
"Makanya jangan suka nindas orang. Kalau lo terpuruk seperti ini, siapa yang akan berada di pihak lo, ngebelain lo kalau bukan keluarga sendiri? Jangan berpikir saat lo kuat lo gak butuh orang lain karena suatu saat lo akan lemah. Saat itu lo akan tahu siapa yang masih sayang sama elo."
Dalam tangis Rika mengangguk dan mempererat pelukan. Saat ini hatinya sangat kacau dan butuh tempat bersandar. Ia kini butuh orang-orang yang bisa memberi dorongan agar ia bisa melanjutkan hidupnya sebagai single parent(orang tua tunggal) bagi anaknya.
"Cowok mana yang ngelakuin ini sama lo? Lo gak lagi teler kan waktu ngelakuin itu?"
Rika malah makin memperkeras tangisannya.
"Aduuh, kalo gitu lo asal pilih orang dong? Cowok brengsek ya? Ah, gila lo!"
Rika mencubit pinggang Damar.
"Aduuhh!"
Rika melepas pelukan. "Lo tega banget sih lo ngomong gitu sama adek lo!" Ia memukul bahu Damar sambil merengut.
"Aduh!" Damar masih menggosok-gosok pinggangnya yang dicubit Rika. "Lah, siapa yang nolak ada cewek cantik nyodorin diri lagi mabok? Di mana-mana yang salah ceweknyalah."
Rika kembali menukul bahu pria itu. "Kok gue yang salah? Ya cowoknya lah yang salah, karena manfaatin cewek yang lagi mabok!"
Damar terkejut. "Jadi bener lo ngelakuinnya pas lagi mabok?"
Rika mencubit pipi Damar keras-keras.
"Auuhh!"
"Awas aja lo ngadu sama Mama Papa!"
Siapa yang ngadu, lo ngomong sendiri!
Di balik pintu Mama dan Papa Rika mendengar semua. Sengaja mereka meminta tolong Damar karena pria itu dianggap dekat dengan adiknya. Damar dimintai tolong untuk mengorek keterangan siapa pria yang menghamili adiknya itu dan mereka kini semakin bingung setelah mendengar penuturan Rika sendiri karena bisa saja Rika tak mengenal pria itu sama sekali.
"Gimana Pa?" tanya Mama pada pria di sampingnya.
"Aku juga makin bingung ini. Ah!" Papa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Apa Rika benar-benar tidak tahu siapa yang menghamilinya?"
"Papa sih terlalu memanjakannya jadi Rika makin hari makin tak punya tujuan. Susah Pa, kalau sudah begini tapi ... kemungkinan Rika tahu siapa orangnya," pikir Mama lagi.
"Benar itu Ma?"
"Aku tidak tahu. Ini cuma perkiraan Mama saja."
"Mmh."
"Jadi menurut Papa kita harus bagaimana?"
"Kita bujuk dulu, semoga saja ia tahu siapa yang menghamilinya karena Papa ingin dia punya suami yang jelas sebab tidak mungkin Papa menikahkan dia dengan orang lain karena pastinya tidak ada yang mau menikah dengan wanita yang sudah hamil anak orang lain kan?" terang pria paruh baya itu bingung. "Lain ceritanya kalau dia masih gadis seperti dulu, pasti banyak yang ingin menikah dengannya. Kolega Papa saja banyak yang ingin menjodohkan dengan anaknya setelah melihat Rika, tapi sekarang situasinya beda. Rika memang cantik tapi tak ada yang menginginkan anaknya. Bila pun ada yang mau mereka pasti minta Rika menggugurkan kandungannya atau memberikan anak itu pada panti asuhan. Anak itu biar bagaimanapun adalah anugerah. Aku takkan tega melakukan hal itu."
Tiba-tiba terlintas ide dipikiran Mama. "Atau bagaimana kalau kita sembunyikan saja dia di dalam rumah sampai Rika melahirkan lalu setelah itu kita bisa nikahkan dia dengan orang lain setelah badannya kembali seperti semula."
"Lalu bayinya?"
"Kita sebagai nenek kakeknya saja yang membesarkannya."
Adam terdiam sejenak. "Yang pasti kita cari tahu dulu siapa yang menghamilinya. Kalau soal itu, itu bisa jadi opsi terakhir kita."
Mama menghela napas dalam-dalam. Ia menatap suaminya yang tengah pusing dengan putri kesayangannya. Ia menyayangi pria itu karena walaupun hidupnya malang karena tidak punya keturunan tapi ia bisa menyayangi anak mantan istrinya itu dengan sepenuh hati seperti juga ia menyayangi Damar anaknya tanpa terkecuali. Ia jatuh hati dan berjanji setia pada pria itu karena kebaikan hatinya.
------------+++-----------
Shasa keluar dari kamar dan mengunci pintu.
"Sha, mau kuanterin?" Namun kemudian Raven menilik pakaian Shasa yang berbeda. Seperti ingin berpergian. "Eh, kamu mau ke mana?"
"Deket kok Bang."
__ADS_1
"Ke mana? Oh, ke rumah Pak Abra ya?" Pemuda itu sudah bisa menebak.
"Iya."
"Mau jalan-jalan?"
"Mmh?" Shasa memperhatikan pakaiannya. "Nggak, cuma mau ke supermarket. Mau belanja."
"Ha?"
"Aku jadi model iklan lagi Bang. Sekarang aku harus meranin jadi suami istri sama Pak Abra. Jadi dia ngajakin masak-masak di apartemennya biar bisa deket lagi kayak dulu pas iklan pasta gigi supaya saat pengambil adegan gak sulit."
"Oh, gitu, tapi iklan pasta giginya masih ada tuh wara-wiri di TV. Ah, makin laris aja kamu," puji Raven.
"Amin. Makasih Bang," jawab Shasa senang. "Aku berangkat dulu ya? Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Pemuda itu memperhatikan saja ke mana gadis itu melangkah, sampai jauh.
Shasa tiba di apartemen Abra sepuluh menit kemudian. Ia tidak melihat Abra hingga mencari ke kamarnya. Kali ini ia mengetuk pintu. "Kak." Ia membuka pintu dan melihat Abra sedang tertidur. Ia menghampiri dan duduk di tepian tempat tidur sambil memperhatikan wajahnya. "Kak."
"Mmh." Abra bergerak sedikit dan membuka matanya.
Pria tampan memang tetap tampan kalau lagi tidur ya, Shasa terpesona tanpa sadar.
"Shasa? Kamu sudah datang? Sudah bikin sarapan belum?"
Gadis itu menarik tangan Abra dan menepuknya. "Iss, emang kamu ngomong sama siapa?" Shasa cemberut.
"Istriku." Abra tertawa. Pria itu membuat wajah gadis itu merah padam seketika.
"Ih!" Gadis itu mencubit lengan pria itu, kesal.
"Aduh!"
Lalu menarik tangan pria itu agar keluar dari tempat tidur. "Ayo keluar!"
"Iya nanti dibikinin. Mau apa?"
"Omelet sama sosis goreng."
"Telur dadar aja. Aku gak bisa bikin omelet."
"Ya udah. Sama kopi."
"Iya, iya."
Shasa akhirnya berhasil menarik pria itu keluar kamar dan Abra menyukainya. Pria itu sebenarnya sudah sejak tadi bangun tapi karena menunggu gadis itu datang, ia kembali tidur. Gadis itu menyadarinya kemudian setelah Abra memilih menunggu di kursi sofa sambil menonton TV. "Kak Abra sudah mandi?" Ia memindai pakaian Abra yang baru.
"Sudah dong."
"Lalu kenapa tadi pura-pura tidur?" Shasa melipat tangannya di dada.
"Gak pura-pura. Aku ketiduran."
"Oh ...." Shasa memperhatikan pria itu.
"E sumpah, aku gak bohong."
Shasa melangkah ke dapur sambil masih tetap melirik Abra.
"Sumpah Sha, aku gak bohong." Abra memperlihatkan telunjuk dan jari tengahnya pada gadis itu yang membentuk huruf 'v'.
Akhirnya gadis itu tak mempermasalahkan dan melanjutkan untuk memasak sarapan. Lima belas menit kemudian, sarapan terhidang lengkap dengan kopi, sesuai permintaan Abra. Pria itu menyambutnya dengan senang hati. Mereka kemudian sarapan bersama.
-------------+++------------
__ADS_1
Kevin bingung, sedari tadi Abra belum juga muncul di kantor padahal sudah mendekati jam makan siang. Biasanya Abra tidak selama itu kalau pergi mengecek studio di luar. Ketika mengecek pada Sekretaris adiknya, ia baru tahu kalau Abra mengambil cuti selama seminggu karena mendapat tawaran untuk jadi bintang iklan lagi. Seketika ia ingat Shasa. Sial, dia sudah mendahuluiku! Ia mengambil HP-nya dan menelepon Abra. "Halo?"
"Oh, halo Kak."
"Kamu sedang di mana?"
"Di apartemen Kak."
"Oh, aku dengar kamu cuti karena dapat tawaran main di iklan lagi ya?"
"Oh iya, benar. Maaf ya Kak, handle kantor dulu karena aku mau pendalaman karakter dulu sekaligus syuting. Mudah-mudahan seminggu cukup. Kalau gak, ya terpaksa tambah waktu cutinya." Abra tertawa. Terdengar sepertinya ia sangat senang.
"Oh, jadi benar kamu jadi bintang iklan lagi ya? Lawan mainnya siapa? Apa ...."
Terdengar suara orang menangis. Seketika Kevin berhenti berbicara dan memasang telinganya baik-baik. Ia yakin itu suara Shasa.
"Ada apa Sayang?" Abra berbalik dan bertanya sambil melepas HP-nya dari telinga.
"Aku gak tahan Kak, pedih." Shasa terisak.
"Pelan-pelan saja Sayang. Kalau masih pedih berhenti dulu. Kita gak buru-buru kok, namanya juga masih belajar." Namun kemudian Abra ingat masih menelepon Kevin. Ia buru-buru meletakkan HP-nya di telinga. "Oh, maaf Kak, aku lagi sibuk. Sudah ya?" Ia segera memutuskan hubungan telepon itu.
Kevin syok. Ia bertanya-tanya dalam hati, sedang apa Shasa berdua dengan Abra di apartemen. Kenapa gadis itu menangis? Ia panik dan bergegas ke parkiran untuk menaiki mobilnya. Ia ingin mendatangi apartemen Abra, segera!
Sementara di tempat lain, Shasa sudah mulai terbiasa memotong bawang. Awalnya memang pedih di mata tapi akhirnya ia bisa melakukannya. "Yeiiii, aku bisa Kak!" ucapnya sambil bersorak, membuat Abra tersenyum simpul melihat sifat kekanakan gadis itu muncul tiba-tiba.
"Itu bisa ... Ya udah sekarang kita tumis ya? Aku yang tumis, kamu yang masukin bahannya."
Shasa kemudian melakukan seperti yang Abra minta, tapi kemudian HP Abra berdering.
"Kak, telepon!"
"Nanti saja, tanggung!" Abra masih mengaduk-aduk tumisan, hingga bunyi dering telepon berhenti, tapi kemudian bunyi HP itu terdengar lagi.
"Kak, bagaimana?"
"Ya udah tolong gantikan aku sebentar, aku akan angkat. Mungkin penting."
Shasa menggantikan Abra menumis.
"Nanti kalau sudah matang, matikan saja apinya," pinta Abra. Ia segera mengangkat HP-nya yang ternyata dari Kevin. "Aduh Kak, ada apa lagi? Aku lagi sibuk ini."
"Aku sudah di bawah," ucap Kevin datar.
Aduh, ada apa lagi ini, Abra mengusap keringat di keningnya. "Iya, iya aku turun." Abra melepas celemeknya dan segera menaiki lift. Begitu sampai di bawah ternyata Kevin sudah menunggunya di depan pintu lift. Pria itu segera masuk sehingga Abra kembali menekan nomor lantainya hingga pintu di tutup kembali.
Kevin menatap adiknya yang berkeringat dengan curiga. "Kamu sedang apa?"
"Masak."
"Apa?"
"Masak. Kenapa Kakak menatapku aneh begitu?"
Kevin salah tingkah mengira adiknya melakukan sesuatu berdua dengan Shasa di kamar apartemennya sehingga ia terlanjur panik berpikir terlampau jauh padahal mereka sebenarnya sedang memasak. "Eh, tidak. Ingin bertemu Shasa saja." Suaranya memelan dengan sendirinya.
"Ya udah. Kebetulan mau makan siang, aku undang Kakak makan di apartemenku."
Tentu saja Kevin senang karena sudah lama tidak bertemu Shasa. "Makasih tapi bagaimana ceritanya kalian bisa jadi bintang iklan lagi?"
"Oh, sebenarnya banyak tawaran, tapi Shasa tidak mau. Belakang aku membujuk dia dan akhirnya untuk iklan ini dia mau."
"Oh, begitu."
Pintu lift terbuka. Mereka kemudian melangkah mendatangi apartemen Abra. Begitu pintu di buka, terlihat Shasa sedang menata makanan di atas meja. "Oh Kak Kevin."
__ADS_1
Kevin tentu saja terpana. Sudah sebulan lebih ia tak bertemu gadis itu, dan kini gadis itu kembali ia temui dengan pesona yang masih memikat.
"Masuk Kak," ajak Abra melihat kakaknya masih berdiri di depan pintu.