Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Puisi Rindu Yang Terkekang


__ADS_3

"Kok tumben, diem-dieman?" tanya salah satu anggota tim promosi pada keduanya. Wanita yang bernama Sarah itu bingung karena biasanya keduanya sangat kompak bersama dan terlihat kooperatif tapi kali ini keduanya seperti gunung es yang sedang disandingkan bersama, hanya melihat ke depan dan tak banyak bicara dengan lawan mainnya di samping. Ada apa dengan mereka berdua sekarang?


Abra dan Shasa yang duduk bersebelahan di meja makan, saling menoleh sekilas dengan senyum canggung yang dibuat sesempurna mungkin di depan umum.


"Eh, tidak ada apa-apa kok," jawab Shasa.


"Mmh, ok. Ini menunya tinggal pesan ya?" Sarah menyerahkan buku menu pada Shasa.


Shasa mengambil dan membukanya di atas meja agak ke tengah agar Abra juga bisa melihatnya. Ia membuka lembar demi lembar sambil mengajak bicara pria itu. "Kamu mau pesan apa?"


"Mmh." Abra malah melihat sekeliling. Para anggota tim sedang sibuk melihat buku menu. Kesempatan itu dipakainya dengan menyentuh tangan Shasa yang sedang membuka-buka lembar buku menu.


Segera gadis itu menurunkan tangannya sambil melirik Abra, kesal. Tangan pria itu masih terus mengejar tangan gadis itu di bawah meja tapi gadis itu melotot, marah dengan mengomel tanpa suara. Gerak mulutnya dikecilkan menghindari anggota tim menyadari apa yang terjadi dengan mereka.


Pria itu terpaksa menarik kembali tangannya melihat penolakan Shasa. Sebenarnya gadis itu merasa iba setelahnya karena suaminya kemudian menekukkan kepala karena putus asa berbaikan dengannya.


Mereka kemudian menghabiskan makan malam bersama dengan anggota tim promosi dengan tanpa banyak bicara.


"Mmh, aku mau jalan-jalan di sekitar sini," ucap gadis itu ketika mereka beranjak dari meja makan restoran itu.


Abra menatap gadis itu, tapi Shasa menghindari kontak mata.


"Oh, boleh, tapi hanya di dalam lingkungan hotel saja ya Mbak, karena sudah malam."


Gadis itu mengangguk dan bergegas pergi. Terlihat sekali ia tak ingin diikuti.


"Pak Abra mau ikut kami ke atas?" tanya Sarah yang merupakan kepala tim promosi.


"Eh, saya juga mau jalan-jalan di sini sebentar. Meluruskan kaki, he he he. Malas tidur terus di kamar." Pria itu mengusap belakang kepalanya.


"Oh, ya sudah. Kami duluan ya Pak."


Keempat orang itu pamit pada Abra. Pria itu hanya menganggukkan kepala dan mereka pergi.


Abra sebenarnya khawatir pada gadis itu dan ingin berbaikan lagi dengannya tapi tidak leluasa di tempat ramai seperti itu sehingga ia berniat membuntuti gadis itu. Ia berusaha mencarinya.


Sha, kamu di mana? Jangan bikin aku khawatir padamu. Aku kangen manjamu, cerewetmu, ngambekmu walaupun sekarang kamu lagi ngambek sama aku. Aku kangen Sha. Jangan bikin aku gila seperti ini!


Sha, kamu ngerti gak sih, kita gak bisa egois begitu. Dengarkan apa yang dikatakan Ayah. Itu semata-mata untuk kebaikan kita berdua, pernikahan kita. Pernikahan yang memang hanya dihadiri penghulu dan kerabat kita, tapi Sha, ini yang terbaik untuk kita sekarang ini. Jangan bikin yang aneh-aneh dan meninggalkanku sendiri lagi. Aku rindu.


Pencarian Abra terhenti ketika melihat istrinya sedang duduk di taman sendirian, tapi ketika ia mencoba mendekat, gadis itu melihatnya dan langsung beranjak dari kursi taman. "Sha ...."


"Aku ingin sendiri. Kamu tak ingin aku kabur kan? Jadi biarkan aku sendiri," ucap gadis itu cepat.


"Cepat kembali, aku rindu," ucap pria itu lirih. Hanya itu yang bisa ia sampaikan dan membiarkan gadis itu kembali duduk di kursinya. Ia mengalah. Yang penting ia tahu istrinya sedang berada di mana. Ia akhirnya kembali ke kamar.


Pria itu berbaring di atas tempat tidur dengan melipat tangannya di belakang kepala dan menekukkan kaki dengan menyilang seraya menatap langit-langit kamarnya. Ia resah. Bukan maunya menunda keinginan istri tapi keadaanlah yang memaksa. Ia juga tak ingin pernikahannya menyakiti perasaan ibu tirinya dan membuat orang-orang menuding buruk pada mereka berdua. Ia tak sanggup melihat istrinya terluka. Ia hanya tidak mengerti kenapa istrinya malah marah padanya, ia masih tidak mengerti itu.


Lamunanku tentangmu adalah dinding yang terkoyak


Kau terkoyak sangka dan aku terkoyak rindu


Biruku padamu masih biru


Belum abu


Jangan sampai kugenggam adamu tapi hatimu jauh

__ADS_1


Aku lumpuh


Tolong


Penapun tak mampu tuangkan rasaku


Penat dan haus, rindu kasihmu


Jangan biarkan aku terus mengembara di sungai sepi dan berkubang resah


Duhai Dayitaku


Senja yang kau tulis pun tak sanggup menampung rindu yang terbuang ini


Hanya kau, kelinci kecilku yang sanggup menyulam rindu ini menjadi baju yang bisa memeluk takdir


Takdir antara kau denganku


Sesekali waktu Abra mengintip keluar menunggu istrinya datang, tapi gadis itu belum juga nampak kembali ke kamarnya.


-----------+++----------


Wanita itu memperhatikan gerak-gerik Rika sedari tadi hingga akhirnya gadis itu jengah.


"Kenapa?" tanya Rika heran sambil mengunyah makanannya.


"Ngak, Mbak ini makannya banyak dan udah gemuk tapi ya ... kok bisa tetep cantik ya? Pakai perawatan apa Mbak?"


Seketika, seisi ruangan tertawa kecuali Rika dan wanita itu. Rika merengut.


"Eh, Fitri. Kamu gak boleh gitu, gak sopan. Nanti kalau ibu hamilnya diet gara-gara kamu nanti kasihan bayinya, ntar. Takut ileran." Ibu menyentuh lengan anak perempuannya. Ia beralih pada Rika. "Ya udah, kamu mau apa lagi. Silahkan diambil aja." Ia mengajak kembali Rika mengambil makan yang tersedia.


"Ya udah, gak usah dipikirin. Kalau kamu lapar ya makan aja. Kan katanya kamu cantik walaupun gemuk," bujuk Bima lagi.


Rika menyembunyikan wajahnya di belakang punggung suaminya dan masih merengek. "Tapi aku genduuut ...."


Bima tersenyum dan mengusap pucuk kepala istrinya. "Ngak papa biar bayinya sehat. Nanti juga kalau melahirkan jadi kurus lagi."


"Bener?" tanya gadis itu manja dan mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah pria tampan di hadapannya.


"Iya," bujuk Bima dengan senyumnya.


Gadis itu mengambil potongan pizza di atas meja dekat sofa dan kembali duduk di tepian tempat tidur di samping suaminya. Ia makan seraya menggerak-gerakkan kakinya. "Mau?" Ia menyodorkan pizza itu ke mulut suaminya dan pria itu menggigitnya. Mereka mengunyah bersama sambil tersenyum.


-----------+++----------


Shasa baru saja membuka pintu kamarnya ketika Abra muncul membuka pintu kamar di sampingnya. Gadis itu terkejut dan segera masuk kamar, tapi ternyata suaminya mengikutinya sehingga ia tidak sempat menutup pintu. Ia mundur seketika.


Pria itu segera masuk dan menutup pintu. Ia mendekati istrinya tapi gadis itu malah melangkah mundur. "Sha ...."


"Aku bilang aku ingin sendiri!" teriak gadis itu kesal.


"Apa ... rinduku ini terlarang untukmu? Aku ini suamimu Sha."


"Apa karena kau suamiku, aku harus menuruti semua yang kau mau? Kenapa tidak menikah saja dengan boneka?!!"


"Sha!!" Abra berusaha menekan suaranya tapi masih saja terdengar kencang.

__ADS_1


Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Bulir air matanya mulai berjatuhan. "Kenapa? Apa aku salah? Di mana letak salahku? DI MANA LETAK SALAHKU?!!" Kini gadis itu menyerang Abra dengan memukuli dada pria itu bertubi-tubi. Pria itu tidak marah, bahkan bergeming. Ia merangkul pinggang gadis itu dengan segenap perasaannya. Ditahannya rasa sakit akibat pukul istrinya yang masih saja menghujam dadanya tapi ia bergeming. Ia tetap tegak berdiri menerima semua rasa sakit di tubuh dan hatinya ... berharap badai cepat berlalu.


Pelan tapi pasti pukulan itu mulai melemah. Tinggal tangisan yang memilukan hati yang tersisa dari mulut gadis itu. Pria itu mulai mengusap punggungnya dan merangkul tubuh istrinya itu hingga gadis itu kelelahan dan bersandar padanya. Isak yang tersisa hanya tanda penyerahan diri karena sudah lelah menangis dan memukuli pria itu. Abra membawanya ke tepi tempat tidur dan perlahan membaringkan tubuh mereka di atas tempat tidur itu dengan masih berpelukan.


Abra tak berani membahas masalah itu. Ia hanya ingin, istrinya ... kembali lagi dalam pelukannya. Ia masih mengusap punggung istrinya sampai gadis itu tertidur. Ia pun memejamkan mata dan tidur sambil memeluknya erat.


-------------+++------------


Pagi yang indah, tapi pagi itu istrinya sholat lebih dulu dan tak mau bicara pada Abra.


Pria itu memaklumi dengan tidak membuatnya jadi masalah. "Sayang, apa kita pesan makanan di kamar saja?"


Gadis itu hanya mendengarkan tapi tak memberi komentar apa-apa. Bahkan tak peduli dan mencari pembersih make up-nya di koper dan duduk di kursi dengan meja yang memiliki cermin besar di depannya. Ia segera membersihkan bekas make up-nya semalam.


"Kamu ingin sarapan apa? Omelette? Sosis? Roti?"


Gadis itu meliriknya saat Abra menyebut roti.


"Ah roti. Roti tawar atau croissant?"


Gadis itu masih sibuk membersihkan wajahnya.


"Roti bakar?"


Gadis itu kembali meliriknya.


Abra kembali ingat, Shasa suka sekali roti bakar, tapi roti bakar dengan mentega. Lalu pakai apa lagi ya? "Roti bakar dengan mentega saja?"


Gadis itu kembali meliriknya.


Aneh, aku belum pernah lihat dia makan roti bakar hanya dengan mentega saja. Namun Abra tetap memesannya.


Sepuluh menit kemudian, makanan itu datang. Abra bisa melihat sendiri bagaimana istrinya memang menyukai roti bakar hanya dengan diolesi mentega. Shasa yang merasa di perhatikan, jengah. Ia melotot pada suaminya, kesal.


"Oh, enggak. Aku kok gak pernah tahu ya kalau kamu suka roti bakar model begini," gumam pria itu juga pada diri sendiri. Ia sendiri mengoles roti bakar dengan selai coklat.


Seusai sarapan, Abra kembali ke kamarnya. Mereka kembali bersama ketika pergi ke Mal bersama tim promosi dengan menggunakan baju kaos yang telah dibagikan kemarin.


Siang itu Mal mulai ramai. Ada banyak stan-stan menjual makanan dan pakaian dan juga barang-barang kebutuhan rumah tangga lainnya di tengah Mal di lantai satu. Juga ada panggung hiburan yang diisi dengan lomba yang melibatkan anak-anak.


Walaupun Shasa dan Abra adalah Brand Ambassador produk yang diiklankannya tapi ia di bebaskan bergerak untuk melihat-lihat tempat itu dan menonton acara. Mereka hanya diharuskan datang saat diperlukan.


Shasa sempat melihat-lihat barang yang dijual di stan yang ada dan Abra menemaninya. Tak lama mereka dipanggil untuk menjadi bintang tamu di acara masak-masak yang dipandu oleh Chef Alfian, Chef yang terkenal karena mempunyai acara TV di 2 stasiun TV swasta. Chef muda dan tampan itu mengajak keduanya memasak bersamanya.


Shasa membantu memotong bahan makanan dan Abra memasaknya. Chef itu kagum pada Abra karena pria itu ternyata cekatan memasak. "Ini pasti sering masak ya?"


"Ah, kalau bosan saja," jawab Abra sambil tersenyum.


"Kalau Mbak Shanum, pasti baru belajar."


Gadis itu tersenyum dan mengangguk.


Aduh Mak, gadis ini tidak cantik tapi senyumnya sangat menggoda. Pria itu memberikan selembar kartu pada Shasa. "Ini alamat restoranku. Kamu bisa datang dan aku bisa mengajarimu memasak."


Seketika riuh penonton saat melihat adegan ini. Apalagi acara itu ditonton banyak orang dan masuk TV.


____________________________________________

__ADS_1


Ada novel rumah tangga baru nih! Intip yuk!



__ADS_2