
Seseorang mengetuk pintu.
"Eh, masuk Sha."
Gadis itu kemudian masuk dan melihat pria itu duduk di tepian tempat tidur.
"Kakak gak tidur?"
Pria itu menoleh dan kemudian menunduk.
Shasa menghampirinya. "Kakak mau tidur? Gak bisa buka selimut ya?" Dilihatnya sebuah selimut masih terlipat rapi di samping pria itu. Ia membukanya. Segera ia mendorong Abra ke tempat tidur.
"Eh aku, eh ...."
"Kakak harus banyak-banyak istirahat Kak, biar cepat sembuh."
Terpaksa Abra mengikuti keinginan gadis itu dengan membaringkan diri di tempat tidur. Gadis itu menarikkan selimut ke tubuh pria itu hingga leher.
"Sha."
"Mmh?"
Pria itu menggenggam tangan gadis itu. Ia menggenggamnya erat. Shasa terpaksa duduk di tepian tempat tidur. "Ada apa Kak?"
"Aku minta maaf ya tadi kasar kepadamu. Aku sedang tidak bisa berpikir jernih. Aku, aku sedang rindu pada ibuku. Entah kenapa aku jadi kasar padamu," ungkap pria itu penuh penyesalan.
"Ngak papa Kak, aku bisa ngerti kok, tapi beneran Kakak gak mau makan malam. Nanti malam-malam kelaparan gimana?"
Pria itu tetap menggeleng.
"Ya udah, istirahat aja." Gadis itu baru saja hendak berdiri, tapi lengannya ditahan Abra. "Apa Kak?"
"Ngobrol sebentar ya?"
"Tapi Kakak perlu istirahat."
"Tidak bisakah berhenti NGOMONG istirahat! Aku rindu," ucap Abra kesal.
Apa? Kalimat itu sukses membuat jantung gadis itu berdegup kencang.
Abra pun terlihat kebingungan. Bagaimana menerangkannya ini? Lidahnya tiba-tiba keluh. "A-aku setiap ingat ibuku aku ingin melihatmu."
"A ... ku?"
"Kamu mengingatkanku pada ibuku. Dia adalah orang Jerman, tapi seorang muslim yang taat. Hanya dia yang memakai jilbab di rumah. Persis seperti waktu aku bertemu denganmu di pesta topeng itu, hanya kamu yang pakai jilbab."
Pengakuan Abra mengejutkan gadis itu. "Ta-tapi Rika kan pakai jilbab."
"Itu hanya untuk pura-pura kan? Dia kan sehari-hari tidak pakai itu."
Shasa tak bisa membantahnya.
"Sayang kau tak bisa menulis puisi, karena ibuku suka menulis puisi." Abra menatap Shasa lekat. Terlihat pancaran mata keterkejutan dan juga usaha untuk melarikan diri dari sebuah kenyataan. Kamu bohong kan, kamu bisa menulis puisi kan Sha?
Shasa berusaha menghindari pandangan mata pria itu, tapi pria itu malah makin mengeratkan genggaman tangannya.
"Sha."
"Mmh." Gadis itu menunduk. Aku harus bagaimana? Mengaku atau tidak dua-duanya berat untukku. Ada konsekuensi yang harus aku tanggung. Kalau mengaku, dia takkan percaya lagi padaku tapi kalau tidak mengaku dia akan terus mengejarku. Hah ... dari awal aku kan tidak berniat untuk membohonginya tapi sudah terlanjur. Apa Rika masih mengejarnya? Ah, bukan itu masalahnya sekarang. Aduuh ....
Abra kemudian melihat kegelisahan gadis itu. Astaghfirullah alazim, apa yang aku lakukan? Aku kan bukan bermaksud menjebaknya untuk mengaku. Aku hanya ....
"Maaf, aku tidak sesempurna khayalanmu." Shasa menarik tangannya dan langsung berdiri.
__ADS_1
"Tunggu Sha." Abra berusaha duduk tapi gadis itu sudah melangkah menuju pintu. Pria itu tidak menyerah. Ia dengan susah payah keluar dari selimut dan mengejar gadis itu hingga keluar kamar.
Terlambat, gadis itu sudah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
"Sha!" Abra mendekati pintu kamar gadis itu. Ia menyentuhnya. "Sha." Kamu sempurna bahkan sangat sempurna. Kau penyempurna mimpiku. Aku menyukaimu bukan karena kau mirip dengan ibuku tapi karena kau adalah Shasa. Tuhan membuatmu mirip dengan ibuku hanya agar aku bisa menemukanmu. Menemukan sebutir berlian di dalam lautan air keruh.
Di balik pintu Shasa hanya terdiam sambil menyentuh pintu. Ia tidak ingin melakukan apapun karena apapun yang akan dilakukannya saat ini pasti akan salah. Ia tidak ingin menyesalinya kemudian.
Shasa berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada pintu. Lalu ia jatuh terduduk kebingungan dengan apa yang harus dibuatnya.
Kenapa semua jadi begini? Semakin hari aku semakin tenggelam dalam kebingungan. Ia memeluk lututnya. Kak Bima, bulan mulai terbelah dua. Sekarang aku harus pilih yang mana?
-----------+++---------
Shasa membuka pintu. Tidak ada orang tapi TV menyala tanpa suara. Baru saja ia hendak mematikan TV tapi kemudian ia menemukan Abra tertidur di sofa panjang. Ia tidur dengan memeluk remote TV.
shasa merasa bersalah. Tidak seharusnya ia menghindar dari Abra, padahal pria itu tidak mengatakan apa-apa, hanya rasa bersalahnya saja yang membuat ia melarikan diri. Pelan-pelan ia coba mengambil remote itu, tapi ternyata malah membangunkan pria itu. Sebelum ia sempat menghindar, pria itu telah cepat meraih tangan gadis itu.
"Sha."
Shasa terkejut dengan gerak cepat pria itu.
"Aku salah apa? Aku salah bicara apa?"
"Ah, itu ...."
"Aku minta maaf kalo aku salah. Ya, udah kita gak usah bicarakan itu lagi ya?" bujuk Abra setengah memohon. "Maaf aku sedikit emosional akhir-akhir ini. Itu semata-mata karena aku sulit beraktivitas. Aku harus bergantung pada orang lain dan aku tidak terbiasa. Aku minta maaf, aku sungguh-sungguh minta maaf," pintanya.
Harusnya aku yang minta maaf karena aku yang berbohong, Shasa menundukkan kepalanya.
"Sha, aku laper." Abra berusaha duduk.
"Oh, kamu mau dimasakin? Eh, tapi cuma ada telur di lemari es."
"Tapi Kakak kan harus ...."
Abra meletakkan jari telunjuknya di depan mulut, kemudian ia menggoyang-goyangkan tangannya. Sepertinya ia butuh kebebasan dan Shasa harus memakluminya. "Temani aku nonton ya?"
Shasa menghela napas dan kemudian mengambil HP-nya.
------------+++------------
"Gooolll ...!" Abra mengangkat satu kepalan tangannya ke atas dengan gembira. Klub sepak bola kebanggaannya telah memasukkan 2 bola ke gawang lawan dengan mudahnya dan ia begitu senang hingga merengkuh bahu Shasa yang berada di sampingnya dan mencium keningnya dengan kuat. "Muaah, I love it!(Aku suka!)" ucapnya sambil tersenyum lebar.
Shasa yang duduk sambil memangku mangkuk berisi popcorn, sebal. Ia mencubit pipi pria keras-keras.
"Aduhhhh ...!" Namun Abra tak marah. Ia malah tertawa. Ia senang gadis itu menemaninya nonton bola. Pria itu hanya mengusap-usap pipinya yang dicubit gadis itu dengan wajah sedikit memelas. "Sakit ...."
"Rasain!"
"Ih, kamu galak banget sih ...." Abra menyentuh pipi gadis itu dengan telunjuknya.
"Biarin! Habis, main peluk-peluk aja," ujar gadis itu dengan sewot sambil menjauhkan jemari pria itu.
Abra tersenyum lebar. "Maaf."
Mereka masih menonton hingga setengah jam ke depan. Saat itu keduanya mulai mengantuk dan tertidur di sofa dalam keadaan TV menyala. Mereka tertidur hingga pagi menjelang.
Shasa terbangun lebih dahulu. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan mengerutkan dahi. Ruangan di ruang tengah apartemen itu telah diterpa sinar mentari pagi separuhnya yang masuk melalui kaca jendela yang hanya diberi tirai tipis berwarna putih.
Jam berapa sekarang? Shasa menengok ke arah jam dinding dan terkejut. Sholat Shubuhku kesiangan, ia terlonjak dari kursi sofa. Segera ia berlari ke kamar mandi.
Abra terbangun kemudian. Ia lalu bertayamum dan sholat Subuh di kursi sofa. Setelah itu pria itu kembali tidur.
__ADS_1
Pagi itu Shasa bersemangat bekerja. Ia sudah terbiasa tidur malamnya berantakan gara-gara Damar, tapi karena itu ia mulai bisa beradaptasi untuk selalu bangun pagi dan berkegiatan walaupun tidur malamnya kurang. Ia bisa mengatur waktu tidurnya di lain waktu. Segala kemalangan bisa jadi malah menjadi sumber kekuatan di waktu yang lainnya bukan? Begitulah hidup. Seseorang mampu berdiri tegak setelah bisa mengatasi hujan badai yang menimpanya.
Shasa menutupi tubuh Abra yang tertidur di sofa dengan selimut dari kamar pria itu.
"Makasih Sha." Pria itu menarik selimutnya dan kembali tertidur.
Gadis itu juga merapikan sisa-sisa makan malam mereka dan meletakkan di tempat cuci piring dan membungkus sampah. Bolak-balik ia keluar apartemen untuk membuang sampah, mengirim pakaian ke laundry lalu membeli sarapan. Setelah ia sarapan duluan, Shasa pergi tidur.
Agar siang Abra terbangun. Ia melihat di meja makan sudah tersedia sarapan pagi beserta gelas minumnya. Sejak tinggal bersama Shasa ia merasa hidupnya mulai teratur. Kenangan bersama ibunya kembali menggema di kepala.
Ibunya selalu menyiapkan segala keperluannya di rumah ataupun saat berpergian. Setelah ibunya meninggal dunia, ia mulai membiasakan diri untuk mandiri dan menyelesaikan segala sesuatunya sendiri.
Bukan ayahnya tipe orang yang tidak peduli tapi ayahnya orang yang sangat sibuk dan sejak ibunya tiada, ibu tirinya berusaha menguasai ayahnya. Ia harus berlapang dada untuk bisa melakukan segalanya sendiri. Karena itu ia meminta pindah sekolah ke Amerika. Tidak ada bedanya tinggal dengan keluarga atau tidak karena ia tetap sendiri. Bedanya ia lebih nyaman tinggal jauh dari keluarga atau ia harus bersiap setiap hari melihat ayahnya harus membela yang mana, ibu tirinya atau dirinya.
Didatanginya kamar Shasa dan ia mencoba membuka pintu. Terlihat gadis itu tidur dengan nyenyaknya di atas tempat tidur.
Abra menghampiri tempat tidur dan merapikan selimut gadis itu tanpa membangunkannya. Saking lelahnya, gadis itu tertidur dengan jilbab instannya. Abra mengusap-usap pucuk kepala gadis itu sebelum meninggalkannya. Ia kemudian makan sarapannya.
Di siang hari Shasa keluar dari kamar dan melihat Abra sedang menonton TV. "Mmh, siang ...." Matanya masih menyipit tanda baru bangun tidur. Ia mengucek-ngucek matanya sambil meregangkan tubuhnya dan menguap. "Hoamm ...."
Abra baru sadar dan menoleh. Sepertinya ia tidak fokus pada acara TV yang dilihatnya.
"Melamun Kak?"
"Aku sedang memikirkan slogan untuk TV. Susah juga ternyata membuat slogan itu. Karena itu juga menyangkut image TV."
"Aku mau mandi." Shasa melangkah ke kamarnya hendak mengambil pakaian.
"Aku juga nanti ya?"
Shasa menoleh dan memandang wajah Abra yang tersenyum lebar. Dia mulai candu kumandikan atau perasaanku saja? Atau ia sedang ingin menggodaku? Hah ....
"Nanti kita jalan-jalan yuk, di taman kota," ajak pria itu saat Shasa membuka kancing baju tidurnya.
"Lagi? Kak ...."
"Kamu sekali-sekali bisa gak ngikutin aja kemauanku, aku kan gak rugiin orang lain?"
Shasa mengerucutkan mulutnya. "Bukan gitu Kak ...."
"Udah ah, kamu banyak pertimbangan," potong Abra. "Memangnya enak jadi orang sakit yang tidak sakit?"
"Nanti kan banyak orang di sana, ini udah siang."
"Memangnya kenapa, kan ada kamu."
Shasa mengerutkan dahi sambil menggulung bibirnya.
Dan benar saja, di sana sangat ramai dan udara mulai panas. Abra mengajak Shasa mendatangi hutan kota yang letaknya tak jauh dari sana. Di sana ada pohon-pohon yang tinggi dengan jalan yang diberi cornblock yang di susun rapi. Suasana tidak begitu ramai dan orang-orang datang untuk berjalan kaki menikmati udara segar dan pemandangan hijau di mana-mana.
____________________________________________
Ayo kepoin karya bestiku ini. Cekidot!
Seoarang mahasiwi polos, cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya yang tak lain dengan dosennya sendiri yang sikapnya begitu dingin namun siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya.
Bagaimanakah sikap mereka di kampus?
Akankah mereka saling mencintai?
Apakah sang Dosen akan menerima jika dia tau jati diri gadis itu yang sebenarnya?
__ADS_1