Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Roadshow


__ADS_3

Shasa menyandarkan kepala di dada bidang suaminya. Pria itu menunduk dan merapikan rambut istrinya dengan menepikannya di belakang telinga. Ia kembali meraih pinggang ramping istrinya dalam dekapan.


Gadis itu menarik selimutnya lebih tinggi hingga ke leher.


"Kamu ingin punya anak berapa?"


"Mmh? Dua mungkin," jawab gadis itu asal.


"Aku ingin punya banyak anak."


Shasa menoleh. "Berapa?"


"Selusin." Pria itu tertawa singkat.


Shasa mencubit pinggang suaminya.


"Aduuh, Sha-sa," keluh pria itu menggosok-gosokkan pinggangnya yang terkena cubitan istrinya.


"Memangnya aku mesin pencetak anak," gerutu gadis itu.


Abra kembali tertawa. Ia kini merangkul bahu gadis itu dan mengecup pucuk kepalanya. "Aku ingin punya anak laki-laki semua."


"Kenapa?"


"Agar kamu jadi wanita yang paling cantik di rumah."


Gadis itu tersenyum tapi kemudian merengut. "Tapi nanti tidak ada yang membantuku membereskan rumah karena semuanya taunya membuat rumah berantakan."


Pria itu tertawa pelan. "Memangnya laki-laki tidak bisa membantu membereskan rumah? Salah kalau hanya perempuan saja yang harus membereskan rumah. Di dalam islam kewajiban istri setahuku hanya melahirkan anak, selebihnya harus diupayakan bersama."


Gadis itu menoleh, kaget. "Memangnya begitu?"


"Iya, tapi kebanyakan karena adat istiadat yang mengharuskan perempuan mengurus rumah menjadikan mereka ditakdirkan mengurus rumah. Memang mengurus rumah yang paling pintar memang perempuan karena merekalah yang paling luwes tapi bukan berarti pria tidak."


"Apa mengurus anak juga?"


"Iya."


"Wow, aku baru tau."


"Makanya wanita berkarir itu tidak masalah selama masih mengurus rumah dan suaminya begitu pula sebaliknya."


"Mmh." Gadis itu kembali meletakkan kepalanya di atas dada kekar pria itu. "Kita ke kantor gak hari ini?"


"Kamu tugasmu sudah selesai kan?"


"Sepertinya sudah."


"Aku mungkin habis sholat Magrib berangkat lagi."


"Aku masak ya?" Gadis itu kembali menoleh dan tersenyum manis.


"Ya udah nanti aku bantuin." Pria itu merapikan rambut gadis itu yang terurai hingga ke depan dadanya. "Sekarang kita tidur dulu."


"Mmh."


Mereka memejamkan mata dan tidur dengan tenang.


---------+++----------


"Ya udah, aku mandi ya?" Pria itu mengalungkan handuknya di leher karena ia tengah memakai celana kerjanya tanpa kemeja. Ia memasuki kamar mandi.


Shasa yang tengah duduk di tepi tempat tidur sedang mengerikan rambutnya dengan handuk. Kemudian ia terdiam. Ia menggeser duduknya mendekati meja nakas. Ditariknya laci itu sehingga terlihat sebuah kotak di antara barang-barang milik Abra di sana. Ya, kotak kecil itulah tujuannya ia membuka laci.


Ia meraih kotak itu dan membukanya. Terlihat dua buah cincin tersemat di dalamnya. Cincin nikahnya. Ingin sekali ia memakainya dan memamerkan pada setiap orang bahwa ia telah menikah. Bahwa kehidupannya bahagia, tapi tak bisa. Kenapa? Padahal keinginannya sederhana dan tidak berlebihan seperti layaknya wanita yang baru saja menikah bahwa ia bisa memperkenalkan pria itu sebagai suaminya. Kenapa? Kenapa tidak bisa?


Padahal pada saat menikah mereka tidak punya kendala apapun, semua lancar-lancar saja tapi kenapa begitu sulit jadi wanita yang biasa-biasa saja seperti yang lainnya. Kenapa?


Tak terasa air matanya mengalir di pipi. Buru-buru ia menghapusnya. Kenapa aku tiba-tiba jadi melankolis begini? Kehidupanku kan tidak sedang dirundung duka. Aku bahagia. Aku bahagia bersama suamiku. Shasa menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Kembali ia meletakkan kotak itu di dalam laci meja nakas dan menutupnya.

__ADS_1


"Sayang kamu sedang apa?" Abra yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat heran pada istrinya. "Ngak masak? Kamu nunggu aku?"


"Ngak. Rambut masih basah. Sebentar, mau sisiran." Gadis itu masih mengerikan rambutnya dengan handuk.


"Mmh." Pria itu yang sudah membalut handuknya di pinggang, melangkah ke lemari seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. "Sama-sama saja kalau begitu."


Tak lama kemudian mereka berdua sibuk di dapur. Shasa menyambi mencuci pakaian Abra di mesin cuci baru di beranda. Ia sangat senang, banyak yang ia bisa kerjakan di apartemen itu ketimbang di kantor yang kebanyakan duduk menunggu.


"Kita sepertinya juga harus beli jemuran dan gantungan baju karena aku ingin mencuci bajuku juga di sini."


"Kenapa tidak online saja?" Abra meletakkan masakan yang sudah jadi di atas meja.


"Bisa ya?"


"Ada kok. Itu lebih praktis. Pekerjaanku sedang banyak jadi tidak bisa menemanimu belanja setiap waktu." Abra menaruh piring di meja.


"Aku bisa sendiri."


"Aku ingin menemanimu Yang, tapi besok tidak bisa."


"Ngak papa."


"Jangan sendiri. Pergilah dengan Raven. Aku gak suka kamu pergi sendiri kecuali belanja bahan makanan."


"Iya."


Mereka kemudian makan bersama di satu sisi meja yang berdekatan.


"Ah, ini kurang garam Yang."


"Gak papa."


"Ah, tadi perasaan pas ya?" Abra mengambil garam di dapur.


"Memang kalau pakai nasi harus lebih terasa bumbunya." Shasa menyuap nasinya.


Abra kembali dengan menaburkan sejumput garam pada piring istrinya. "Coba lagi Yang."


"Ups maaf Sayang." Abra menutup mulutnya. "Ya udah, nanti kalau kurang terasa, kasih tau ya Sayang."


Shasa mengangguk.


Abra beralih ke piringnya. Belum sempat ia meraih sendoknya, telepon dari HP-nya berbunyi. Ia segera mengangkatnya. "Halo ... Oh Ibu. Apa kabar Bu? ... Ya? ... Oh begitu ... Baik, baik. Terima kasih Bu." Ia menutup teleponnya.


"Siapa?" tanya gadis itu ingin tahu.


"Iklan kita direspon baik oleh penonton dan pembeliannya meningkat. Karena itu Roadshow-nya akan dipercepat. Besok kita akan mendapat kepastian apakah lusa kita bisa berangkat atau tidak karena acara dan akomodasi sedang disusun."


"Mmh? Secepat itu?"


"Yah, namanya produk baru, pasti banyak yang penasaran apalagi ditunjang iklan, bisa cepat menjadi pengetahuan umum."


"Oh, begitu ya?"


"Yah, begitulah iklan. Apalagi ditunjang dengan media yang benar bisa booming(cepat terkenal) walaupun produknya tidak sehebat yang diiklankan. Orang bisa percaya tanpa perlu memastikan. Semacam ... kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan walaupun itu mungkin tidak perlu."


"Seperti kamu, minum kopi di pagi hari."


Abra tertawa. "Ah, Yang. Itu perlu di pagi hari. Moodbooster(barang untuk memperbaiki suasana hati) itu!"


"Itu karena kamu sering begadang Yang. Kurangi itu. Saat perlu tidur, tidur," Shasa menasehati.


"Iya Yang, makasih."


------------+++----------


Hari yang dijanjikan tiba. Shasa dan Abra berangkat ke Makassar dengan pesawat bersama tim promosi untuk mempromosikan produk di sana. Setelah sampai di sana mereka segera menuju hotel untuk segera beristirahat.


"Besok kita akan mendatangi salah satu Mal terbesar di sini yang kebetulan sedang berulang tahun. Mereka mengadakan banyak acara dan kami adalah salah satu yang mensponsori acara ulang tahun Mal itu. Karena itu kita bisa bikin acara juga di situ, seperti lomba masak, masak-masak bersama salah seorang chef terkenal, dan talkshow mengenai makanan yang bergizi untuk balita selain juga acara-acara yang diadakan oleh Mal itu besok." terang seorang wanita yang menjadi pemandu mereka di tim promosi itu.

__ADS_1


Shasa dan Abra dengan serius mendengarkan sambil melangkah di sebuah koridor panjang bersama anggota tim promosi itu. Salah satu dari anggota tim membagikan kaos berlogo produk yang sedang dipromosikan itu tak terkecuali Shasa dan Abra, hanya warna kaos mereka beda, berwarna putih sedang anggota tim berwarna kuning.


Kemudian mereka berhenti di depan sebuah kamar. "Oh, ini dia. Mbak Shasa kamar nomer 255 dan Pak Abra nomer 256 kamarnya ya?" Wanita itu memberikan kunci pada keduanya.


"Oh, ya terima kasih," ucap Shasa dengan senyuman.


"Kalian hanya boleh berjalan di sekitar hotel ya, tidak boleh keluar."


"Oh, iya Mbak. Makasih," jawab pria itu.


"Nanti kalau ada apa-apa telepon kami atau cari kami di kamar 322 atau 323."


"Ok." Pria itu mengangguk.


Tim promosi yang terdiri dari 4 orang wanita itu kemudian kembali ke arah lift. Abra dan Shasa kini membuka pintu kamar mereka masing-masing dan masuk ke dalam sambil menarik koper mereka.


Baru saja Shasa duduk melepas lelah, pintunya di ketuk orang. Dengan malasnya ia membuka pintu. Seketika pria itu masuk dan mendorongnya kembali ke dalam. Pria itu langsung memeluknya. Ya, siapa lagi kalau bukan Abra. Kembali Shasa memukul bahu suaminya karena kesal.


Bugh!


"Aduhh Yang, kok jahat sih ...," gerutu pria itu.


"Kamu bikin kaget. Lama-lama aku bisa jantungan tau!" umpat Shasa geram.


Abra hanya tertawa. "Aku kan supaya gak ada yang lihat Yang, aku masuk ke sini." Ia memeluk istrinya erat.


"Lagi, kenapa sih kita hidup kucing-kucingan seperti ini? Apa kamu gak capek? Hubungan kita resmi lho, aku bukan selingkuhanmu."


"Ih, Sayang. Jangan bilang begitu. Kamu istriku dan aku akan katakan pada dunia tapi ... pada saatnya nanti ya? Tolong ...." Pria itu mengusap kepala wanitanya yang berada dalam pelukan. "Aku rindu padamu."


Shasa tertawa. "Kan dari tadi kita selalu bersama."


"Apanya bersama? Anggota tim itu dari tadi memisahkan kita terus. Di ruang tunggu, di pesawat." Pria itu menggerutu.


"Di taksi, tidak."


"Tapi kita bertiga dan aku duduk di depan."


"Kalau ... kamu berterus terang kan tidak begini. Kita—"


"Aduhh, Sayang. Kita ikuti saja kemauan Ayah demi kebaikan semua. Toh tidak selamanya kita begini."


Shasa mendongakkan kepalanya. "Apa ada kabar dari Kak Kevin?"


"Belum."


"Bagaimana kalau Kak Kevin lama pulihnya?"


"Shasa, jangan mikirin hal yang buruk-buruk dong."


"Tapi kita harus bersiap untuk yang terburuk." Gadis itu mendorong Abra menjauh. "Bagaimana kalau Kak Kevin bertahun-tahun—"


"Shasa!" Kalimat bentakkan itu tak sengaja terlepas. Kini pria itu bingung memulihkan keadaan. "Eh ...."


Air mata gadis itu mulai menggenang di pelupuk mata. "Apa selama itu kamu tidak akan mengakuiku di depan umum?" Gadis itu melanjutkan kalimatnya dengan berurai air mata.


"Sha ...," ucap pria itu gamang. Ia tak berani menyentuh istrinya karena dialah penyebab banjir air mata di depannya. "Sha ...." Ia tak tahu bagaimana cara mendinginkan keadaan.


Gadis itu menghapus air matanya sendiri. Tiba-tiba ia menarik pria itu ke pintu sambil membukanya. Ia mendorong pria itu ke luar dan menutup pintu.


"Sha, Sha ...." Abra mengetuk pintu itu beberapa kali tapi diabaikan. Tak lama ketukkan itu menghilang.


Shasa bisa memperkirakan ada orang lewat atau keluar dari kamarnya di lantai itu sehingga Abra takut ketahuan lalu buru-buru masuk ke dalam kamarnya.


Gadis itu dengan susah payah menghentikan air matanya yang terus mengalir. Berharap masalah ini tidak seburuk pikirannya. Akan ada saatnya pelangi setelah hujan. Ya, hanya itu yang bisa diupayakan sekarang, berharap dan berdoa.


____________________________________________


Yuk intip-intip novel keren ini.

__ADS_1



__ADS_2