
"Eh, maaf. Aku tidak bermaksud mengagetkanmu." Kevin berusaha membantu Shasa berdiri. Sebenarnya ia sangat senang karena sempat mendapatkan gadis itu dalam pelukan.
"Eh, iya." Wajah Shasa merah padam saat menegakkan tubuhnya.
Danisa menahan tawa.
"Oh, syukurlah. Jadi aku gak perlu pusing lagi memikirkannya," sahut Abra senang.
Tidak dengan Shasa. Ia mengerut kening tapi Abra tak memperhatikannya.
"Kalian baru selesai syuting ya?" tanya Kevin pada Abra.
"Iya Kak. Lebih cepat dari yang direncanakan."
"Oh, bagus dong. Berarti mulai besok, kalian berdua sudah bisa bekerja di sini kan? Atau mau hari ini?" Kevin melirik pada Shasa.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitu kata pepatah. Seperti skenario yang sudah dibuat, perlahan Shasa datang padanya. Ia sudah menyingkirkan batu penghalangnya, semoga tidak ada lagi batu-batu lain yang bisa menghalangi langkah untuk mendapatkan gadis pujaan hati yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Eh, mungkin besok Kak. Aku hari ini mau periksa sebentar, kalau ada yang urgent(penting). Setelah itu langsung pulang."
"Oh, ya sudah."
"Yuk Sha," ajak Abra pada gadis itu.
"Eh, boleh aku bergabung?"
"Mmh?" Abra sedikit bingung, kenapa belakangan ini Kevin sering sekali ingin bergabung bila ia mengajak teman-temannya datang. Apalagi kalau ada Shasa. Apa sekarang ia mulai ingin bersosialisasi dengan banyak orang karena yang ia ketahui bahwa kakaknya yang satu ini termasuk tipe orang yang kaku dan tertutup. "Boleh."
Mereka kemudian bersama-sama masuk ke ruang kerja Abra sementara Abra sendiri masih di luar sibuk berbicara dengan sekretarisnya.
"Sha, bagaimana syutingnya tadi?" tanya Kevin pada Shasa.
"Lumayan lancar," jawab gadis itu singkat. Ia malas bicara dengan Kevin, tapi mau bagaimana lagi, besok pria itu akan jadi bosnya.
"Eh, Danisa. Kenapa bisa bertemu mereka?"
"Oh. Kebetulan sutradaranya adalah Kakakku."
"Oh, kebetulan sekali ya?"
"Iya, dan kebetulan juga aku mengunjungi dia jadi bisa bertemu mereka."
"Mmh ...." Mata Kevin kemudian beralih pada Shasa. "Bagaimana kalau kita makan malam bersama?"
"Oh, tapi waktu makan malam kan masih lama." Shasa mengingatkan.
"Tidak apa-apa, kita jalan-jalan dulu di Mal. Nanti aku traktir kalian semua makan malam."
Danisa sedikit heran dengan tingkah Kevin kini. Dulu dia hanya sekedar menyapa dan itu sudah yang terbaik tapi kini, ia mau duduk bersama mereka? Itu luar biasa. Jangan-jangan ... ia tertarik pada Shasa?
Terlihat dengan jelas netra pria itu hanya tertuju pada gadis itu.
"Aku mau pulang saja Kak, mau istirahat di rumah," jawab Shasa sungkan.
"Bagaimana kalau nanti malam? Aku jemput? Nanti bisa pulang dulu dan beristirahat di rumah."
"Maaf Kak aku sudah ada janji." Shasa berbohong. Ia menganggukkan kepala, sungkan.
"Janji. Dengan siapa?" Seketika Kevin penasaran.
Aduhh, kenapa dia segala ingin tahu sih? "Dengan Bang Raven."
Alis Kevin meninggi. "Bang Ra-ven?" ucapnya mengeja. Siapa lagi ini? Pria? Hati Kevin seketika memanas. "Siapa dia?"
"Oh, itu tetangga."
"Pacar barumu?" selidik pria itu ingin tahu.
"Oh, bukan. Udah seperti Kakak bagiku."
Kevin masih mengerut kening. Shasa bersikap masa bodo, tak ingin tahu pria itu percaya padanya atau tidak.
Bener, Kak Kevin suka sama Shasa tapi aku juga lihat Abra juga suka padanya. Aduhh ... bisa-bisanya ya, kakak beradik jatuh cinta pada orang yang sama, tapi apa Abra mengetahuinya?Shasa sendiri, suka sama siapa?
Pintu dibuka. Abra datang seraya tersenyum. "Untung hari ini gak ada yang urgent jadi bisa pulang. Pulang yuk Sha!"
__ADS_1
Abra tidak pernah dekat dengan perempuan selain aku, tapi Shasa yang terlihat biasa-biasa saja dan tidak terlihat istimewa, diperlakukan Abra secara berbeda. Tidak ada jawaban lain selain dia suka pada Shasa walaupun ia tidak pernah mengatakannya secara langsung padaku. Apa ... aku tanya saja pada Abra apa yang sebenarnya ia rasakan?
Ketiganya mencapai perparkiran.
"Sampai besok ya Bra." Danisa melambaikan tangan.
"Oh ya, bye." Abra membalas lambaian Danisa dan berjalan ke arah mobilnya yang bersebelahan dengan mobil Danisa. Shasa mengekor.
"Besok kamu ketemu dengannya lagi?" tanya Shasa ketika masuk ke dalam mobil.
"Oh, iya," jawab Abra sekilas. Matanya fokus pada mesin mobil yang baru dihidupkannya.
Shasa kesal. Kenapa wanita itu bolak-balik mengganggu Abra? Apa kini mereka mau pacaran, tapi ia tak berhak melarang pria itu karena ia bukan siapa-siapa Abra. Kesalnya makin memuncak.
Abra mengantarkan Shasa sampai depan kos-kosannya. Terdengar bunyi pesan masuk di HP Abra sehingga pria itu segera membukanya.
'Aku udah sampai. Kamu udah nganter Shasa belum? Aku tunggu ya?'
Abra tersenyum. Shasa merasa yakin itu pesan dari Danisa. Ia geram.
"Eh, kok belum turun?" Abra melihat heran pada Shasa.
"Eh ... mau mampir gak?" tanya gadis itu canggung. Ia tidak terbiasa menawari orang datang ke kos-kosannya apalagi pria tapi karena api cemburu sudah membakarnya ....
"Oh, maaf. Aku ada janji dengan seseorang," jawab pria itu dengan mudahnya.
Shasa merengut kecewa.
"Lain kali ya Sayang," Abra berusaha menyenangkan hati gadis itu.
"Iya." Dengan wajah ngambek Shasa turun dari mobil.
Mesin mobil kembali dihidupkan. Tak lama mobil melaju ke jalan.
"Sha, kamu baru pulang, Sha?" sapa Raven dari belakang.
Gadis itu berbalik tapi dengan kepala tertunduk.
"Sha?" tanya Raven khawatir.
"Aduhh!" Raven berjingkrak-jingkrak kesakitan.
Shasa hanya diam dan melangkah ke arah kamarnya.
"Duh, ada apa lagi ini?" Raven kebingungan.
------------+++-----------
Mereka berdua tertawa. Abra menambah lagi kola dari botol besar ke gelasnya. "Jadi besok ok ya?"
Danisa menatap pria itu lekat. "Kenapa kamu mau bersusah payah melakukan ini?"
"Untuk menyenangkannya."
"Hanya itu?" Danisa berusaha memandang jauh ke dalam mata hati pria di depannya itu. "Tidak ada yang lain?"
Abra tersenyum lebar.
"Come on, tell me! (Ayo, katakan padaku)"
Pria itu masih ragu-ragu.
"Kamu suka padanya kan?"
"Sangat." Akhirnya Abra mulai jujur pada Danisa.
"Kau tak usah membohongiku, aku tahu."
Abra masih tersenyum.
"Lalu kenapa kamu tidak katakan padanya?"
"Aku sudah pernah mencobanya tapi ditolak. Memang aku yang salah karena saat itu dia sudah punya pacar."
"Oh, begitu. Lalu sekarang?"
__ADS_1
"Dia baru putus. Aku belum berani bicara apa-apa."
"Tapi kamu harus cepat karena ada orang lain yang juga suka padanya."
"Iya, iya." Abra meneguk lagi kolanya sambil mengganti acara TV.
-----------+++--------
Pagi itu, Shasa dijemput Abra.
"Kenapa dijemput, aku kan gak minta? Lagipula stasiun TV kan dekat dari sini?" Shasa mengerucutkan mulutnya, masih kesal dengan yang kemarin.
"Ngak papa, sekalian. Yuk!"
Shasa masih memperlihatkan wajah kesalnya.
"Kamu kenapa lagi? Ngambek? Ada apa?"
"Ngak ada." Shasa segera membuka pintu.
"Nah, gitu dong!"
Ih, gak peka! Sebel! Namun tak ayal gadis itu menaiki mobil Abra. Pria itu bukannya tidak peka, tapi ia mengira Shasa kesal karena orang lain. Ia mencoba menghibur sebisanya.
Setiba di stasiun TV pun, Abra terburu-buru turun dari mobilnya sehingga Shasa terpaksa turun dengan tergesa-gesa. Pria itu malah meninggalkan Shasa seorang diri di parkiran, sedang ia bergegas masuk ke dalam gedung stasiun TV itu. Kesal bukan kepalang, tapi Shasa tak bisa berbuat apa-apa.
Di kantor Kevin, pria itu telah menunggunya.
"Oh, maaf Pak. Apa saya terlambat?" Shasa membungkuk memohon maaf. Ia merasa sudah datang lebih pagi dari jam yang ditentukan.
"Oh tidak, bukan begitu. Aku yang datang terlalu pagi," ucap pria itu dengan senyum lebar. "Silahkan duduk." Ia menyilahkan Shasa duduk di kursi sekretarisnya.
"Eh, iya." Shasa duduk di kursi di samping Kevin dan meletakkan tasnya di atas meja.
"Kau sudah sarapan?" tanya pria itu ramah.
"Oh, su-sudah." Berbicara terlalu dekat dengan Kevin membuatnya gugup.
"Ok, tinggal buka laptopmu, dan buka di bagian jadwal meeting. Masih ingat kan waktu itu aku ajarkan?"
"Oh, iya iya ...." Shasa segera membuka laptopnya dan mencari yang dibutuhkan. Sementara itu ia menyadari Kevin mendekatkan kepalanya pada wajahnya seraya melihat layar monitor. Selama pria itu tidak menyentuhnya ia berusaha fokus.
Sementara itu, tingkah laku Kevin yang sedang menyorot Shasa jadi perhatian pegawainya yang lain yang berada di kantor itu tapi ia tak peduli hingga terdengar bisik-bisik yang mengganggu konsentrasinya.
Ia pun menoleh dengan wajah marah. "Hei, kerjakan pekerjaan kalian dengan benar dalam waktu sejam atau kalian semua KUPECAT!!!" Kevin bertelak pinggang dengan mata melotot.
Buru-buru para pegawai tunggang langgang fokus pada pekerjaan mereka masing-masing. Kevin memberikan waktu yang sempit sehingga mereka harus buru-buru menyelesaikannya atau berakhir dipecat dari pekerjaan mereka. Kevin tak pernah main-main dalam berucap sehingga tak ada satu pun pegawai yang berani membantahnya.
Saat Kevin kembali beralih pada Shasa, gadis itu terlihat syok.
Mata gadis itu berkaca-kaca mendengar teriakan pria itu yang bernada mengancam pada para pegawainya.
"Kamu kenapa Sha?" Suara pria itu berubah lembut, bahkan semanis madu.
Gadis itu hanya berani menggelengkan kepalanya dan kemudian menunduk. Baru hari itu ia melihat sisi Kevin yang lain. Pria itu sangat galak dan menyeramkan.
"Aku hanya mendisiplinkan mereka saja kok, karena mereka sangat tidak tahu aturan dan sopan santun."
Dalam menunduk, Shasa mengangguk. Padahal jantungnya berdetak sangat keras. Baru kali ini ia punya atasan galak, berbeda dengan Bima yang benar-benar lembut dengannya. Ini sangat mengerikan. Bos tangan besi, tapi ia sudah terlanjur masuk dan bekerja di sana gara-gara bujukan Abra. Ia juga kasihan pada pegawai yang lain tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Sebenarnya bisa saja ia menentang apa yang diucapkan Kevin pada pegawainya tapi kembali lagi, Kevin adalah kakak Abra dan ia juga sedang dihukum Abra agar bekerja di perusahaan itu dan ini benar-benar hukuman. Ia tak bisa memilih.
Kevin menyodorkan selembar kertas pada Shasa. "Ini jadwal meeting sore ini. Tolong kamu perbaharui dan serahkan salinannya ke aku biar aku koreksi. Aku tunggu kamu di ruanganku."
"Baik Pak."
Kevin merapikan jasnya dan segera masuk ke ruangannya.
Shasa segera menyelesaikan pekerjaannya yang hanya butuh 10 menit perbaikan dan kemudian di-print. Sekilas ia menoleh pada para karyawan yang sibuk mengejar deadline(tengat waktu) dengan rasa iba. Ia merasa tak berguna.
Setelah selesai ia mendatangi ruang kerja Kevin dengan mengetuk pintu dan masuk. "Ini Pak sudah selesai." Ia menyodorkan kertas itu pada pria yang sedang duduk di sofa. Pria itu bukannya mengambil kertas itu tapi segera bergerak ke pintu dan menguncinya.
Shasa tentu saja kaget, apalagi Kevin segera menggenggam pergelangan tangannya. Kertas itu jatuh ke lantai bersamaan dengan suara meyakinkan Kevin yang tertuju padanya.
"Sha, maukah kamu jadi pacarku?"
__ADS_1