Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Perayaan


__ADS_3

"Eh ...." Shasa berusaha berpikir cepat. "Ini waktunya kerja Pak. Bapak kan ingin pegawainya disiplin, Bapak juga harus memberikan contoh. Iya kan Pak?"


Seketika mulut Kevin terkunci. "Eh, iya ... tapi apa bisa dijawab saja soalnya itu ...."


"Aku percaya kepemimpinan Bapak diakui karena bisa dipercaya memberi contoh yang baik pada karyawannya."


"Eh, itu ...."


Shasa lalu diam dan menatap Kevin.


"Ck, ah! Ok, aku sabar menunggu." Kevin melepas genggamannya. "Jam makan siang kan ya?"


Shasa mengangguk. Ia memungut kertas yang terjatuh lalu memberikannya pada Kevin. "Ini Pak."


"Ok." Kevin memeriksanya, lalu setelah itu meminta gadis itu memperbanyak agar bisa di gunakan untuk meeting. Setelahnya, mereka meeting dengan karyawan kantor.


Shasa diminta mencatat, apa-apa saja perubahan yang terjadi saat meeting agar bisa meng-update(memperbarui) data yang ada.


Kepemimpinan Kevin memang 'Tangan Besi'. Di dalam meeting hampir tidak ada diskusi. Semua ditentukan oleh Kevin. Ia juga tidak mentolerir kesalahan yang akibatnya akan fatal bagi yang mengerjakannya. Tidak main-main, pemecatan adalah hukumannya. Karena itu tidak aneh tidak banyak pegawai pria itu yang merupakan pegawai lama, sebab banyak pegawai yang diberhentikan secara mendadak olehnya tanpa diberi kesempatan untuk berusaha memperbaikinya. Shasa hanya geleng-geleng kepala.


Kevin juga marah-marah di meeting itu karena minggu ini pegawainya jauh dari memenuhi target yang diminta.


Ada satu pegawai yang tidak bisa memenuhi target jauh dari yang diminta karena ia sempat sakit. Kevin hampir saja memecatnya kalau tidak Shasa yang menolongnya.


"Pak maaf, tapi ini berat sebelah, Pak. Dia kan sakit dan juga punya surat keterangan sakit. Harusnya kan diberi kesempatan untuk memperbaikinya."


Ucapan Shasa membuat semua orang di dalam meeting ini menoleh padanya. Gila, dia cuma sekretaris tapi berani menentang ucapan GM? Apa gak takut dipecat? Apa mentang-mentang jadi pacarnya dia bisa lolos dari kemarahan bos gila ini? Begitulah pemikiran semua orang yang berada di ruang meeting itu.


Apalagi Kevin. Ia tak menyangka gadis itu berani menyanggahnya di tengah-tengah meeting di depan para pegawainya.


Semua orang kini menatap Shasa dan juga Kevin. Drama apa yang akan keluar dari mulut keduanya sebab belum pernah ada sekretaris yang berani dengan lantang mengatakan kesalahan pria itu sebelumnya walaupun diucapkan dengan cara yang sopan sekalipun!


"Eh ... Sha. Kamu sebaiknya diam saja dan mencatat hasil meeting ya?" Kevin berusaha menenangkan gadis itu.


Ini di luar perkiraan. Kevin berusaha menenangkan sekretarisnya? Para pegawai terheran-heran melihat kehebatan gadis itu menaklukkan Singa yang paling galak di kantor itu.


"Biasanya meeting itu diadakan untuk mencari tahu kondisi terakhir perkembangan pekerjaan, jadi kalau bisa ada diskusi dan solusinya karena semua orang sekarang sedang berkumpul di sini. Tidak ada manusia yang sempurna, karena itu jangan tuntut target pekerjaan sesuai standar tapi sesuai kemampuan pekerjanya. Setelah itu dicari tahu hambatannya lalu solusi untuk semuanya."


Jawaban gadis itu membuat kagum karyawan yang ada di sana. Selain berani, apa yang dikatakannya benar adanya. Pria itu biasanya tidak pernah bisa bicara baik-baik dengan wanita, tapi kini ada wanita yang lebih berani mengekspresikan pikirannya tanpa takut sedang berhadapan dengan siapa sehingga karyawan penasaran akan reaksi pria itu.


Kevin menatap nanar Shasa. Ucapan gadis itu hampir membuatnya gila. Kenapa ada orang yang sok tau mengajari apa yang harus ia kerjakan dan orang itu adalah, Shasa! Kenapa harus dia? "Eh, tiap kantor mereka punya kondisi yang berbeda. Kalau perusahaan sebesar ini biasanya hanya orang-orang terpilih yang masuk di dalamnya jadi mereka sudah termasuk berpengalaman dalam bekerja jadi saat aku menginginkan target yang harus dicapai, mereka sudah mengerti dan tahu bagaimana mencapainya tanpa harus mengajarkan pada mereka lagi. Mereka sudah profesional Shasa, jadi tinggal ditentukan target yang diinginkan perusahaan."


"Berarti untuk apa ada meeting ini? Umumkan saja apa yang Bapak ingin, jadi tidak buang-buang waktu harus duduk di sini karena ada target yang harus dikejar," ucap gadis itu lagi.


Kepala Kevin rasanya mulai berdenyut. Bicara dengan gadis ini membuat ia pusing. Ia tidak bisa marah karena itu Shasa. Ia terlanjur sayang. "Eh, biarkan aku mengerjakan tugasku dulu ya? Kamu duduk manis di situ dan tidak usah bicara. Hanya mencatat saja."


"Bagaimana kalau targetnya diturunkan biar pegawai bisa memenuhi apa yang Bapak minta?" Shasa malah membela karyawan dengan bernegoisasi.


Perwakilan karyawan kembali menyorot Kevin.

__ADS_1


"Shasa, aku tahu apa yang aku lakukan."


"Tidak kalau kau tidak pernah bertanya. Apa kamu tahu kesulitan karyawan apa?"


Kepala Kevin makin pening bicara dengan Shasa. Pengalaman kerja ditambah jiwa kepemimpinan gadis itu yang muncul di meeting itu benar-benar merepotkannya. Ia menghela napas. "Jadi maumu bagaimana?"


Tentu saja mata para karyawan itu berbinar bahagia. Seperti ada titik terang yang akan membuat kantor itu berubah ke arah yang lebih baik. Mereka harap-harap cemas pada negosiasi Shasa dengan Kevin.


Akhirnya Shasa membeberkan pengetahuannya dari kantor lama ke kantor itu hingga ia bisa membantu karyawan bernegosiasi. Kemudian mereka sepakat untuk menurunkan target pasar yang diminta Kevin.


Shasa sangat pintar menyerap ilmu dari sekelilingnya hanya dengan melihat dan mendengar. kemampuan ini menurun dari kedua orang tuanya yang memang berbakat bisnis hingga saat ia bicara tidak ada yang tahu kalau ia hanya lulusan SMA yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah di manapun.


Meeting pun usai. Satu-satu karyawan keluar dengan wajah puas. Setidaknya mereka tidak dipecat karena kegagalan hari ini. Mereka satu persatu menyalami Shasa yang terkejut dengan reaksi para karyawan terhadapnya. Setelah mereka tinggal berdua, Kevin ingin bicara dengan Shasa, tapi gadis itu ingin pergi ke toilet. Kevin terpaksa menunggu.


Tiba-tiba Abra dan Danisa datang membawa kembali rombongan karyawan yang tadi rapat dengan tergesa-gesa. Mereka masuk ke ruang rapat dengan mengendap-endap seperti takut ketahuan. Kevin dibuat bingung dengan kedatangan rombongan itu. Danisa bahkan membawa sebuah kotak besar di tangannya.


"Ada apa ini?" tanya Kevin terkejut.


"Ssst!" Abra meletakkan telunjuknya di depan mulut. "Shasa ke toilet kan?"


"Iya."


"Ayo kita sembunyi! Tutup pintu dan matikan lampunya!" perintah Abra.


"Tapi ada apa?"


Pria itu terpaksa mengikutinya. "Ada apa sih?"


"Ssst."


Kevin terpaksa diam. Tak lama, terdengar suara seseorang membuka pintu. Orang itu heran karena ruangan gelap dan tak terlihat ada orang. "Lho, Pak Kevin apa pergi ke ruangannya ya?"


Tiba-tiba lampu dihidupkan.


"Surprise!(kejutan)"


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu keluar dari tempat persembunyiannya. Beberapa karyawan menyanyi lagu Happy Birthday dan Danisa bersama Abra mendatangi Shasa dengan kotak yang telah dibuka tutupnya. Kotak itu berisikan potongan kue ulang tahun dari berbagai jenis dan telah diberi lilin ulang tahun.


Danisa menghidupkan lilin ulang tahun sementara Shasa terharu mendapatkan pesta kejutan di hari ulang tahunnya. Gadis itu menitikkan air mata seraya menutup mulutnya karena tidak tahu harus berkata apa saking bahagianya.


"Selamat ulang tahun Sayang," ucap Abra dengan senyum menawan.


"Selamat ulang tahun ya? Coba tiup lilinnya," sahut Danisa sambil menyodorkan kue ulang tahun yang dipegangnya.


"Aduh ... lilinnya ... banyak sekali," ujar gadis itu yang berusaha berbicara dengan terbata-bata karena masih terharu.


"Tiup saja," ucap Danisa lagi.


Shasa meniup sebisanya dan akhirnya lilinnya mati semua. Orang-orang bertepuk tangan dan ia merasa lega. "Terima kasih ya?" ucapnya dengan senyum bahagia. "Ih, kok pada tau sih ulang tahunku?"

__ADS_1


"Iya. Aku gak sengaja lihat waktu membawa berkas-berkasmu ke HRD, aku lihat tanggal lahirmu di KTP," ujar Abra.


"Terima kasih Pak."


"'Sayang' aja ah, sekarang kan udah jam makan siang."


"Oh, ya udah." Pipi gadis itu kini kemerahan. Ia mengusap air matanya karena malu dilihat banyak orang.


"Selamat ulang tahun ya Sha ...." Kini Kevin yang memberinya selamat.


"Makasih Pak." Shasa menjawab dengan wajah ceria.


"Tapi kenapa kalian berdua masih bilang sayang-sayangan?" Kevin menunjuk Shasa dan dan Abra dengan wajah bingung.


"Oh, aku lupa memberitahumu kalau kami dapat kontrak eksklusif dari produk iklan ini," terang Abra.


"Maksudnya?" Kevin mengerut kening.


"Jadi kami mulai hari ini tidak bisa kerja full-time(penuh) karena kami ditunjuk jadi Brand Ambassador produk itu. Jadi setiap kali ada roadshow, kami harus pergi meninggalkan kantor."


"Apa? Tapi Abra, roadshow itu bisa keluar kota dan berhari-hari, apa kamu sudah minta izin pada Ayah?"


"Tidak perlu. Itu terserah Kakak saja. Kalau kakak mau berhentikan aku juga gak masalah, karena aku sudah terlanjur kontrak dengan mereka."


"Apa?" Kevin geram. Ia tak bisa bekerja tanpa orang-orang yang dia kenal di sekelilingnya, apalagi kerja Abra sangat bagus dan banyak menaikkan keuntungan perusahaan. Selain itu, Shasa dekat dengan Abra. Kalau Abra keluar, bukan tidak mungkin gadis itu juga ikut keluar. Itu berarti rencananya mendekati gadis itu bisa gagal. Mau tidak mau ... ia harus cari cara untuk menikahi gadis itu segera, tapi bagaimana caranya?


Sementara itu Shasa menerima ucapan selamat dari para karyawan dan mereka keluar satu persatu dari ruangan, tinggal mereka berempat yang berada di ruangan itu. Shasa dan Danisa sedang sibuk mencicipi kue ketika Kevin mulai bicara. "Ayo, hari ini makan siangnya aku yang teraktir."


"Yeiii!" teriak Danisa.


"Lho Pak?"


"Tidak apa-apa. Sekalian merayakan hari pertama kamu kerja di sini."


Abra tersenyum.


"Terima kasih Pak. Jadi ngak enak, nyusahin Bapak." Shasa malu dengan wajah kemerahan.


"Ngak papa." Saat itu juga hilang rasa kesal Kevin pada gadis itu karena telah dikalahkan saat meeting tadi, tapi mengingat gadis itu bisa setiap saat pergi ditambah godaan wajah kemerahan malu-malu Shasa barusan, ia mulai khawatir. Ia takut kehilangan gadis itu dan juga ingin sekali memilikinya entah bagaimana caranya.


Mereka kemudian pergi ke restoran dengan gaya Amerika dan memesan steak.


Shasa sangat menikmati makan siang hari itu karena hari itu adalah hari pertama ia bekerja di kantor yang baru dan hari ulang tahunnya yang dirayakan oleh orang-orang terdekatnya. Sudah 2 tahun ia tidak merayakan ini semenjak kedua orang tuanya meninggal dan ia hampir saja merasakan bahagia dengan hampir menikah dengan Bima, tapi ia berusaha berbesar hati karena mungkin mereka tak berjodoh. Mungkin saja jodohnya bukan orang jauh seperti pria yang berada di sampingnya yang baru saja memberinya kejutan, sebuah pesta ulang tahun.


____________________________________________


Halo reader, author masih setia dengan pembaca di sini. Jangan lupa like, komen, dengan hadiah yang bisa memberikan semangat. Ini visual ulang tahun Shasa. Salam, ingflora. 💋


__ADS_1


__ADS_2