Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Terperangkap Kenyamanan


__ADS_3

Untung dengan sigap Damar menyanggah tubuhnya dengan tangan. Kalau tidak, entah apa yang terjadi. Wajah mereka sudah sedemikian dekatnya hingga bisa merasakan hangat napas yang keluar dari hidung mereka. Wanita itu, pipinya merah merona dan Damar pun dengan kecanggungan yang tak bisa ia sembunyikan. Sesaat mata mereka ragu, melihat atau menyudahi.


"Eh, maaf." Damar mengetahui posisinya dan lagi pula tempat itu berada di keramaian. Ia segera berdiri, merapikan baju dan membantu Diandra untuk berdiri. "A-aku tak sengaja."


"Iya." Wanita itu tertunduk.


Namun beberapa menit kemudian, mereka kembali menikmati kebersamaan karena Diandra dengan gigih membantu Damar untuk bisa main ice skating di sana.


Tak berapa lama, mereka bergabung dengan teman-teman Diandra yang lain dan bertukar pasangan. Teman-teman wanita itu ternyata cukup ramah tapi Damar tak berani mendekatinya karena mereka adalah anak orang kaya yang punya bisnis sendiri. Sulit baginya bersanding dengan mereka padahal ada satu teman wanita Diandra yang menyukai Damar meski tahu Damar bukan anak orang kaya.


Dia mendekati Damar dan mengajak ngobrol setelah dapat berpasangan dengannya. Bahkan dengan berani mengajak kencan. Wanita itu cukup cantik tapi Damar tak tertarik padanya hingga wanita itu menawarkan pekerjaan pada Damar.


"Eh, maaf. Aku baru masuk kerja."


"Tapi kan sudah setahun. Bagian marketing bukannya sudah biasa sebagai 'kutu loncat' pindah-pindah perusahaan? Mereka kan mencari keuntungan dari perusahaan tempat kerja mereka dan kalau kurang menguntungkan, mereka akan pindah mencari yang lebih baik lagi. Bukan begitu?"


"Maaf, tapi aku nyaman dengan pekerjaanku sekarang."


Tiba-tiba wanita itu berjalan mendahuluinya dan berhenti di hadapan. "Bagaimana kalau kita kencan besok?"


"Malam maksudnya?"


Diandra kebetulan lewat di depan mereka bersama temannya yang lain.


"Oh, besok aku makan malam dengan dia." Damar langsung meraih tangan Diandra sehingga gadis itu langsung berputar di hadapannya.


"Eh, apa?"


"Besok kita makan malam kan Dra?"


Sebelum Diandra menjawab, pria itu sudah menggenggam erat tangan wanita itu. "Eh, iya." Wanita itu hanya tersenyum menahan tawa saat mengerti kode Damar.


"Kalau lusa?" tanya Leni, wanita teman Diandra yang menyukai Damar.


"Ada meeting dengan klien di luar jam kantor," jawab Damar cepat.


Wanita itu merengut. "Boleh aku minta nomor teleponmu?"


"Eh, nanti bisa tanya Diandra, karena nomornya baru. Aku tidak hapal."


"Ok."


Damar melirik Diandra dengan sedikit merengut dan menggeleng. Wanita itu hanya senyum dikulum.


Pulangnya, Damar mengantar Diandra pulang, tapi belum sampai ke rumahnya wanita itu minta diturunkan.


"Aku di sini saja."


"Eh?" Damar menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia menatap sekitar. Rumahmu yang mana?"


"Itu di depan. Yang cat pagar warna perunggu."


Damar menatap ke arah rumah yang berpagar warna perunggu. Rumah itu cukup besar dengan sebuah mobil terparkir di halaman.


Wanita itu turun dari mobil.


"Kenapa tidak aku antarkan ke dalam saja?"


"Itu mobil suamiku. Dia cemburuan. Sebaiknya kamu pulang saja." Diandra menutup pintu.


"Tapi aku kan iparmu," terang Damar merasa tak salah.


Wanita itu kembali membuka pintu. "Daripada kau menyesal, lebih baik tidak." Kembali ia menutup pintu dan melambaikan tangan pada Damar.


Pria itu terpaksa menjalankan mobilnya. Apa separah itu?


----------+++----------


"Halo."


"Jadi kita makan malamnya?" Diandra menagih janji Damar.


"Eh, oiya. Lupa."

__ADS_1


"Ngak jadi aku pulang nih," ucap Diandra sebal. Padahal ia tahu Damar hanya pura-pura agar bisa kabur dari kencan dengan Leni tapi entah kenapa ia ingin melakukannya.


Damar dibuat bingung. Ia tadinya hanya berusaha untuk kabur dari kencan yang ditawarkan Leni padanya tapi bukankah Diandra harusnya tahu maksudnya saat itu, iya kan? Namun karena ia butuh kerja sama untuk perusahaan tempat dia bekerja, Damar mengiyakan.


Damar menjemput wanita itu di depan lobi hotel. Pada saat itu, Diandra sedang mengobrol dengan ayahnya, Erik. Wanita itu menjawab HP-nya. "Ok." Ia menutup telepon. "Yah, pergi dulu." Ia menempelkan pipinya kiri kanan pada pipi ayahnya.


"Temanmu sudah jemput?"


"Aku pergi sama Damar Yah." Diandra berdiri dari duduknya.


"Damar?" Erik mengerut kening. "Damar siapa?" Ia tidak bisa mengingat satu pun teman putrinya yang bernama Damar kecuali ....


"Itu, sepupunya Shasa." Diandra segera melangkah keluar lobi.


Deg.


Dia? Erik segera berdiri dan mengikuti wanita itu. Ia ingin memastikan apa yang didengarnya. Dilihatnya Diandra mendatangi sebuah mobil di depan lobi dan pria itu ... Ia berjalan mendekat ke arah pintu kaca. Benar dia Damar, sepupu Shasa. Bagaimana Diandra bisa berkenalan dengannya? Memang waktu acara pernikahan sepupu Shasa, Damar pernah diperkenalkan pada Diandra tapi mereka tak pernah saling bicara. Bagaimana sekarang mereka bisa berteman akrab?


Erik gelisah, karena sepengetahuannya Damar itu seharusnya masih di penjara tapi setelah pria itu masuk bui, ia tak pernah lagi menanyakan perpanjangan kasusnya. Apa Abra telah menarik tuntutannya?


Diandra bukannya tahu, Damar pernah membuat Abra dan Shasa kecelakaan, tapi kenapa dia malah pergi dengan Damar? Ada apa ini? Kenapa Damar bisa keluar dari penjara?


Erik segera menelepon Abra. "Bra, Damar sudah keluar dari penjara ya?"


"Oh, iya Yah, aku menarik tuntutan."


"Kenapa?"


"Karena cuma salah paham aja kok Yah."


"Salah paham? Kamu bilang salah paham? Ayah melihat kondisi kamu waktu itu. Mobilmu hancur, istrimu hampir keguguran, dan kamu kena serangan jantung. Rasanya hal-hal seperti itu tidak akan terjadi kalau hanya karena salah paham!" Erik naik darah seketika mendengar jawaban Abra.


"Ayah, ini benar-benar salah paham dan kami sudah meluruskannya. Ia berhenti bekerja dari perusahaan milik Shasa dan dari situlah kesalahpahaman itu berasal."


"Bagus kalau begitu, tapi bagaimana dengan adikmu Andra?"


"Andra? Ada apa dengannya Yah?" tanya Abra yang ikut bingung.


"Dia baru saja dijemput oleh Damar di hotel."


"Andra sendiri yang bilang sama Ayah dan Ayah melihat dia dijemput mobil Damar di depan lobi."


"Andra bilang pada Ayah?"


"Iya."


Pria itu melonggarkan dasinya, dan kembali duduk santai di kursinya. Lega. "Kalau begitu, Ayah tanya saja pada Andra." Tak lama, Abra mematikan teleponnya.


Ia tahu adiknya itu bukan tipe orang yang sembarangan dalam berteman walau dia sesuka hati dalam memilihnya, jadi ia tak pernah khawatir adik perempuannya itu memilih teman. Kalau Damar sampai bisa akrab dengannya pasti karena adiknya itu nyaman berteman dengan pria itu, tapi ia heran juga bagaimana adiknya bisa berkenalan dengan Damar. Pasti sebuah kebetulan yang tidak disengaja, pikiran positif Abra.


----------+++---------


Diandra dan Damar memesan makanan dan kemudian menunggu.


"Kamu yang teraktir aku?"


"Eh?" Damar kelimpungan.


Diandra tertawa. "Ya udah, aku yang traktir."


"Masalahnya tadi kamu gak bilang. Restoran ini kamu yang pilih ...." Damar menggaruk-garuk kepalanya. Tentu saja ia takkan sanggup membayar restoran Itali semahal ini. Ditilik dari restorannya yang mewah saja, bisa dikira-kira harganya yang tak sebanding dengan isi dompetnya. "Tidak apa-apa aku bayar sendiri saja."


"Eh ... kan aku sudah bilang traktir!"


"Tapi ...."


"Ya udah, masa sama saudara sendiri aja begitu."


Damar hanya diam. Dia tak tahu harus bilang apa.


"Apa Leni telepon?"


"Kamu memberikan nomerku?" tanya Damar terkejut. "Aku kan sudah bilang, aku gak mau sama dia. Kamu gak bilang sama dia?" Ia panik.

__ADS_1


Diandra tertawa. "Iya, aku sudah bilang tapi aku kasih nomer teleponmu."


"Andra ...."


Wanita itu kembali tertawa. "Kenapa panik? Tolak saja Kak, kalau gak mau."


"Itu kan temanmu Dra, aku gak berani."


"Lho kenapa? Kakak kan cowok Kak, tinggal bilang aja."


"Ngak enak, temen kamu."


Selama berteman dengan Damar, yang Diandra suka dari Damar, pria itu pasif dan menjaga jarak. Juga sopan.


Ia memang tahu Damar pernah bermasalah dengan kakaknya Abra tapi setelah mendengar kakaknya mengeluarkan Damar dari penjara, ia tak pernah berpikiran buruk tentang Damar saat bertemu lagi dengan pria itu di kantornya. Terlebih setelah ia mengenal dekat pria itu.


Damar memang tipe pria yang tidak banyak bicara tapi setelah diajak ngobrol, ia bisa jadi teman yang menyenangkan sejauh ini buatnya.


"Ngak papa, bilang saja. Kenapa takut sih?"


Damar ingin membantah tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Hal-hal seperti ini yang sering membuat wanita itu ingin tertawa melihatnya. Kelimpungan.


"Dra ...." Hanya itu yang bisa Damar ucapkan pada Diandra.


"Dia manusia biasa, sama denganmu. Makan nasi kalau lapar dan tidur kalau ngantuk. Apa susahnya berterus-terang?"


"Tapi kamu pasti tau kan, aku punya banyak kesalahan di masa lalu dan aku tidak ingin mengulanginya. Karena itu aku jadi sangat hati-hati menjaga sikap sekarang." Pria itu mengusap belakang kepalanya.


Dan keterusterangan Damar pada Diandra juga membuat wanita itu tersentuh.


"Coba belajar bicara dari hati ke hati, pasti dia mengerti."


Pria itu melirik Diandra. "Ah, aku paling gak bisa begitu-begitu."


Wanita itu lagi-lagi tertawa. Makanan kemudian datang dan mereka mulai makan.


Damar kembali melirik Diandra. "Memangnya suamimu cemburunya parah?" Ia mulai bicara.


Diandra menghentikan makannya. Ia seperti sedang menyusun kalimat untuk mengungkapkannya. "Dia sering tak terkendali saat mabuk." Matanya tertunduk.


"Mmh? Hubungannya apa dengan cemburu?" Damar mereka-reka.


"Kalau lagi marah, saat itulah ia mengeluarkan kemarahannya."


"Seperti melempar barang, begitu?"


Wanita itu mengangguk.


"Mmh ...." Damar melihat wanita itu langsung berubah pendiam membuat Damar jadi salah tingkat. "Eh, kalau begitu kita cepat-cepat saja makannya biar cepat pulang. Kebetulan makanannya masih hangat."


Mereka kemudian mulai menyantap makanannya. Seusai makan, Damar mengantar pulang Diandra.


"Eh, kita masuk ke rumahku saja ya?" Wanita itu mengintip, tak ada mobil suaminya di dalam pagar.


"Eh, tapi ... bagaimana kalau ...."


"Tidak apa-apa, kita masuk saja."


Pintu pagar dibuka oleh penjaga rumah ketika melihat wajah Diandra di jendela mobil. Wanita itu mengarahkan Damar untuk parkir di tempat gelap di bawah pohon yang berada di sudut pagar.


"Eh, kenapa?"


"Main ke rumahku yuk!" ajak Diandra.


"Apa, tapi bagaimana kalau suamimu datang?" Damar mematikan mesin mobilnya.


"Gak papa cuma sebentar aja kok."


"Eh?"


Namun wanita itu telah turun dari mobil. Damar terpaksa mengikuti. Mereka melewati ruang tamu yang cukup luas kemudian wanita itu menunjukkan ada kolam kecil dalam rumahnya. Atapnya sedikit terbuka agar sinar matahari ataupun hujan bisa masuk dari atas. Mereka berdiri sebentar di sana.


Tiba-tiba Diandra menarik pria itu ke suatu tempat. Mulanya Damar tidak tahu ke mana hingga ia di tarik ke sebuah ruangan dan wanita itu menguncinya.

__ADS_1


Damar terkejut dan segera mengedarkan pandangan. Itu sebuah kamar tidur. Apa ini kamar tidur Andra dan suaminya?


__ADS_2