Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Yang Tersisa


__ADS_3

Abra meraih tubuh Shasa di tangga dan mendekapnya hingga wanita itu menghentikan langkahnya. "Sha, ingat ... bayimu. Emosi boleh, celaka jangan," bisiknya di telinga istrinya.


Wanita itu menangis dengan luapan rasa kecewa di dalam dada. Pria itu mengantarnya menaiki tangga hingga ke kamar. Di sana, Shasa memutar tubuhnya menghadap suami dan menangis dalam pelukan.


Raven hanya memandangi dari kejauhan tanpa mampu melakukan apa-apa. Ia melirik Danisa dan kemudian menunduk. Ia melangkah keluar melewati wanita itu. "Kini kau tahu siapa aku."


Belum jauh Raven melangkah, Danisa berucap, "Pendapatku tetap sama. Selama kamu menyesalinya, tidak ada kata terlambat. Itulah manusia, tempatnya salah dan dosa. Siapa pun tak bisa luput dari kesalahan. Stop menghakimi dirimu sendiri lagi, karena aku merasa kau juga pasti menderita."


Pria itu hanya berhenti sebentar untuk mendengarkan lalu kemudian melanjutkan langkahnya keluar rumah.


----------+++-----------


Acara jalan-jalan di kebun binatang ternyata sangat menyenangkan. Para orang tua menikmati membawa anak-anak mereka berjalan sambil melihat bermacam-macam binatang yang menjadi koleksi kebun binatang itu sekaligus mempererat rasa persaudaraan di antara mereka.


Erlangga sangat suka bermain dengan si kembar hingga berlarian ke sana kemari sedang Wisnu tipe yang masih suka digendong karena sedikit manja. Anehnya, dia tidak menangis digendong Abra, padahal dengan selain orang tuanya, bocah itu pasti menangis.


"Waduh, lucu ya? Apa mau tinggal sama Om saja, kan Om punya Kakak kembar tuh di rumah," goda Abra pada Wisnu yang diam saja saat dibawa ke mana-mana dalam gendongan pria itu.


"Wah, jangan dong. Anakku cuma satu, belum bikin lagi," tegur Damar, bercanda yang disambut tawa oleh yang lain.


Mereka kemudian berfoto-foto di sana bergantian. Danisa juga ikut menemani sambil menjaga si kembar.


"Kenapa masih sendiri? Belum punya pacar ya?" tanya Bima ramah pada Danisa, membuat Rika cemburu dan mencubitnya. "Aduhh, Sayang. Cuma tanya kok, kenapa cemburu sih?" ucapnya pada sang istri.


"Oh, dia. Dia ada yang ditaksirnya," terang Abra.


"Siapa?" tanya Diandra.


"Raven."


Air muka Bima dan Rika berubah. Abra sengaja memancingnya ingin tahu reaksi keduanya. Ia kini tahu, Bima setidaknya tahu masa lalu istrinya dengan Raven.


"Oh, Raven yang Kakak angkat Shasa?" Damar ikut bicara. "Bukannya umurnya lebih kecil ya?"


"Dalam hubungan, pria lebih muda, rasanya gak masalah."


"Aku malah penasaran ...," sela Diandra.


"Orangnya baik kok." Tak di nyana, Rika memberi komentar positif.


"Makasih Mbak," ucap Danisa sambil tersenyum.


Rupanya Rika mulai berdamai dengan masa lalunya dan itu cukup melegakan Abra dan Shasa.


"Ayo, siapa yang mau ditraktir es krim?" tanya Abra.


"Mau, mau!" seru anak-anak.


----------+++---------


"Mas, ini sudah rapi belum?" Shasa merapikan bajunya memandang ke arah suaminya.


Pria itu menoleh, melihat istrinya yang sedikit risih dengan pipinya yang sedikit berisi.


"Kenapa Sayang?" Abra menghampiri.


"Pipiku jelek, bajuku aneh," gerutu wanita itu memandang dirinya di cermin.


Abra segera melingkarkan tangan di pinggang istrinya dari belakang dan memeluknya. "Kata siapa? Istriku yang paling cantik." Ia mengecup bahu Shasa.


"Tapi lihat, bajunya sepertinya gak cocok sama aku Mas," rengek wanita itu, kesal.


"Ya sudah ganti saja."


"Tapi yang muat hanya ini." Kembali ia merengek.


Abra jadi serba salah. Memang sejak kehamilannya, perutnya mulai membesar dan istrinya mulai kesulitan mencari pakaian. "Kamu mau beli pakaian sekarang?"


"Tapi nanti telat ke acara wisudanya."

__ADS_1


"Gak papa, acaranya lama kok. Yuk, kita beli sekarang."


"Tapi ...." Mulut Shasa mengerucut bingung.


"Apalagi? Jangan bikin aku gemes ntar aku kecup-kecup semua nih ...." Pria itu mulai mengecup lengan atas istrinya hingga membuat wanita itu tertawa.


"Mas ...."


"Udah ah ... langsung berangkat aja, gak usah pikir-pikir lagi. Lama-lama kamu kayak Lione deh, suka ragu-ragu." Abra menarik istrinya keluar kamar. Dengan manja Shasa mengikutinya.


Di lantai bawa, si kembar sedang bersama Danisa dan Raven.


"Udah Mbak, biar aku saja yang jagain anak-anak. Abra nih kebiasaan, minta tolong sama orang yang jauh," keluh Raven melihat Danisa menjaga anak-anak.


"Apa, jelek-jelekin aku?" Abra turun bersama istrinya.


"Ngak usah minta tolong Danisa Kak, kan kasihan rumahnya jauh. Aku kan ada di sebelah."


"Lho, Danisanya sendiri kok yang mau. Dia mau traktir anak-anak makan es krim katanya," terang Abra.


Raven melirik Danisa sambil mengusap belakang kepalanya. "Oh, aku gak tau."


Danisa hanya tersenyum.


"Makanya lain kali nanya," ledek Abra. "Udah, kamu berdua aja gih, temenin Nisa jalan-jalan sama anak-anak."


"Lebih bagus lagi jadian Bang," ledek Shasa.


Raven kembali melirik Danisa.


"Lebih bagus lagi, nikah aja," Abra mengompori. "Kalian kan sekarang ke mana-mana berdua."


"Dia kan bosku di kantor," terang Raven.


"Jadi beneran gak mau nih? Ntar aku jodohin Nisa sama yang lain lho!" ancam Abra.


"Ya udah, iya," ucap Raven kesal seraya mengusap punggungnya.


Raven melirik Nisa untuk ketiga kalinya dan wanita itu menunduk sambil tersenyum malu. "Ya udah ... nikah aja," ucapnya pelan.


"Ih, Abang ... Gak romantis ih! Masa ngelamar anak orang begitu caranya?" protes Shasa.


"Lagi sih, pada bawel. Jadi momennya hilang!" teriak Raven kesal, tapi ucapan pria itu malah membuat Shasa dan Abra tertawa.


Abra dan istrinya mendatangi Raven.


"Awas aja kalau kamu bohong ...," ancam Abra sambil menahan tawa. Ia kemudian pamit seraya membawa istrinya keluar.


Ditinggal Abra dan Shasa, Raven justru kebingungan. Ia terlihat canggung. Dilihatnya anak-anak sedang bermain dengan kucing peliharaan mereka, Nunu.


Ia mendekati anak-anak. "Eh, masih siang. Kita temani si kembar main dulu ya?"


Danisa mengangguk dengan senyum bahagia.


------------+++---------


"Ini foto bayinya, sudah mulai gemuk." Abra memperlihatkan foto di HP-nya pada Kevin.


Kevin terlihat senang walau sedikit kecewa. Ada sepi di sudut hatinya yang kini menggenapi rongga dada.


"Shasa minta maaf karena gak bisa datang, sebab bayi Rafael kemarin demam, tapi tadi sudah lumayan reda demamnya dan sedang bermain dengan kakak-kakaknya, sekarang. Mungkin besok-besok sudah bisa diajak ke sini lagi."


Shasa telah melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Rafael yang kini berusia 9 bulan.


Kevin menepuk-nepuk bahu Abra. "Oh, ya gak papa, yang penting sehat semua."


Karen keluar dari kamar mandi. "Oh, Bra. Kamu mau makan siang bersama kami?"


"Oh, maaf Bu, aku gak bisa lama-lama, ditunggu Shasa di rumah." Abra menyatukan tangannya.

__ADS_1


Belakangan, Karen mulai lunak pada Abra sejak pria itu menolong membawa lagi Kevin ke rumah sakit dan sejak itu ia mulai menganggapnya bagian dari keluarga.


"Oh, ya sudah. Oh, ini. Aku pesankan pudding paling enak yang pernah kucoba. Tolong bawakan untuk anak dan istrimu ya Bra." Karen menyodorkan sebuah bungkusan besar pada Abra.


Pria itu terlihat senang. "Wah, makasih Bu. Pasti Shasa dan si kembar lahap makannya."


Mereka tertawa.


--------+++---------


Kevin melewati hari-harinya dengan bekerja di rumah sakit. Ia bekerja menggunakan laptop dan terkadang para pegawainya datang untuk melakukan meeting di ruangan itu. Seperti hari ini, hari Senin, biasanya ada meeting mingguan di pagi hari sehingga Karen datang agak siang.


"Mmh, aku harus mempelajari lagi data terakhir ini. Paling tidak ini sudah ada peningkatan, jadi—"


Tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan itu membuat Kevin terpaksa berhenti berbicara. Seorang wanita sedang menggendong seorang bayi, masuk dengan napas tersengal-sengal seperti habis berlari.


"Tolong Pak, tolong aku," pinta wanita itu memohon pada Kevin.


Kevin mengenyit dahi menatap wanita itu. Seseorang yang dia kenal tapi ....


"Hei, kamu siapa ... masuk-masuk kamar orang tanpa permisi!" bentak salah seorang pegawai Kevin pada wanita itu.


Kembali mereka dikejutkan oleh masuknya beberapa petugas rumah sakit yang meminta maaf pada Kevin. "Oh, maaf Pak, maaf. Orang ini tiba-tiba masuk ke sini dengan menerobos petugas di pintu depan." Salah satu dari pria itu meminta maaf pada Kevin.


"Lain kali, urus dengan benar penyusup seperti ini!" Pegawai Kevin itu masih terlihat marah.


"Pak, tolong aku Pak ...." Wanita itu kembali memohon pada Kevin karena mulai ditarik keluar oleh petugas.


Terdengar suara tangis bayi yang digendongnya.


"Tunggu dulu!" teriak Kevin.


Semua orang menatap ke arah Kevin.


"Lepaskan dia!"


Petugas rumah sakit melepaskan dengan wajah heran.


"Tapi Pak ...."


Kevin mengangkat tangan, membungkam pegawainya. "Kalian semua keluar! Biarkan kami berdua."


"Eh, Pak ...."


Kevin melirik pegawainya membuat pria itu diam dan pergi dengan yang lain. Saat semua orang telah pergi keluar dan menutup pintu, wanita itu masih berdiri di dekat pintu.


Tentu saja Kevin masih ingat dengan wanita itu karena sejak kejadian itu wanita itu menghilang. Bukan kabur tapi ia dipecat dari rumah sakit itu karena sering teledor bekerja hingga Kevin tidak pernah lagi bertemu dengannya. Namun kini wanita itu hadir lagi dalam hidupnya, entah untuk apa ....


"Kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanya pria itu membuat wanita itu berani melangkah maju setelah berkali-kali menganggukkan kepalanya seraya menggoyang-goyangkan bayinya agar berhenti menangis.


"Maaf Pak. Sekali lagi maaf. Kita sudah berjanji untuk menjadi orang asing, tapi aku kembali datang memohon pertolonganmu." Wanita itu, wajahnya masih sama seperti sekitar setahun lalu, dengan potongan rambut yang sama dan diikat ke belakang. tidak terlalu panjang. Hanya kini dia sedikit kurus dengan kulit lebih hitam. "Pak Kevin, bisakah Bapak menolong bayi saya?"


"Bayimu?" Kevin melirik bayi dalam gendongan wanita itu.


"Ini Pak." Wanita itu memperlihatkan seorang bayi dalam pelukan yang diikat ke tubuhnya dengan kain gendongan. Seorang bayi perempuan mungil yang cantik hanya saja sedikit pucat. "Dia sedang sakit dan butuh donor sumsum tulang belakang."


"Tidak!" Karen masuk dengan marah. "Siapa kamu, sembarangan masuk ke dalam kamar rumah sakit dan minta pertolongan dari seorang pasien. Kamu sultan?" Ia memindai pakaian wanita itu yang terlihat sangat sederhana.


"Maaf Bu, tapi aku sangat butuh sekali donor ini agar nyawanya selamat," mohon wanita itu sambil menundukkan kepala.


"Apa? Apa kau sudah gila memohon pada anakku yang sedang sakit? Kamu ...."


"Ada apa ini? Ada apa sebenarnya?" Erik datang menyusul Karen. Ia mendengarnya selintas dan melihat bayi yang digendong wanita itu. "Donor sumsum tulang belakang itu bukan hal yang main-main. Kevin, apa hubunganmu dengan wanita ini?"


"Tolong, bisakah aku minta privasi?" tanya Kevin.


"Tidak!" jawab Karen dan Erik bersamaan.


____________________________________________

__ADS_1


Halo, reader. Penulis masih tetap semangat menulis bab-bab terakhir. Jangan lupa, like, vote, komen dan hadiah. Ini visual Abra bersama Wisnu di kebun binatang. Salam, ingflorađź’‹



__ADS_2