Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Kunjungan Bima


__ADS_3

Bima keluar dari ruang kerjanya. Ia menatap Haris dan mendatanginya. Haris terlihat panik.


"Katanya kamu tahu tempat tinggal Pak Abra?"


Haris menelan ludah. "Itu Pak. Dekat stasiun TV Indo. Apartemen yang baru dibangun namanya ...."


"Oh, ya. Aku tahu. Mmh ...." Bima tak bergerak dari tempatnya membuat hati Haris kembang kempis memikirkannya. "Aku mungkin agak lama kembali ya? Tolong handle(urus) kantor. Kalau ada yang penting, telepon saja."


"Siap Pak."


Bima pun melangkah ke pintu utama. Haris menghela napas ketika bosnya itu benar-benar telah keluar kantor. "Haduhh, kenapa nasib gue begini banget?" Ia duduk lemas di kursinya.


"Karena lo tangan kanan bos. Mau pindah ke tangan kiri?" jawab Toto asal.


"Mau gue bolongin baju lo, sini! Pake pembolong kertas!" jawab Haris sewot.


Toto tertawa keras.


Bima akhirnya sampai di gedung apartemen tempat tinggal Abra dan menelepon Shasa. Pria itu kemudian dijemput gadis itu di lobi dan membawanya ke apartemen Abra.


"Sebentar ya Kak, Kakak duduk di sofa dulu. Aku belum selesai memandikan Pak Abra."


"Memandikan?"


Abra yang mendengar dari kamar karena pintunya sedikit terbuka, hampir tertawa.


"Ah, maksudku ... membersihkan tubuhnya dengan waslap." Namun tetap saja kalimat yang dibuatnya terasa vulgar di telinga. "Eh, maksudku ...."


Abra kembali menahan tawa. Kamu lucu sekali, kelinciku.


"Ya sudah, lakukan saja." Bima bisa melihat gadis itu susah menerangkannya agar terdengar sopan. Ia pun tak ingin mempersulit gadis itu. Jujur soal tinggal dengan Abra saja, ia sudah sangat bersyukur, apalagi soal apa yang dikerjakannya dengan Abra. Ia percaya dengan gadis itu sepenuhnya.


Gadis itu kemudian masuk ke kamar Abra. Lima belas menit kemudian Shasa keluar dari kamar pria itu dengan membawa wadah air. "Kak, mau minum apa?"


"Oh, kita langsung berangkat kan?" tanya Bima mematikan HP-nya.


Abra keluar dari kamar. "Maaf ya Pak, jadi merepotkan."


"Oh, tidak apa-apa. Kebetulan tempatnya dekat."


Shasa mengambil tasnya dan pergi bersama Bima dan Abra. Pagi itu Bima berniat mengantar Abra ke stasiun TV lalu menemani Shasa mencari kos-kosan.


Tak lama mereka sampai ke stasiun TV. Abra dan Shasa turun.


"Sebentar Kak, aku antar Pak Abra sampai ke kantor." Shasa meminta izin.


"Oh, ya udah."


"Eh, gak usah Sha, aku bisa sendiri." Tak tega juga ia melihat Bima mengikhlaskan pacarnya untuk membantunya.


"Tapi nanti Bapak ke senggol orang tangannya Pak." Shasa memperlihatkan rasa khawatirnya. Ia sudah memegangi baju Abra di sebelah kiri.


"Ngak papa Sha, nanti aku hati-hati aja."


"Tapi ...."


"Oh, aku ada ide. Mumpung Pak Bima ada di sini, bagaimana kalau Pak Bima ikut melihat-lihat stasiun TV saya? Bukankah projek berikutnya adalah membuat iklan stasiun TV saya?"


Bima yang masih di dalam mobil, mengangguk-angguk. "Mmh, boleh juga."


"Lagipula terlalu pagi untuk mencari kos-kosan. Iya kan?"

__ADS_1


"Iya."


Kemudian mereka bertiga masuk. Abra sibuk bicara dengan Bima tentang stasiun TVnya, tapi kemudian keberadaan Shasa cukup menjadi perhatian mereka berdua karena ia mengekor di sisi kiri Abra berpegangan pada baju pria itu.


Melihat Bima yang tidak mempermasalahkannya, Abra berusaha fokus pada pembicaraannya.


Mereka pergi ke beberapa tempat. Ruang siaran, ruang editing, studio dan berbagai tempat lainnya diperlihatkan Abra tapi ke manapun mereka pergi, mereka menjadi perhatian umum karena apa yang dilakukan gadis itu yang selalu membuntuti pria itu dengan memegangi bajunya.


Walaupun sedikit risih dan sudah berusaha memperingatkan gadis itu tapi Shasa bergeming, malah terkesan lebih galak membuat Abra akhirnya membiarkan saja gadis itu seperti itu.


Bima pun terlihat diam saja tanpa komentar membuat Abra sedikit merasa bersalah pada Bima.


Hingga sampailah mereka di studio besar. Bima melihat-lihat studio itu dan Shasa melepas pegangannya pada pakaian Abra.


Suasana studio itu sangat lengang. Bima mendekati Shasa dan ngobrol berdua hingga terpaksa Abra sedikit menjauh. Saat itu tanpa sengaja, Kevin lewat studio itu dan melihat mereka bertiga. Ia datang menghampiri.


"Bagaimana stasiun televisi kami ini menurutmu?"


Ketiganya menoleh pada Kevin. Tampak wajah Bima yang mulai masam.


"Eh, aku bertanya secara profesional, kok." Kevin melihat pada Abra. Adiknya itu selalu takut kakaknya bicara pada investor atau klien karena seringkali membuat mereka lari karena komentar kakaknya yang dirasa aneh atau tidak nyaman.


"Kak ...."


Kevin mengangkat tangannya pada Abra untuk memotong kalimatnya. Ia beralih pada Bima. "Maaf ya, kemarin ini aku sedikit terhanyut pada masa lalu padahal di masa sekarang kita adalah orang yang berbeda. Iya kan?"


Bima menatap wajah Kevin untuk melihat kesungguhannya dan akhirnya ia menyerah. "Ok, kita lupakan masa lalu dan mari kita jelang masa yang akan datang dengan bisnis yang lebih baik lagi. Semoga kita bisa menjadi teman bisnis yang baik ya?" Dengan langkah berani Bima menyodorkan tangannya.


Kevin menjabat tangan itu membuat Abra dan Shasa bernapas lega.


Mereka kemudian beristirahat dan duduk-duduk di sana. Shasa dan Bima memilih kursi di depan, dan Abra serta Kevin memilih duduk agak ke belakang. Kedua pria itu, terpaksa melihat sepasang kekasih itu saling melepas rindu.


"Maaf ya, aku tidak menghubungimu. Aku takut mengganggu konsentrasimu," Bima menyentuh dan merapikan jilbab Shasa.


"Gak sih, udah lama gak ketemu jadi ya ...."


Kalimat menggantung pria itu membuat wajah gadis itu tersipu-sipu.


Bima meraih tangan Shasa dan memperhatikannya.


"Ada apa Kak?" tanya Shasa bingung.


"Jari tanganmu sepi, tak ada apa-apa."


"Maksudnya apa kak?"


Pria itu melirik Shasa. "Boleh aku melingkarkan cincin di jarimu? Aku ingin melamarmu."


Shasa terkejut. Bukan ia saja tapi kedua pria yang duduk di belakang mereka, yang sedang mengobrol pelan-pelan sambil menguping pembicaraan sepasang kekasih itu juga ikut syok. Ketiganya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


"Sha." Bima meminta kepastian.


Pada saat itu Shasa ingin menoleh, tapi tak bisa. Akan begitu banyak mata yang akan tersakiti bila ia melakukan itu, tapi bila tidak, ia tak boleh menyesal. Entah kenapa setetes air mata jatuh mengiringi anggukan yang membuat dadanya sesak. Kenapa aku merasa sakit menerima berita gembira ini ya Allah, kenapa? Ya Allah, tuntunlah aku ke jalan yang benar agar hatiku tidak lagi mendua. Aku berharap putusanku yang terbaik untuk semua.


Di belakang, Abra mendengarnya dan seketika tubuhnya lemas. Berbeda dengan Kevin yang mengerat gerahamnya.


Bima menghapus air mata Shasa yang terlanjur jatuh dan senyumnya mengembang. Ia menangkup wajah gadis itu. "Nanti hari Sabtu kita datangi ommu ya, untuk membicarakan pertunangan kita."


Shasa mengangguk. Pria itu mengecup kening Shasa. Kemudian keduanya berdiri. Kevin buru-buru berdiri dan tanpa pamit meninggalkan mereka semua. Akhirnya Bima dan Shasa pamit pada Abra.


"Kakak, mau di antar sampai ke kantor?" Shasa kembali menawarkan bantuan.

__ADS_1


Wajah keduanya mulai sulit disatukan. Seperti sisi magnet yang bertolak belakang. Mereka memakai topeng agar tak saling kecewa.


Abra serasa sesak untuk hanya menjawab dengan satu kalimat saja pada Shasa. "A ... aku ingin di sini dulu. Ada yang akuh ... ingin periksa." Ia tak sanggup menatap mata kelinci yang indah itu. Takut terperangkap di dalamnya dan tak bisa keluar. Takut pedihnya membawa perih dan takut tidak bisa ikhlas kehilangan. Beribu ketakutan mengepung di kepala dan ia membiarkan otaknya buntut. Hanya itu satu-satunya cara agar otak tak lagi bertanya tentang kehilangan. Jalani saja rasa sakit itu sampai ia mati rasa, menutup mata dan ada Tuhan yang menolongnya. Ya, hanya padaNya tempat ia bergantung kini.


Shasa hanya diam saat Bima mengambil alih bicara. "Kalau begitu kami pergi dulu ya Pak. Terima kasih sudah mengajak kami berkeliling stasiun TV ini. Mungkin mulai besok, Shasa dan Haris yang akan ke sini untuk tugas berikutnya. Aku rasa kalau berada dalam tim yang sama, mungkin bisa mempermudah pekerjaan dan lagi timnya sudah solid bukan?"


Abra hanya mengangguk getir. Shasa dan Bima keluar ruang.


Saat itu Abra ingin menangis. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah kalah, bisa di pastikan Shasa akan jadi milik orang lain. Bukan hanya pacar Bima tapi nyonya Bima. Itu sudah cukup membungkam Abra untuk tak bicara.


Ia ingin memeluk lututnya apa daya, tangannya hanya sebelah yang berfungsi. Akhirnya ia menyerah dengan hanya merebahkan diri terlentang pada kursi yang didudukinya dan kemudian menutup mata.


Lain lagi dengan Kevin. Ia mengamuk dengan melempar barang yang ditemuinya di ruang kerjanya hingga jatuh berantakan di lantai. Ia tidak puas, ia tidak rela dan ia marah. "Ingat Bima, aku takkan menyerah kalau soal Shasa. Aku takkan menyerah!" Napas Kevin yang tersengal-sengal menandakan amarah dan emosinya yang tak lagi bisa ia kendalikan. "Kita lihat saja, siapa yang akan menang nanti. Kita lihat saja!" Tangan Kevin terkepal erat.


Di mobil Shasa hanya diam. Dilihatnya pria yang berada di sampingnya terlihat begitu bahagia. Tidak baik untuknya mencampakkan kebahagiaan sekarang untuk kebahagiaan yang tidak pasti.


Abra pria tampan dengan sejuta pesona, bodoh baginya terperangkap dalam bayang-bayang cinta pria itu. Setelah ini pasti berderet wanita yang ingin mendekatinya dan ia hanya apa. Butiran debu yang bahkan tidak terlihat. Sebaiknya do'akan saja doa terbaik untuk pria itu. Mungkin saja setelah kepergiannya akan datang jodoh yang dinantikannya.


Yang penting baginya adalah bertemu dengan pria baik yang akan menikah dengannya.


----------+++---------


Bima kembali menjelang makan siang dan bertemu Haris. "Gimana Ris, ada yang baru?"


"Belum ada Pak, tapi coba kalau Shasa datang biasanya klien juga ikut datang."


"Ah, terlalu berlebihan kamu."


"Tapi aku perhatikan sih begitu. Sebelum ada Shasa, klien kita cuma satu sampai dua untuk dua minggu tapi sejak dia datang seminggu bisa dua klien. Aku udah kewalahan lho Pak ngurusnya. Pegawai juga kurang."


"Itu bisa saja dari usaha dan kerja keras kita selama ini yang mulai membuahkan hasil kini setelah orang melihat hasil kerja kita, kemudian mereka mulai mempromosikan perusahaan kita dari mulut ke mulut. Itu lebih efektif di banding mengiklankan di media sosial dan itu terbukti sekarang ini."


"Tapi tetep Pak, mengiklankan di media sosial juga perlu."


"Kita belum untuk yang berdana besar."


"Padahal kita perusahaan periklanan lo Pak."


Bima tertawa. "Bertahap saja."


"Shasa gimana Pak, sudah dapat kos-kosannya?"


"Sudah. Dia ingin dekat apartemen Pak Abra, untung dapat."


Haris mengerut kening.


__________________________________________



Kaina, mendapatkan kenyataan yang mengejutkan. Anak kembarnya ternyata merupakan kembar beda ayah atau bisa disebut superfekudensi.


Candra dan Hugo. Mereka adalah ayah bilogis dari si kembar. Bedanya Candra adalah sang kekasih yang sudah di putuskan akibat ketahuan selingkuh. Sedangkan Hugo hanya pria kenalan yang di ajaknya bermalam demi membalaskan penghianatan sang kekasih.


Karena kedua anaknya mengalami gagal ginjal, Kaina meminta pada dua laki-laki itu untuk memberikan ginjal mereka.


Apakah si kembar akan mendapatkan donor ginjal dari ayah bilogis mereka?


Apakah kehidupan Kaina setelah itu bahagia atau malah babak baru akan di mulai?


Sanggupkah Kaina melewati semua cobaan hidupnya seorang diri?

__ADS_1


Apakah langit yang kelam akan diterang oleh Purnama?


__ADS_2