Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Dilamar 1


__ADS_3

"Dia siapa Sha?" Kevin menunjuk Raven dengan dagunya dari jendela mobil.


"Oh, ini Kakak angkatku, Bang Raven," terang Shasa.


Kakak angkat? Apa maksudnya ini?


Belagu bener! Elu siape nanya-nanya gue kayak gitu. Turun kek, kalo mau kenalan!


"Bang, ini kakaknya Pak Abra." Shasa saling mengenalkan.


Raven yang terkejut, terpaksa menganggukkan kepalanya. Kakak Pak Abra? Busyet, kagak ada mirip-miripnya! Kok bisa ....


Kevin tak peduli. Ia memindai pakaian gamis Shasa yang juga berwarna abu-abu. Shasa berdandan cukup cantik tapi Kevin kurang menyukai pakaian Shasa yang menurutnya kurang mewah tapi ia tak berani protes karena saat ini ia berusaha menghindari konflik dengan Shasa karena ia takut kehilangan gadis itu. "Ayo berangkat."


Shasa pamit pada Raven dan menaiki mobil Kevin tapi Kevin melengos saja pada Raven saat membawa mobilnya keluar dari kos-kosan itu.


"Cih, sombong amat!" Raven mengumpat.


"Kamu punya saudara angkat dari mana?" tanya Kevin saat mobil meluncur di jalan.


"Saudara kembarku pernah tinggal dengannya."


"Saudara kembar?"


"Iya, tapi dia sudah meninggal."


"Oh, aku baru tahu kamu punya saudara kembar." Hah, aku pikir ada pria lain lagi yang berusaha mendekatinya. Huh!


Mobil Kevin mendatangi sebuah gedung bertingkat di mana, lantai satunya digunakan untuk acara pernikahan. Hiasan bunga beraneka warna menghiasi dari pintu utama hingga masuk ke dalam gedung dengan kain satin yang berjuntai-juntai berwarna biru muda. Sangat menyejukkan melihatnya di malam hari. Kevin segera turun dan membukakan pintu untuk Shasa.


"Pak, aku bisa sendiri."


"Tidak apa-apa. Mari." Kevin membantu gadis itu turun dari mobil.


Mereka kemudian mendatangi pintu utama gedung itu yang disambut oleh pagar ayu dan pagar bagus di depan pintu. Di sana juga sudah banyak tamu-tamu berdatangan. Saat masuk di sepanjang koridor, ada dipajang beberapa foto sang mempelai bersanding berdua dengan berbagai pose dan tempat berbeda, juga tema berbeda. Shasa dan Kevin memperhatikannya di sepanjang jalan menuju ruang utama.


Pasti sangat menyenangkan mempersiapkan pesta pernikahan ini. Shasa cerewet mengenai ini dan itunya dan aku hanya tinggal memberi kartu hitamku padanya agar ia kembali ceria lagi. Mmh, Kevin membayangkan.


Sedang Shasa, ia tak tertarik. Trauma masih membekas di benaknya mengenai gagalnya ia menikah dengan Bima.


Mereka sampai ke sebuah meja di mana 2 gadis remaja yang telah berdandan cantik dengan kebaya, menunggui buku tamu. Setelah mengantri, Shasa mengisi buku tamu sedang Kevin mentransfer sejumlah uang dari kartunya ke alat transfer yang sudah disediakan. Setelah itu mereka masuk ke dalam ruangan.


Ruangan itu ternyata sudah mulai dipenuhi oleh banyak tamu dari berbagai kalangan tapi yang terbanyak sepertinya dari pihak keluarga.


Kevin membawa Shasa pada antrian untuk bersalaman dengan kedua pengantin. Cukup lama mereka menunggu antrian yang berjalan sangat lambat sampai netra Shasa memindai seseorang yang ia kenal berada di antara para tamu di sana.


"Pak, Pak Abra!" Shasa melambai tangan pada pria itu.


"Sayang?" Abra langsung melihatnya dan menghampiri.


"Sha, kamu sedang bekerja menemaniku!" ucap Kevin geram hingga meraih pinggang gadis itu mendekati tubuhnya.


"Eh?" Gadis itu terlihat bingung.


"Hei, jangan marah padanya. Dia kan hanya sekedar menyapaku," bela Abra saat datang.


"Kamu, kenapa datang? Kan udah ada aku di sini," ujar Kevin sedikit kasar.

__ADS_1


Abra juga bingung melihat sikap kasar Kevin padanya, padahal kakaknya ini belum pernah bersikap kasar padanya seumur hidupnya. Bahkan bertengkar. Sekasar-kasarnya Kevin pada orang lain, pada Abra ia hanya tidak dekat saja. "Kakak kan biasanya gak pernah datang acara beginian jadi biasanya kan juga aku yang wakilin kenapa kakak malah bertanya lagi?"


Kini Kevin terdiam. Ada Shasa di sana, ia tak berani bertengkar.


"Sudah, sudah. Kebetulan sudah ada di sini, kita sama-sama saja ya," ujar Shasa yang berusaha mengakurkan keduanya dengan memegang tangan mereka satu-satu.


"Tidak boleh! Kamu sedang bekerja denganku, jadi kamu menemaniku!" Kevin dengan cepat menarik lengan Shasa mendekat.


"Kak, ini kan pesta. Tamu bisa datang dengan siapa saja, bebas. Mau sendiri, berdua, bertiga, bawa rombongan bahkan anak kecil. Bebas!" Abra pun menarik lengan Shasa mendekat.


Shasa yang diperebutkan di tengah, bingung harus bagaimana sementara mereka berada di tengah antrian untuk bersalaman. Orang-orang pun memperhatikan mereka, karena keributan ini. "Eh iya, ini cuma pesta. Bagaimana kalau kita nikmati pesta ini bersama-sama, apalagi kalian kan kakak-adik." Hanya itu yang bisa gadis itu usahakan.


Abra dan Kevin saling berpandangan dan masih terlihat kesal.


"Ayo ya? Kita mengantri sama-sama." Shasa membujuk keduanya dengan menarik tangan mereka dengan lembut.


Namun tiba-tiba tangan Kevin menepis tangan Shasa yang menggenggam tangan Abra sambil mencondongkan tubuhnya ke arah adiknya itu. "Dia sekretarisku, sekarang dia sedang bekerja." Dengan kalimat yang penuh penekanan.


Abra memikirkan kebingungan Shasa karena itu ia mengalah. Ia membiarkan saja gadis itu ditarik Kevin ketika antrian mulai berjalan mendekati panggung. Ia yang kesal meluapkannya dengan mencari makanan.


Dari kejauhan dilihatnya Shasa dan Kevin bergantian bersalaman dengan kedua pengantin sebelum turun dari atas panggung. Mereka kemudian mencari makanan. Setiap Abra mendekat, setiap itu juga Kevin membawa Shasa menjauh. Shasa menyadari itu tapi tak bisa berbuat apa-apa. Membantu mengakurkan mereka, bukan tidak mungkin mereka malah bertengkar di belakangnya.


Ia hanya bisa memandangi Abra dari kejauhan. Melihat Abra yang sabar dengan kakaknya, Shasa pun juga akhirnya belajar bersabar. Ia menemani Kevin memenuhi kewajibannya karena bekerja.


Kevin bertemu beberapa koleganya demikian juga Abra. Di saat itu Shasa dan Abra mencuri-curi pandang saling memperhatikan.


Tak dinyana, Abra bertemu dengan klien pembuat iklan pasta gigi.


"Eh, Pak. Kok sendirian? Tadi perasaan saya lihat Bu Shasa ada di pesta. Mana ya? Oh, itu dia." Wanita itu menarik Shasa yang sedang bersama Kevin.


Tentu saja Kevin merasa kecolongan karena ada orang lain yang membawa Shasa dari sisinya.


Keruan saja Shasa dan Abra saling berpandangan dan terlihat bahagia.


"Terima kasih ya Bu. Berkat Ibu, kami jadi terkenal." Abra mengusap belakang kepalanya.


"Kami malah senang. Berkat kalian, pasta gigi kami jadi laku penjualannya. Kami tak salah memilih model."


"Ah, jangan begitu Bu. Kami hanya amatiran." Abra kembali menatap Shasa yang tersenyum bahagia di sampingnya.


"Saya sedang memikirkan untuk memperpanjang kontrak iklannya, bagaimana?"


"Kami baru saja terikat kontrak ekslusif dengan produk lain sehingga kami sulit untuk mengambil iklan baru. Kebetulan iklannya belum tayang tapi sudah selesai syuting Bu. Nanti Ibu harus bicara dengan mereka dulu baru bisa diputuskan bisa diperpanjang tidaknya kontrak dengan kami Bu."


"Waduh makin terkenal saja kalian ya?"


Abra tertawa. "Ah, ini semua berkat Ibu juga, tapi maaf saya mungkin tidak bisa membantu untuk yang berikutnya."


"Biar nanti saya coba deal dengan mereka." Wanita itu menepuk bahu Abra. "Kapan tayang iklannya?"


Sejak wanita itu merebut Shasa dari tangan Kevin, Abra mengambil kesempatan ini untuk membawa Shasa ke mana-mana sambil makan dan mengobrol dengan beberapa koleganya.


"Yang, yang ini enak Yang." Abra mengambilkan pudding saat Shasa sedang memperhatikan berbagai macam kue di hadapannya.


"Mana, mana?"


Abra menyendokkan dari piring kecil di tangan, dan menyuapkannya pada mulut gadis berjilbab abu-abu di depannya.

__ADS_1


"Mmh ...." Shasa mengangguk-angguk sambil mengunyah pudding di mulutnya. "Enak."


"Aku tadi coba Yang, enak. Makanya aku tawarin ke kamu. Mau lagi?"


Shasa mengangguk. Abra kembali menyuap gadisnya. Ia juga merapikan jilbab Shasa yang menjuntai miring.


"Aku mau tanya Yang. Itu—"


Tiba-tiba Shasa tertarik ke belakang.


"Dia masih bekerja padaku." Kedatangan Kevin mengejutkan mereka. "Sekarang aku mau pulang." Ia menarik Shasa bersamanya.


"Kak, Kakak!"


Namun panggilan Abra tak digubris Kevin. Pria itu terus saja membawa Shasa ke parkiran.


"Pak, tunggu!" Shasa meraih tangan Kevin yang sedang menggenggam tangannya. "Pak!"


"Shasa, kau datang denganku kenapa kau malah bersamanya?"


"Tadi kan yang menarikku, klien kami," terang Shasa.


"Ya tapi, setelah itu harusnya kamu kembali padaku!" Kevin berusaha menahan kesalnya.


"Dia kan adikmu sendiri, kenapa kamu marah padanya?"


"Karena aku menyukaimu Shasa, aku cemburu."


Sekilas Shasa memandang wajah Kevin. "Pak, aku bukan pacarmu. Aku dan Abra—"


"Jangan percaya padanya, dia punya banyak pacar."


"Pak."


"Kau lihat Danisa kan? Dia satu-satunya wanita yang awet pacaran dengan Abra karena mereka tidak punya keterikatan. Abra tidak suka terikat. Apa pernah Abra bilang, 'jadilah pacarku?' Tidak kan? Karena setiap ada wanita yang minta jadi pacarnya pasti dia tinggal." Kevin berbohong.


Shasa memang ingat Abra tidak pernah bertanya apakah ia mau jadi pacarnya tapi itu karena Abra tahu ia tidak ingin pacaran. Dialah yang tidak ingin terikat, bukan Abra. Ia trauma pacaran.


"Sha, beri aku kesempatan. Kamu belum jadian kan dengan Abra? Aku janji akan jadi pacar yang setia karena aku hanya mencintaimu. Tidak ada orang lain selain kamu, Sha. Aku mencintaimu."


Sebentar Shasa terdiam. "Pertemuan itu bisa mendatangkan suka tapi tidak selalu berakhir dengan apa yang kita inginkan. Aku menyukaimu karena kamu orang baik dan aku menyeganimu karena kamu kakak Pak Abra tapi tidak lebih. Hanya itu."


Namun Kevin masih belum puas dengan jawaban Shasa. "Bagaimana kalau kamu bertemu aku lebih dahulu dari Abra atau tidak pernah ada Abra di dunia ini? Bisakah kamu menyukaiku?"


Shasa menggeleng. "Maaf ... aku tidak mencintaimu."


Kevin kesal. Ingin rasanya ia menculik saja gadis di hadapannya ini dan tinggal berdua dengannya agar gadis itu lebih mengenal dan coba mengerti keinginannya tapi jabatannya juga dipertaruhkan untuk ini. 'Langkah'nya terhenti. "Biarkan aku mengantarmu pulang ya?"


Shasa mengangguk. Gadis itu berharap pria itu mengerti tapi tidak. Kevin masih memikirkan cara lain untuk memisahkan Shasa dengan Abra.


Pria itu mengantar Shasa hingga ke kos-kosan, setelah itu ia menjalankan mobilnya pulang. Di perjalanan ia berhenti dan menelepon asistennya. "Besok pastikan pekerjaan Abra tidak berjalan lancar. Aku tidak ingin ia pulang cepat."


"Baik Pak."


Segera ia menutup teleponnya.


Sementara itu, ada yang mengetuk kamar Shasa saat ia hendak naik ke tempat tidur. Segera ia mengenakan jilbab instannya. Dia mengintip ke jendela dan terkejut. Ada Bima di sana menunggunya. Ia segera membuka pintu. "Ada apa Pak? Kenapa malam-malam ke sini?" Walaupun ia sedikit bisa menduga-duga.

__ADS_1


"Sha. Aku sudah bertemu Rika tapi aku tetap ingin bersamamu. Bisakah kita kembali?" Bima menyodorkan kotak cincin itu yang dulu pernah diberikannya pada Shasa.


__ADS_2