
Damar menghela napas. Ia segera menurunkan tangan gadis itu yang sedang fokus melihat HP. Ia menggenggam tangan gadis itu. "Bisa gak kita bicara. Kenapa kamu tiba-tiba pergi dari rumah?"
Orang ini bodoh atau apa? Apa dia tidak tahu salah satu alasannya adalah dirinya? Shasa menarik tangannya dengan kasar dari genggaman sepupunya.
Pria itu melihat perubahan Shasa dari sebelumnya, seekor kucing jinak menjadi kucing yang mulai memunculkan taringnya. Netra gadis itu yang menatap tajam padanya, mengatakan semuanya. "Shasa kamu kenapa berubah?" tanyanya heran.
Shasa memejamkan mata demi menahan amarah. Apa dia tidak mengerti, aku menahan ini semua demi menghormati kedua orang tuanya. Tanpa mereka aku sudah dari dulu pindah dari rumah yang seperti neraka bagiku itu. "Sekarang maumu apa, aku sedang buru-buru," jawabnya ketus.
Damar seperti bingung mau memulai dari mana, tapi saat Shasa kembali melihat handphone-nya, pria itu kembali menurunkan tangan gadis itu.
"Apa?"
"Ok, kamu gak mau cerita tapi aku ingin tahu kenapa kamu tinggal dengan pria itu?"
Dia bicara tentang Abra? "Itu semacam karantina."
"Apa? Karantina?"
"Aku ditawari membintangi iklan sama klienku dan aku sama dia ditawarin jadi bintang iklannya."
"Apa?" Damar seketika tertawa terbahak-bahak. "Memangnya kamu cantik sampai ada orang gila yang menawarimu jadi bintang iklan hah? Aku tidak bodoh, jadi bintang iklan itu susah dan harus menjalani seleksi yang panjang. Teman Rika saja tidak lolos padahal dia cukup cantik, apalagi kamu. Jangan berkhayal karena itu tak mungkin terjadi padamu. Berbohong tak ada gunanya Shasa. Bilang saja kau putus dari Bima dan sekarang kamu tinggal bersama pacar barumu."
Plak!
Singkat, dan jelas. Wajah Damar terlihat memerah di bagian pipinya. Kejutan yang luar biasa karena gadis itu mampu memberi perlawanan saat diejek olehnya.
"Buka telingamu lebar-lebar! Aku tidak sedang berbohong dan ini semua atas sepengetahuan Kak Bima jadi jangan bilang aku berbohong lagi. Kalau tidak percaya ya sudah, aku tidak butuh pengertian dari Kakak juga. Kakak akan lihat sendiri saat iklannya tayang nanti di TV!" Shasa segera berdiri dan melangkah ke luar gedung.
Damar masih mengeja apa yang terjadi. Gadis itu baru saja menamparnya. Menamparnya! Gadis lembut itu telah ....
Tak lama pria itu tersadar dan gadis itu sudah tidak ada. Ia mulai mencari keberadaan Shasa hingga berlari keluar gedung tapi terlambat. Gadis itu baru saja menaiki motor yang membawanya pergi.
"Shasa!"
----------+++----------
Shasa memasang kancing baju Abra. "Sudah ya Kak."
"Mmh." Abra masih mengagumi wajah gadis di depannya yang masih saja memerah setiap kali membuka dan memakaikan pakaian untuknya.
Shasa berdiri. "Aku ambil tas dulu. Kakak kalau sudah selesai bisa tunggu di luar."
Sebentar kemudian mereka sudah menaiki taksi online menuju tempat tujuan, sebuah rumah berukuran besar dan bertingkat dengan halaman parkir yang cukup luas. Sebagian halaman itu sudah penuh dengan mobil. Taksi berhenti di depan pagar dan mereka masuk ke dalam rumah itu setelah melewati pos satpam.
Kembali Haris menyapa mereka setelah masuk. Mereka berdua diberi skrip untuk dibaca. Ternyata tempat syutingnya ada di dua tempat. Untuk syuting di tempat itu, hanya Abra saja yang mendapat pengambilan gambar sedang Shasa tidak.
Abra pergi ke ruang ganti lalu didandani. Setelah selesai, ia diarahkan pergi ke kamar mandi. Di situlah syuting iklan itu berlangsung. Ia harus mengiklankan pasta gigi itu di sana sambil menyikat gigi.
Shasa menonton syuting itu dari samping luar kamar mandi agar tidak mengganggu kelangsungan syuting karena tempat syuting yang tidak terlalu luas dan para kru serta alat perekam adegan sedang berada di dalamnya. Ia menontonnya bersama Haris.
Abra terlihat sedang bicara dengan seorang pria dan mendengarkan instruksinya. Tak lama, ia yang sudah berganti pakaian dengan piyama, dan memulai adegan pertamanya.
Ia berdiri di depan cermin kamar mandi dengan rambut yang sudah dibuat sedikit berantakan. Kemudian ia menoleh ke arah kotak pasta gigi yang berada di atas wastafel. Adegan pertama itu lolos dengan baik.
Adegan berikutnya, seseorang membantunya mengeluarkan pasta gigi pada sikat gigi yang dipegangnya. Lalu ia menyikat gigi di depan cermin.
__ADS_1
"Sha, kamu masih suka teleponan gak sama Pak Bima?" tanya Haris tiba-tiba.
"Mmh?" Suka teleponan? Bima gak pernah telepon aku, bagaimana dia punya ide aku sering telepon dia? Shasa sedikit gusar. "Enggak." Akhirnya ia berusaha jujur.
"Lah, kamu pacaran gimana? Oh, profesionalisme nih ceritanya?" canda Haris sambil tersenyum.
Terpaksa Shasa memberi senyuman palsu. Tak nyaman. Sangat tak nyaman. Ia sendiri tak tahu harus bersikap bagaimana mengenai hal ini. Apa seharusnya ia menelepon Bima? Selama bersama Abra, tak pernah sedikit pun juga ia mengingat Bima. Apa ... hatinya telah berubah. Benarkah, tapi ... sejak kapan? Ah ... Shasa menggigit bibirnya.
Haris sebenarnya melihat kegelisahan Shasa. Gadis itu menatap Abra tanpa berkedip seperti menanamkan pertanyaan besar dalam dirinya. Haris tak menyangka pertanyaannya itu malah menyisakan ragu pada gadis itu. Pria itu jadi ikut merasa bersalah.
Abra sukses menyelesaikan adegan dengan sekali pengambilan. Kemudian ia balik ke ruang ganti karena sebentar lagi mereka akan pindah lokasi syuting.
"Mmh, sudah Kak?" Shasa melihat Abra sudah berganti baju keluar dari kamar ganti.
"Sudah, tapi rambutku ini masih berantakan. Belum benar-benar dirapiin sama orang make up-nya tadi karena kita mau buru-buru pindah lokasi." Abra menyentuh rambutnya.
"Mana?" tanya gadis itu sedikit berjijit.
Abra menundukkan kepalanya. "Ini."
Baru saja Shasa hendak menyentuhnya, Haris mengajaknya pergi. "Ayo Shasa, naik ke mobil."
Haris mengajak Abra ikut mobilnya, tapi yang mengejutkan Shasa mengajak Abra duduk di belakang berdua. Gadis itu sibuk meluruskan rambut pria itu yang disasak dan diberi hair spray banyak.
"Ini kok lama banget?" Abra masih sedikit menunduk.
"Sebentar. Ini hair spray-nya terlalu banyak jadi keras. Harus pelan-pelan." Shasa menyisir rambut Abra dengan jarinya, rambut yang telah berhasil diluruskannya.
Haris cuma bisa mendengarkan sambil menyetir. Dilihatnya perhatian Shasa hanya pada pria itu. Sibuk dengan rambut pria itu yang masih kusut.
Haris hanya bisa menghela napas. Pak bos jangan salahin aku ya kalau terjadi sesuatu. Aku tolong jangan dijadikan alat bukti. Ia mengusap kedua matanya. Ingin ia menutup matanya tapi ia sedang menyetir. Pria itu juga ingin sekali pura-pura tidur atau berganti posisi dengan seseorang saat itu juga tapi mereka hanya bertiga. Abra tidak bisa dimintai tolong untuk menyetir mobil karena bahunya masih sakit akibat kecelakaan hingga Haris harus pasrah. Pasrah mengintip mereka di cermin kecil di depannya.
"Sini sebentar." Shasa malah menarik lengan pria itu agar lebih dekat. Ia masih belum berhasil merapikan semua rambut kusut Abra sehingga pria itu harus bersabar.
Sambil menyetir Haris sesekali mengintip dari cermin kecil di atasnya, apa yang terjadi di belakang. Bahasa tubuh mereka mengisyaratkan sesuatu. Yang satu berusaha peduli dan yang satu lagi tenggelam dalam pesona lawan jenisnya.
Dalam diam Abra memperhatikan wajah gadis itu yang begitu dekat sedang merapikan rambutnya. Pesona memabukkan yang hanya dia yang tahu rasanya.
Kiiiit!!!
Mobil mendadak mengerem sehingga tubuh keduanya menabrak sandaran kursi di depan.
"Ah!" Keduanya serentak berteriak.
Reflek Shasa menarik Abra dari samping memastikan pria itu tidak apa-apa dan mendirikan punggungnya. "Kakak gak papa?"
"Eh, gak papa."
"Kak Haris, ada apa?" tanya Shasa pada Haris di depan.
"Eh, itu ada kucing lewat," jawab pria itu tanpa menoleh. Wajahnya tegang berharap gadis itu tak curiga.
"Oh ... hati-hati Kak."
"Iya." Pria itu kembali menjalankan mobilnya. Aku udah berusaha memisahkan mereka lho Pak, tapi mereka tak terpisahkan. Tanya saja pada semesta kalo tidak percaya. Haris mengangkat 2 jari kanannya di pangkuan sambil mencetak senyum di bibir. Peace(damai) Pak, ucapnya dalam hati. Aku gak ada utang ya? Ha ha ha ha ha.
__ADS_1
Lagi pula aku dukung Shasa sama Pak Abra karena aku yakin Pak Abra pasti care(peduli) sama Shasa. Kalo dia ada di posisi Pak Bima pasti dia gak akan nyerahin Shasa gitu aja hanya demi menghemat ongkos pengeluaran mencari model. Itu mah pelit namanya. Ngak kebayang kalo mereka nikah nanti. Shasa pasti sengsara di suruh kerja terus. Soalnya gue dukung kebahagiaan lo Sha, karena lo orang baek. Haris kembali melirik Shasa dan Abra di belakang.
"Nanti saja ya Kak, sama orang rias. Pakai tangan susah, harus pakai sisir." Shasa menyerah.
"Oh, ya udah."
Keduanya bersandar sambil memandang ke arah jendela di samping mereka. Untuk waktu yang lama, sunyi menghantui mobil mereka hingga mereka sampai ke tempat tujuan mereka berikutnya. Pantai.
"Huahhh .... baru kemarin aku main di pantai ini, eh sekarang datang lagi ke sini," ucap Shasa memandang ke arah pantai yang berlaut biru.
"Memangnya kalian kemarin datang ke sini?" tanya Haris heran.
"Iya sehabis pengambilan gambar kemarin itu, kita datang ke sini."
"Wah, kalian berarti berjodoh dengan pantai ini rupanya."
Wajah Shasa seketika bersemu merah. Udara saat itu cerah dan sedikit berangin. Cocok untuk bermain di pantai.
Para kru kamera turun dan membawa peralatan kamera sedang beberapa di antaranya mencari tempat yang tepat untuk pengambilan gambar.
Shasa melihat Abra menepi mencari tempat untuk duduk di dekat bagian luar hotel dan beristirahat di sana.
Tak lama kru kamera mulai memasang kamera di dekat meja Abra duduk, membuat pria itu terkejut.
"Mau pasang di sini? Pengambilan adegannya di sini?"
"Oh, iya Mas. Nanti pengambilan gambarnya di sini," sahut salah satu kru yang memasang kamera.
Temannya menyikutnya. "Itu Bapak bukan Mas."
"Oh." Pria itu menoleh pada Abra. "Maaf Pak." Ia menganggukkan kepala.
"Tidak apa-apa." Abra segera menyingkir tapi kemudian Sutradara meminta Abra dan Shasa berganti pakaian dan bersiap untuk adegan selanjutnya.
Ternyata sutradara sudah menyewa 1 kamar hotel untuk model iklan berganti pakaian dan berdandan di sana. Untuk itu mereka bergantian menggunakan kamar mandi. Abra lebih dulu selesai dan Shasa menyusul kemudian. Saat mereka saling bertemu, mereka saling mengagumi.
Shasa, kau cantik sekali. Sayang ... kau bukan milikku. Seandainya aku diberi kesempatan hari ini, aku ... Ah, jangan mengkhayal terlampau tinggi. Aku harus pastikan aku mendapatkannya atau aku akan sakit di sini. Abra menyentuh dadanya.
____________________________________________
Bagaimana dengan Author ini :
🚨 Area dewasa, bocil jangan coba-coba ngintip bahaya 🤣. Yang suka romantis, baper, komedi yuk mampir di anak ke 3 emak online ini.
🚦Mafia story, (Karya ini sesoan 2 Kehidupan kedua sang putri)
"Lepaskan aku Ken, cari pasangan yang seusiamu, kau masih muda!" Teriak Angelina Aya M.A.
"Tidak semudah itu wahai wanita! Saat kau menyetujui dokumen pernikahan kita, artinya kau hanya milikku, istriku! Meski harus kupatahkan kaki indahmu, aku tak keberatan. Karena aku sangat mencintaimu!"
Angelina Aya M.A melakukan hal yang konyol ketika ia masih mengalami cacat penglihatan yaitu mencari suami bayaran untuk memuluskan aksi membalas dendam pada mantan calon suaminya yang berselingkuh.
siap sangka mencari suami pengganti membawanya dalam jeratan seorang pria muda yang tajir melintir yang begitu mencintai nya hingga tahap obsesi.
__ADS_1
Akankah pernikahan mereka akan bertahan setelah Aya tau jika suaminya lebih muda 7 tahun darinya?
Atau mereka akan berpisah sesuai dengan kesepakatan kertas di atas putih sebelum pernikahan mereka di langsungkan?