Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Kamu


__ADS_3

"Kamu kenapa Ka," Mama yang masuk ke dalam kamar mandi, melihat Rika yang membungkuk di depan toilet duduk dan memuntahkan segala yang bisa ia keluarkan. "Kamu habis minum ya?"


Rika tak menjawab. Mama mengusap-usap punggung dan membantunya mencuci mulut. Ia kemudian membimbing gadis itu yang tampak lemas, keluar kamar mandi.


Papa tak berkomentar. Begitu juga Damar. Mama mengantar Rika ke kamar diiringi Papa. Keduanya cemas melihat Rika yang tak ingin bicara.


Mama membiarkan Rika naik ke atas tempat tidur dan menyelimutinya. Tak tega melihat Rika, Papa berusaha keluar.


"Pa ...." Rika mengangkat satu tangannya.


Pria paruh baya itu berhenti dan kembali menghampirinya. Mama memberi tempat untuk Papa mendekat dan duduk di tepian tempat tidur. Pria itu menggenggam tangan anaknya.


"Boleh aku tinggal di sini?" Pertanyaan Rika membuat Mama meneteskan air mata.


"Mereka datang hanya ...."


"Aku hanya mau jadi anak Papa," Rika kembali menangis.


Papa menoleh pada Mama. Wanita itu hanya mengangguk. Rika memang belum bisa diajak bicara karena masih labil emosinya. Terpaksa pria itu hanya mengangguk.


"Rika akan jadi anak baik, jadi Papa jangan usir Rika ya?"


Papa memberi senyum terbaiknya lalu mengangguk lagi. Gadis itu masih terus menggenggam tangan hangat itu untuk beberapa lama.


------------+++-----------


"Siapa yang pilih kos-kosan itu?" tanya Kevin.


"Berdua."


Kevin melirik Abra yang dari tadi hanya diam. "Kamu kenapa dari tadi ngak ngomong, gak makan?"


Abra menunduk dan mulai mengambil sendoknya.


"Apa makanannya mau diganti?"


Abra menggeleng. Ia mulai menyendokkan makanan ke dalam mulut.


"Kakak sakit?" tanya Shasa ikut khawatir.


"Enggak."


"Ngak napsu makan?"


"Mungkin." Abra mengunyah pelan makanannya.


"Kak Abra bisa tinggal sendiri kan?"


Saat itu juga makanan rasanya sulit ditelan. Mendengar gadis itu dalam waktu dekat akan dilamar saja, ia syok, apalagi mendengar gadis itu akan meninggalkannya. Sedari awal ia tahu gadis itu bukan miliknya tapi mengetahui gadis itu mulai menjauh, hati ini masih tak rela.


"Oh, dia sudah biasa. Kan sebelumnya dia tinggal di Amerika lama dan seperti ini juga, tinggal di apartemen sendirian. Iya kan Bra?"


Pria itu hanya mengangkat matanya beberapa detik dan kemudian mencoba mengunyah kembali makanannya.


"Kamu nanti ada mau belanja apa gak, aku temani?"


"Gak ada sih Kak, karena daerah situ banyak warung dan penjual makanan jadi gak susah cari makanan."


"Gak mau roti buat sarapan?" bujuk Kevin.


"Gak usah Kak. Makasih," tolak Shasa sopan.


Mereka kemudian menyelesaikan makan malamnya. Pulangnya, Kevin mengantar keduanya ke apartemen Abra. Seperti biasa, Shasa membantu Abra melepas perban. Untuk pertama kalinya, pria itu mencoba mandi sendiri di kamar mandi.


Ia melakukan yang ia bisa lalu menyirami tubuhnya. Setelah itu ia memakai celana panjang dan keluar. Shasa telah menunggunya, tentu saja dengan wajah merah padam seperti biasa. Apalagi melihat tubuh Abra dengan dada terbuka, terlihat segar dan rambutnya yang basah. Pria itu sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil datang menghampiri.


"Nyampo Kak?" tanya gadis itu salah tingkah.


"Iya. Ngak betah kalo gak mandi. Rambut juga sudah seperti ijuk."


Mereka saling berpandangan dan tertawa, tapi hanya sebentar. Kali ini mereka sedikit canggung, entah kenapa.


"Eh aku pasang dulu ...."


"Iya," potong Abra, segera duduk di tepi tempat tidur.

__ADS_1


Shasa mulai memasang perban dan Abra seperti biasa memperhatikannya, mengkhayalkannya dan kadang menyelami sentuhan Shasa pada dirinya. Lembut. Khas wanita.


Setelah mengancingkan baju tidur Abra, gadis itu mengeringkan rambut pria itu dengan handuk seadanya. Abra mendongak, membuat mereka beradu pandang sekali lagi. Apa ... aku boleh menggodanya?


Kembali pipi gadis itu memerah. "Udah." Ia segera menyudahi.


Dengan cepat Abra meraih lengan gadis itu.


"Eh, apa Kak?"


"Apa ...."


"Ya?" Shasa mendekat.


"Kamu beneran sama Bima?"


"Oh, aku kira apa." gadis itu hampir tertawa.


Aku salah ngomong ya? "Jadi?"


"Iya? Oh, iya."


"Yakin?"


Gadis itu mengangguk.


"Apa pilihanmu sudah final?"


Gadis itu menatap Abra lekat. Seandainya yang melamarku Kak Abra, wah ... pasti aku akan sangat bahagia. Namun kemudian ia membuang angan itu segera dan berdehem sebentar. "Aku udah pacaran sama dia dan aku lihat dia orangnya baik jadi aku memutuskan untuk menerimanya."


"Hanya karena dia orang baik?"


"Eh, apa maksudnya?"


"Apa kamu mencintainya?"


"Di dalam agama Islam, kita dituntun untuk menikah karena Allah. Itu lebih baik daripada karena cinta."


"Jadi kamu ... tidak mencintainya dong!"


"Eh, bukan gitu," sanggah Shasa. "Aku melihat dia bisa menjadi imamku. Dia selalu membimbingku."


Shasa kesal Abra terus membantahnya. Ia mengerucutkan mulutnya. "Mungkin pandanganku salah tentang dia tapi karena aku menikah karena Allah, biar Allah sajalah yang menyempurnakan diriku dan dirinya dan hanya Allahlah yang tahu apa yang terbaik buat kami berdua. Aku pasrahkan semuanya padaNya dan aku akan ikhlas menerima apa yang Tuhan berikan kepadaku karena aku tahu, Tuhan Maha Tahu apa yang aku butuhkan walaupun bukan apa yang aku inginkan. Maaf Kak Abra, mungkin aku terdengar pasrah, tapi aku percaya takdir Tuhan itulah yang paling benar karena pasti, suka atau tidak suka kita pasti akan menjalani skenarionya."


Abra tak bisa berkata-kata. Kalimat gadis itu benar adanya. Sekeras apapun kita menolak kita pasti akan menjalani takdir Tuhan. Sesuatu yang kita tidak bisa lari darinya. Hanya saja, ia malah mendengarkannya dari seorang gadis muda yang pikirannya sudah sangat jauh dewasa dari umurnya. Seandainya saja Shasa berjodoh dengannya .... "Maaf, a-a-ku meragukan pilihanmu." Pria itu tertunduk.


"Makanya cari pacar Kak Abra," Shasa tersenyum.


"Apa?" Abra mengangkat kepalanya.


"Masa Kak Abra gak bisa cari pacar?"


Aku maunya itu kamu.


Aku doakan kamu Kak, menemukan jodoh yang terbaik.


Mereka kembali saling berpandangan tapi kali ini Shasa terlihat ikhlas. Ia memberikan senyum terbaiknya untuk Abra.


Duh, seandainya aku bisa melihat senyum itu tiap hari.


Shasa berpamitan. Ia segera kembali ke kos-kosan dengan berjalan kaki.


Butuh sekitar 15 menit hingga ia sampai di tempat tinggalnya itu. Baru saja ia akan membuka kunci pintunya, tiba-tiba seseorang berdiri di sampingnya.


"Ah!" Shasa menyentuh dada saking terkejutnya.


"Oh, maaf. Kaget ya?" ucap pria itu.


"Eh ...." Shasa masih melongo.


"Aku penghuni kos-kosan yang di sebelah situ." Pemuda itu menunjuk ke arah kiri lalu kemudian menyodorkan tangannya. "Kenalkan saya Raven. Mahasiswa tingkat II Universitas Elang Nusa. Kamu mahasiswa juga?"


Shasa menyambut tangan itu pelan. "Shasa, tapi saya kerja."


Raven mengerut kening. "Kerja? Tua banget Mbak. Kelihatan masih kecil."

__ADS_1


Ucapan Raven membuat Shasa mengerucutkan mulutnya. "Aku baru kerja, lulus SMA."


"Oh, maaf. Aku kan gak tau." Namun Raven belum melepas genggaman tangannya yang membuat gadis itu risih.


Dengan paksa Shasa melepas tangannya.


"Oh, maaf."


Shasa ingin membuka pintu kamarnya tapi pemuda itu masih berdiri di tempatnya. "Mau apa lagi?" katanya dengan sedikit kasar.


"Ih, galak amat? Gak ada apa-apa. Cuma kaget aja, masih bisa kuliah kenapa kerja sih Dek?"


Shasa membulatkan matanya. Kenapa sih nih, cowok ini sok ngatur hidup orang! Baru juga kenal ... Ia menyipitkan matanya.


"Ya udah ... silahkan masuk. Aku gak ganggu kok!" Raven menggerakkan tangannya.


Shasa membuka pintu dan segera masuk. Ia segera menutup pintunya kembali.


-----------+++----------


Abra masih belum bisa memejamkan mata. Kata-kata gadis itu terngiang terus di telinga seakan apa yang diucapkan gadis itu menutup semua langkahnya untuk coba menggodanya tadi. Toh hampir saja berakhir dengan silang pendapat tapi pada akhirnya gadis itu yang memenangkan perdebatan.


Ia mendesah pelan. Sha. Aku ingin anak-anakku kelak punya ibu sebijak dirimu. Masih bisakah aku berharap? Andai di Lauh Mahfudz itu tertulis namamu untukku .... Masih bolehkah aku melafalkan namamu di dalam setiap doa-doaku? Masih bolehkah?


Sayang sunyi tak bisa menjawab tanya. Abra berusaha tidur agar segera bertemu pagi.


----------+++--------


Shasa mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Buku note yang baru dibelinya pengganti buku note yang lama yang masih dipegang Rika. Dengan senang, dibukanya lembar pertama dan terdapat beberapa kelopak bunga mawar di sana. Shasa sengaja mengambil beberapa kelopak bunga mawar dari kamarnya karena itu adalah kenang-kenangan bahwa Abra pernah menyatakan cinta padanya, walaupun itu hanya pura-pura saja. Ia tersenyum geli mengingatnya.


Terdengar suara ketukan di pintu. Shasa mengerut dahi. Apa pemuda itu lagi? Untuk apa dia malam-malam mendatangiku?


Shasa kemudian menepikan buku itu dan memasukkan ke dalam tas. Ia turun dari tempat tidur dan mengintip di jendela. Benar saja, pemuda itu lagi. Shasa memperlihatkan wajah cemberut sementara pemuda itu tersenyum padanya. Ia membuka pintu kamarnya. "Ada apa?" ucapnya cepat.


"Aduh, galak banget." Pemuda itu masih tersenyum.


"Ya iyalah! Bertamu malam-malam," protes Shasa.


"Oh, aku tamu kamu ya?"


Shasa makin menautkan alisnya. "Ya udah, mau apa?" Shasa berusaha ramah agar cepat selesai.


Pemuda itu malah mencolek hidungnya gemas. Dia benar-benar sangat mirip, seperti pinang dibelah dua. Apa ada kemungkinan dia ... tapi bagaimana mengeceknya ya?


Shasa melotot. Ih, ini orang kebangetan ya? Sok kenal sok akrab. Memangnya siapa dirimu? "Ya udah, aku gak punya waktu." Shasa segera masuk ke dalam. Ia tidak ingin berbicara dengan orang yang tidak jelas maunya tapi ketika ia menutup pintu, ia tidak bisa melakukannya karena pemuda itu mengganjal pintu dengan lututnya.


"Aghh!"


"Eh ...."


Pemuda itu membuka mulutnya karena kesakitan. Ia menunjuk-nunjuk lututnya yang terjepit tadi.


Ih, kenapa sih? Sengaja ya?


Saat Shasa melonggarkan pintu, kesempatan itu dipakai pemuda itu untuk menerobos masuk ke dalam dan duduk di tepian tempat tidur.


Shasa kesal tak bisa mengusirnya, tapi mau bilang apa, pemuda itu telah masuk kamarnya.


Raven mengedarkan pandangan pada seisi ruangan. Gadis itu tak punya apa-apa selain beberapa kosmetik di atas meja dengan merek yang tidak terlampau mahal. Tentu saja, mereka yang tinggal di situ pastilah bukan orang yang cukup uang. "Aku anak orang kaya."


"Dan aku anak konglomerat." Shasa bertelak pinggang.


Pemuda itu kembali menatap Shasa. Gadis ini sangat lucu ya, tapi apa dia orang yang sama? "Adek ini siapa orang tuanya?"


Ih, mau apa dia tanya-tanya orang tuaku? Karena sudah malam, Shasa tidak ingin mengambil resiko. Ditariknya tangan pemuda itu ke arah pintu. "Ayo cepat keluar, ini sudah malam."


"Orang tuamu sudah meninggal kan?"


"Apa?"


____________________________________________


Halo reader, maaf agak telat karena author lagi flu. Jangan lupa vitamin author ya, like, vote, komen dan hadiahnya. Ini visual Raven Chandra Aditya, Casanova kampus tetangga Shasa. Salam, ingflora. 💋


__ADS_1


Yang suka fantasi timur, coba baca yang ini ya?



__ADS_2