
Diandra kemudian membawa Damar ke sebuah restoran yang berada di dalam hotel itu dan duduk di sisi dekat pintu masuk. "Silahkan duduk Kak."
"Eh, iya."
Keduanya duduk. Damar mengedarkan pandangan pada ruangan serba putih bergaya modern itu. Terkesan elegan dan berkelas.
Wanita itu menawarkannya minuman. "Mau apa? Teh? Kopi?"
"Apa saja."
"Ngak gitu dong ...." Wanita itu tersenyum sambil menepikan rambut panjangnya ke belakang telinga. "Pilih, Kakak mau apa?"
Kenapa dia jadi begitu ... terlihat akrab. Apa karena aku masih iparnya, tapi kan sekarang jam kerja? Damar berdehem sebentar dan mengambil buku menu yang disodorkan Diandra. Tak lama mereka memesan minuman.
"Boleh aku lihat produk-produknya Kak?"
"Eh, ya." Damar memberikan map yang sedari tadi dibawanya.
Wanita itu kemudian pelan-pelan melihat isi map yang terdiri dari brosur-brosur produk beraneka rupa. Ia mempelajarinya satu-satu.
Wanita itu, sesekali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga ketika menunduk membuat Damar entah kenapa memperhatikan cara wanita itu bergerak dan memandang.
Mata yang lembut bergerak menyusuri lembaran kertas yang ada di hadapan dan sesekali merapikan bibirnya dengan bemacam cara.
Kadang ia mengigit bibir, menenggelamkan kedua bibir di dalam mulut atau memajukan mulutnya membuat Damar kadang terperangah melihatnya.
Pria itu belum pernah memperhatikan wanita sampai sedetail itu. Oh, pernah. Saat bersama Shasa, dan perasaan itu kini seperti terulang lagi. Aneh. Ia jarang memperhatikan tingkah polah gerak wanita pada wajahnya tapi wanita ini bisa membuatnya ingin tertawa. Tentu saja ia tak bisa melakukannya karena walaupun mereka adalah ipar tapi saat ini, mereka kini tengah bekerja. Ia berusaha profesional dalam bekerja.
"Kak aku simpen dulu ya Kak, karena sebenarnya banyak juga perusahaan yang ingin menggantikan perusahaan rekanan kita itu, jadi aku ingin fair(adil). Gak papa kan?"
"Gak papa." Padahal Damar sedikit kecewa.
Wanita itu meletakkan map itu ke samping saat minuman mereka tiba. Damar mulai mengaduk kopinya dengan sendok kecil dan Diandra menakup tangannya pada cangkir teh.
"Kakak sekarang sudah punya anak berapa Kak?" tanya wanita itu sopan.
"Oh, aku belum nikah. Kan waktu nikah Rika, aku datang sendiri."
Ya, pada saat itulah mereka pertama kali bertemu. Saat nikah Abra, Diandra tidak bisa datang karena menemani Ibu memboikot pernikahan Abra, tapi pada saat pernikahan Rika, ia datang karena suami Rika satu rumah sakit dengan Kevin hingga memudahkan ia mendatangi acara pernikahan Rika dan bisa memberi selamat pada kakaknya, Abra.
Di sana, Diandra dikenalkan pada Damar oleh Adam. Saat itu wanita itu menganggukkan kepala pada Damar dan hanya itu. Mereka belum pernah bertegur sapa.
"Oh, aku pikir karena istrimu berhalangan hadir."
"Kamu sendiri?" Damar menyesap kopinya.
"Aku? Oh, sudah menikah." Diandra memperlihatkan cincin nikahnya. "Baru setahun ini Kak."
"Oh, jadi belum punya anak ya?"
Wanita itu tertawa manis. "Belum."
Kembali mereka menyelami minuman mereka masing-masing dalam diam.
"Em, sudah punya pacar Kak?" tanya wanita itu berlanjut.
"Oh, aku eh ... masih sibuk dengan pekerjaan." Damar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Pelarian! Pasti jomblo kelamaan. Diandra melirik Damar saat mengangkat cangkirnya. "Mau aku comblangin gak Kak?"
"Eh?" Damar kini menggaruk-garuk dahinya. Percakapan ini paling tidak disukainya, karena membuat ia gerah. Ia tertawa perlahan sambil memikirkan cara menghindarinya.
Namun Diandra seperti mengerti kegelisahan Damar. "Ya ... gak yang langsung Kak. Nanti malam, Andra ada ngumpul ama temen-temen Andra Kak, rame-rame. Cowok cewek. Kita main ice skating. Ada yang jomblo ada yang udah pasangan, nanti Andra kenalin. Mau gak?"
"A-aku gak bisa main ice skating," jawab Damar tergagap.
"Ngak papa, nanti aku ajarin."
"Tapi ... jabatanku hanya Manager. Aku gak punya perusahaan." Bicara itu saja Damar merasa minder. Kembali ia menggaruk-garuk kepalanya.
"Ngak papa Kak. Temen-temen Andra ramah-ramah kok."
__ADS_1
"Tapi ...."
"Sebenarnya ... Andra gak punya pasangan karena suami Andra gak bisa ikut karena sibuk. Nanti di sana mainnya tukar-tukaran pasangan jadi Andra bingung. Andra selalu gak ada temen." Wanita itu menunduk sebentar kemudian mengangkat kepalanya. "Mau ya temenin Andra di sana? Nanti kalau kamu males ngomong nanti duduknya sebelah Andra aja."
Damar menggaruk-garuk dahinya dan kemudian menghela napas panjang. "Ya udah."
Mereka kemudian bertukar nomor telepon.
"Nanti malem, jemput Andra ya?"
"Iya."
------------+++----------
"Mana anak Papi?"
Shasa mengarahkan pada kedua bayinya yang sedang bermain di atas karpet di temani pembantu mereka. Lione sedang tengkurap dan Lina sedang mulai bisa duduk dengan bersandar pada Shasa. Keduanya menoleh pada HP yang memperlihatkan Abra menatap anak-anaknya dari ruang kantornya.
"Papito." Lina dengan cepat merespon gambar itu membuat Abra melambaikan tangan padanya.
"Lione ... Lina ...." Kembali pria itu melambaikan tangannya.
"Ba ba ba ba."
"Sayang, kapan kamu mulai kuliah lagi? Sudah diurus belum surat-suratnya?" tanya Abra pada istrinya.
"Belum Mas, aku masih sibuk ngurusin anak-anak."
"Eh, jangan begitu. Pikirkan kuliahmu, nanti kalau gak disambung kembali, sayang kan? Nanti pas mau kuliah lagi, kamu ternyata harus mulai lagi dari awal. Rugi kan kalau begitu. Rugi di umur rugi di waktu. Sudah, urus saja dulu kuliahmu. Kalau perlu pembantu lagi, nanti Mas carikan."
"Iya, iya nanti aku urus."
"Jangan lupa ya Sayang."
"Iyaaaa."
------------+++---------
Terdengar pintu diketuk. Rika yang sedang memangku bayinya menoleh ke arah dapur. Pembantunya masih sibuk di dapur.
Yang pertama kali dilakukan adalah melindungi anaknya. Ia mendekapnya.
"Eh ...." Mata Raven melirik ke arah bayi yang di gendong gadis itu lalu ke arah Rika. Ia sebenarnya hanya datang ingin bertanya, tapi seperti dugaannya yang tengah ia perkirakan, ini pasti benar. "Maaf, aku datang mengganggumu, tapi boleh aku bertanya."
"Waktumu sudah habis, dan aku tak ingin menjawab apa-apa." Rika segera menutup pintu dengan kasar tapi Raven segera menahannya.
"Rika ...."
"Untuk apalagi kamu datang, pergi!" teriak Rika sewot membuat bayinya menangis. Ia terpaksa mendiamkan bayi itu dengan mengoyang-goyangkan tubuhnya. "Duh, Sayang," gumamnya.
Dengan sendirinya pintu terbuka kembali. Raven bisa melihat mata gadis itu yang mulai memerah. Ia salah tingkah. "Mmh ... selamat ya, kamu sudah menikah."
Rika meliriknya tajam.
"Mmh ... maaf aku terlambat memberi selamat. By the way (lagipula), selamat telah punya bayi."
Rika melengos dengan memperhatikan anaknya dan mengusap air mata yang telanjur jatuh. "Duh, anak Mama. Maafkan Mama ya Sayang ya," gumamnya memeluk bayinya.
"Eh ... si-siapa namanya?" Raven kesulitan meluruskan ucapan tapi rasa ingin tahunya juga amat besar.
"Erlangga." Lirik gadis itu tajam ke arah Raven. Ia mendekap anaknya dan menggosok-gosokkan punggungnya agar luruh tangisnya.
Tenggorokan Raven tercekat tapi ia masih ingin bertanya. "Apa ... anak itu—"
"Dia anakku!" Ternyata Bima telah datang dari arah belakang Raven membuat keduanya terkejut. Bima juga terkejut melihat Ravenlah orang yang ditemui Rika. "Oh ... Raven?"
"Oh, iya Pak."
Bima bingung harus bicara apa. Di satu sisi ia mengenal Raven sebagai tetangga Shasa, dan di sisi lain, apa dia ... Ia melirik istrinya. Bagaimana pemuda ini tahu rumahnya? "Bagaimana kamu tahu ini rumahku?"
"Aku ... satu kampus sama Rika, Pak."
__ADS_1
"Lalu ...?" Bima melirik keduanya.
Raven tak tahu bagaimana menerangkan yang berikutnya karena ia benar-benar belum siap bertemu Bima. Pikirannya saat itu hanya ingin bertanya pada Rika dan langkahnya terhenti di sini. Ia harus bicara apa kini? "A-aku ...."
"Rika istriku dan dia anakku."
Pernyataan Bima membuat Raven berhenti mencari tahu. "Eh, iya Pak, maaf." Pemuda itu pura-pura melihat jam. "Ah, aku ke kampus dulu, sudah mau ada kelas. Permisi, assalamu'alaikum."
Bima menjawab salamnya. Raven kemudian masuk ke mobil dan kemudian pergi. Bima mendekati istrinya.
Belum apa-apa Rika memeluknya. "Mas ...."
"Apa ini anaknya?"
"Anakku. Ini anakku!"
Dari situ saja Bima sudah tahu jawabannya. Ia tak ingin bertanya lagi. "Mmh, Mas boleh makan siang di rumah?"
Gadis itu mengangguk. Ia menengadahkan kepalanya.
Bima menghapus air mata yang terlanjur meluncur dari kedua netra istrinya. "Dia anakku."
Gadis itu mengangguk senang. Keduanya kemudian masuk ke dalam rumah.
----------+++----------
Damar benar-benar kebingungan. Ia sudah menggunakan sepatu ice skating tapi ia hanya mampu berjalan di pinggir arena sambil berpegangan di pagar besi. Ia tak berani berjalan ke tengah, padahal teman-teman Diandra dan gadis itu sudah meluncur ke tengah dengan entengnya seakan-akan mereka sudah dari lahir menggunakan sepatu itu. Ia menghela napas dan menggerutu.
Tiba-tiba Diandra mendekat. Ia menyodorkan tangannya yang telah diberi sarung tangan pada Damar. "Ayo, sini."
"Eh, aku di sini saja. Tidak apa-apa." Damar tak ingin seperti orang bodoh yang bermain ice skating dan terjatuh di depan teman-teman wanita itu. Apalagi sedari tadi teman-teman wanita itu membicarakan perusahaan mereka masing-masing. Damar benar-benar tak ada muka berada di sana.
"Ayo ... gampang kok!"
Damar terlihat sangsi.
Wanita itu terus menggerakkan jemarinya. "Come on(ayolah). Kamu diam saja nanti aku kasih tau."
Dengan ragu-ragu Damar menyambut tangan Diandra. Pria itu ditarik wanita itu dan mulai diajak berjalan.
"Jangan takut, luruskan saja tubuhmu."
Damar menurut. Tanpa sadar dirinya bergerak ke arah mana Diandra pergi. Tubuh yang awalnya kaku dan tegang karena takut jatuh, kini menikmati ke setiap tempat wanita itu membawanya.
Wanita itu pun melihat Damar mulai menyukai permainan itu. "Gampang kan?"
"Iya, eh enggak ...." Damar masih khawatir.
Diandra tertawa. "Ayo sini aku ajari." Wanita itu berhenti di depan Damar dengan memiringkan sepatunya dan menggenggam kedua tangan pria itu yang sudah bersarung tangan.
Damar masih terlihat kebingungan.
"Ikuti aku ya Kak?"
"Oh, iya," jawab pria itu cepat.
Diandra kembali berdiri di samping dan menggenggam satu tangan Damar. Ia kembali berjalan sambil menggenggam tangan pria itu. "Ikuti kakiku Kak!"
Damar melihat gerak kaki Diandra dan menirunya. Ternyata ia bisa berjalan dan tak lagi ditarik. Ia bisa berjalan di samping wanita itu. Pria itu menyukainya. "Eh, aku bisa ya?"
Diandra kemudian melepasnya.
"Eh, tunggu!" Damar panik sehingga terhenti di tengah jalan. Ia hampir jatuh tapi kemudian bisa menjaga keseimbangan.
"Ayo ke sini Kak!" Wanita itu memanggil dengan tangannya.
Damar berjalan ragu-ragu tapi ternyata dia bisa. "Oh, aku bisa."
Namun mereka tak melihat seorang anak kecil yang sedang belajar ice skating meluncur ke arah mereka dan menyenggol Damar. Karuan, Damar menabrak Diandra dan menindihnya.
____________________________________________
__ADS_1
Ayo, mau lihat kembarannya Lione kan? Tuh, sampai Papitonya kurang tidur. Salam, ingflorađź’‹