
"Oh, gitu. Ya udah."
Sehabis sarapan, Abra kembali tidur. Ia senang Shasa menungguinya tidur walaupun gadis itu menunggunya di luar kamar. Ia kembali tidur dengan nyamannya hingga tanpa sadar ia tidur hingga pukul sepuluh.
Ia bangun dengan tergesa-gesa, mengucek-ngucek matanya dan pergi ke luar mencari Shasa.
Gadis itu sedang menonton TV. Ia menoleh. "Sudah bangun Kak?"
"Oh, iya maaf. Aku terlalu lelap tertidur sampai keterusan." Abra menguap sambil merentangkan satu tangannya.
"Gak papa Kak. Mau siap-siap?"
"Iya."
Seperti biasa Shasa melakukan tugasnya dan seperti biasa, Abra mengaguminya dalam diam.
Sha, apa kita hidup seperti ini saja? Sesakit-sakitnya hati ini tapi ia tetap memilih melihatmu. Ah ... sebaiknya aku syukuri saja apa yang bisa kunikmati, karena aku sudah tidak bisa mengontrol apa mauku kini.
Hidup untuk cinta itu menyakitkan, tapi juga menyembuhkan. Aku tak bisa hidup tanpa berangan-angan tentangmu. Sejauh-jauh aku berlari, aku masih ingin pulang untuk melihat mata beningmu. Telaga yang membuatku haus setiap hari, akan senyummu, tawamu bahkan pipimu yang kemerahan karena malu. Aku suka semua itu. Setiap kali aku disakiti oleh kenyataan, bayang wajahmu membuatku mampu mengampunimu. Berkali-kali.
"Udah Kak." Shasa merapikan kerah pria itu.
"Ayo!"
Mereka kemudian berangkat ke stasiun TV. Di kantor Abra, Haris sudah menunggu sesuai permintaan Shasa.
"Ok, sekarang kita keliling stasiun TV dengan Tour Guide(pemandu tur) gratis ini ya?" canda Abra lagi.
Shasa kembali siap-siap memegangi kemeja Abra.
"Kamu ngapain Sha?" tanya Haris heran. Sejak di tempat syuting, ia sudah lama ini menanyakan hal ini.
"Kak Abra tangannya gak boleh ke senggol orang Kak."
"Oh."
"Sudah, abaikan. Dia ingin seperti itu," ucap Abra pada pria gondrong itu.
Namun Haris menganggapnya lucu karena gadis itu begitu melindunginya.
"Ayo kita mulai!"
Mereka pun bertiga berkeliling ke berbagai tempat sambil CEO muda itu menerangkan segala sesuatunya dengan gamblang. Haris mengambil beberapa foto kegiatan para pegawai dan ruangan dan bertanya beberapa hal menyangkut tentang perusahaan. Shasa sempat melihat-lihat ke arah lain saat Abra berhenti di satu tempat.
Pernah beberapa kali tertangkap pandangan mata Haris, Abra sedang memandangi Shasa. Bahkan ia abadikan dalam beberapa pengambilan gambar di kameranya. Ini yang cowoknya tergila-gila sama yang ceweknya. Apa yang ceweknya sadar akan hal itu? Sha, apa kamu sadar ada orang lain yang mengagumimu? Haris menghela napas. Lo mau dilamar sih ya Sha, sama Pak Bima, padahal Abra lebih ganteng lo ya, lebih ganteng! Ia memandangi keduanya setelah mengambil gambar mereka.
Setelah pengambilan gambar dan penjelasan tentang perusahaan selesai, Shasa dan Haris pamit. Mereka mengantar Abra ke ruangan sebelum mereka pamit.
"Eh, kalian sudah selesai rupanya?" Kevin muncul seketika, entah dari mana.
"Oh, iya Pak. Saya pamit dulu." Makin hari Shasa makin pintar bersosialisasi dengan lingkungan pekerjaan, membuat ia bisa masuk ke mana saja dalam pergaulan pekerjaannya.
"Ngak mau ngobrol-ngobrol dulu mungkin, karena sejam lagi sudah masuk jam makan siang. Aku mengundang kalian makan siang bersama," bujuk Kevin.
Haris menoleh pada Shasa.
"Maaf Pak, kami masih ada pekerjaan lain yang harus segera dikerjakan jadi maafkan." Shasa menganggukkan kepala.
"Oh ya sudah."
Shasa dan Haris pun pamit.
Setelah mereka pergi, Kevin mendatangi Abra. "Kenapa kamu tidak tahan mereka?" Ia menunjuk ke arah perginya Shasa.
Abra yang sedang membaca berkas-berkas baru menoleh. "Apa sih Kak? Kalau Kakak butuh mereka, Kakak saja yang tahan mereka, bukan aku."
__ADS_1
"Tapi Shasa lebih mendengarkan omonganmu. Kalian kan dekat."
"Ya tapi untuk sekarang ini aku ingin fokus dengan pekerjaanku Kak, karena pekerjaanku banyak terbengkalai akhir-akhir ini karena kecelakaan itu. Kita hanya punya waktu 3 minggu lagi untuk acara ulang tahun TV Indo tapi kita belum mempersiapkan satu pun acara. Apa Kakak gak stres?"
"Itu urusanmu."
"Ya sudah. Jangan libatkan lagi aku dengan urusan Shasa, aku pusing!" Abra kembali menekuni berkas-berkas di hadapannya.
Kevin akhirnya dengan berat hati meninggalkan Abra dengan setumpuk pekerjaan di atas meja kerjanya, sedang ia kembali ke luar. Abra, tentu saja pecah konsentrasinya karena lagi-lagi Kevin mengingatkannya pada gadis itu.
Abra menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya. Pelan-pelan ia berusaha untuk membuat dirinya relaks hingga bisa bekerja lagi. Ia kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.
------------+++----------
"Ih, menjijikkan!" Rika memecahkan telur untuk ketiga kalinya. Ia menyentuhnya dengan 2 jari cangkang telur yang telah disatukan dan ia buang ke tempat sampah. Ia mengusap tangannya yang kotor karena pecahan telur pada celemeknya lalu mengocok telur menggunakan garpu. "Eh, lupa. Garam." Ia kemudian mengambil dari wadah garam, satu sendok teh yang hampir saja ia masukkan.
"Eh, Mbak itu kebanyakan," jawab pembantu yang memperhatikannya dari tadi.
"Eh, semana?"
Pembantu itu mengambil alih sendok dan menyendokkan seperempat sendok teh pada telur kocok Rika.
"Segitu? Dikit amat ya? Takut gak terasa."
"Pasti asinnya udah terasa Mbak."
"Oh, gitu." Rika kemudian menghidupkan kompor. "Eh, ini apinya gede terus. Gimana ini?" Ia mengerut alis.
Pembantunya coba mengecilkannya. "Jangan gede-gede apinya."
"Tau, gue tau, tapi kan apinya gede sendiri!" keluh Rika.
Wanita itu menahan tawa. Ia kemudian melihat Rika mengocok telur tapi melempar isinya pada penggorengan karena takut panas. Minyak yang sudah ada di dalam penggorengan akhirnya menciprati tangan mulus gadis itu.
"Makanya jangan dilempar gitu nuanginnya Mbak, pelan-pelan aja."
"Tau gue, tahu, tapi kan panas. Mana bisa gue tuang pelan-pelan," omel gadis itu.
"Itu dibalik Mbak," Pembantu itu memberi tahu.
"Ah, berisik lo! Tau gue, tau!" Gadis itu mencoba membalik telur di penggorengan.
Rika menyentuh bekas minyak goreng yang untuk ke berapa kalinya mengenai kulit dan bekasnya mulai memerah.
"Pake odol Mbak." Pembantunya itu membawakannya pasta gigi dan langsung mengusapnya di beberapa tempat berbeda seperti sebelumnya dan gadis itu hanya diam saja.
Ia berusaha keras belajar memasak agar ia tidak direndahkan Damar. Ia juga mencoba rasa dan ia gigih mencoba memasaknya berkali-kali, demi bisa tinggal di rumah itu lagi.
----------+++----------
"Kita makan di sini ya?"
"Terserah Kakak aja." Shasa turun mengikuti Bima. Sudah lama sejak ia mengikuti Abra karena iklan itu, mereka belum lagi makan bersama.
Namun tempat makannya menggurat sebuah kenangan, sebuah restoran sushi tempat pertama kali Shasa makan dengan Abra, tapi ia merasa tak perlu mempermasalahkannya. Toh, hanya tempat makan.
Mereka pun memesan makanan.
"Kamu suka sushi mentah ya?" tanya Bima saat menunggu makanan datang. Ia melihat Shasa memesan beberapa yang mentah. "Aku sedang belajar memakannya."
"Biasa aja Kak." Shasa menatap Bima. "Kalau Kakak gak terbiasa makan yang mentah jangan dicoba Kak, nanti muntah kalau tidak suka."
"Tapi orang-orang banyak memakannya dan terlihat biasa-biasa saja."
Kak Bima apa belum pernah makan sushi ya? "Tapi Kak Bima, kalau tidak terbiasa jangan dipaksakan nanti lain lagi yang kejadian."
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa."
Makanan kemudian datang. Bima terlihat antusias mengambil satu sushi mentah pesanan Shasa.
"Kak ...." Gadis itu tak bisa mencegahnya saat pria itu dengan nekat memasukkan satu gigitan besar ke dalam mulutnya.
Kemudian, wajah pria itu terlihat aneh saat mengunyahnya. Sepertinya ia akan pergi ... ke toilet. Bima pergi ke toilet!
Tentu saja Shasa jadi cemas. Ia menunggu hingga pria itu kembali. Ketika pria itu kembali wajahnya terlihat sedikit pucat dan basah. Sepertinya ia habis mencuci wajahnya.
"Kak, Kakak gak papa?"
"Mmh?"
Shasa mengeluarkan saputangan dan mengusap wajah pria itu yang basah.
"Makasih Sha." Bima mengambil alih saputangan itu. Ia mengusap wajahnya. Sedikit terkejut, gadis itu perhatian padanya, padahal saat ia bersama Rika ... Eh, kenapa ia kembali mengingat Rika?
Setiap mengingat gadis itu, ia ingin marah. Apalagi ketika Shasa tidak ada di sisinya, yang ia ingat adalah kemarahannya pada Rika. Ia merasa Shasa bisa mengobati hatinya yang terluka karena Rika, tapi semakin ke sini kemarahannya terhadap Rika makin menjadi dan ia hanya bisa merasa sejuk kalau melihat Shasa. Karena itulah ia ingin memiliki Shasa dengan menikah dengannya. Berharap dengan begitu hatinya bisa damai dari gemuruh mempermasalahkan gadis yang telah menghianati cintanya itu.
"Kakak muntah ya?"
Bima tak bisa melihat wajah Shasa secara langsung karena merasa bersalah.
"Kak, jadi diri sendiri aja. Itu lebih nyaman dari pada jadi orang lain tapi tersiksa. Memangnya apa buruknya jadi diri sendiri?" Shasa masih ingat bagaimana Kevin dulu pernah menghina Bima karena dialek bicaranya yang seperti orang daerah, dan Bima berusaha keras jadi orang kota agar diakui keberadaan oleh teman-temannya di Jakarta dengan berusaha belajar dialek orang kota.
"Tapi mereka akan ...."
"Mereka akan mendekatimu kalau kamu bangga jadi diri sendiri."
Terbaca sebuah kebenaran di wajah gadis itu yang terlihat dari wajah remajanya. Ia sangat dewasa dibanding wajah lugunya yang tanpa noda.
Bima baru saja belajar dari seorang wanita calon istrinya. Ia menggenggam kedua tangan gadis itu. "Aku janji, aku akan membahagiakanmu."
Shasa bisa melihat kebahagiaan di wajah pria itu, sebuah kesungguhan yang tidak perlu diragukan lagi asalnya. "Kalau gitu Kakak makannya pesan yang lain saja ya Kak ya? Nasi kari mungkin?"
"Ya sudah, pesankan untukku ya?"
"Memang Kakak suka nasi kari?"
"Yang kau pesan pasti cocok untukku."
"Ya jangan begitu Kak." Gadis itu mengambil buku menu. "Kakak suka kari atau mie?"
"Apa saja."
"Ya ... Kakak." Shasa melihat ke atas meja. "Mungkin salmon mayones, Kak." Ia mengambil satu potong dan menyuapkannya dengan sumpit pada Bima.
Pria itu mengunyahnya. "Mmh, enak. Kamu benar-benar pintar memilih makanan enak."
Gadis itu tersipu malu. Mereka kemudian menyelesaikan makan siangnya di sana.
-------------+++----------
Damar masih diam di dalam mobil sambil melihat ke arah apartemen Abra yang berada di seberang jalan. Bagaimana ia kini bisa mencari Shasa karena gadis itu sudah pindah dari situ.
Sedang berpikir begitu, Ia melihat mobil yang sudah amat ia kenal berhenti di depan apartemen Abra. Bukankah itu mobil Bima? Ia melihat Shasa keluar dari mobil itu.
Ohoho, ada apa ini? Kenapa Bima justru mengantarnya ke sana? Pasti ada sesuatu yang hebat hingga Bima mengantarkannya ke sana. Bima memuja pria itu. Kayakah?
____________________________________________
Yuk, kepoin novel bestieku aja.
__ADS_1