
Ego pria itu menarik ulur perasaannya. Ingin rasanya mendekap erat tapi ....
Shasa berdehem dan menepis tangan Abra pelan. "Maaf Kak." Ia segera berdiri dan sedikit menjaga jarak.
"Iya, eh ...." Kecanggungan kembali tercipta, dan Abra tak mampu menjawab keraguannya.
Shasa merapikan pakaiannya dan mengoreksi suara. "Aku cuma, ehem, mau tanya Kakak mau makan apa? Mmh, itu aja." Kecanggungan itu membuat ia harus melarikan pandangan yang entah harus ke mana.
"Iya, mmh. Makan apa ya?"
Beberapa saat mereka terkunci dalam diam.
"Aku beli saja ya Kak, online." Gadis itu memberi ide.
"Mmh ... bagaimana kalau, masak saja?"
"Masak? Masak apa Kak, aku bisanya yang gampang-gampang."
Abra menatap wajah gadis itu dengan lebih jelas. "Kamu gak papa kan kalau masak?"
"Iyaa, gak papa sih."
"Kalau masak seperti masakanku kemarin, bisa?"
"Ayam yang ditumis sayur?" Alis gadis itu meninggi.
"Iya."
"Eh, itu ...."
"Ngak mau?"
"Bukan gak mau ...." Shasa mengusap belakang kepalanya.
"Ya udah, bikin aja. Bahan pasti masih ada di dalam lemari es."
"Eh ...." Shasa bingung menjelaskannya.
"Jangan khawatir, nanti aku ajarin," kata pria itu menenangkan.
Shasa akhirnya mengikuti permintaan Abra. Ia memakai celemek dan mulai mengeluarkan bahan dari lemari es, lalu mencucinya. Tak lupa ia memasak nasi.
Pria itu mengarahkan gadis itu bagaimana cara memotong dan memasaknya. Sejurus kemudian, masakan selesai dan nasi tanak.
"Coba cicipi ...," pinta Abra.
Shasa mencicipi salah satu sayur di piring itu.
"Gimana?"
"Enak Kak." Shasa mengangkat ibu jari sambil mengunyah.
"Alhamdulillah." Pria itu mengelus dada.
"Kenapa Kak?" Shasa menautkan alisnya.
"Kalau gak enak kan aku gak bisa makan."
"Ih, Kakak!" Ingin rasanya Shasa mengetuk dahi pria itu dengan sendok dan pria itu tertawa.
"Bercanda ...." Abra masih tertawa tipis.
Gadis itu sedikit merengut tapi kemudian mengambil piring untuk pria itu. "Aku ambilin nasi ya Kak." Ia mengambil nasi ke piring dan meletakkan piring itu di atas meja makan. Ia memberi lauk dan menyodorkannya pada Abra yang duduk di seberang meja.
Pria itu mulai makan dengan sebelah tangan saja. Ternyata lebih nyaman meletakkan piring di atas meja makan ketimbang di pangkuan karena permukaannya keras sehingga piringnya tidak bergerak. "Mmh, rasanya lumayan."
Shasa menatap pria itu.
"Kamu sebenarnya bisa masak kalau kamu mau. Kamu pintar mengoreksi rasa."
"Makasih Kak." Gadis itu tersenyum.
__ADS_1
Mereka kemudian makan bersama.
"Mmh, ngomong-ngomong, kamu bisa bilang sama Pak Bima untuk memulai pemotretan. Aku sudah tanya sama dokter kemarin dan mereka bilang, tak masalah."
"Ya udah nanti aku telepon."
Sambil mengunyah, Abra memperhatikan Shasa.
Sadar diperhatikan, gadis itu bertanya. "Kenapa Kak?"
"Kamu di luar kantor, panggil pacar kamu apa?"
Gadis itu berpikir sebentar. "Awalnya panggil 'Kak', tapi makin ke sini sudah terbiasa panggil 'Pak'," ucapnya sambil mengingat-ingat.
Apa? Ngak asyik banget panggil pacar 'Pak'. Mereka beneran pacaran gak sih, aku ambil juga deh nih pacarnya, Abra menggerutu dalam hati.
"Kenapa?"
"Oh, enggak." Kembali Abra memperhatikan Shasa. "Apa kamu nyaman dengan itu?"
"Mmh, ngak papa sih." Gadis itu menyuap nasinya kemudian menatap pria itu lagi. "Kenapa?"
"Apa ... kalian serius satu sama lain? Maksudku, kalian tidak terlihat berpacaran."
"Dia bilang serius, jadi aku percaya saja."
Pacaran model apa ini? Mereka pasangan yang aneh. Shasa juga terlalu lugu. Mana ada orang pacaran seperti ini, terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. "Apa kalian tidak pernah pergi jalan-jalan berdua?"
"Mmh? Belum sempat Kak. Kan kami baru jadian belum seminggu."
Oh, gitu. Sedikit kecewa, Abra mengalihkan topik pembicaraan ke hal lainnya.
---------+++---------
"Kamu sudah menengok Abra kan?" Pria itu menyorot istrinya.
"Jangan melihatku seperti penjahat. Memangnya aku sejahat itu? Walaupun anak itu kurang ajar padaku aku masih dengan ikhlas menengoknya." Karen dengan sewotnya.
Kevin menghela napas dan Diandra melirik sedikit pada kedua orang tuanya kemudian meneruskan makannya dengan santai.
"Sekarang Abra sudah kembali ke apartemennya, apa kau tak ingin melihat apartemennya juga?"
"Terus dia mau pamer padaku ia sanggup membeli apartemen mewah, gitu? Pindahnya saja, ia tak beritahukan padaku apa aku harus pura-pura senang datang ke sana padahal aku tidak di undangnya? Apa kamu mau aku menundukkan kepalaku padanya agar ia bisa menginjak-injak harga diriku?" Wanita itu berapi-api bicara.
"Karen, jangan berlebihan. Apartemen yang di beli Abra juga bukan apartemen mewah." Pria itu tak habis pikir, setiap ia membicarakan tentang Abra, istrinya selalu emosi padahal Abra tidak pernah bicara buruk tentang ibu tirinya.
"Terus, aku lagi yang salah? Terus saja salahkan aku dan istimewakan Abra. Apa kau tidak ingat punya dua anak lagi selain Abra, mmh?"
Pria paruh baya itu menghela napas dan memijit keningnya. Ia tiap kali seketika pening setiap membahas Abra pada istrinya, seakan ia mengistimewakan Abra, padahal bukan begitu maksudnya. Ia ingin mereka akur karena Abra sudah tidak punya ibu lagi tapi Karen sepertinya tidak mau mengerti dan mempersempit ruang lingkup yang ia sebut keluarga hanya pada Kevin, Diandra dan suaminya dan wanita itu hanya menganggap Abra adalah orang luar, dan itu tidak pernah berubah hingga kini.
Ia kemudian mencoba membahas yang lain. "Di, kamu ke mana saja belakangan ini, hah? Dari seminggu sebelum Ayah pergi ke Amerika dan setelah hampir sebulan di sana, baru kali ini ketemu Ayah kembali. Aku dengar dari Ibu kamu juga jarang di rumah selama Ayah tidak ada. Lalu kamu ke mana saja, seperti orang yang banyak kerjaan saja."
Diandra menoleh pada ibu dan merengut. "Cuma have fun(senang-senang) aja sama temen-temen Yah," ucapnya santai. Gadis cantik berambut panjang itu, mengaduk-aduk piring makannya dengan sendok.
"Sampai malam?"
"Bosen Yah ...."
"Sudah berbulan-bulan kamu melakukan itu setelah lulus kuliah. Itu bukan lagi have fun, tapi manusia tanpa tujuan. Kamu perempuan Diandra, pandangan orang akan buruk terhadapmu. Kalau kamu butuh tantangan, mulai besok kamu kerja di hotel Ayah. Jam 8 pagi harus sudah siap berangkat bareng Ayah. There will be no excuse for this one, you got it?(Ngak ada alasan lagi kali ini, mengerti?)" Pria itu mengusap sedikit mulutnya dengan serbet dan meletakkannya di atas meja makan.
Terlihat raut wajah Diandra yang kecewa. "Yah ...."
"Sudah Ayah putuskan." Pria itu meninggalkan meja makan tanpa menoleh.
"Ibu ...." rengek Diandra sambil menghentakkan kakinya di lantai.
"Dengarkan kata Ayahmu, kali ini dia benar," bisik ibu pada anak perempuannya. Ia menepuk-nepuk tangan gadis itu di atas meja. Ia bukan main senangnya akhirnya ada kejelasan soal hotel yang dimiliki suaminya yang berarti Diandralah yang akan mewarisi dan meneruskan hotel suaminya itu. Ia tersenyum lebar.
-----------+++-----------
"Kak!"
__ADS_1
Abra menoleh.
"Aku udah telepon Kak, katanya besok ambil fotonya. Skripnya aman katanya. Hanya skrip untuk video aja yang akan dirombak." Shasa mendatangi Abra di kursi sofa.
"Oh, good. Lebih cepat lebih baik." Abra terlihat bersemangat.
"Mmh." Wajah Shasa terlihat khawatir walaupun berusaha untuk tersenyum.
"Kenapa, kamu kok tegang gitu sih Sayang." Abra menarik Shasa duduk di sampingnya.
"Habis, aku ngak ngerti dunia keartisan. Aku belum pernah berada di depan umum dan disorot kamera gitu," ujar gadis itu mengerucutkan mulutnya. Wajahnya terlihat menggemaskan.
"Ya udah, di sana kan ada aku. Kamu gak usah khawatir." Abra mencolek hidung mungil itu. "Nanti dengerin arahan aku aja dan semua pasti beres."
Shasa masih mengerucutkan mulutnya membuat Abra makin gemas dengan mencubit pipinya dengan lembut. "Kamu bakal fine-fine(baik-baik) aja Sayang, percaya deh sama aku."
"Mmh," ucap gadis itu setengah hati.
"Udah, sekarang kamu cepet tidur, jangan sampai bawah matamu menghitam karena kurang tidur karena hasil fotonya nanti gak maksimal."
Shasa beranjak berdiri dan melangkah ke kamarnya, tapi kemudian ia menoleh ke belakang.
"Tapi kakak belum tidur?"
"Ya udah deh, nih Kakak tidur." Abra ikut beranjak berdiri dan melangkah ke kamarnya. Ia masuk ke dalam kamar dan berlanjut naik ke atas tempat tidur. Sedikit susah naik ke atas tempat tidur karena ia harus sedikit menyeret satu tangannya yang tak boleh digerakan.
Hahh, Shasa. Bersama denganmu aku seperti remaja lagi. Entah kenapa aku jadi bodoh begini.
-----------+++----------
Dhamar terbangun di tengah malam. Seperti biasanya ia bangun dan berdiri. Setelah keluar dari kamar ia menuruni tangga dan pergi ke arah dapur. Ia mencari cangkir dan membuat kopi dengan menyeduhnya di mesin air yang mengeluarkan air panas. Ia mengaduk-aduk sebentar dan membawanya ke meja makan.
Pria itu membuka HP-nya dan mulai main game, tapi itu tak lama. Ia cepat berhenti karena bosan. Damar menatap kopi yang dibuatnya. Masih mengepul asap dari kopi itu tapi itu malah membuat ia termangu tak bergerak.
Tiba-tiba ia bergerak marah dan menepis cangkir itu cepat hingga terguling ke lantai. Tangannya sempat terkena siraman air kopi panas itu membuat tangannya gemetar dan memerah. Ia tak perduli. Ia benar-benar kesal. Ketidakberadaan Shasa menjadi penyebab tunggalnya. Ia tak bisa tak ada gadis itu di situ. Ia bisa gila. Benar-benar gila!
-------------+++-----------
Pagi itu setelah sarapan, Shasa mandi dan berpakaian. Ia telah mendapat alamat tempat pengambilan gambar itu dari Haris dan kini ia sedang menunggu Abra yang sejak tadi belum beranjak keluar dari kamarnya. Ia menunggu cukup lama.
"Kak!" Shasa memberanikan diri memanggilnya.
Tak ada jawaban.
Gadis itu mendekati pintu kamar. "Kaak ...."
"Eh, kamu bisa tolongin aku gak?" teriak Abra dari dalam kamar.
Eh? Tolongin Apa? Shasa membuka pintu. Pemandangan di depan matanya membuat ia sulit menelan salivanya.
Pria itu dengan dada terbuka sedang sibuk menarik kain perban praktis pada lengannya dan ia tidak bisa melakukannya sendirian, tapi melihat tubuh Abra yang gagah dan atletis Shasa bimbang ingin membantunya atau tidak.
"Agh!"
"Kak!"
Abra menoleh. "Tolongin sini ...," panggilnya menahan nyeri.
Shasa terpaksa mendatanginya.
"Tolong tarik sarung perban ini sampai lengan atas dan pasang tali perekatnya menyilang di dada," terang Abra memberi tahu. Ia tidak tahu betapa sulitnya untuk Shasa melakukannya karena harus menyentuh tubuh Abra yang mempertontonkan lekuk tubuh prianya yang sangat sempurna itu.
Gadis itu kembali menelan salivanya.
"Kok bengong? Ayo, kita telat ini! Aku gak bisa pasang ini sendirian," pinta Abra membuat gadis itu mau tak mau membantu memasangnya.
___________________________________________
Hai reader, ketemu lagi dengan author ingflora di sini masih semangat menulis sambungan cerita ini. Terima kasih masih terus mengikuti kelanjutan cerita ini. Jangan lupa terus dukung novel ini dengan like, komen, vote dan hadiah atau mungkin koin atau iklan. Ini visual Diandra Ramira Natawijaya. Salam, ingflora 💋
__ADS_1