
Si kembar berada di barisan kedua dengan Lione di depan Lina. Bukan apa-apa. Walaupun Lione Kakak tapi dia kalah tinggi dari Lina yang juga terlihat cantik.
Ibu-ibu banyak yang memperhatikan si kembar milik Abra yang tak mirip satu sama lainnya itu, karena yang perempuan cantik dan yang laki-laki mulai dikenal sebagai penyanyi. Bahkan ada di antara mereka yang diam-diam mengambil foto mereka saat sedang berbaris.
Abra tidak begitu memusingkannya. Ia menunggui ketika guru itu memanggil orang tua dari tiap anak di mulai dari urutan paling depan, dan secara bergilir para orang tua mengambil anak mereka. Yang belum dijemput akan berdiri di samping guru mereka.
"Gwelione, Gwelina!"
Abra maju untuk menjemput si kembar.
"Semoga sukses manggungnya nanti malam ya Lione," ucap guru si kembar, sambil mengusap pucuk kepala Lione. Gurunya pun tahu Lione akan manggung nanti malam.
"Terima kasih Bu," jawab Abra sopan.
Si kembar mencium punggung tangan gurunya sambil mengucap salam.
"Assalamu'alaikum."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam," jawab Bu guru.
Abra menggandeng kedua anaknya menuju mobil. Setelah semua naik, mobil pun bergerak pulang.
"Pi, kok Lione gak latihan nyanyi, Pi," tanya Lina heran.
"Lione mau latihan?" tanya Abra pada Lione yang duduk di sampingnya sedang Lina duduk di belakang.
"Memang harus Pi?" tanya Lione balik.
"Kalau tinggal sehari lagi sebaiknya kamu istirahat, gak usah latihan lagi. Belajar relaks, kecuali kamu tidak hapal lagunya, boleh latihan."
"Kok gitu Pi?" tanya Lina ingin tahu.
"Ya, karena sehari sebelumnya penyanyi gak boleh stres biar nyanyinya bisa All out, menampilkan yang terbaik."
"Oh, gitu ya Pi."
Tak lama, mobil pun sampai ke rumah. Sebuah rumah megah bertingkat 2 dengan taman yang luas di depan dan di belakangnya.
Anak-anak keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Hei, hati-hati. Jangan berlarian nanti jatuh." Terdengar dering telepon. Abra mengambilnya dari saku celana. "Halo? Hei ... kau sudah kembali?" Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Tak lama ia menutup teleponnya.
Abra menyusul anak-anak ke lantai 2. Di sana, Lina dan Lione punya kamar sendiri-sendiri. Sedari kecil mereka diajarkan mandiri. Pria itu hanya memeriksanya sesekali waktu.
Ia memasuki kamar Lione. Bocah itu tengah mencari baju ganti di dalam lemari pakaian. Dilihatnya tas sekolah Lione masih berada di atas tempat tidur. Pria itu kemudian memindahkannya ke atas meja belajar.
Lione yang sudah mengeluarkan pakaian dari lemari, meletakkannya di atas tempat tidur.
Abra kemudian duduk di tepi tempat tidur. "Sini, Papi bantu." Ia melepaskan kancing baju sekolah anaknya dan Lione menanggalkan pakaian. "Tadi main kotor-kotor gak? Mau mandi?"
Bocah itu menggeleng.
"Ya sudah."
Dengan cepat Lione mengenakan pakaiannya.
Abra mengusap kepalanya. "Cuci tanganmu dulu ya?"
"Iya Pi."
Pria itu kemudian beralih ke kamar yang satunya, kamar Lina. Gadis kecil itu telah berganti pakaian dan kamarnya telah rapi. Lina termasuk gadis kecil yang rapi dan disiplin.
"Sudah cuci tangan belum?" tanya Abra pada putrinya.
"Udah Pi."
Lione ikut mengintip di belakang Abra.
"Kamu mau main sama Lina?" tanya Abra pada bocah itu.
"Mmh ...." Lione memiringkan kepalanya. Ketika datang pada pilihan, sulit sekali bicara dengan bocah satu ini.
"Hah ...." Pria itu memutar bola matanya. "Kalau gitu, kamu main dulu sama Lina sampai kamu bisa mutusin mau ngerjain apa." Abra mengangkat bocah itu ke dalam kamar Lina. "Papi mau ke bawah dulu, mau nunggu teman Papi."
"Apa? Teman Papi?"
Lina ikut-ikutan ingin tahu dengan memiringkan tubuhnya ke arah pintu. "Teman Papi? Cewek apa cowok Pi?"
"Cewek."
Lina segera turun dari tempat tidur dan menghampiri. "Lina boleh ikut gak Pi?"
Melihat saudara kembarnya datang, Lione langsung berpegang pada celana panjang ayahnya. "Lione juga Pi," katanya tak mau ketinggalan.
__ADS_1
"Oh, ya udah. Ayo turun yuk!"
Mereka bertiga kemudian turun. Abra menunggu di ruang tengah sambil menonton TV, tapi masalahnya, sebentar kemudian TV langsung dikuasai anak-anak. Mereka menonton serial kartun kesukaan mereka berdua. Abra terpaksa menemani.
Tak lama pembantu rumah tangga membukakan pintu untuk seorang tamu wanita yang masuk ke dalam rumah. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Masuk Nisa ...." Abra berdiri dari duduknya dan menyambut Danisa yang mendatanginya ke ruang tengah.
Si kembar menatap tamu yang baru datang itu.
"Eh, ini kenalin anakku Lina dan Lione."
"Oya? Lucu-lucu ya wajahnya." Danisa memberi senyum dan menyalaminya satu-satu.
"Mereka anak kembar," terang Abra.
"Masa? Asyik dong. Ngak capek nunggu langsung keluar dua."
Abra tertawa. Mereka kemudian duduk di ruang tengah sambil mengobrol.
"Kamu juga udah ada di Jakarta 2 tahun yang lalu kenapa gak pernah menghubungi aku," tanya Abra.
"Masalahnya aku lagi ngurusin bisnis ayah yang terbengkalai karena dia sakit. Jadi terpaksa aku ambil alih. Ayahku kan kena stroke, Bra."
"Astaga, maaf aku gak tahu. Terus sekarang gimana?"
"Ya terus, aku ngurus perusahaan dan ayah yang sakit, jadi praktis gak bisa ke mana-mana. Alhamdulillah, sekarang ayah sudah bisa jalan lagi tapi aku sekarang yang menjalankan perusahaannya jadi aku gak punya waktu hang out bareng teman-teman yang lain. Aku kan dari modelling tiba-tiba disuruh pegang perusahaan pastinya butalah, Bra. Aku mulai dari nol lagi belajar tentang perusahaan, makanya aku sibuk banget."
"Mmh, dan sekarang?"
"Alhamdulillah, udah banyak kemajuan. Kemarin aja aku baru pulang dari luar negri untuk lihat kemungkinan ekspor."
Si kembar Lina dan Lione begitu antusias dengan tamu barunya itu. Keduanya memang menyukai bertemu dengan orang-orang baru. Bersemangat tapi malu-malu.
Layaknya anak kecil, keduanya bermain-main di sekitar Abra. Kadang duduk di pangkuan pria itu dan kadang duduk di lantai bersandar pada kaki ayahnya. Mereka memperhatikan Danisa yang duduk santai di sofa yang sama dengan Abra.
Mereka memperhatikan gaya duduknya, cara bicaranya bahkan saat wanita itu tertawa, terlihat sekali dia akrab dengan ayah mereka. Sampai-sampai mereka melupakan serial TV yang tengah mereka nonton.
Tak lama, seorang pembantu membawakan teh untuk tamu dan kudapan. Mereka juga melihat tamu itu mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya.
Danisa sadar menjadi perhatian kedua anak Abra. "Ini berdua pada merhatiin aku, apa di rumah jarang ada tamu?" tanya Danisa heran.
Abra menarik Lina yang sedang berdiri di sampingnya. "Oh, enggak. Anak-anak memang suka gitu kalau ada orang baru. Aslinya ingin berkenalan tapi malu," terang Abra menahan tawa. Ia mendudukkan gadis kecil itu di tengah-tengah antara Danisa dan dirinya.
"Gwelina Tante, gitu." Abra mengajari.
"Oh ... Gwelina, di panggil Lina?" Danisa menepikan poni gadis kecil itu.
"Tante, teman Papi di mana?" tanya Lina ingin tahu.
Abra tertawa.
Lione selalu tertarik apa yang dikerjakan Lina karena gadis kecil itu lebih berani dari dirinya. Ia berdiri dan bersandar pada pangkuan Abra. Pria itu menyentuh tubuh Lione yang bersandar pada kakinya.
"Tante teman Papimu dari SMA, Sayang," terang Danisa merapikan rambut panjang Lina.
"Sudah lama ya?"
"Oh, iya. Sudah lama sekali."
"Oiya, kamu masih lama di sini kan? Makan siang bareng di rumahku ya?" ajak Abra.
"Mmh, istrimu mana? Kerja ya?"
"Iya, dia juga mengurus perusahaan orang tuanya."
"Lho, jadi kamu pengangguran?"
"Ngak juga. Aku ngurusin anak bergantian sama istri. Kebetulan S2-ku sudah selesai tinggal wisuda."
"Wah hebat! Sudah S2 ya? Ngiri aku. Ya udah. Aku hari ini main saja di sini."
"Berarti bisa ikut nonton Lione manggung dong ntar malam?"
"Apa?"
Abra pun menceritakan kesempatan yang di dapat Lione.
"Wah, hebat ya? Ada satu anakmu yang menurunkan darah seni darimu. Ok, aku ikut lihat tapi nanti pulang dulu."
Mereka pun berbincang hingga makan siang. Saat makan siang, Shasa pulang bersama ... Raven.
"Oh, kamu ...." Danisa menatap Raven.
Raven pun sama terkejutnya dengan Danisa. Abra dan Shasa saling melihat Danisa dan Raven.
__ADS_1
"Kalian sudah saling kenal? Aku baru saja mau mengenalkan," ucap Abra dengan senyum.
"Eh, kami berkenalan di pesawat kemarin," terang Danisa.
Abra dan Shasa kembali memperhatikan mereka berdua.
"Jadi kalian ...." Abra bingung mengartikan.
"Jadi dia teman Shasa?" Danisa menyimpulkan sendiri hubungan Raven-Shasa.
"Oh, bukan. Raven itu Kakak angkat Shasa." Abra melirik Raven. "Ini Nisa temanku di SMA."
"Oh," jawab Raven singkat.
"Oh, Shasa punya Kakak angkat?"
"Ya, begitulah." Abra kembali beralih pada Raven. "Ayo duduk. Biasanya kan kamu ikut makan di sini?"
"Iya Kak."
Shasa dan Raven pun bergabung dengan makan bersama. Danisa sangat bahagia. Pria yang ditaksirnya kembali ia temukan tanpa sengaja. Berdebar hatinya, saat bisa berdekatan lagi dengan pria itu. Mungkin ia punya kesempatan untuk mendekatinya.
"Gimana Mi, kata dokternya?" tanya Abra penasaran.
"Sudah tiga bulan, dan kandunganku sehat."
"Akhirnya." Mata pria itu berkaca-kaca.
"Shasa hamil?" Danisa memastikan.
"Iya, Kak," jawab Shasa sambil mengangguk.
"Alhamdulillah ya, dapat lagi satu lagi ya? " Danisa menepuk bahu Abra.
Pria itu, matanya masih berkaca-kaca. "Alhamdulillah." Ia berucap syukur. "Mulai sekarang, jangan capek-capek Mi," protesnya.
"Justru dokter menyuruhku agar tetap beraktivitas agar bayinya sehat."
"Masa sih Sha?" Pria itu tak percaya.
Danisa tersenyum melihat Abra yang begitu protektif pada Shasa, demikian juga Raven. Pria itu juga tahu, Danisa juga sering mencuri pandang pada dirinya ketika sedang makan.
"Kan kondisiku beda dengan kandunganku dulu lho Mas. Aku saja diberi vitamin agar sehat terus selama beraktivitas."
Lina menyentuh lengan ibunya. "Mi, jadi Dedek bayinya ada Mi?"
Shasa menoleh pada Lina di sampingnya dan mengusap belakang kepalanya. "Iya, Sayang."
"Asyik ... kita punya Dedek ya Lion?" tanya Lina pada saudara kembarnya.
Lione tersenyum.
"Ven, ntar malam jadi gak ikut nonton kita manggung?"tanya Abra.
"Oh, jadi dong!"
"Oya, Nisa juga ikut. Apa kamu bisa jemput Nisa?"
Oh, I love you, my brother. This is brilliant(Oh, aku sayang kamu saudaraku. Ini sangat hebat), batin Danisa senang.
"Oh." Raven melirik Danisa ragu.
"Oh, ayolah! Rumahnya searah kok, kalau mau ke stasiun TV," terang Abra.
"Oh, ya udah."
Danisa kegirangan dalam hati. Ia punya kesempatan, akhirnya.
Seusai makan siang Raven pulang ke rumahnya dan Shasa kembali ke kantor diantar supir.
"Raven tinggal di mana Bra?" tanya Danisa penasaran.
"Oh dekat kok, 3 rumah dari sini."
"Apa?"
____________________________________________
Reader, masih semangat baca? ini visual Lione dan Abra yang dikeriting bersama. Salam, ingflora💋
Ada novel out going baru author ya, bertema time travel. Yuk intip dan kasih semangat.
__ADS_1