
"O o, lucu sekali ini. Siapa namanya?" tanya Erik pada Abra.
"Gwelina, Yah. Lina," jawab Abra yang sedang menggendong bayi itu sambil mengusap kepalanya. "Yang satu lagi Gwelione, karena dia laki-laki. Dipanggilnya Lione(baca, Lion)."
"O, tapi yang perempuan suaranya lebih kencang saat menangis. Jangan-jangan lebih galak ya?"
Abra tertawa. "Mungkin."
Karen, ibu tiri Abra malah menggendong bayi Lione di samping tempat tidur Shasa. Di sisi lain duduk Om dan Tante Shasa sambil memperhatikan bayi yang digendong Karen.
"Maaf Rika dan suaminya gak bisa datang karena sedang pindahan ke rumah barunya," terang Tante Shasa.
"Oh tidak apa-apa," jawab Shasa. "Nanti kalau ada kesempatan, aku akan menengok rumahnya juga."
"Mmh, yang ini suka sekali digendong Neneknya, anak Nenek ya?" sahut Karen seraya menggoyang-goyangkan bayi Lione yang diam saja digendong olehnya. Bayi itu terbangun sebentar kemudian kembali tertidur dipelukan.
Shasa tersenyum dibuatnya.
"Cepat sekali ia mengenal orang. Takutnya gampang diculik," terang Tante Shasa.
"Mama ...." Adam mengingatkan ucapan istrinya.
"Tapi berjaga itu penting lho," terang istri Adam sekali lagi.
"Mudah-mudahan punya pembantu yang amanah," jawab Shasa bijak.
"Diandra juga gak bisa datang karena menjaga Kevin. Maaf ya Sha." Karen meminta maaf.
"Ngak papa Bu, Shasa ngerti kok."
Semua orang begitu sibuk dengan kedua bayi itu hingga lupa waktu karena kegembiraan yang tak ada habisnya. Menjelang sore orang tua Abra dan Om dan Tante Shasa pamit.
Karen dan Erik kembali ke rumah sakit tempat Adam dirawat.
"Kenapa Shasa mau dirawat di rumah sakit sekecil itu sih?" omel Karen.
"Bu, aku serba salah sama kamu. Aku bantu Abra, kamu marah, giliran Shasa masuk rumah sakit kecil juga kamu komentarin. Aku harus bagaimana sih sama Ibu," keluh Erik.
"Kalau Shasa itu menantu idaman. Kevin saja suka sama dia. Sayang, dia memilih Abra."
Erik terkejut Karen mengetahui hal ini. "Memangnya Kevin pernah cerita?"
"Tidak, tapi dengan menjadikannya sekretaris di kantor, aku bisa menebak begitu."
Erik membuka pintu kamar ruang perawatan Kevin. Di sana terlihat Diandra sedang duduk menunggui kakaknya Kevin tapi ia tidak sendirian. Ia bersama seorang pria tampan yang segera berdiri dan menganggukkan kepala ketika melihat kedua orang tua Diandra datang.
"Oh, ini Regan ya?" tebak Erik pada pria dihadapannya itu.
"Iya Om," jawab Regan sopan.
Karen menyambutnya senang. "Aduh, gantengnya ...."
"Ibu ...." Diandra merengut malu.
"Kamu pintar juga mencari pasangan," sambung Karen lagi.
Diandra tersipu-sipu. Pria itu ternyata datang ingin meminang Diandra. Mereka sudah beberapa bulan ini pacaran dan dia adalah salah satu klien hotel mereka.
Erik tidak begitu mengenalnya karena ia adalah anak salah satu kliennya yang baru mengambil alih perusahaan orang tuanya ketika Diandra juga mengambil alih hotel karena dirinya harus mengurus stasiun TV miliknya sejak ditinggal Kevin. Jadi hari itu adalah hari pertama ia mengenal calon menantunya itu.
Maksud kedatangan Regan disambut baik oleh kedua orang tua Diandra, tapi karena kondisi Kevin masih belum pasti, Erik meminta untuk menikah di KUA saja seperti yang dilakukan Abra. Sebenarnya Karen ingin protes tapi tak bisa karena ia tahu terhalang keadaan Kevin yang belum kunjung sadar walaupun sebenarnya ia ingin mengadakan pesta yang meriah untuk anak perempuan satu-satunya itu.
Regan pun menyanggupi karena memaklumi keadaan keluarga Kevin yang masih dalam keadaan prihatin karena salah satu anaknya koma. Setelah berbicara sebentar mengenai persiapan pernikahan, Regan pamit bersama Diandra.
"Apa kita tidak buat pengecualian saja, Yah? Anak perempuan kita menikah tanpa pesta, sungguh menyedihkan," bujuk Karen.
"Ya nanti pestanya setelah Kevin sadar dari komanya, kan bisa?"
"Kan gak tahu kapan Yah ...," ucap wanita itu kesal. "Nanti bisa-bisa sudah keburu hamil dan melahirkan lagi seperti Shasa," gerutunya.
"Aku kan berusaha adil, Bu. Abra saja sampai sekarang tidak pernah minta pesta pernikahan padaku, masa sekarang Diandra malah dipestakan, yang benar saja Bu."
"Ayah, dia kan laki-laki, tidak ada pesta tidak apa. Beda dengan perempuan. Anak perempuan itu kebanggaan. Apa Ayah tidak ingin anak perempuan satu-satunya dirayakan pernikahannya?"
"Tentu saja ingin, tapi kembali lagi tidak etis karena Kevin masih koma."
__ADS_1
Karen merengut kesal, permintaannya tidak dituruti suaminya.
------------+++------------
Raven yang baru datang hanya bisa memperhatikan saja dari mobilnya ketika sebuah mobil dengan banyak perabotan sesak di kursi belakang, keluar dari pagar rumah besar itu. Ia melihat Bima dan Rika duduk di kursi depan. Gadis itu menggendong bayinya.
Melihat kepergian mereka, pemuda itu menghidupkan mesin mobilnya. ia mengikuti mobil itu.
Di sebuah perumahan, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah mungil. Rika turun sambil menggendong bayinya sementara Bima mengeluarkan kereta bayi untuk bayi yang di gendong Rika. Kereta bayi itu kemudian didorong ke dalam rumah oleh gadis itu diikuti Bima yang mulai mengeluarkan barang-barang dari kursi belakang dan bagasi.
Raven memarkir mobilnya di tempat tersembunyi dan mengamati dari dalam mobil.
Sejam kemudian orang tua Rika juga datang membawa mobil berisi perabotan. Mereka menurunkan barang-barang itu dan membawanya ke dalam rumah.
Karena takut ketahuan, Raven segera pergi dari tempat itu.
-----------+++----------
"Lione ...," bisik Abra pada bayi yang di gendongnya. Ia menepikan rambut bayi itu ke samping sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Shasa yang sedang menyusui Lina meletakkan jarinya di depan mulut agar Abra diam. Lina yang gampang terusik, marah ketika Abra bicara, sedang Lione dengan gampangnya telah tertidur.
Abra hanya tersenyum dalam diam.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Lina kembali mengerang marah karena ketenangan menyusunya terganggu dan dia yang hampir tertidur harus kembali terbangun.
Abra menahan tawa dengan senyuman dan membuka pintu. Ia mengintip ke luar.
"Makan siangnya Tuan, sudah disiapkan di meja," bisik pembantunya itu melihat Abra tengah menggendong bayi.
"Oh, iya. Terima kasih." Pintu kembali ditutup. Abra mendekati tempat tidur mungil yang berada di sudut ruangan dan meletakkan Lione yang sudah tertidur di sana. Ia tinggal menunggu Lina, berikutnya. Ternyata tak perlu menunggu lama, bayi perempuan itu tertidur. Setelah pria itu meletakkan Lina di sana, ia mengajak istrinya keluar.
Shasa merapikan bajunya dan Abra kemudian menuntun istrinya keluar. Bekas operasi menyebabkan Shasa sedikit kesulitan berjalan akibat nyeri di perutnya. Abra dengan sabar menunggui istrinya yang berjalan lambat. Mereka kemudian makan siang bersama.
"Aku telah mengeluarkan Damar dari penjara."
Shasa tertegun. "Apa kamu yakin Mas, jangan karena dia saudaraku lho Mas."
"Beri dia kesempatan. Apa orang salah tak punya kesempatan kedua?"
Shasa terlihat sangsi.
"Tapi aku hampir kehilanganmu." Bibir bawah gadis itu mulai menggulung.
"Tuhan saja masih bisa memberi maaf, masa kita tidak? Jujur, aku juga geram saat ia memperlakukanmu dengan kasar dan kita hampir kehilangan bayi kita tapi aku tak mau hidup dengan menyimpan dendam sebab menyimpan dendam seperti memegang bara api. Sebelum kamu melemparnya, kamu mungkin sudah terbakar karenanya. Intinya, aku ingin hidup damai dengan siapapun sehingga kita bisa melangkah ke depan."
"Mmh." Shasa mencubit pipi suaminya lembut. "Bijak banget ya suamiku," katanya gemas.
Abra tertawa.
--------+++-------
Mulailah malam-malam yang menggila. Keduanya susah tidur malam karena, bukan saja Abra harus mendengar tangisan anaknya, tapi ia juga membantu Shasa membuat susu botol untuk salah satu anaknya.
Lione adalah bayi yang paling santai. Hanya di beri susu formula pun ia minum. Beda dengan Lina yang kadang protes karena tidak begitu suka susu formula, tapi bila tak ditambah susu formula Shasa memang kelimpungan karena susu yang diproduksi tubuhnya tidak mencukupi untuk keduanya.
Shasa berusaha adil. Bergantian Lione juga mendapat susu darinya sehingga dengan sabar Abra mengajarkan Lina minum susu formula. Pria itu juga mulai pintar menggantikan pakaian dan pampers mereka. Juga pintar memandikan mereka.
Setiap hari Abra berangkat siang untuk pergi ke kantor, karena malamnya begadang membantu istrinya mengurus bayi mereka, tapi ia menikmatinya. Memandikan, mengganti pakaian, ia melakukannya saat ada di rumah.
Adik Abra, Diandra kemudian menikah di KUA. Mereka pindah ke rumah baru yang dibeli suaminya.
----------+++----------
"Ba ba ba ba ...," ucap bayi Lione pada Abra.
"'Papi', bilang! Panggil 'Papi'. 'Pa-pi'." Abra mengajar Lione bicara.
"Ba ba ba ba."
"Papi," ujar Lina
Shasa dan Abra tertawa.
"Lina memang cepet banget belajar ngomongnya ya?" Abra takjub.
__ADS_1
"Ba ba ba ba."
"Yang sabar ya Papito," nasehat Shasa dalam candanya.
"Iya Mamito," canda Abra lagi. Pria itu menyuapi Lione bubur bayi bersama istrinya yang juga menyuapi Lina. Kedua bayi itu kini telah berumur setahun dan sudah mulai bisa duduk.
"Ba ba ba ba." Lione menggigit mainan bayinya.
"Papito," ucap Lina.
Abra dan Shasa kembali tertawa.
Abra mengusap pucuk kepala bayi Lina. "Cerdas kayaknya yang satu ini."
"Tapi dari artikel yang kubaca memang bayi perempuan lebih cepat bicara di banding bayi laki-laki tapi itu tidak mempengaruhi kecerdasannya."
"Tapi di umur segini dia sudah bisa bilang 'Papito' itu bukan cerdas namanya?"
"Iya juga ya?" gumam Shasa. Kembali ia menyuap Lina. "Mas mau berangkat jam berapa? Ini sudah hampir jam sembilan," ingat Shasa.
"Oh, iya." Abra berdiri menggendong Lione. "Bi Inah!" Ia kemudian menyerahkan Lione pada pembantunya.
------------+++----------
Diandra sedang memeriksa pegawainya ketika sosok seorang pria yang dikenalnya berada di kantornya. Ia mendekati. "Eh, Kak Damar ya?" Ia menunjuk wajah pria itu.
Pria itu tertegun. Lama ia menyadari siapa wanita yang berada di hadapannya. "Ini adiknya Abra ya?"
"Iya."
"Astaga, maaf."
"Ada angin apa Kakak datang ke kantorku?"
"Kantormu?" Pria itu terlihat heran.
"Iya. Ayahku punya dua usaha. Satu stasiun TV, satu lagi ya hotel ini."
"Oh, begitu. Jadi kamu pemiliknya sekarang?"
"Bisa dibilang begitu."
"Oh ...." Pria itu kembali tertegun.
"Kenapa?"
"Oh, aku ingin menawarkan produk perusahaan tempat aku bekerja."
"Oh, begitu. Kamu kerja di bagian marketing ya?"
"Iya. Eh, perusahaan kecil," jawab Damar sedikit canggung.
"Mmh ...." Wanita itu memperhatikan Damar.
Damar yang masih canggung pada wanita itu hanya menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. "Kemarin anak buahku bilang produk barang-barang kamar mandi di hotel ini sudah ada yang suplai tapi mau diganti jadi aku selaku Manager ingin memastikan jadi datang ke sini."
Diandra menoleh pada bawahan yang sedari tadi diam. "Kamu ada janji dengannya?"
"Eh, iya Bu."
"Mmh, ya sudah. Aku ambil alih ya?"
"Eh, iya Bu." Pegawainya yang bingung hanya bisa mengiyakan.
"Mmh?" Apalagi Damar yang tidak mengerti apa yang terjadi.
"Ikut aku Kak."
"Eh ... iya."
___________________________________________
Ini visual Abra dengan Lione. "Eh, tuh siapa tuh. Salam Lione buat yang baca." Salam, ingflora 💋
__ADS_1
Bagaimana dengan novel yang satu ini?