Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Persiapan


__ADS_3

Erik menurunkan handphone-nya dari telinga. Ia membalikkan tubuhnya menatap Karen.


"Ada apa?" Karen penasaran. Ia tahu ada yang ingin disampaikan suaminya padanya.


"Abra rencananya ingin menikah Senin ini."


Wanita itu melongo. "Dengan Shasa?"


"Iya."


"Secepat itu? Padahal Kevin sedang dalam keadaan koma dan dia menikah? Apa dia tidak punya perasaan dengan menari di atas luka orang lain?" Karen begitu emosi mendengar berita itu.


"Karen, menikah itu wajib disegerakan dan lagi mereka sudah sama-sama suka. Apalagi? Hanya bedanya kita tidak bisa menggelar pesta karena Kevin sedang sakit."


Karen benar-benar marah. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun dan langsung pergi keluar dari ruangan itu. Erik hanya diam. Tak ada gunanya meladeni istri yang sedang marah. Ia mencari tempat duduk di sofa dan duduk di sana.


Sementara itu, Kevin masih terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Entah kenapa dari kedua pelupuk matanya mengalir air mata pelan, seakan ia mendengarkan percakapan tadi. Mungkin saja, ia mendengarkan dan kecewa.


----------+++----------


Raven menegakkan punggungnya saat mobil Abra datang ke tempat kos-kosan itu. Ia mendatangi dengan memasukkan kedua tangannya di kantung celananya sambil menyambut kedatangan Shasa yang turun sambil membawa barang belanjaan. "Tumben belanjaannya banyak. Kayak ada acara aja."


"Oh, iya Bang. Aku Senin nikah."


"A-apa?"


Abra pun turun. "Iya Ven, kamu bisa datang?"


Raven masih syok. Ia melirik Shasa dan Abra bergantian. "Bercanda kan?" Ia mengulas senyum ragu tak percaya.


"Enggak kok, beneran," sahut pria itu meyakinkan Raven.


Pemuda itu kembali melirik keduanya. "Secepat itu? Ada apa dengan kalian, apa kalian telah ...." Ia melirik Shasa dan gadis itu memperlihatkan wajah kesalnya.


"Enak aja! Aku gak bakal ngerjain yang aneh-aneh ya Bang! Dia tuh yang ngebujuk aku dari tadi gak berhenti-berhenti!"


Abra tertawa.


"Kenapa buru-buru. Kan jadi gak bisa menggelar pesta. Bukan begitu?" tanya Raven lagi.


Shasa segera beranjak meletakkan barang belanjaannya di kamar.


"Aku gak tau cara berpikir Shasa. Dia kalau lagi marah suka pergi entah ke mana, mengkhawatirkan. Kalau aku udah nikah dengannya mungkin aku akan merasa lebih aman, dan aku bisa menjaganya."


"Oh, ceritanya takut kehilangan nih," ledek Raven.


Yang diledek malah tertawa pelan.


"Ya udah, aku do'ain langgeng. Kapan, Senin ya?"


"Belum tahu dapat enggaknya karena baru mau diurus Senin itu, sama pegawainya Pak Bima."


"Pak Bima? Pak Bima mantan pacar Shasa? Kenapa bisa dia yang mengurus?" Raven mengerut kening.


"Kebetulan dia juga menikah dengan Rika."


"Rika?" Raven terkejut dan kemudian tertawa. "Mereka menikah? Waw, akhirnya mereka menikah juga. Jadi benar kan bos Shasa itu ternyata selingkuh."


"Ya aku positif thinking(berpikir positif) aja, dengan begitu aku bisa bersama Shasa."


"Mmh. Hebat juga Kakak bisa membujuk Shasa agar segera menikah denganmu, padahal dia kan baru putus dari Bima." Raven bicara setengah berbisik karena Shasa baru keluar dari kamarnya setelah meletakkan barang belanjaannya di kamar.


"Kayaknya mereka putus baik-baik deh. Buktinya setelah aku beri tahu tentang pernikahan Bima dan Rika, dia gak marah. Malah mendoakan mereka berdua."


"Bagus deh kalau begitu tapi hati-hati saja dengan Rika. Dia sepertinya tidak suka pada Shasa. Berharap saja ia benar-benar menikah dengan Bima dan masalahnya selesai," bisik pemuda itu pada Abra. Melihat Shasa mendekat, ia merubah topik bicaranya. "Beri tahu saja kapan kalian menikah. Yang pasti di KUA kan?"


"Oh, iya." Abra pun pamit. Shasa menunggu hingga mobil pria itu keluar dari halaman kos-kosan. Ia kemudian melambaikan tangan pada pria itu sebelum mobil itu meluncur menjauh.

__ADS_1


Raven mengusap kepala Shasa. "Adikku masih kecil udah nikah."


Shasa tersenyum kecil mendengar komentar Raven.


"Itu belanja untuk persiapan nikah?"


"Iya."


"Udah semua?"


"Belum."


"Apa lagi?"


"Al Quran dan mukena."


"Jadi mau cari besok ya?"


"Iya."


"Mau Abang temani atau mau sama Pak Abra? Eh, Abang harus panggil dia apa?"


"Apa ya? Namanya mungkin?"


"Mmh."


-----------+++-----------


Esoknya Abra datang menjemput Shasa. Mereka kembali menjenguk Kevin.


Kali ini ibu Kevin banyak diam dan memperhatikan Shasa. "Eh, aku dengar kalian akan menikah besok ya?"


"Oh, iya Bu," jawab Shasa pelan.


"Apa tidak terburu-buru? Kevin sedang sakit, dan waktunya sangat sempit untuk menggelar pesta. Apa kalian tidak mau menikah dengan pesta yang meriah?" bujuk Karen.


"Tapi setidaknya bila ada Kevin, keluarga Abra rasanya lebih lengkap dan kami bisa menggelar pesta untukmu."


Shasa tak bisa menjawab. Ia melirik Abra.


Pria itu segera beranjak dari kursinya dan mendekati Shasa. "Mmh, maaf Bu. Kami mau pergi berbelanja. Masih ada yang kurang yang mesti dibeli untuk persiapan." Ia segera menarik gadis itu untuk berdiri dan segera pamit.


Karen tak bisa berbuat apa-apa. Abra tidak ingin berkonflik dengan ibu tirinya dan ia tidak mau ada orang yang berusaha menggoyahkan pendirian Shasa, karena itu ia berusaha pergi dari situ dari pada salah menjawab ucapan ibu tirinya.


Mereka kemudian mengunjungi Bima di ruang perawatan. Di sana ada Rika dan keluarga Bima yang sedang menunggui pria itu.


"Bagaimana Pak, sehat?" sapa Abra pada Bima yang duduk di atas tempat tidur ditemani Rika.


Keluarga Bima sedang duduk di sofa. Adik Bima terkejut melihat Shasa, gadis yang fotonya pernah dikirim Bima pada mereka. Tentu saja orang tua Bima juga mengenali Shasa.


"Alhamdulillah," ucap Bima berseri-seri. Sejak kembali bersama Rika, wajah pria itu tampak bugar.


"Mmh, syukurlah. Oh ya, aku mau menyerahkan surat-surat untuk mengurus surat nikah nanti." Abra menyerahkan dalam bentuk map pada Bima.


"Oya, berikan saja pada Rika karena Shasa katanya masih pakai KTP domisili rumah Rika. Sebentar lagi Haris datang mengambilnya."


Rika mengambil dan meletakkan map itu dalam laci nakas.


"Lalu selanjutnya bagaimana? Apa dokter mengatakan sesuatu?"


"Mmh, masih observasi, tapi aku sudah cukup senang, keluargaku ada di sini." Bima menoleh ke arah keluarganya yang sedang duduk di sofa.


Abra dan Shasa ikut menoleh dan menganggukkan kepala pada keluarga Bima. Mereka pun membalasnya.


"Terima kasih ya, keluargamu tidak menuntutku atas kejadian kecelakaan itu karena waktu itu memang aku berusaha membantu mengantar Pak Kevin pulang karena waktu itu ia sedang dalam keadaan mabuk." Bima mulai bercerita.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Abra penasaran.

__ADS_1


Bima menatap pria di depannya ragu-ragu.


"Katakan saja, agar tidak ada yang salah paham," bujuk Abra lagi.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya tapi ia terlihat frustasi. Terakhir ia mengamuk dalam mobil dan mencekikku tapi aku tak menyalahkannya karena mungkin waktu itu ia sedang mabuk. Ya, ia sedang mabuk jadi pasti tak sadar dengan apa yang dilakukannya." Bima sepertinya ikhlas dengan apa yang terjadi. "Lagi pula, gara-gara itu mataku terbuka dan bisa berbaikan dengan calon istriku ini. Hikmah tidak selalu datang di saat baikmu tapi bisa saja datang di saat burukmu, karena itulah kita manusia wajib bersyukur dengan apa saja yang Allah takdirkan untukmu," ucap Bima bijak. Ia menggenggam tangan Rika yang tersenyum padanya.


"Ya, untukku." Abra juga menoleh pada Shasa dan menggenggam tangannya.


Tak lama Abra dan Shasa pun pamit. Mereka kembali berbelanja untuk keperluan pernikahan mereka, esok.


---------++++---------


Telepon Abra berdering saat ia sedang makan di rumah makan Padang bersama Shasa. "Oh, Ayah. Ada apa?"


"Senin pagi kita rapat dulu ya, mengenai kekosongan posisi GM Marketing di stasiun TV Indo."


"Sebenarnya tidak perlu Yah. Posisi itu bisa Ayah ambil alih, menyambih mengurus hotel. Toh, posisi itu tidak terlalu sibuk. Kak Kevin aku lihat hanya sibuk saat meeting saja, selebihnya santai. Kan meeting-nya hanya seminggu sekali Yah."


"Mmh, sebenarnya tidak sesantai itu hanya aku memberinya kebebasan untuk berkreatifitas yang mana ia tidak sekreatif kamu, tapi baiklah. Ayah hanya akan mengikuti kepemimpinan Kakakmu saja untuk sementara waktu. Tidak ada yang akan aku ubah, hanya saja besok tetap akan ada meeting untuk para direksi untuk memberi tahu kekosongan posisi itu untuk waktu yang tak yang tak bisa ditentukan."


"Kalau pun tidak ada meeting, orang akan maklum Yah, kita sedang dalam musibah. Semuanya serba darurat."


"Tapi kita harus profesional, Abra. Apalagi kamu akan menikah. Aku tidak mau ada gosip-gosip yang tidak jelas nanti di luaran sana."


"Gosip apa Yah?"


"Belum apa-apa saja Ibumu sudah ribut soal kamu menikah dan tidak berusaha mengerti keadaan Kevin."


Abra melirik Shasa yang sedang menyuap makanan membuat gadis itu jadi ingin tahu.


"Ada apa?" tanya Shasa pelan.


"Bagaimana kalau dirahasiakan saja pernikahan kami di luar. Itu rasanya lebih aman," saran Abra.


"Mmh, begitu. Baiklah. Akan Ayah pikirkan." telepon pun dimatikan.


"Ada apa Kak?" tanya Shasa lagi.


"Mmh? Besok pagi Ayah akan meeting dengan direksi dan aku akan ikut meeting itu karena ini mengenai kursi kosong yang ditinggal Kevin di stasiun TV Indo. Aku minta kamu tetap masuk kantor ya, bekerja seperti biasa. Jangan berhenti dulu."


"Tapi besok kan kita akan menikah?"


"Ngak usah bingung Sayang, nanti ikuti aku saja ya, bagaimana-bagaimananya."


"Maksudnya?"


"Untuk sementara waktu kita sembunyikan dulu rencana pernikahan kita. Keadaan kak Kevin bisa membuat image buruk pada pernikahan kita kelak, jadi usahakan tidak ada yang tahu tentang hal ini dulu di kantor."


"Bukankah lebih baik aku berhenti?"


"Justru kalau kamu berhenti, orang akan curiga Sayang. Percaya aja sama aku karena nantinya kamu akan bekerja padaku. Lihat saja nanti."


Mau tak mau Shasa menurut walaupun ia tak sepenuhnya mengerti.


----------+++----------


Meeting tak berlangsung lama. Erik langsung menyanggupi merangkap jabatan untuk sementara waktu dan hariannya Abra ikut membantu. Abra segera keluar dari ruang meeting setelah pamit pada ayahnya. Ia menemui Shasa di kantor Kevin.


"Sha, aku butuh bantuanmu. Semua sudah siap," kode Abra.


"Ok Pak." Shasa mengikuti Abra.


Pria itu mengantar Shasa pulang, sedang ia sendiri pulang dan berganti pakaian. Lalu ia kembali lagi menjemput Shasa.


"Duh, lama banget kalau cewek dandan." Sudah 20 menit berlalu dan Shasa belum juga keluar dari kamarnya sementara Abra sudah mondar-mandir di depan kamar gadis itu.


Raven menahan tawa.

__ADS_1


__ADS_2