
Kevin menuruni tangga. Ia melihat pemandangan yang tak biasa, Diandra menemani ibu sarapan. Kevin berdehem seketika. Diandra menoleh.
"Kamu ke mana saja? Kok gak pernah kelihatan ada di rumah?" Kevin menghampiri meja makan.
"Males, bosen," sahut gadis itu mengerucutkan mulutnya.
"Ya kalau gitu kerjalah. Di stasiun TVku juga boleh."
"Sama Kakak yang cerewet kayak gini?" Diandra menunjuk wajah Kevin. "Ogah!"
"Lah terus, untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau cuma kelayapan?"
"Biar gak dibilang bego aja."
Kevin memutar bola matanya sambil menghela napas. Ia menarik kursi di depannya dan duduk menghadap adiknya sedangkan ibunya mengoleskan roti buat Kevin.
"Lagian kan Ayah yang minta juga," jawab gadis itu dengan santai. Ia menggigit rotinya.
"Kalau Ayah gak minta kamu kuliah, kamu gak bakal kuliah, gitu?"
"Mmh ...." Gadis itu berpikir sebentar. "Gimana ya? Kuliah ... mungkin."
"Kok mungkin?"
"Kuliah asyik sih, rame." Gadis itu tersenyum.
"Kamu kuliah karena lingkungannya, rame?"
"Iya."
Kevin tertawa tanpa suara. "Kalau gitu kenapa gak kuliah lagi saja, ambil S2. Kan otakmu encer."
"Malas, bosan."
"Andra, kamu jangan keluyuran gak jelas begitu, kamu perempuan. Nanti kalo ada apa-apa, Ibu yang pusing, ngerti gak?" Hanya Kevin yang memanggil adiknya dengan 'Andra'.
Diandra menoleh pada Ibu. "Ibu, gak akan ada apa-apa denganku Bu, aku hanya bosan. Nanti kalau bosanku hilang, aku akan pikirkan apa yang mau dikerjakan."
"Tapi ini sudah 3 bulan kamu keluyuran gak jelas begini, Diandra. Kadang kamu pergi seharian, atau pergi malam dan baru tengah malam kembali. Apa yang kamu kerjakan di luar sana Sayang?" Ibu mendorong piring yang berisi roti selai pada Kevin.
"Ke night club."
"Apa?" Ibu terperanjat.
"Ya itu kemarin Bu, pergi sama teman-teman. Aku kan gak selalu pergi ke sana."
"Andra, kalau kamu salah berteman, kamu juga bisa salah pergaulan."
Diandra yang sudah menggigit rotinya, berhenti mengunyah. "Jangan cerewet deh. Ayah aja gak segitu cerewetnya." Ia mendelik kesal pada Kevin.
Pria itu yang sudah mengunyah rotinya, berhenti sebentar mendengar ucapan adiknya dan kemudian kembali mengunyah. Ia mengambil gelas minum yang sudah tersedia dan meneguknya. "Ayah pulang hari ini."
Diandra terdiam sebentar seperti termenung tapi kemudian meneruskan makannya.
"Ibu mau nengok jam berapa, Abra?" tanya Kevin pada ibunya.
"Kak Abra pindah ya Kak?" tanya Diandra.
"Biarkan saja. Dia pindah tak ijin Ibu!" Wanita itu masih saja kesal setiap mengingat Abra. Ia merasa Abra selalu kabur setiap ia ingin memarahinya.
"Jadi kalian berdua tak ada yang mau menengok Abra?"
Diandra dan Ibu saling berpandangan.
"Sudah Ibu saja yang pergi. Nanti di cek Ayah lo Bu." Diandra memperingatkan ibunya.
"Aku mau pergi pagi ini, kalau Ibu mau, kita sama-sama ke sana," tawar Kevin.
"Ya sudah."
---------+++--------
"Kakak mau lagi rotinya?" tanya Shasa.
"Sudah, kenyang."
__ADS_1
"Oh ya, aku bawa pisau lo Kak. Kak Abra katanya mau makan buah?"
Abra menatap Shasa dengan rasa kebingungan yang dalam. Dia sebaik ini apa juga punya rasa padaku sebab aku takut ini hanyalah rasa tanggung jawab, sementara aku dengan rasaku sudah terlanjur jauh. Ah .... "Boleh ...."
"Oh, Kakak mau sekarang?"
"Eh? Apa mengganggumu?"
"Eh, enggak Kak. Bisa kok, aku gak lagi ngapa-ngapain." Shasa segera mendekati keranjang buah. "Buah apa Kak?"
"Apel saja."
Shasa mencuci lalu mengupasnya. Ia memotong buah itu sedikit demi sedikit dan menunggui Abra menghabiskan tiap potongannya kemudian dipotong lagi.
Sesabar itukah? Hah ... aku jadi ingin memeluknya. "Mmh, kau tak ingin makan juga? Rasanya enak lho!"
"Oh, nanti saja."
"Tapi aku tak bisa menghabiskannya."
"Oh, ya udah." Shasa pun ikut memakannya.
Terdengar ketukan di pintu. Suster dan dokter masuk kemudian.
"Oh dok."
"Iya ...."
Shasa segera merapikan bekas potongan apel yang dipegangnya.
-----------+++----------
Setelah mengetuk, kevin segera membuka pintu. Ia melihat Shasa sedang membantu Abra naik ke atas tempat tidur.
"Oh Kak." Abra segera mengenali siapa yang datang.
"Aku datang bersama Ibu."
Seketika, pemberitahuan itu membuat suasana ruangan menjadi kaku. Shasa yang melihat kemunculan ibu tiri Abra segera menganggukkan kepala.
"Oh, itu teman Abra Bu. Ia juga orang dari pihak iklan."
"Oh, begitu." Ibu menatap Abra membuat Shasa menepi. Wanita itu mendekati tempat tidur Abra.
Abra berusaha santai sedang Kevin berusaha mendekati Shasa.
"Kenapa kamu pindah gak bilang Ibu?" lontaran kali pertama yang langsung pada intinya.
"Aku belum memindahkan semua barangku Bu." Abra berucap seramah mungkin, walaupun sulit untuknya menerangkan.
"Oh, jadi harus menunggu kamu sudah pindah dulu baru kamu cerita ke Ibu," ejek wanita itu yang sebenarnya pada dasarnya cukup beralasan untuk marah. Ia merasa tak dihargai.
"Ibu, sudah. Abra baru saja mendapat kecelakaan Bu."
Saat netra wanita itu menoleh pada Kevin, ia terkejut. Kenapa Kevin berdua dengan gadis itu? Seketika amarahnya yang muncul pada Abra tergilas sudah.
Selain aku dan Diandra, Kevin anti wanita. Dia tidak pernah mau dekat dengan wanita manapun atau ia akan marah-marah. Sampai-sampai ia pernah khawatir anaknya tidak suka wanita tapi memang teman prianya juga bisa dihitung dengan jari karena Kevin termasuk pria egois dan kaku. Ia hanya pria hangat saat bersama keluarganya saja, karena itu ia tidak pernah awet berteman dengan siapapun.
"Kamu dekat dengannya Kevin?" Ibu langsung bertanya dengan menunjuk Shasa.
Gadis itu segera memasang wajah tegang.
"Oh, hanya teman," jawab pria itu singkat.
Namun jawaban itu malah membuat Ibu makin penasaran. Konsentrasinya terpecah antara menginterogasi Abra atau Kevin, dan ia memilih ....
"Sayang, sini sebentar." Abra memanggil. Hanya itu cara Abra menyelamatkan Shasa dari pertanyaan atau tudingan ibu berikutnya.
Sayang? Wanita itu menatap Shasa yang mendatangi tempat tidur Abra. Jadi dia pacar Abra?
Shasa bukan tidak tahu sedang ditatap ibu Abra tapi kenapa semua mata tertuju padanya? Kenapa harus ada kata 'Sayang' di depan wanita itu, apa ada peran yang sedang dimainkannya? Namun kemudian ia memilih diam dan melihat keadaan.
Abra segera menggenggam tangannya. "Tolong belikan minuman untuk ibu ya Sayang, kita gak punya cadangan minuman untuk tamu."
Masih dalam keadaan bingung, gadis itu mengiyakan. "Iya Kak."
__ADS_1
"Eh, tidak usah. Aku tidak lama di sini. Ayo Kevin, kita pulang. Anak keras kepala ini susah diurusnya!" ucap Ibu sewot.
"Ibu ...." Kevin kesulitan berada di tengah-tengah di antara ibunya dan Abra. Ia terpaksa mengikuti ibunya karena tak ingin ada keributan di depan Shasa. "Aku pulang dulu ya Bra ...."
Abra hanya menatap Ibu dan Kevin keluar dari pintu dan kemudian menunduk.
Shasa merasa iba. Ia tahu masalah Abra karena pria itu pernah bercerita dan ia bisa merasakan bagaimana mencoba berdamai dengan keluarga yang ia punya tapi tak bisa, padahal sudah maksimal mengupayakannya. "Kak ...."
"Mmh?" Pria itu mengangkat wajahnya.
"Gak bosen di sini?"
Abra hanya menghela napas dengan senyum yang dipaksakan.
"Kita keluar yuk Kak."
"Mmh, ke mana?"
"Ke taman. Aku cari kursi roda dulu ya?" Tanpa persetujuan Abra gadis itu keluar kamar. Tak lama ia kembali dengan kursi roda yang dijanjikan. Ia membantu Abra naik ke kursi roda dan kemudian mendorongnya kembali keluar kamar.
Sebenarnya Abra tak tertarik keluar kamar walaupun hatinya sedang bersedih tapi melihat semangat Shasa, ia tak ingin mematahkannya. Lagi pula tak buruk juga saat ia keluar, ia bisa memperhatikan keramaian. Kesibukan para suster yang berjalan mondar-mandir, menaiki lift, melihat antrian orang yang ingin berobat atau mengambil obat ataupun melihat tingkah orang-orang yang datang bersama keluarga.
Mereka sampai juga di taman belakang. Tidak banyak orang di sana. Ada beberapa orang tua yang sedang berjemur, ada yang duduk di bangku taman dan ada yang didorong dengan kursi roda seperti dirinya tapi kebanyakan dari mereka adalah orang sakit.
"Aku tidak mau ke sini," protes Abra.
"Lalu kita ke mana?"
"Aku bukan orang sakit. Kita kembali saja ke dalam."
Shasa terpaksa berbalik arah. "Terus kita mau ke mana Kak?" Gadis itu masih mendorong kursi roda pria itu dalam keadaan bingung.
"Mmh, aku ingin pulang ...."
Shasa menghentikan langkahnya. "Sebentar lagi kita mungkin akan pulang Kak, yang sabar ya?"
"Mmh."
Dari belakang Shasa bisa melihat Abra tertunduk. Kondisinya tidak memungkinkan melakukan apapun yang ia ingin kerjakan.
Namun kemudian pria itu mengangkat kepalanya. "Aku ingin ke kantin. Aku ingin ngopi."
"Oh, iya Kak." Akhirnya mereka punya tujuan. Shasa mengantarkannya.
Rupanya secangkir kopi hangat sangat memperbaiki mood pria itu hari itu. Hanya dengan segelas kopi cappucino kesukaannya. Mereka mengobrol di kantin hingga jam makan siang. Mereka pun makan siang di sana.
Lain lagi dengan Kevin. Ia sibuk. Karena ketidakberadaan adiknya di tempat itulah ia terpaksa mengambil alih pekerjaan Abra. Sebagian ada yang bisa ditunda tapi sebagian yang lain butuh penentuan. Ia terpaksa harus mondar-mandir memeriksa siaran dan bertemu banyak orang. Malah banyak klien yang menunda keputusan karena tidak bertemu Abra. Mereka tidak cocok berbicara dengan Kevin karena pria itu sangat kaku. Pada akhirnya Kevin menyerahkan pada anak buahnya bila ada klien yang ingin bertemu dengan adiknya.
Saat Abra dan Shasa kembali ke ruang perawatan ternyata buket bunga dan keranjang buah bertambah. Bahkan ada yang mengirim parcel berisi kue kering dan snack.
Abra sangat suka dengan kiriman makanan itu. Ia meminta Shasa membukakan untuknya.
Di sore hari dokter datang dan menyatakan Abra boleh pulang. Pria itu sangat senang mendengarnya.
Tiba-tiba pintu diketuk dan seorang pria paruh baya masuk ke ruangan itu.
"Ayah!"
Ayah? Shasa memperhatikan lagi pria itu. Pria paruh baya itu menarik kopernya ke dalam ruangan.
"Abra, bagaimana keadaanmu?"
"Beginilah Ayah," ujar Abra yang tersenyum lebar. Kedatangan ayahnya ternyata membuat pria itu tampak bahagia. Abra memperkenalkan dokter dan Shasa pada ayahnya.
Sempat pandangan mata pria paruh baya itu berhenti pada Shasa yang membuat gadis itu kembali tegang, tapi kemudian pria itu beralih pada dokter dan mulai terlibat percakapan.
Tak lama dokter dan suster pamit dan meninggalkan mereka.
Ayah Abra duduk ditepian tempat tidur dan menatap anaknya. Ia mengacak-acak poni Abra. "Kamu kenapa lagi sih pakai kecelakaan segala."
Abra tersenyum simpul sambil menunduk. "Ayah ...."
Ayah Abra menoleh pada Shasa yang masih berdiri. "Kamu ... teman Abra ya? Siapa tadi namanya ... Shasa?"
"Iya om."
__ADS_1
Wajahnya mirip dengan seseorang yang ku kenal tapi siapa ya aku lupa.