikutnya.


"Papiii ...," keluh Lione sambil menggoyangkan tangan ayahnya.


"Sudah Lina, ini sudah jam makan siang. Sebaiknya kita makan dulu ya," saran Shasa sambil menyentuh bahu anak perempuannya.


"Iya, Mi. Lione udah laper banget dari tadi Mi," pinta Lione.


Lina merengut dan melipat tangannya di depan dada seraya melengoskan kepalanya ke samping.


"Lina ... Kita hidup bersama-sama, gak boleh saling maksa. Apalagi Lione Kakakmu, hargai dia. Dengar keluhannya. Yang namanya hidup dengan orang lain gak boleh egois," nasehat Shasa.

__ADS_1


"Iya Lina. Hidup dipaksa itu tidak enak. Coba pikirkan perasaan orang lain," imbuh Abra lembut.


"Tapi kan harus beli baju buat panggung besok Pi." Lina bersikeras.


"Iya nanti. Kan yang manggung, Lione sama Papi, kenapa kamu yang antusias sih?"


"Biar kelihatan keren Pi, Papi sama Lione. Habis Lione gak mirip Papi sih!"


"Eh, kata siapa? Lihat!" Abra membungkuk di depan Lina dan menarik matanya hingga terlihat segaris.


Lione yang tadinya hendak menangis, menatap Abra.


"Mirip kan?" tanya Abra pada Lina.


Lina hanya diam sedang Lione memeluk Abra.


"Lione anak Papi!" Matanya berkaca-kaca.


"Iya, Lione anak Papi." Abra menggendong dan mengangkatnya. Ia mengusap kepala Lione.


"Lina ... gak boleh ngomong gitu sama Kakakmu," nasehat Shasa.


"Baru dibilang gitu aja cengeng!" Kembali gadis kecil itu melipat tangannya di dada.


"Bukan cengeng Lina, tapi kata-katamu kasar makanya Kakakmu nangis. Coba bicara yang lembut Lina, kamu kan anak perempuan."


"Dan dia anak laki-laki Mi!"


"Memangnya anak laki-laki gak sedih kalau diejek kasar?"


"Tapi Lina kan benar Mi," protes Lina.


"Lebih baik diam daripada bicara tapi menyakiti hati orang lain. Kata siapa itu?"


"Ali Bin Abi Thalib."


"Iya nih, Lilin!" ucap Lione kesal.


"Itu Mi!" tunjuk Lina pada Lione.


Lione bila sedang kesal pada Lina memanggilnya 'Lilin'.


"Sudah, jangan mulai lagi. Sekarang saatnya saling memaafkan."


Kedua anak kembar itu mendengarkan perkataan ibunya dan bersalaman.


"Udah, sekarang Lione laper." Lione yang merengek menggerak-gerakkan kakinya dalam gendongan Abra.


"Lina nanti juga beli boneka besar ya Mi?"


"Iya, iya. Ayo kita makan dulu." Shasa menggeleng-gelengkan kepalanya dan melirik suaminya. Pria itu hanya tersenyum.


Sehabis makan siang, mereka berempat pergi ke toko mainan yang bersebelahan dengan toko buku. Abra langsung berbelok ke toko buku sedang Shasa menemani anak-anak di toko mainan.


Lina langsung menemukan boneka beruang besar berwarna coklat, ia memberikannya pada ibunya sedang Lione ingin membeli boneka robot-robotan, tapi begitulah Lione. Dia peragu, jadi butuh waktu lama memilih mainannya. Shasa sampai cemberut menunggu Lione memilih mainan saking lamanya tapi Lina cepat tanggapan melihat Maminya cemberut seperti itu. "Lione jangan lama-lama, kasihan Mami."


"Eh, aku bingung. Ini apa ini?" Lione memperlihatkan dua mainan di tangannya.


"Yang mana aja Lione, ayo!"


Lione masih ragu-ragu.


"Pilih aja salah satunya. Kalo salah nanti beli lagi!" ucap Lina cepat.

__ADS_1


Lione makin bingung. Begitulah Lione dan Lina saling bertolak belakang. Kalau Lina bergerak cepat, sedang Lione sangat pelan dan santai. Kadang mereka bertengkar, kadang mereka akur.


Tak lama Abra datang dan membantu Lione.


Mereka kemudian ke toko pakaian. Seperti biasa ada perdebatan dan berakhir dengan baju pilihan Lina. Setelah sepakat, mereka pulang.


Seharian, mereka berempat saja sudah sangat ramai. Selalu. Dari mereka masih bayi hingga sekarang TK nol besar. Apalagi Lina sangat pintar berbicara hingga mereka sebagai orang tua harus bijak saat mengajaknya bicara, sedang Lione sebenarnya anak yang penurut dan santai sehingga jarang bicara.


Kemampuan bernyanyi Lione telah diketahui Abra sejak kecil tapi ia tak pernah menyangka secepat ini anaknya akan menjadi penyanyi.


Shasa telah lebih dulu naik ke atas tempat tidur. Entah kenapa belakangan ini ia gampang lelah. Saat suaminya tidur di sampingnya ia menutup hidungnya. "Mas, maaf aku gak kuat."


"Bau obat keritingnya ya? Perasaan gak begitu kenceng?" Abra menyentuh rambutnya, tapi Shasa tak tahan sampai turun dari tempat tidur dan berlari masuk ke kamar mandi.


Pria itu jadi salah tingkah. "Ck!" Ia turun dari tempat tidur dan mendekati kamar mandi. Ia berdiri di depan pintu. Terdengar bunyi suara air mengalir deras. "Sayang, kamu muntah ya?" Ia menggaruk-garuk kepalanya. "Ya udah, Sayang, aku tidur sama Nunu aja ya?"


Nunu adalah kucing piaraan mereka. Setiap kali, salah satu dari mereka sibuk dengan tugas kantor atau tugas kuliah, mereka tidur di luar ditemani kucing mereka Nunu. Untung saja Abra telah menyelesaikan kuliah S2-nya dan sedang menunggu diwisuda.


Abra duduk di sofa dan mulai menonton TV. Nunu pelan-pelan mendekat. Ia menaiki sofa dan duduk di sebelah Abra. Lama-lama pria itu mulai mengantuk. Saat ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa ternyata Nunu menjaga jarak. Sepertinya Nunu merasakan ada sesuatu yang berbeda.


"Sepertinya benar. Nunu saja tidak mau tidur denganku." Abra tertawa. "Atau karena wajahku terlihat aneh, mmh?" Ia mengusap kepala kucing itu yang tengah memandangnya. "Terserah kamu saja."


Pria itu merapikan bantal sofa dan siap untuk tidur. Tak lama, ia terlelap.


Tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara yang berasal dari lantai atas. Abra terbangun dan bergegas menaiki tangga. Ia takut sesuatu terjadi dengan istrinya. Suara itu berasal dari kamarnya. Sepertinya Shasa memanggil-manggil dirinya. Pria itu segera masuk tapi ia tak melihat seorang pun di sana.


"Mas, tolong!" suara Shasa dari arah kamar mandi. Pria itu dengan gegasnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang ternyata tidak di kunci. Ia mendapati istrinya tengah berusaha menggapai sesuatu di dalam bathtub(bak mandi).


"Apa Sha?"


"Itu!"


Abra mengerut kening dengan apa yang dilihatnya. Segera ia memasukkan kedua tangan ke dalam air dan membawanya naik ke permukaan.


"Oeee ... oeee ... oeee!" Ia meraih sesosok bayi. Tadinya ia ragu apakah itu boneka tapi iya, benar, ini bayi. Bayi yang hampir tenggelam!


Saking kagetnya Abra terbangun. Mimpi ... tapi itu terasa nyata sekali. Ia tadi meraihnya di kedua tangannya ... Bayi itu menangis karena berhasil ia keluarkan dari dalam air. Apa artinya ini? Apakah Shasa ....


Abra menoleh ke lantai 2 kamarnya. Bukannya dia tadi muntah? Pria itu segera turun dari sofa dan berlari-lari kecil menaiki anak tangga hingga masuk ke dalam kamar. Istrinya yang tengah tidur dipeluknya.


Shasa sampai terbangun. "Mas, kamu kenapa?" tanyanya terkejut tapi kemudian ia menutup mulutnya. "Maaf Mas." Wanita itu turun dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi.


Abra yang tadinya gembira kini baru menyadari telah membuat istrinya muntah lagi. Senyumnya berubah datar.


Terdengar suara air deras dari kamar mandi. Shasa keluar dengan mengusap mulutnya.


"Kamu tak apa-apa Sayang?" Pria itu memastikan.


"Maaf Mas, aku gak tahan bau rambutmu."


"Tapi tadi sudah dicuci di salon itu, harusnya wangi." Abra menyentuh rambutnya.


Shasa ragu-ragu untuk naik ke atas tempat tidur karena suaminya masih ada dekat situ. "Ya mungkin wanginya ...."


"Atau mungkin kau hamil?"


"Mmh? Masa sih Mas? Aku muntah baru hari ini lho Mas. Selera makanku juga gak ada masalah. Memang aku sedikit gemuk dari yang dulu tapi aku merasa biasa-biasa saja."


"Pokoknya besok harus periksa!" ucap Abra penuh penekanan.


"Ya udah ...." Namun Shasa masih menjaga jarak dengan suaminya.


____________________________________________

__ADS_1


Hai, reader. Masih menunggu kelanjutannya kan? Jangan lupa hujani author dengan like, vote, komen dan hadiah biar tambah semangat. Ini visual cemberutnya Ny. Abra yang digemesin suaminya. Salam, ingflora 💋



__ADS_2