
"Wah, kecil-kecil makannya banyak ya?" Danisa takjub dengan cara makan kedua anak kembar itu.
"Oh ... Lina dan Lione? Mereka makan porsi orang dewasa, tapi gak gemuk malah makin tinggi. Habis, kerjanya berlarian terus, tiap hari," ungkap Abra pada Danisa.
Oh ...." Danisa tersenyum.
Si kembar senang sekali dibawa ke restoran burger. Burger isi apapun dilahapnya asalkan bersama kentang goreng. Kaki mereka yang tergantung saat duduk bergoyang-goyang dengan riangnya.
"Pi, gak ada saus tomat lagi?" tanya Lione sambil menarik-narik lengan baju Abra.
"Oh, habis ya Sayang?"
"Oh, biar aku yang belikan." Raven turun dari kursinya dan melangkah ke meja kasir.
"Kalau gak ada saus tomat, saus barbeque atau saus keju juga boleh Ven!" teriak Abra ketika pria itu menjauh.
Raven menoleh. "Ya."
Abra beralih ke Danisa dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Gimana?" tanyanya dengan suara pelan.
"Oh, masih biasa-biasa aja."
"Apanya?" Shasa ternyata juga penasaran.
"Itu ... Raven." Abra mengarahkan dagunya pada pria yang baru saja pergi itu.
"Apa?" Shasa mengikuti arah tunjuk suaminya dan kembali ke Danisa. "Kamu suka dia?" Shasa langsung menangkap maksudnya.
"Cuek banget," gerutu wanita itu sambil mengerutkan mulutnya.
"Oh, iya. Sama aku juga gitu. Cuma sama Shasa aja yang enggak," terang Abra.
"Uh, untung aku udah nikah. Kalau enggak, dibuntutin terus tiap hari," beri tahu Shasa.
"Masa sih?" Danisa tercengang.
"Iya, bawel. Kalau aku belum pulang pada waktunya, dia pasti telepon mau jemput. Pernah waktu aku pergi dan gak pulang karena menginap di hotel sama Abra, dia marah-marah."
"Masa sih?" Abra baru mengetahuinya.
"Kalian sudah menikah waktu itu?" tanya Danisa.
"Belum," sela Abra.
"Ya pantas ...."
"Eh, aku tidak melakukan apa-apa dengannya, jangan salah ...." Pria itu menggoyang-goyangkan tangannya.
"Kami juga pisah kamar," sela Shasa.
"Tapi wajar karena itu, ia marah. Kan adik perempuannya."
Abra menoleh pada Shasa. "Aku tidak tahu Raven secerewet itu karena saat kita bertiga dia sangat santai pembawaannya," gumamnya seraya menggaruk-garuk kepalanya.
"Nah, sama aku juga begitu," terang Danisa. "Dia tak banyak bicara."
"Tapi Kak Danisa memang beneran suka sama Bang Raven? Dia itu dulu Casanova kampus lho! Pacarnya banyak," cerita Shasa.
"Masa sih?" Kini Danisa dan Abra berucap bersamaan. Mereka hampir tak percaya mendengarnya.
"Iya, tapi pas ketemu aku dia kapok."
"Kok bisa?" tanya Danisa cepat.
"Karena mantan pacarnya pernah melabrak aku karena salah paham dan sejak itu Bang Raven gak pernah pacaran lagi."
"Aneh ...," komentar Abra sambil menopang dagu dengan satu tangan di atas meja, tapi karena Raven sudah kembali mendekat, pembicaraan pun dihentikan.
"Ini saus tomatnya, masih ada." Raven menyerahkan saus tomat sachet beberapa lembar pada Lione, dan Abra membantu merobek bungkus sausnya.
"Bilang apa sama Omnya?" tanya Abra pada Lione.
"Makasih Om."
Raven tersenyum.
-------------++++------------
Raven akhirnya menghentikan mobilnya di depan rumah Danisa.
"Makasih ya?" ujar Danisa pelan.
"Mmh."
"Mmh, boleh kita ketemu lagi?"
__ADS_1
"Kamu terus terang ya?"
Danisa tersenyum. "Kamu tidak suka padaku?"
"Aku tidak punya alasan untuk membencimu."
Danisa tersenyum lebar. "Bukan itu maksudku, kamu tahu kan?"
Raven menatap Danisa dalam. "Aku punya masa lalu yang buruk. Aku pikir kau akan membenciku bila tahu hal itu."
"Kamu merasa bersalah?"
"Mmh."
"Kalau kamu merasa bersalah, itu sudah cukup bagiku."
"Jangan berkata seyakin itu. Ada hal-hal yang kadang tak terampuni."
"Tuhan saja masih bisa memberi maaf umatNya yang meminta ampun, masa kita tidak."
"Jangan bicara semudah itu."
"Cinta, memang butuh alasan untuk mencintai?"
Raven kaget dengan pernyataan cinta Danisa. Ia memalingkan wajahnya ke depan. "Cinta bisa luntur karena kesalahan masa lalu. Lagi pula, maaf, kau terlalu tua untukku."
Danisa kesal. "Dan kamu terlalu sering menghindar! Padahal masalah itu pasti akan kamu temui lagi, sejauh apapun kamu menghindar. Hanya perkara waktu saja. Jadi hadapi saja, sepahit apapun itu." Wanita itu membuka pintu dan turun dari mobil Raven.
Tanpa berkata-kata, mereka pergi ke arah yang berbeda. Raven mengendarai mobilnya ke arah pagar dan Danisa ke dalam rumah. Entah apa yang akan terjadi pada mereka kelak, mereka masih meraba-raba, tapi Danisa tahu Raven sedang menghindar dari sesuatu karena raut wajah pria itu tidak bahagia.
----------+++-----------
"Mi, Papi boleh tidur di sini kan? Tadi Papi udah sampo rambutnya sampai 2 kali lho Mi." Abra mendekati Shasa yang tersenyum manis padanya di atas tempat tidur mereka.
Wanita itu mendekati suaminya dan mencium rambutnya. "Mmh, gak papa kayaknya. Baunya aman."
"Bener Mi?" Abra langsung menjatuhkan dirinya dengan duduk di samping istrinya. Ia mendekap istrinya erat. "Sha, aku kangen gak peluk kamu kemarin, mmh ...." Ia menutup mata dan meresapi pelukan hangat pada istrinya itu.
"Mmh, aku juga."
Abra mengangkat kepalanya. "Ternyata kamu juga sama ya?" Ia menyatukan kening mereka. "Aku makin sayang sama kamu Sha. Kamu mengandung anak kita lagi."
"Tapi aku gak mau melahirkan lagi setelah ini," rengek Shasa.
"Iya."
"Ya udah, tidur yuk, sudah malam."
Shasa menelusup ke dalam selimut dan ke dalam dekap suaminya. Rasanya hangat dan terlindungi. "Susah rasanya mencari bantal yang seperti ini kemarin."
Abra tertawa seraya merapatkan selimutnya pada istrinya. "Aku juga candu pada bau tubuhmu tapi tertampar keadaan karena hanya ada Nunu yang menemani tidurku kemarin."
Keduanya tertawa. Mereka mengobrol ringan hingga mulai mengantuk dan tertidur.
------------+++-----------
Pagi yang cerah, tapi entah siang akan berganti apa. Hanya Tuhan yang tahu takdir yang bagaimana yang akan mereka lewati.
"Pagi kesayangan Mami. Sudah pada mandi belum?" Shasa memasuki kamar Lina karena disitulah tempat si kembar biasa berkumpul.
"Sudah Mi." Dengan kompak keduanya menyahut.
Shasa membawakan bekal si kembar yang telah ia buat pada 2 buah kotak bekal dan dimasukkan ke dalam masing-masing tas si kembar beserta botol minumnya. "Papi sedang mandi jadi kalian tunggu di bawah ya?" Shasa membawa anak-anak yang sudah menyandang tas mereka untuk turun ke lantai satu.
Tak lama, Abra turun dan memandang heran pada Shara yang telah berpakaian jas rapi. "Mau ketemu klien, Sayang?"
"Oh, iya."
"Good luck ya(semoga beruntung)?"
"Iya Mas. Ayo sarapan dulu."
Sebelum Abra mencapai meja, Raven datang. "Oh Ven, ayo sarapan. Sudah lama nih gak lihat kamu sarapan di sini."
"Mmh? Iya." Raven duduk bersama yang lain. Ia pun menunggu giliran mengambil nasi goreng karena Abra tengah mengambilnya lebih dahulu.
"Memangnya Om gak punya makanan di rumah?" tanya Lina yang membuat Raven tertegun.
"Eh, ngak sopan ngomong gitu sama tamu Lina, lagi pula dia Ommu," tegur Shasa.
Abra tertawa. " Makanya cepat kawin Ven, biar gak luntang lantung gak ada yang ngurus."
"Eh ...." Raven hanya menggaruk-garuk kepalanya, salah tingkah.
Seusai sarapan, Shasa langsung berangkat ke kantor sedang Abra mengantar anak-anak ke sekolah seperti biasa.
__ADS_1
"Ven, kamu udah mandi belum? Yuk, temani aku, nunggu anak-anak sekolah."
"Belum."
"Astaga ...."
"Udah ... aku temenin Kak, gak ada sensus orang mandi ini!"
Abra hanya geleng-geleng kepala.
"Aku gak bau kok. Tadi sebelum ke sini udah pakai parfum. Cium aja nih." Raven mencondongkan tubuhnya ke depan.
Tentu saja Abra mundur selangkah bersama Lina. "Aduhh ... Raven. Ya udah deh!"
Mereka kemudian berangkat bersama-sama.
---------+++----------
"Mmh, begitu ya Pak." Shasa mengangguk-angguk.
"Iya, Bu. Kami pastikan ada pengiriman seafood tiap hari tapi kita gak bisa memastikan apa yang kita dapat karena ini tangkapan bukan budidaya jadi kami hanya bisa pastikan tangkapan kami masih segar. Kami juga menyuplai ke hotel-hotel kok Bu, jadi kiriman kami standarnya sudah bagus."
"Sebenarnya perusahaan kami sudah ada yang menyuplai seafood ya, tapi tidak apa-apa. Untuk cadangan dulu. Mungkin, kami akan pesan dalam jumlah kecil dulu."
"Tidak apa-apa Bu, silahkan saja, kami siap antar kapan saja."
Pertemuan bisnis di restoran hotel itu pun berakhir. Dengan mobil yang disupiri sopir kantornya, Shasa kembali ke kantor.
Sebelum mobilnya sempat masuk ke dalam pagar kantornya, sebuah mobil menghalangi mobilnya untuk masuk. Seorang pria turun dari mobil itu mendatangi mobil Shasa. Wanita itu mengenalinya sehingga ia membuka jendela. "Eh, kamu bukannya yang kerja di stasiun TV ya?"
"Iya Bu. Masih ingat saya?"
"Iya ingat."
"Bisa Ibu ikut dengan saya?"
"Ke mana ya?"
"Ikut saja. Tidak berbahaya kok."
"Eh, sebaiknya ngomong di dalam aja Mas." Penjaga pintu gerbang yang telanjur membuka pintu, mengajak mereka semua masuk dengan sopan.
"Ada yang mau bertemu dengan Ibu, Bu. Tolong ikut dengan kami saja."
"Tapi ...." Shasa terlihat ragu.
"Mas, jangan dipaksa dong. Ibunya kan ...."
Sebuah mobil kemudian berhenti di belakang mobil Shasa dan seorang pria dengan wajah garang mendatangi satpam itu. Ia membawa pentungan.
"Ada apa ini?" tanya satpam yang membuka pagar itu.
"Ibu ikut saja dengan kami. Dengan begitu tidak akan ada yang terluka," ancam pegawai TV itu pada Shasa.
"Tapi ...." Shasa terlihat bingung.
Sopirnya pun tak bisa berbuat banyak karena ada seorang pria yang berdiri di samping pintunya.
Satpam itu ingin berlari ke dalam kantor memberi tahu yang lain tapi ia diringkus pria yang berpentungan itu.
"Ayo Bu. Aku janji ibu gak akan terluka, atau Ibu mau lihat pegawai Ibu terluka gara-gara kami?" Pegawai TV itu masih mengancam Shasa dengan nada pelan.
"Iya, iya, iya ...." Shasa pun turun dari mobil. Ia cukup takut tapi pegawainya juga adalah tanggung jawabnya. Ia mengikuti pria itu masuk ke dalam mobilnya.
"Ibuuu ... jangann!" teriak satpam itu.
Namun kejadiannya sangat cepat. Setelah Shasa masuk ke dalam mobil, pria yang lain juga menyusul masuk ke dalam mobil. Kemudian kedua mobil itu segera meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
"Ayo telepon Pak Abra. Beritahu istrinya diculik. Cepat. Biar aku lapor polisi. Aku tadi sudah mengingat nomor mobilnya," teriak Satpam itu pada supir itu.
"I-i-iya."
Sementara itu di kediaman Abra.
"Apa?!!" Pria itu berdiri dari duduknya. "Bagaimana ini bisa terjadi?!!" Suara keras Abra membuat kedua anak kembarnya yang sedang menonton TV, menoleh padanya. Ia tidak ingin membuat anak-anaknya bingung dan cemas padahal ia sendiri tengah cemas luar biasa. Ia bergerak agak menjauh dari anak-anak. "Sudah telepon polisi belum?" bisiknya.
____________________________________________
Halo reader, tetap semangat lewati hari ya? Jangan lupa komen, like dan hadiah untuk author. Ini visual Nyonya Abra setelah jadi pengusaha. Salam, ingflora. 💋
Intip novel yang satu ini.
__ADS_1