
"Udah!" Shasa memukul dada pria itu pelan agar melepas pelukan karena tangisnya mulai surut.
Raven melonggarkan pelukan. Ia mengarahkan wajahnya pada gadis itu. "Maaf ya?"
Shasa berusaha mendorong pria itu dengan kasar sehingga pelukannya terlepas. Raven terdorong ke belakang.
"Itu urusanmu!" Shasa menghindar ke arah lain tapi dengan cepat Raven meraih tangan gadis itu.
"Tunggu dulu Sha, aku minta maaf."
"Pergi ...!" Shasa berusaha lepas dari genggaman pemuda itu tapi lagi-lagi gagal. "Raven!"
"Aku gak mau lepas kalau kamu gak maafin aku!"
Shasa benar-benar kesal. Ia menghapus air matanya dengan kasar dan berdiri tegak menghadap pemuda itu. "MAAF ITU, tidak bisa dipaksa. Kalau aku tidak memberikan maaf, memangnya kenapa?" tanyanya dengan berani.
Raven melepas genggaman tangannya dan menunduk. Baru kali itu ia tak berkutik mendengar pertanyaan seorang gadis. "Jangan tinggalkan aku dong Sha. Aku udah senang ketemu kamu, eh kamu malah terus patahin aku begitu aja. Aku tuh ketemu kamu tuh rasanya seperti ketemu keluarga sendiri yang udah lama gak ketemu. Hidupku sepi sebelum ini karena aku tuh gak punya teman bicara. Entah kenapa saat ketemu kamu tuh rasanya nyambung aja bisa langsung menghidupkan dunia aku yang udah lama tenggelam. A-aku tau kamu bilang aku orang asing tapi gak begitu perasaanku padamu Sha. Hahh ... aku gak pinter bicara tapi kalau kamu pergi dari hidupku, ke mana lagi aku harus mencari orang sepertimu Sha, ke mana lagi?" Ia mengangkat kepalanya.
Shasa menatap pemuda di hadapannya itu melalui kedua bola matanya, berusaha melihat kesungguhan pemuda itu. Sepertinya Raven mulai mengemis pengertian.
"Tapi aku memang tidak kenal kamu. Walaupun aku tidak punya siapa-siapa sekarang tapi sulit buatku mengenal orang baru apalagi kamu memaksa masuk dalam hidupku dengan dalih aku mirip adikmu. MIRIP kan, tapi aku bukan dia dan selamanya BUKAN dia."
Raven terkejut mendengar isi hati gadis itu. Selama ini ia memaksakan kehendak atas dasar penderitaannya tapi tak pernah sekalipun ia mencoba mendengar sisi orang yang dipaksanya. Ia baru sadar segala sesuatu yang dipaksa hanya akan membuat satu pihak senang dan belum tentu pihak lainnya juga begitu dan ia menyadarinya berkat Shasa.
"Jadi bagaimana? Aku terlanjur suka padamu."
Tiba-tiba Shasa teringat sesuatu. "Ah, aku harus ke tempat Pak Abra. Ini sudah telat!" Ia melihat ke HP-nya dan kembali panik.
"Ayo, aku antar!" Raven menarik tangan Shasa dan membawanya ke mobil.
"Tapi ini udah telat."
Raven membukakan pintu untuk Shasa. "Ya udah, kamu langsung ke apartemen aja. Gak usah pulang. Abang anterin kamu."
"Abang?"
"Udah iyain aja. Aku kan lebih tua darimu." Raven membantu menutup pintu. Kemudian ia masuk di sisi yang satunya. Setelah itu ia langsung membawa mobilnya keluar dari area perparkiran restoran itu. Ia mulai menaikan kecepatan.
"Kak, jangan ngebut." Shasa berpegang pada dashboard, ketakutan.
"Abang!" Raven mengingatkan.
"I-iya, Abang."
"Kau sudah pasang seatbelt-mu?"
"Sudah."
"Ok." Raven malah menambah kecepatan membuat Shasa semakin khawatir.
"Bang!" Shasa menyentuh lengan Raven, ngeri tapi itu malah menambah semangat Raven untuk mempercepat laju kendaraan karena gadis itu akan berpegang erat-erat padanya.
Pria itu tersenyum miring.
"Bang!!"
Sepuluh menit kemudian, mobil Raven sampai ke apartemen Abra. Ia mematikan mesin mobilnya.
"Bang!! Ih!" Shasa mencubit lengan Raven kuat-kuat.
"Auuhhh!" Raven mengusap-usap lengannya. "Sakit ...," keluhnya.
"Jantungan tau!" Shasa protes sambil membuka pintu mobil. Ia segera turun.
Namun anehnya, kali ini Raven mengikuti Shasa.
"Kamu mau apa, mengikutiku?" tanya Shasa heran.
"Aku tadi belum makan Sha. Mungkin di rumah Pak Abra ada makanan, aku mau minta."
Shasa membulatkan mata dan langsung merentangkan tangannya. "Eh, eh, enak saja. Gak boleh. Main masuk-masuk rumah orang aja."
__ADS_1
"Ayolah Sha. Boleh ya? Aku udah laper banget nih Sha. Ngebut lagi, ke sininya. Malah tambah laper lagi jadinya." Raven mengusap-usap perutnya.
"Gak boleh! Aku kerja di sini, bukan malah tambah beban. Apa kata Pak Abra nanti."
"Oh, kamu kerja?" Pemuda itu terlihat heran. "Tapi coba aja. Pak Abra kelihatannya baik, mungkin dia malah memperbolehkan."
"Apa?"
Raven mengangguk dengan wajah meyakinkan.
Shasa ingin menolak tapi ia dilema. Karena mengantar dirinyalah, pria itu kini kelaparan tapi kalau pria itu tidak mengajak dia pergi juga tidak begini kejadiannya. Plus, pria itu juga lama menantinya di kos-kosan hingga semua kesalahan kini mengarah pada dirinya. Eh tapi, kenapa kesalahan semua ditimpakan pada diriku, ini tidak adil!
Ia menghela napas. Ia ikut bertanggung jawab karena pria itu kini kelaparan. Shasa menelepon Abra. "Halo."
"Shasa, kamu kenapa lama, tumben. Oh, pergi sama Bima ya?"
Shasa tak tahu bagaimana mengatakannya. "Eh, Kak, aku boleh bawa teman gak ke sana? Eh tapi, kalau gak boleh juga gak apa-apa." Ia memicingkan satu matanya dan menggigit bibir.
"Teman? Oh, siapa itu namanya ...."
"Raven."
"Raven ya? Ya sudah, cepat saja." Diluar dugaan, Abra mengiyakan.
Shasa menutup teleponnya.
"Gimana? Boleh gak?" tanya Raven penasaran.
Shasa menatap Raven, tapi pemuda itu langsung tahu jawabannya.
"Boleh kan? Ya udah ayo!"
Dengan menghembuskan napas pelan, gadis itu melangkah memasuki gedung apartemen diikuti Raven hingga mereka mencapai apartemen Abra. Pria itu sedang menonton tv di sofa saat pintu dibuka.
"Oh, maaf ya Pak, aku terlambat." Shasa bergegas mendatanginya.
"Gak papa. Aku takut kamu kemalaman pulangnya."
"Tapi untung ada temanmu yang menemani." Abra menunjuk dengan dagunya pada Raven.
"Maaf Pak numpang masuk ke dalam." Raven menganggukkan kepalanya.
"Ayo Pak!" ajak Shasa.
"Oh, ya." Abra mengerti kode itu. Ia segera berdiri dan keduanya melangkah ke kamar Abra.
"Eh, kalian mau ke mana?" tanya Raven bingung. Kenapa dia ditinggal?
"Ke kamar Pak Abra. Kan perbannya mau dilepas," terang Shasa.
"Eh, kan kalian bukan Mahramnya, masa berduaan di dalam kamar?" tunjuk Raven pada keduanya.
Wajah Shasa merah padam. "Eh, aku kan kerja bukan ngerjain yang lain-lain."
Namun Abra melihatnya berbeda. "Tapi mungkin memang sebaiknya di luar saja daripada membuat orang menduga-duga."
Shasa kesal, tapi apa yang dikatakan Raven benar sehingga keduanya kembali ke arah sofa dan duduk di sana.
Shasa mulai membuka kancing kemeja pria itu dan sedikit risih karena pemuda itu memperhatikannya. Raven juga melihat wajah gadis itu memerah dengan sedikit kecanggungan yang kentara. Dilihatnya perban instan yang mengikat tubuh Abra.
Karena tak ingin mengganggu konsentrasi Shasa, Raven menoleh ke arah lain.
Abra yang juga ikut canggung, merasa lega. Dengan itu ia bebas memandang bidadari pujaannya yang kini sedang melepaskan kemeja pria itu.
"Eh, kenapa wajah mu sedikit basah?" Abra baru menyadari gadis itu wajah hingga jilbabnya juga ikut basah. Walau sudah mulai kering, tapi terlihat sedikit kuyup.
"Eh, tadi habis cuci muka tapi kena jilbab juga," kilah Shasa.
"Oh."
"Eh, apa Pak Abra gak punya makanan? Roti gitu misalnya," tanya Raven lagi.
__ADS_1
Aduh, aku lupa. Aku tadi mau menyarankan belanja delivery saja tapi keduluan Raven yang sudah tanya soal makanan. Aduh malunya ..., batin Shasa.
Sedang Abra kesal karena Raven mengganggu konsentrasinya. Ia berdehem sebentar sambil mengenyit dahi untuk mengganti konsentrasinya. "Aku tak punya roti tapi aku punya nugget dan telur di lemari es."
Abra dan Raven menoleh ke arah Shasa.
"Kamu bisa masak ngak Sha?" tanya Raven.
"Masakkan juga nasi Sha, aku juga belum makan," imbuh Abra.
Gadis itu menghela napas pelan. Setelah melepaskan perban di lengan Abra, pria itu pergi ke kamarnya sedang Shasa segera memasak. Sambil menunggu nasi masak, ia memasak telur dadar dan nugget. Raven sibuk menonton TV.
Setelah Abra kembali, Shasa hendak memasangkan kembali perban Abra tapi pria itu menolaknya.
"Nanti aja ya? Beri jeda agak lama. Tanganku mulai kram lagi, akhir-akhir ini. Makanannya sudah jadi belum?"
"Coba sebentar, aku cek nasinya dulu." Shasa beranjak dari samping Abra.
Sementara, Raven yang tak kuasa menahan lapar dan bau makanan yang terhidang di meja, ia mengambil nugget satu dan mengunyahnya.
"Bang!" tegur Shasa.
"Satu aja, udah laper nih!" Raven memegang perutnya.
"Ini nasinya sudah matang."
"Oh, iya."
Abra datang dan bergabung dengan mereka di meja makan. Pria itu dengan tanpa baju atasan seperti itu memperlihatkan otot di lengan atas selain tubuhnya yang atletis itu.
"Suka olahraga raga ya?" tanya Raven yang duduk di sampingnya. Ia masih meneruskan mengunyah nugget di tangannya.
"Kok kamu tahu?"
"Dari bentuk badan Bapak aja aku udah tau." Raven menatap lekuk tubuh Abra yang bagus.
"Kamu enggak?"
"Ngak suka olahraga Pak."
"Pantas tubuhmu juga kurus sekali. Pasti susah makan ya?"
"Ngak juga sih. Biasanya makannya kalau lagi laper aja. Beda kalau ngerjain tugas kampus, malah cepet laper."
"Oh, kamu kuliah?"
"Iya."
Sambil menyusun nasi dan piring di atas meja, di lihatnya Abra dan Raven cepat akrab. Shasa kemudian mengambilkan mereka nasi.
Tak lama kemudian mereka berdua selesai makan. Shasa mencuci piring sementara kedua laki-laki itu sibuk bicara. Gadis itu menguap setelah menyelesaikan cuciannya. Ia mendekati keduanya. "Pak, aku pasangkan perbannya ya? Sudah larut malam."
"Oya."
Shasa memasangkan perban dengan mata sedikit mengantuk dan kedua laki-laki itu menyadarinya.
"Maaf ya Sha, malem banget," Abra tak sampai hati melihatnya.
"Gak papa Pak, aku juga salah. Telat datangnya."
Shasa dan Raven kemudian pamit.
Shasa segera bersandar miring pada jok mobil. Raven membiarkan saja gadis itu tidak memasang seatbelt karena jarak yang hendak di tempuh mobil sangat dekat.
Tak butuh waktu lama mobil Raven sampai ke tempat kos-kosan mereka tapi yang jadi masalah adalah Shasa sudah tertidur di mobil memunggungi pemuda itu. Raven tersenyum.
Ia keluar mobil dan mendatangi kamarnya. Tak lama, ia keluar lagi membawa jaket. Jaket itulah yang ia letakkan menyelimuti tubuh Shasa.
Pasti melelahkan sekali ya, mengikuti egoku semalaman ini, padahal kamu sudah sangat lelah bekerja. Raven mengusap pucuk kepala Shasa. Biar Abang temani kamu tidur di sini malam ini ya?
Raven kemudian menurunkan sedikit sandaran kursinya sebelum ia bersandar di kursi menyetir itu. Tak lama, ia pun tertidur.
__ADS_1