
"... Iya, Om. Maaf ya? Aku gak bisa maksimal ke kantor dulu karena Shasa susah makan. Aku sendiri masih bingung bagaimana cara membujuknya ... Apa? Om mau ke sini? Iya, gak papa Om, kami tunggu. Nanti aku kirim alamatnya." Abra kemudian menutup teleponnya. Sebentar, ia sibuk menekan-nekan layar HP lalu kemudian selesai. Ia kemudian menghubungi ayahnya. "Halo Yah."
"Halo. Apa kabar, Bra?"
"Baik Yah. Malah kini Shasa hamil."
"Oh, alhamdulillah ... Oh, Ayah sebentar lagi akan jadi kakek ya? Hahh ... alhamdulillah. Mmh, Ayah sudah tidak sabar." Sepertinya di ujung sana, haru telah membuat pria itu berlinang air mata. Ia menerawang mengingat masa lalu. "Ayah jadi ingat saat Bunda dulu memberi tahu ayah tentang kehamilannya. Rasanya, sama seperti ini juga."
"Ayah ...."
"Mmh, ayah gak papa Bra," sahut pria paruh baya itu membiarkan air matanya luruh. Tiba-tiba saja ia terkenang cinta pertamanya itu yang masih kuat bertahta di dalam hati, Hanna Meyer, ibu Abra. "Kalau ia masih hidup, ia pasti bangga padamu Bra, karena kamu telah berhasil mempunyai keluarga kecilmu sendiri dan bahagia."
"Ayah ...."
"Ayah nanti pulang kerja akan ke sana menengok istrimu." Erik mengusap air matanya.
"Iya Yah."
"Sudah berapa bulan istrimu hamil?"
"Sekitar 3 bulan Yah."
"Mmh, jaga dia ya? Ok, sampai nanti."
Abra mengantungi handphone-nya ke dalam saku celana dan masuk ke dalam kamar. Di sana ia melihat Raven sedang bercanda dengan istrinya.
Raven menjepit hidung mungil Shasa. Gadis itu menepisnya.
"Ih, adek Abang kecil-kecil udah hamil, ih!"
"Biarin!"
"Abang ntar dipanggil apa? Om? Ah gak keren, masa masih semuda ini dipanggil Om sih?"
Shasa tertawa. "Gimana kalau Paman?"
"Gak mau! Tua banget kayaknya."
"Makanya cepet kawin Ven," sela Abra.
Pemuda itu merengut. Abra dan Shasa tertawa.
Sejam kemudian, Om Adam dan istrinya datang. Mereka membawa keranjang buah buat Shasa. Abra membawa mereka masuk ke kamar.
Saat itu Om Adam terkejut melihat Shasa bercanda dengan seorang pemuda di dalam kamar. "Itu siapa Bra? Sepupumu?" tanya Adam pada Abra.
"Oh, bukan. Dia tetangga Shasa di kos-kosan."
"Oya?"
Mereka menghampiri. Raven terlihat terkejut. Ia menganggukkan kepala pada Om dan Tante Shasa dan segera berdiri.
"Ini Om dan Tanteku," terang Shasa pada Raven.
Raven kembali menganggukkan kepala pada Om dan Tante Shasa.
"Jadi mereka tidak saling kenal?" bertanya Abra. Ia tidak mengetahui kenyataan ini.
Adam dan istrinya terlihat bingung.
"Tentang apa?" tanya Adam pada Abra dan Shasa. Ia tidak mengerti apa yang terjadi.
Akhirnya Shasa bercerita tentang bagaimana ia bisa dekat dengan Raven. Adam syok. Ia memang mengetahui kalau Shasa terlahir kembar tapi setahunya kembaran Shasa adalah laki-laki dan meninggal saat dilahirkan. Saat itu Bram memintanya untuk tidak memberi tahu Shasa bahwa ia kembar. Bahkan ibu Shasa sendiri juga harus merahasiakannya dari gadis itu, walaupun mereka setiap tahun merawat kuburan itu. Apalagi sejak kedua orang tua Shasa meninggal, ia kini yang merawat kuburan itu.
Ia sebenarnya penasaran akan alasan kenapa Shasa tidak boleh mengetahuinya, karena kakaknya hanya bilang, takut Shasa bersedih, tapi sebenarnya ia tak percaya. Kini, ia tahu kenapa. Kuburan yang selama ini ia urus itu adalah kuburan adik Raven. Kakaknya memang sangat baik pada siapapun sehingga kadang menyengsarakan diri sendirinya. "Jadi, ayahmu kini tinggal di Jogja?"
"Oh, iya Om," jawab Raven pelan.
"Mmh ...."
Shasa tengah mencoba memakan pisang yang diberikan Tantenya dan sepertinya ia menikmati makan buah itu tanpa kendala.
"Kalau dia bisa makan buah, berikan saja."
__ADS_1
"Tapi gak makan nasi gak papa Tante?" tanya Abra.
"Tidak apa-apa. Sekarang ini yang penting bisa mengganjal perutnya dulu. Kalau tidak bisa makan sama sekali, itu yang sulit. Bisa-bisa nanti mesti dirawat masuk rumah sakit."
"Kamu bisa makan itu, Sha?" Abra melirik istrinya.
"Mmh ...." Gadis itu asyik mengunyah.
"Ganti-ganti saja makanannya. Pepaya, melon, semangka ...," terang Tante Shasa pada Abra.
"Tapi dia tidak bisa makan itu terus-terusan kan?"
"Biasanya masalah ini hanya di awal saja. Nanti juga berubah, normal lagi makannya," jawab Tante Shasa menerangkan sambil tersenyum.
"Oh, begitu."
Raven yang terpaku di antara Shasa dan keluarganya, sedikit enggan berada di sana karena ia tahu itu pasti orang tua Rika.
"Apa kamu punya foto kembarannya Shasa?" tanya Adam penasaran.
Raven memperlihatkan beberapa foto di HP-nya.
"Gambarnya kurang jelas. Ada foto lain?"
"Iya, ibuku menyembunyikan foto wajah Raline semenjak bercerai dari ayah. Jadi kami tidak tahu wajah terakhirnya, tapi aku punya foto waktu kami kecil." Raven kembali memperlihatkan beberapa foto di HP-nya.
Adam bisa melihat betapa miripnya Shasa dengan gadis itu ketika gadis itu masih kecil. Seakan-akan Shasa kecillah yang berfoto bersama Raven kecil. Ia kini percaya cerita pemuda itu. "Kapan-kapan Om boleh ya, ketemu Ayahmu."
"Oh, boleh Om."
"Kamu masih kuliah?"
"Eh, iya Om." Raven sengaja tidak memberi tahu tempat ia kuliah karena ia tidak mau dihubung-hubungkan dengan Rika dan untungnya Adam tidak menanyakannya.
"Mmh ...."
Tak lama Om dan Tante Shasa pamit.
"Alhamdulillah ya Om, Bima sekarang sudah ke kantor lagi walaupun masih pakai tongkat, tapi sudah bisa jalanlah Om," ujar Abra ketika mengantar Adam dan istrinya ke pintu lift. "Setidaknya dia sudah bisa mengantar istrinya nanti melahirkan."
Di sore hari Erik datang, tapi ia tak sendirian. Ia datang bersama istrinya Karen. Abra terkejut.
Saat dibawa ke kamar, Karen segera mendatangi Shasa yang tengah terbaring di atas tempat tidur. Ia duduk di tepian seraya menakup wajah gadis itu yang terlihat semakin tirus dan sedikit pucat. Ia terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan gadis itu. "Aduhh, kenapa kau sekurus ini? Apa kau susah sekali makannya?"
"Eh, iya Bu. Aku muntah terus," jawab Shasa. Gadis itu segera menaikkan tubuhnya agar bisa duduk menyambut ibu mertuanya.
"Aduhh, kasihan ...." Karen melirik keranjang buah yang telah dirobek bungkusnya. "Kamu tadi makan buah?"
"Iya, Bu."
"Bisa?"
Gadis itu mengangguk. "Tadi aku makan sedikit."
"Masih muntah?"
"Udah enggak."
Wanita itu sedikit bernapas lega walau masih khawatir. "Kamu mau apa, Ibu potongin lagi ya?" Ibu mulai memilih-milih buah yang ingin di potongnya. Apel mau?"
"Eh, Ibu ...." Gadis itu terlihat enggan.
"Tidak apa-apa." Karen segera beranjak ke luar kamar mencari pisau.
Abra dan Erik hanya bisa memandangi aksi Karen yang begitu perhatian pada istri Abra. Wanita itu sibuk bolak-balik mengurus Shasa, memotonginya buah dan menungguinya makan. Bahkan menemaninya ke kamar mandi.
"Ibu, aku bisa sendiri," tolak gadis itu dengan suara pelan. Ia bukan tidak mau tapi masih sanggup pergi ke kamar mandi sendiri.
"Ya sudah. Bilang ya, kalau butuh apa-apa."
"Iya Bu."
Sedang Erik berbicara dengan anaknya di ruang tamu.
__ADS_1
"Ayah, Ayah mau minum teh?"
"Tidak usah, kami hanya sebentar. Ayah mau mengantar Ibu kembali ke rumah sakit."
"Apa Kak Kevin gak ada perubahan, Yah?"
Erik menghela napas. "Ayah gak tau harus menunggu sampai kapan ...."
Abra menyentuh tangan Ayahnya. "Tunggu terus Yah, sampai bangun."
Pria paruh baya itu menoleh. "Aku kasihan pada Ibu. Kadang-kadang ia menangis sendirian."
Abra pun menghela napas pelan. Sejahat-jahat ibu tirinya, ia juga iba dan ikut merasa sedih atas apa yang menimpa kakaknya Kevin. Sejahat apapun yang Kevin lakukan padanya dan Shasa telah ia maafkan. Ia juga ingin kakaknya itu cepat sembuh dan ibu tirinya itu kembali ceria. Apalagi sekarang ibu tirinya itu sangat memanjakan istrinya yang sedang susah makan efek dari kehamilannya.
"Diandra gimana Yah? Dia bisa mengurus hotel?"
"Mmh, dia lumayan pintar juga mengurus hotel. Sekarang Ayah sudah mulai melepas hotel pelan-pelan pada adikmu."
Ternyata, Karen betah berlama-lama mengurus Shasa.
"Sudah Bu, tidak apa-apa," elak Shasa.
"Tidak apa-apa. Nanti Ibu belikan salad buah untukmu. Nanti Ibu kirim ke sini."
Melihat hal itu, Abra dan Erik yang sedang mengintip dari bingkai pintu hanya bisa saling berpandangan.
"Masih lama kayaknya Yah," ucap Abra.
"Mmh."
"Bagaimana kalau secangkir teh atau kopi?"
"Coffee will be nice.(Lebih enak kopi)"
"Ok."
Mereka kembali beranjak ke ruang tamu.
Namun keadaan ini tak berlangsung lama. Abra yang terus menemani istrinya di rumah selama seminggu akhirnya bisa bernapas lega. Istrinya mulai bisa makan kembali seperti semula walaupun masih sedikit. Ia akhirnya bisa kembali ke kantor.
"Ah, lega rasanya istriku sudah bisa normal makan kembali, aku jadi bisa fokus bekerja," ujarnya di dalam mobil yang dijalankan Damar.
"Mmh," ucap pria itu sekilas. "Jadi dia ada di rumah?"
"Kalau sudah sehat, dia akan kembali ke kampus. Minggu depan kami akan roadshow lagi," terang Abra tersenyum lebar. "Maaf ya, aku titip perusahaan selama sebulan." Ia menampakkan senyum bahagia. Pria itu membayangkan akan jalan-jalan menikmati hari bersama istrinya lagi. Seperti honeymoon kedua, hingga ia bisa memanjakan istrinya lagi yang kini berbadan dua.
"Eh, iya Pak." Huh, setiap hari ceritanya tentang istrinya terus, tentang kebahagiaan mereka. Apa dia tidak tahu aku begitu panas mendengarnya? Dasar laki-laki gak punya otak! Pria itu diam sejenak. "Apa aku boleh menjenguknya?"
"Oh, kamu belum menjenguk Shasa ya? Ya, silahkan saja. Pintu kami terbuka untukmu."
Damar beralih menatap ke depan. Di liriknya Abra yang juga menatap ke depan. Sekilas sebuah seringai senyum licik terpatri di bibirnya. Abra tanpa sadar telah mengundang bencana.
Beberapa hari berlalu, Abra sibuk dengan pekerjaannya. Kadang ia membawa beberapa map berkas ke apartemennya. Hari ini ia lupa membawa kembali ke kantor dan ia meminta Damar untuk mengambilnya di apartemen.
Shasa sedang menonton TV di temani Raven di kursi sofa ketika Abra meneleponnya. "... Apa? Map ketinggalan? O iya, aku lihat di kamar ... Apa? Damar?" Wajah gadis itu terlihat panik. "Eh, iya, iya." Shasa menutup teleponnya.
"Kenapa?" tanya pemuda itu melihat wajah pias Shasa.
"Mas Abra, berkasnya ketinggalan. Titip orang untuk mengambilkannya ke sini."
"Dan Damar yang mengambilnya?" tebak Raven.
"Iya."
Raven menatap gadis itu lekat. "Kamu belum bilang kelakuan Damar ya, sama Kak Abra?"
"Mmh ... masalahnya orang kan bisa bertobat. Aku lihat dia sedikit berubah," kilah Shasa.
"Shasa ... setidaknya suamimu bisa mengantisipasinya. Orang brengsek tetap aja brengsek!" umpat Damar.
Shasa merengut menatap ke arah Raven. "Kamu?"
____________________________________________
__ADS_1
Bagaimana dengan novel ini? kepo gak sih?