
Kevin melangkah masuk ke dalam kantor kecil itu dan mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan. Ia tak menemukan Shasa. Di mana dia?
Salah seorang karyawan yang tahu siapa yang di cari Kevin, ikut bicara. "Cari Ibu Shanum ya Pak? Orangnya sedang keluar."
"Oh, benarkah?"
Bima yang keluar dari ruang kerjanya terkejut. "Oh, Pak Kevin? Silahkan. Ada yang bisa dibantu Pak?"
"Sebenarnya ...." Kevin melipat tangannya di depan dada dan berpikir sejenak. "Sudahlah, tidak penting juga." Kevin hampir membalikkan tubuhnya ke belakang bila tidak diingatkan sesuatu oleh Bima.
"Apa? Bukannya ada yang Bapak ingin bicarakan dengan saya?" tanya Bima lagi.
Kevin melepas lipatan tangannya dan menyentuh dagu. "Mmh ...." Ia maju mendekati Bima. "Bisakah kita bicara di ruanganmu?"
"Oh, boleh, boleh. Silahkan." Bima memberi jalan untuk masuk ke ruang kerjanya.
Mereka kemudian duduk di sofa dengan saling berhadapan.
"Jadi bagaimana?" tanya Bima dengan wajah semringah.
Kevin, yang ditanya malah memperhatikan ruangan kerja Bima yang tidak besar. Ia mengedarkan pandangannya pada seluruh isi ruangan. Kecil sekali. Apa ini yang disebut ruang kerja? Sofanya pun hanya punya sofa single sepasang untuk 2 tamu saja. Hah, benar-benar miskin! Mengapa Shasa mau menikah dengan orang semiskin ini?
"Maaf, ruang kerjaku tidak besar." Bima seperti bisa membaca pikiran Kevin walau tidak sepenuhnya.
"Mmh."
"Ada angin apa ya Pak, datang ke kantorku? Mungkin ada yang ingin didiskusikan, begitu, dengan saya?" Bima masih menanyakan maksud dan tujuan.
Kevin menatap lekat-lekat Bima. Ia memulainya dengan senyuman. "Bagaimana persiapan pernikahan kalian. Kalian sudah bertunangan?"
"Aku dengan Shasa? Rencananya beberapa minggu lagi kami akan menikah. Tunangannya dilaksanakan sehari sebelumnya. Sudah ada beberapa persiapan tapi kami masih sibuk dengan pekerjaan, jadi lagi mencari waktu untuk mengurus sisanya," ucap pria itu dengan wajah bahagia.
"Oh sudah berapa persen persiapannya, sebenarnya?" Kevin penasaran.
"Oh, kami baru beli cincin kawin saja dulu. Yang lain belum."
Apa? Apa Shasa mau dibodohi oleh pria seperti ini? Jangan-jangan pas nikah, ia tak punya uang sama sekali sehingga mereka terpaksa menikah di KUA saja. Akal bulus pria ini! Lebih baik Shasa menikah denganku karena aku yakin bisa membahagiakannya. "Belum ada dana atau bagaimana, karena aku bisa meminjamkannya. Shasa adalah temanku jadi itu bukan hal yang sulit untukku."
"Oh, bukan begitu tapi terima kasih. Orang tuaku di kampung juga berniat membantu biaya pernikahan kami tapi aku tidak mau. Aku ingin menikah dengan biaya sendiri."
Sepertinya idealis sekali tapi mana mungkin aku percaya. Walaupun benar, aku tidak peduli tapi aku masih tidak rela Shasa menikah dengannya. Kevin terdiam.
"Eh, Pak. Sebenarnya apa yang bisa aku bantu, karena kebetulan Bapak datang di sini ...." Bima merasa Kevin masih berbasa-basi dan belum sampai pada tujuannya semula datang ke situ hingga ia menanyakan lagi tujuan sebenarnya mendatangi kantornya.
Kevin berdehem. "Aku hanya pikir, perusahaanmu terlalu kecil untuk klien-klien kami dari perusahaan besar sehingga aku bingung untuk menawarkan perusahaan ini pada mereka padahal mereka mau menggelontorkan dana lebih untuk proses sebuah iklan kalau bisa memperbaiki image produk yang dijualnya. Untuk itu perusahaan ini harus di retouch(perbaikan ulang) hingga terlihat cukup representatif untuk produk mereka. Mungkin kita bisa kerja sama dengan aku sebagai salah satu penanam saham di perusahaan ini. Bagaimana menurutmu?"
"Menanam saham?"
"Iya, tapi aku mau 60 persen memegang sahamnya."
Alis Bima bertaut. "60 persen? Itu sama saja dengan kamu jadi pemiliknya kan?"
"Kan aku mengeluarkan uangku, dan mungkin juga kliennya kebanyakan berasal dari klien perusahaanku jadi aku masih bertindak wajar dengan permintaan kerja sama ini kan? Kita akan pindah ke gedung yang lebih besar dengan pegawai yang lebih banyak dengan bantuanku."
__ADS_1
"Tapi aku rasa, ada kok perusahaan yang tidak melihat besar tidaknya perusahaan yang disewa selama bisa mewujudkan ide yang diinginkan."
"Iya, tapi berapa persen sih? Kecil. Kapan perusahaan ini akan jadi besar kalau kamu masih merangkak sementara yang lain sudah berlari."
Bima terdiam, tapi ia punya pemikiran berbeda. "Maaf untuk sementara aku belum ingin membangun kerja sama dalam bentuk saham dan yang semacamnya karena aku masih ingin membangunnya dengan kekuatan sendiri. Tidak apa kalau jalan kami terseok-seok dan mandek di tengah jalan karena yang pasti aku ingin melakukannya dengan caraku sendiri."
"Kenapa sih kamu bisa berpikiran kuno dan mau bersusah payah sementara banyak cara instan yang bisa dilakukan. Aku mungkin bila menawarkan ke orang lain, mereka pasti menyambutnya dengan tangan terbuka tapi kamu? Mmh, aneh! Mau bersusah payah untuk hal yang tak perlu dilakukan. Ingat, jangan menghabiskan umur untuk hal yang tak perlu karena kasihan Shasa, harus bekerja keras seumur hidupnya untuk perusahaan yang entah kapan bangkitnya." Kevin mulai mencibir karena tawarannya tak dipertimbangkan sama sekali.
"Aku yakin kamu tahu Shasa tipe orang yang seperti apa. Dia tidak membeda-bedakan orang seperti itu. Aku senang ia mencintaiku setulus hati. Bukan karena ada apanya tapi apa adanya. Dia wanita yang sangat sempurna menurutku."
Pujian itu sedikit membuat Kevin iri sekaligus panas. "Jadi kau berniat untuk membuat ia susah seumur hidupnya?"
"Tentu tidak. Suami istri yang berjuang bersama itu lebih nikmat daripada yang berjuang sendirian. Istri jadi lebih pengertian."
"Itu tandanya kamu tidak berusaha untuk membahagiakannya dengan meminta pengertiannya terus menerus." Nada suara Kevin masih terdengar kesal.
Bima kini mulai bingung dengan tujuan Kevin datang ke perusahaannya karena lagi-lagi mereka membicarakan tentang Shasa. Apa pria itu meragukan kemampuannya untuk membahagiakan gadis itu hanya karena Kevin adalah teman Shasa? Bima mulai memberi pengertian pada Kevin. "Tiap orang punya tingkatan yang berbeda-beda soal bahagia dan itu tidak bisa disamaratakan. Ada orang yang baru bahagia bila terpenuhi berbagai kondisi dan ada pula yang bahagia dengan hal-hal sederhana seperti selalu ada di sampingnya saat ia butuh. Begitulah. Kebutuhan tiap orang harus disesuai dengan keinginannya."
"Dan menurutmu, Shasa hanya butuh yang sesederhana itu?"
Bima tersenyum mendengar pertanyaan Kevin. "Hanya dia yang tahu jawabannya."
Kali ini Kevin seperti mati kutu karena tak lagi bisa membalasnya. Ia kemudian pamit.
Saat ia melangkah ke mobil, ia masih kesal. Sudah datang jauh-jauh, tapi ia tidak bisa bertemu dengan Shasa, dan Bima, pria itu tidak bisa dikendalikan. Ia pusing, dengan cara apa ia bisa memisahkan Shasa dengan pria itu karena beberapa minggu lagi mereka akan menikah hingga ia teringat seseorang. Segera ia masuk ke dalam mobil dan menelepon asistennya.
"Iya Pak."
"Tolong carikan data wanita yang waktu itu aku pecat. Kalau tidak salah bernama Rika. File-nya ada di laci meja kerjaku. Aku minta nomor teleponnya."
Kevin menutup telepon dan kemudian menjalankan mobilnya ke jalan. Tak lama asistennya mengirim notifikasi. Ia kemudian menepi dan memeriksa pesan itu. Dengan segera ia menelepon gadis itu.
Saat di telepon, Rika baru saja masuk ke kantin kampusnya. Ia terkejut melihat nomor tak di kenal meneleponnya. Apakah ada pria lagi yang tertarik padanya setelah bentuk tubuhnya yang mulai gemuk itu? Ia tak peduli dan membiarkan saja telepon itu berbunyi.
"Kok gak diangkat?" tanya Vania yang baru saja duduk di kursi yang dipilihnya.
"Males. Paling cowok iseng lagi."
"Mmh ...."
"Eh, kali aja cakep," ujar Jeslyn menyemangati.
"Ngak ah, gue lagi gak mood."
"Deeee. Kapan lu mood-nya, lu selalu jual mahal," ledek Vania.
Mereka tertawa. HP Rika kemudian berhenti berdering dan gadis itu malah bersyukur.
"Makanya lu kurusin dikit, biar banyak yang ngantri lagi," nasehat Jeslyn.
"Ah, ngapain. Gue segini aja banyak yang ngincer apalagi kurus kayak dulu. Capek gue, nolaknya."
Ketiganya kembali tertawa.
__ADS_1
"Tapi kita-kita udah punya pacar lo, cuma elu doang, masih betah ngejomblo," seru Vania.
"Iya. Ntar dipikir lo gak laku lagi. Mana berat badan lo naek terus lagi," sahut Jeslyn.
"Apaan sih lo, ngomongin berat badan mulu, sakit kuping gue!"
"Ya maaf. Cuma gue suka aja ama badan lo yang lebih kurus dari gue waktu pertama kali lo masuk kampus ini. Keren banget kayak foto model."
"Emang kenapa kalo gue milih kayak gini sekarang? Gue juga gak gemuk-gemuk amat. Gue lagi nyaman dengan gue yang begini." Rika merapikan bajunya yang terasa ketat di pinggang dan menyuap sushinya.
"Ya asal jangan kayak Lorina aja kasusnya."
"Lorina yang minta cuti setahun karena ada masalah keluarga itu?"
"Lo gak tau gosipnya?" Vania kini yang bicara. Ia berbisik sambil mendekatkan kepalanya pada kedua temannya membuat kedua gadis itu ikut-ikutan mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Apa?" tanya Jeslyn yang juga berbisik karena ingin tahu.
"Lorina kan belakangan ini juga badannya tiba-tiba gemuk dan ternyata ...."
"Apa?" tanya Jeslyn lagi.
"Dia hamil."
Rika tiba-tiba tersedak. Ia terbatuk-batuk.
"Ka, lo kenapa?" Jeslyn segera mengambil minuman Rika dan menyodorkannya pada gadis berambut panjang itu.
Rika segera menyeruputnya lewat sedotan.
"Makanya pelan-pelan Ka, makan. Apa ada yang ngomongin ya?"
"Bisa jadi," jawab Vania lagi sambil tertawa.
"Jadi yang ngamilin siapa?" bisik Jeslyn lagi pada Vania.
"Ya pacarnya lah, siapa lagi."
"Mmh ...."
Percakapan ini membuat Rika pusing. Keringat dingin mengucur di dahinya. Bagaimana kalau aku ....
Tiba-tiba dering telepon kembali berbunyi. Ia tak bisa fokus. Ketika ia melihat nomor yang sama, ia kemudian mematikannya tapi dari nomor itu, ada pesan singkat untuknya. Segera ia membukanya.
'Kau masih ingat aku? Orang yang memecatmu. Segera telepon aku atau aku akan melaporkanmu ke polisi karena telah menyebabkan seorang CEO TV terluka.'
Rika membulatkan matanya dengan sempurna. Ia segera berdiri. "Eh, aku mau ke toilet dulu ya?"
"Oh, kirain ada apa. Sampai kaget gue." Vania menepuk-nepuk dadanya karena terkejut. Berdua dengan Jeslyn mereka sedang menggosipkan Lorina.
Rika bergegas ke toilet. Di jalan menuju tempat itu, Rika bertemu dengan Raven dan teman-temannya yang sedang menuju kantin. Rika berjalan menunduk melewati mereka, dengan segala rasa yang sedang berkecamuk di dada.
Jangan sampai segalanya runyam hanya gara-gara kesalahan satu malam yang telah ia lewati bersama Raven. Jangan sampai, karena ia tidak ingin mengemis apapun pada pemuda itu.
__ADS_1
Ia menitikkan air mata tapi untungnya ia telah melewati mereka.