
Pria itu masuk ke dalam ruangan.
"Eh, ini tempat penyimpanan barang. Kalau Bapak tidak butuh apa-apa Bapak bisa kembali ke kamar. Sini, biar saya antar." Suster itu bangkit dan berdiri.
Kevin melihat barang-barang yang ada seraya bicara. "Bisa tidak, tidak melihat saya sebagai pasien atau pekerjaan. Anggap saya orang asing. Aku juga butuh sepertimu, ruang untuk sendiri." Ia menoleh ke arah suster itu. "Biarkan aku melakukan apa yang ingin kulakukan, selama tidak mengganggumu."
Suster itu terdiam.
Kevin kemudian mendekati sebuah rak dan ia melihat cela di antara 2 rak. Ia kemudian duduk di lantai di antara 2 rak itu dengan kaki melipat ke atas.
"Eh, Pak. Ini ada kursi." Wanita itu menyodorkan kursinya. Memang di dalam ruangan itu hanya ada satu kursi saja.
"Tidak usah. Aku ingin begini."
Perlahan wanita itu kembali duduk di kursinya. Sesaat mereka terdiam. Wanita itu terdiam karena canggung berada bersama Kevin di sana padahal pria itu hanya duduk dan melihat sekelilingnya, barang-barang yang ditumpuk dengan rapi di rak dan kardus-kardus yang tersusun di lantai.
"Kenapa kamu diam? Menangis saja. Aku tidak akan komentar," ucap Kevin dengan santai membuat wanita itu mengerut kening. "Sudah capek nangis?" ejeknya.
Wanita itu kesal. "Bapak tidak tahu sulitnya hidupku ini. Aku punya orang tua satu-satunya yang sedang sakit keras dan tidak ada seorang pun yang mau membantuku. Suamiku pun juga tidak punya pekerjaan tetap jadi aku harus menopang hidup keluargaku."
Kevin tertawa pelan. "Orang miskin memang harus kerja keras. Tidak ada yang murah di dunia ini," terangnya dengan angkuh.
"Iya, tapi orang tuaku itu butuh pengobatan yang tidak murah. Aku harus menyediakan uang 18 juta untuk operasi jantungnya. Uang dari mana?"
"Ya putar otaklah. Jual ginjal atau apa ...," sahut pria itu lagi.
"Ginjal? Kalau aku menjual ginjalku, hidupku berikutnya harus bagaimana? Kalau ginjalku cuma separuh aku tidak bisa bekerja keras untuk menghidupi keluargaku."
"Kalau gitu, jual dirilah."
"Apa? Enak saja. Aku bukan wanita murahan ya? Aku punya suami dan punya harga diri." Wanita itu berdiri dengan bertelak pinggang.
"Dan apakah itu semua bisa membuat ibumu sembuh? Tentu tidak kan?" Kevin mendengus kasar. "Huh, orang miskin di mana-mana memang harus kerja keras untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Kalau tidak, jangan mimpi!" Kevin kemudian berdiri, lalu membersihkan belakang celana tempat ia duduk tadi kemudian menepuk-nepuk tangannya membersihkan sisa debu yang menempel di tangan.
"Ya sudah terima kasih sudah mengobrol denganmu." Kevin kemudian melangkah keluar ruangan.
Suster itu cemberut mendengar kata-kata Kevin, tapi ia berusaha menahan diri untuk tidak melabraknya karena kata-kata pria itu sangat menyakitkan.
Sambil menyusuri jalan pulang, Kevin kembali melangkah pelan mengimbangi jalannya yang masih belum lurus. Belum sampai ia di pintu kamarnya seseorang menarik paksa dirinya ke dalam kamar dan mengunci pintu dan ternyata orang itu adalah suster tadi.
"Hei sopan sekali dirimu ya?" ucap Kevin marah.
"Kita masih orang asing kan?"
"Apa?"
Plak!
Wanita itu menampar Kevin. Pria itu merasakan pipinya panas. Ia menatap wanita itu. "Berani sekali kamu ya?" Ia menarik wanita itu ke tempat tidur dan menghempaskannya di sana. Pria itu menaiki tubuh wanita itu dan mendekatkan wajah mereka. "Kamu pikir kalau tidak menjual diri, kamu bisa apa, hah? Kau tidak bisa mengemis-ngemis pada dokter untuk mengoperasi ibumu kan? Yang ada, mereka akan menertawakanmu! Sadarlah, kau hanya orang miskin yang tidak punya pilihan!"
Wanita itu menangis. Ia memukuli dada bidang pria itu karena marah. Marah karena nasibnya yang miskin, nasibnya yang tak berdaya, dan nasibnya karena harus menyerah pada pilihan yang buruk.
Kevin dengan sigap menangkap kedua tangan wanita itu dan menguncinya ke atas. Ia menatap wajah wanita itu yang kini berderai air mata.
Jiwa laki-lakinya bergejolak. Perlahan ia membuka topi suster itu kemudian ikat rambutnya. Wanita itu terlihat malu hingga melengoskan wajahnya ke samping.
"Wajahmu tidak buruk," ucap Kevin pelan. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga suster itu. "Bagaimana kalau kau jual dirimu padaku malam ini, dan aku akan membayar lunas uang pengobatan ibumu. Mmh? Sebelum aku berubah pikiran."
Wanita itu bingung, tapi Kevin sudah menciumi leher wanita itu.
Namun kemudian pria itu berhenti dan menarik wajah wanita itu ke arahnya. "Aku tidak suka melakukan ini sendirian jadi kamu juga harus melayaniku. Aku akan memberimu uang 25 juta dan setelah ini kita kembali menjadi orang asing. Bagaimana? Ini penawaranku terakhir." Melihat wanita itu tidak memberi respon apa-apa, pria itu segera melepaskan tangan wanita itu. "Sudahlah kalau tidak mau."
Ia baru saja akan beranjak berdiri ketika tiba-tiba wanita itu menariknya dan menggulingkannya ke samping. Hampir saja pria itu terjatuh karena tempat tidur pasien itu tidaklah terlalu besar untuk mereka berdua. "Ah!"
Wanita itu menatap wajah Kevin seraya jemarinya menyusuri wajah tampan yang berada di bawahnya. Pria itu terkejut. Rambutnya yang terurai, terjuntai tapi tak terlalu panjang. Pelan jemari itu menyentuh bibir tipis pria itu.
Selanjutnya, wanita itu mulai membuka kancing baju piyama pria itu dan mulai mengecup bibirnya. Mereka saling bantu membukakan pakaian dan saling menjelajah. Terdengar suara kecupan, pergulatan panas hingga erangan yang menghidupkan gairah keduanya. Mereka terus melakukannya hingga lupa diri. Setelah usai, mereka tertidur dengan berpelukan hingga pagi.
__ADS_1
-----------+++-----------
Kevin terbangun dan melihat wanita itu tengah berpakaian. "Kau sudah bangun rupanya." Ia mencoba duduk.
"Eh, iya Pak. Shift saya sudah mau selesai. Aku harus bersiap-siap untuk pulang."
Kevin mengusap kepalanya. "Eh, oh ya. Berikan aku nomor rekeningmu. Nanti aku transfer."
"Iya Pak, terima kasih." Wanita itu menoleh pada Kevin.
"Tolong pakaianku." Pria itu menunjuk pada pakaiannya yang berantakan di lantai.
"Eh, iya ini." Wanita itu memungutinya untuk pria itu.
Kevin mendapati tubuhnya separuh sudah ditutupi selimut. Pasti wanita itu yang menutupi tubuhnya. Ia kemudian menerima pakaiannya. "Terima kasih." Segera ia berpakaian.
Wanita itu memalingkan wajahnya dan berusaha tersenyum. "Eh, terima kasih juga Bapak telah menolongku."
Kevin melirik wanita itu dengan kesal. "Jangan berlebihan, kita sudah orang asing."
"Eh, iya Pak maaf." Ucapan Kevin membuat wanita itu salah tingkah.
Setelah pria itu berpakaian, suster itu pun pamit.
Siangnya Abra membawa keluarganya datang berkunjung.
Kevin terlihat senang berkenalan dengan anak-anak. "Oh, ini namanya Lione ya? Ini Lina? Aduh, sudah besar-besar ya?" Ia mengusap kepala Lione. "Suaramu, aku suka suaramu. Suaramu itu yang membuat aku bangkit dari tidurku."
"Mi, ini Om yang tidur terus itu ya? Sekarang sudah bangun?" tanya Lina pada Shasa.
Wanita itu tertawa. "Iya, iya. Sekarang Omnya sudah lebih sehat sekarang."
"Ayo, cucu Nenek ke sini. Nenek punya sandwich ayam nih di sini," panggil Karen pada si kembar membuat keduanya mendatangi wanita paruh baya itu dengan setengah berlari.
"Mau, mau Nek," ucap Lina dengan semangat. Lione berada di depan neneknya sehingga ia yang lebih dulu mendapatkannya.
"Alhamdulillah," sahut Kevin yang duduk di atas tempat tidur.
"Iya, wajahmu mulai cerah. Aku sempat tanya ke dokter. Katanya kalau Kakak stabil, mungkin bisa bekerja dari sini. Lewat laptop atau mungkin mengadakan meeting di sini," beri tahu Abra.
"Mmh, semoga secepatnya saja karena aku mulai bosan di sini."
Abra menyentuh bahu pria itu. "Sabar Kak, sabar."
Erik sedang bicara dengan Shasa. "Jangan terlalu berat bekerja, santai saja kamu kan sedang hamil."
"Iya Yah."
Abra dan Kevin menoleh pada keduanya.
"Selamat ya? Kamu mau punya anak lagi ya Bra?"
"Iya, alhamdulillah. Terkabul cita-cita punya anak banyak."
Kevin tertawa. Abra dan keluarganya menjenguk tidak lama. Mereka kemudian pamit.
Setelah makan siang. Kevin pergi ke kamar mandi. Tak lama ia keluar.
"Kevin, ayah pulang dulu ya? Ada banyak pekerjaan yang terbengkalai."
"Oh, iya Yah." Kevin memijit-mijit dahinya.
"Kamu kenapa? Pusing?" tanya Erik, mulai memperhatikan.
"Sedikit."
Erik menghentikan kegiatannya. "Apa tidak sebaiknya kamu diperiksa dulu, mumpung kita masih berada di rumah sakit."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Yah." Kevin menggoyang-goyangkan tangannya.
"Kevin ...."
"Ti—" Brug!
Kevin terjatuh ke lantai dan pingsan.
"Kevin!!" Karen histeris sedang Erik langsung memanggil suster lewat bel yang berada di dinding.
Kevin segera ditangani. Setelah dilakukan berbagai pemeriksaan, pria itu dikembalikan lagi ke kamarnya.
"Anakku bagaimana dok?" tangis Karen sambil bertanya pada dokter yang menangani.
"Itulah Bu. Ini berhubungan dengan otak sehingga apa yang terjadi kami sendiri masih mempelajari, otak bagian mana saja yang terkena dampaknya. Anak Ibu termasuk umur panjang karena bisa terbangun dari komanya dan hidup normal tapi untuk seterusnya kami tidak tahu karena kembali lagi semangat juang pasien dan kesempatannya untuk hidup bagaimana, itu yang akan menentukan panjang tidaknya umur pasien. Yang pasti kita di sini sedang berusaha."
Karen menangis dalam dekapan Erik.
"Terima kasih dok," ucap pria itu pada dokter. Ia menatap istrinya dalam pelukan. "Yang sabar ya Bu, mudah-mudahan Tuhan mendengarkan doa kita."
Karen mengangguk.
-----------+++----------
Abra bersama anak dan istrinya pulang ke rumah sehabis makan siang di restoran. Pria itu mendapati Raven di rumah menunggunya. "Oh, Ven. Sudah lama?"
"Mmh." Wajah pria itu nampak tegang.
"Ada apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua."
"Mmh? Apa?"
Shasa menoleh.
Tepat pada saat itu Danisa datang dari arah pintu depan. "Assalamu'alaikum. Lho kok sudah rapi? Kamu mau ke mana Bra?"
"Waalaikumsalam. Oh, kami baru pulang."
"Oh gitu." Danisa melirik Raven. "Sama Raven juga ya?"
"Oh, ngak. Justru Raven di sini menunggu kami." Abra beralih pada Raven. "Ven, kamu mau ngomong apa?"
Aduhh, kenapa wanita ini datang di saat yang tidak tepat sih? Ck! Ya sudah, biar semuanya tahu saja agar aku tidak bolak balik cerita, batin Raven. "Aku ... aku tidak bisa ikut ke kebun binatang."
"Kenapa? Apa ayahmu masih ada? Kalau begitu ajak saja," ujar Abra dengan santai.
"Bukan. bukan itu. Mmh." Raven bingung bagaimana cara mengutarakannya. "Rumyam kalo aku ikut."
"Apa? Runyam? Kenapa?" Abra terlihat heran.
"Shasa ...." Raven mendekati Shasa yang sedang bersama anak-anak.
"Aku ...."
"Iya?"
Terdiam sebentar. "Erlangga itu anakku."
"Apa?" Sejenak Shasa terdiam menatap wajah Raven memastikan apa yang didengarnya.
Abra pun terkejut. "Ven, kamu—"
Plak!
Shasa menampar pria itu dan berlari ke arah tangga. Ia kecewa.
__ADS_1
"Shasa, jangan berlarian di tangga! Bahaya! Bayimu!" Abra segera mengejarnya.