Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Pertengkaran


__ADS_3

Pria macam apa itu, memuja para pria kaya? Kalau aku jadi dia takkan kuberikan Shasa pada siapapun, semiskin apapun aku.


Namun kemudian, Damar merasa aneh dengan pikirannya sendiri. Apa ... aku jatuh cinta pada sepupuku sendiri?


Dilihatnya Shasa yang sedang melangkah memasuki gedung apartemen itu. Ia menatap punggung gadis itu hingga hilang dibalik pintu masuk gedung itu. Gadis itu ... sejak kapan rasa ini berubah jadi seperti ini?


Shasa masuk ke dalam apartemen tapi tidak menemukan Abra. Bahkan ke dalam kamarnya. Ia segera menelepon pria itu. "Kakak di mana? Kakak belum pulang? Masih di kantor?"


"Iya, kerjaanku selama ini banyak yang tertunda. Aku udah harus mulai menyicil pekerjaanku satu-satu."


"Lho emang gak ada yang gantiin kerjaan Kakak?"


"Ngak ada lah, aku kan yang ngurusin hariannya mana mungkin ada yang gantiin."


"Kak Kevin gak bisa?"


"Kan dia GM, kalau untuk sementara bisa tapi gak maksimal."


"Ya udah Kak Kevin aja. Kak Abra kan butuh istirahat."


"Gak bisa begitu Sha. Saat ini saat yang paling penting. Stasiun TV akan berulang tahun jadi aku harus buat acara spesial di hari ulang tahunnya yang tinggal 3 minggu lagi dan sampai sekarang acaranya belum di buat satupun. Tim Kreatif butuh aku untuk persetujuan ide dan yang lainnya, kalau aku gak ada di tempat pekerjaan jadi terhambat."


"Ya tapi Kakak gak harus tinggal di kantor juga selama ini karena Kakak butuh istirahat. Nanti Kakak gak sembuh-sembuh."


"Sha, tulang yang retak atau patah itu selama tidak melakukan banyak gerakan akan bergerak menyatu lagi dengan sendirinya. Kamu pikir orang tidur itu tidak bergerak? Tinggal diminimalisir aja gerakannya. Aku gak keluar ruangan kok, banyak duduk jadi kamu gak perlu khawatir."


"Tapi istirahat diam dengan istirahat tidur itu beda Kak. Lagipula ini sudah diluar jam kerja, Kakak berhak pulang."


"Iya benar, aku berhak pulang tapi aku tidak mau. Pekerjaanku jauh dari kata selesai dan kalau kamu gak mau nunggu aku, ya udah pulang aja. Aku gak maksa. Udah ya Sha, aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." Abra menutup teleponnya. Ia malas berdebat dengan Shasa karena ada banyak hal yang lebih baik ia kerjakan selain dari berdebat dengan gadis itu.


Shasa kesal. Ia segera keluar dari apartemen Abra sambil memesan ojek online.


Damar melihat Shasa keluar halaman gedung dan naik motor. Ia mengikutinya dengan mobil hingga ke stasiun TV. Mau apa dia ke sini? Apa pria itu belum pulang?


Tanpa mengetuk, gadis itu masuk ke dalam ruang kerja Abra. Sontak kedatangannya mengagetkan seluruh Tim Kreatif yang baru saja datang dan kini duduk mengelilingi Abra di kursi sofa tamunya.


Shasa pun terkejut. Ia tidak mengira begitu banyak orang datang dalam ruangan itu karena di depan, Sekretaris Abra sudah pulang dan pegawainya di luar tinggal beberapa orang. Gadis itu segera menyingkir ke kursi meja kerja Abra demi untuk tidak membuat masalah walaupun dengan wajah masam.


Abra memang sedikit terkejut melihat Shasa menyusulnya tapi kemudian ia berusaha fokus untuk menyelesaikan diskusinya.


Tim Kreatif juga sedikit enggan dengan kedatangan Shasa apalagi gadis itu datang dengan mulut cemberut sehingga pembicaraan menjadi singkat. Tak lama mereka pamit keluar ruangan.


Abra bukan tak menyadari hal itu. Ia kesal dengan kedatangan Shasa yang membuat pegawainya enggan berdiskusi dan lalu pamit pergi. "Sha, kamu mau apalagi sih?"


"Kesel, kamu belum juga istirahat." Matanya mengacuh.


"Apa pedulimu? Seharusnya kan kamu ngurusin pacarmu itu bukan ngurusin aku."


Gadis itu segera tegak berdiri. "Ih, apaan sih! Aku kerja, bukan pacaran!" terang Shasa sewot.


"Ya itu bukan urusanku. Aku kan sudah bilang, kalau kamu gak sanggup nunggu, ya udah pulang saja. Kan bisa besok? Mungkin saja aku pulang langsung tidur, jadi kamu gak usah repot ngurusin ini itunya karena gak ada yang perlu kamu kerjakan!" Nada suara pria itu mulai meninggi.


Shasa mendatanginya dan mulai memukuli dada pria itu dengan kesal. "Dan besok tanganmu kram dan kamu kesakitan." Bulir air matanya mulai berjatuhan seiring pukulan tangannya melemah.


Abra segera meraih tangan itu. Ia tak tahu perasaan apa yang sedang berkecamuk di hati gadis itu tapi satu hal yang ia tahu, gadis itu sedang mengkhawatirkannya. "Sha," ucapnya dengan suara pelan.


Gadis itu segera menarik tangannya dan menghapus air mata yang terlanjur mengalir. "Ya udah. Silahkan saja teruskan pekerjaanmu yang bodoh ini. Sustermu ini terlalu cerewet ya?" Ia segera berlari ke pintu, membuka pintu itu dan berlari lagi keluar.

__ADS_1


Tentu saja Abra pusing kepala. Ia tidak bermaksud membuat gadis itu menangis. Akhirnya mau tak mau Abra mengejarnya. "Sha!" Ia meraih tangan gadis itu tapi Shasa menepisnya. "Sha!" Ia terpaksa mendorong gadis itu ke dinding dengan kekuatan satu tangan. Gadis itupun menghentikan langkahnya.


Shasa masih berusaha menghindari pandangan Abra karena malu habis menangis. Ia mengusap sisa-sisa air mata seadanya.


"Sha, maaf. Aku minta maaf." Hanya itu mungkin yang bisa meredakan gejolak hatinya. Semoga.


Gadis itu hanya diam. Tertunduk.


"Ok, kita pulang."


Tanpa banyak bicara mereka kemudian pergi keluar dari gedung itu. Shasa memesan taksi online.


Damar yang mengamati dari kejauhan sedikit heran. Oh, jadi pria ini juga harus dijemput? Apa ini perintah Bima? Hei, lama-lama aku juga kesal dengan Bima. Hanya aku yang boleh memerintah Shasa semaunya, bukan dia. Belum jadi suami saja sudah banyak mintanya apalagi kalau kalian sudah menikah? Kalian menikah saja aku tidak setuju, batin Damar geram. Oh, jadi nih nantinya Shasa akan jadi pesuruh untuk mendekati pria-pria kaya, iya? Aku takkan rela kau jadikan Shasa-ku seperti itu. Kenapa Shasa mau saja sih pacaran sama dia? Aku yakin Bima tak bisa apa-apa makanya minta bantuan Shasa. Ingin rasanya aku lindas saja pria ini.


Abra dan Shasa memasuki sebuah taksi yang menghampiri mereka. Taksi itu membawa mereka sampai ke apartemen.


Di dalam apartemen, Abra kemudian duduk di sofa dan Shasa di sampingnya. Gadis itu mulai melepaskan kancing baju pria itu.


Abra menatap lekat gadis itu yang wajahnya mulai kemerahan. Ada apa denganmu hari ini, kenapa kau sensitif sekali? Apa kau tadi bertengkar dengan pacarmu atau ada masalah di kantor? Ia sangat ingin menanyakan itu tapi tak berani. Ia hanya cukup dengan menghela napas.


Shasa terkejut mendengar helaan napas Abra. "Kenapa?" Dahinya berkerut.


"Eh, enggak. Kerjaan kantor." Pria itu tidak ingin membebani pikiran gadis itu dengan apapun.


"Oh."


Kembali lambat-lambat ia memperhatikan gadis itu. Kenapa kamu berubah seperti ini, kan aku jadi kepikiran. Ah! Kenapa maksudku menjauh jadi semakin dekat.


Abra bermaksud menyibukkan diri dalam pekerjaan tapi hasilnya mereka malah bertengkar dan saling mengkhawatirkan.


"Sudah Kak." Gadis itu tersenyum karena telah melepaskan perban instan Abra.


Di luar Damar menunggu di mobilnya. Menunggu hingga Shasa keluar. Setengah jam kemudian gadis itu keluar. Damar bersiap-siap ingin mengikuti gadis itu tapi kemudian ia heran karena gadis itu pergi dengan berjalan kaki.


Ke mana dia pergi? Apa dia tidak pergi pulang ke kos-kosannya? Ini sudah selarut ini ....


Pelan ia mengikuti gadis itu dari jauh dengan mobilnya. Setelah melewati gedung apartemen, gadis itu belok ke arah pemukiman penduduk. Tak lama gadis itu memasuki sebuah area kos-kosan satu lantai di kawasan pemukiman padat penduduk.


Kos-kosan itu lumayan luas halamannya sehingga bisa memenuhi keinginan penghuninya untuk punya tempat parkir untuk kendaraan mereka yang kebanyakan motor.


Melihat Shasa masuk ke sana, mobil Damar juga ikut masuk. Pria itu segera turun dan mengejar Shasa. "Sha." Ia meraih lengan gadis itu.


Gadis itu yang sudah berdiri di depan kamarnya terkejut. "Bagaimana kamu tahu aku di sini? Kamu ngikutin aku ya?"


"Iya. Memang kenapa?"


Shasa mengerut dahi. " Untuk apa lagi kamu mencariku?"


"Aku ingin lihat kamarmu, boleh?"


"Enggak."


"Sha."


"Aku gak ngijinin kamu masuk ke kamarku."


Damar menautkan alisnya. "Sha, kamu kok pelit sih!"

__ADS_1


"Biarin!"


"Ya udah, kamu ikut aku. Temenin aku makan malam." Pria itu meraih tangan gadis itu tapi Shasa menepisnya.


"Nggak! Pergi aja sendiri."


"Sha."


"Enggak."


Damar kesal. Ia kembali meraih tangan gadis itu tak peduli gadis itu mau atau tidak.


"Eh, aku bilang enggak, enggak!" Shasa berusaha menarik kembali tangannya tapi tidak bisa. Pria itu menggenggamnya erat-erat. "Damar, lepaskan aku!" Ia mencoba memukuli pria itu sebisanya tapi pria itu tidak peduli. Ia menyeret Shasa ke mobil.


Sebelum pintu mobil dibuka seseorang berdiri di hadapan mereka. "Hei, apa kau tuli! Dia bilang lepaskan!" Matanya melotot.


"Raven ...." Shasa terkejut.


"Urusan apa lo! Gue ini sepupunya!" ujar Damar tak kalah galak.


"Dan gue tetangganya."


Damar mendengus kasar.


"Denger gak?!! Lepasin!!!" Raven mendekatkan wajahnya mengancam sambil menggantung kedua tangan di kantung celana jinsnya.


"Kalo gak mau emang kenapa?"


Raven menyeringai nakal.


Bukk!


Raven telah melayangkan bogem mentahnya ke arah wajah Damar. Pelipis Damar memerah dan pegangannya terlepas.


Shasa mundur.


"Mau lagi?" Raven mengangkat kepalan tangannya ke arah Damar membuat pria itu ciut dan mundur sambil melindungi wajahnya. Ia benar-benar geram dengan tingkah pria yang mengaku sepupu Shasa.


"Su-sudah Kak." Shasa segera memegangi lengan Raven yang satunya. Saat itu juga, kemarahan pemuda itu reda.


"CEPET PERGI LO DARI SINI sebelum gue HAJAR lagi lo sama mobil lo sekali!!" ancam Raven sambil menendang mobil Damar di samping dengan kesal.


Tentu saja Damar takut karena pertengkaran itu sempat membuat beberapa orang di kos-kosan mengintip keluar dan ada beberapa warga sekitar juga ikut berdatangan ke tempat kejadian. Sebelum terjadi apa-apa pada dirinya, ia lebih baik menyingkir. Pria itu segera menaiki mobil dan membawa mobilnya keluar dari tempat itu.


Kesempatan itu dipakai Raven untuk menarik Shasa ke depan kamarnya dan bicara. "Aku ingin bicara denganmu."


Mau tak mau Shasa tak bisa menolaknya karena pemuda itu telah menolongnya. Lagipula ia merasa ada kesalahpahaman di antara mereka yang ia ingin tahu sebabnya. "Ya sudah, tapi jangan di dalam kamarku, di sini saja."


Raven mengeluarkan HP-nya dan mencari sesuatu. Ia kemudian memperlihatkan sebuah foto pada Shasa. Foto seorang gadis.


"Eh, dia mirip aku." Shasa terkejut.


"Itu! Karena itu, aku pikir itu kamu," jelas Raven.


_____________________________________________


Cerita yang manis. Coba cekidot deh cerita author ini.

__ADS_1



__ADS_2