
"Bawa aku ke mana saja." Rika menatap lurus ke depan dengan wajah dingin.
"Eh, ke mana saja?"
"Cepat!!"
"Eh, iya, iya." Raven segera menghidupkan mesin mobilnya dan membawa mobil itu menjauh dari situ.
Sementara Papa Rika mengejar Rika keluar tapi sudah terlambat. Rika telah pergi dengan mobil Raven.
"Rika ...." Pria itu kembali menghela napas di sela napasnya yang tidak beraturan mengejar Rika. Mama menyusul di belakang dan kemudian Damar. Dari raut wajahnya, Damar terlihat senang. Makanya jangan sok kuasa. Lo itu buka siapa-siapa di sini. Masih mending Shasa yang masih ada hubungan darah dengan Papa, lah elo? Cuma anak dari mantan istrinya jadi harusnya lo yang keluar dari rumah ini bukan Shasa.
-----------+++----------
Tiba-tiba pintu dibuka. " Bra kamu lagi ngapain?" Kembali Kevin masuk ke ruang kerja Abra.
Pria itu masih dalam posisi yang sama duduk di sofa dengan merebahkan kepalanya ke belakang. Ia hanya mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali merebahkannya ke belakang.
Kevin menghampiri dan duduk di sampingnya. Ia melihat HP Abra tergeletak di atas meja di hadapan. Ia mengambilnya.
"Mau apa Kak?" Abra mengangkat kepala.
"Mau telepon Shasa." Kevin mencari nomor telepon gadis itu.
"Eh, jangan. Jangan digangguin Kak." Abra berusaha menggapai HP-nya yang sudah mendarat di telinga Kevin tapi pria itu menjauhkan kepalanya dari tangan adiknya. "Kak!"
"Halo Sha, ini Kevin. Kamu lagi apa?"
"Lagi ngebersihin apartemen Kak," sahut Shasa di ujung sana.
"Ugh!" gumam Abra kesal.
"Oh, kok gak ke sini?"
"Lagi ngerapiin barang-barang untuk pindahan."
"Abra butuh kamu tuh!" Kevin mencengkram lengan Abra dengan kencang.
"Aw!!"
"Oh, iya. Aku ke sana!" Shasa segera menutup teleponnya.
Kevin menurunkan handphone Abra dari telinga dengan senyum mengembang.
"Kakak, curang! Kenapa pakai namaku untuk mengajaknya datang?" Abra terlihat kesal.
Kevin tertawa. "Yang penting dia datang." Ia kemudian menyalin nomor telepon Shasa pada teleponnya. "Sebentar lagi juga dia datang," katanya dengan wajah semringah.
Tak lama, gadis itu datang dengan terengah-engah masuk ke dalam ruangan. "Ada apa?" tanyanya khawatir. Ia melihat Abra duduk sambil menyandarkan punggung dan kepala pada sandaran sofa.
Abra mengangkat kepalanya pelan saat melihat Shasa datang.
__ADS_1
"Tidak ada," jawab Kevin tanpa rasa bersalah. "Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama."
"Apa?"
"Kan tidak enak makan sendirian. Iya kan?"
--------------+++----------
Hingar bingar suara musik dan lagu yang sedang diperdengarkan sedikit memekakkan telinga. Lampu yang terus berkedap-kedip dengan pencahayaan yang temaram membuat tempat itu menjadi tempat pelarian sempurna untuk Rika.
Gadis itu duduk bersama Raven di salah satu sudut ruangan dengan tangan yang sibuk meminum dari gelas yang telah berulang kali diisi dari botol di samping. Pandangannya kosong ke depan dan rambutnya mulai berantakan.
Raven segera mengambil alih botol besar itu. "Udah ya? Biasanya juga orang minumnya sedikit aja, nih kamu udah ngabisin setengah botol. Itu sih mabok namanya."
"Hehhhh!" Tika mengamuk dan berusaha merebut kembali botolnya.
"Udah ah, gue bagi!" Raven berusaha mengurangi isi botol itu dengan ikut meminumnya. Ia tak ingin melihat gadis itu mabuk gara-gara dia.
Raven yang bingung harus membawa gadis itu ke mana, terpaksa membawa Rika ke Night Club langganannya karena ia lihat Rika sedang bersedih. Setiap ditanya gadis itu hanya menangis saja sehingga pria itu membawa gadis itu ke situ untuk mendapat hiburan. Siapa sangka gadis itu malah makin banyak minum. Raven malah semakin bingung harus bagaimana.
Pria itu sudah meminum 2 gelas dari botol itu dan kepalanya mulai terasa pusing. "Hah, sebaiknya kita pulang saja. Bukannya terhibur lo malah mabok!"
"Gue gak mabok. Siniin!" Rika meminta botol minuman kerasnya tapi Raven malah meletakkannya di lantai. Dilihatnya wajah gadis itu yang mulai kemerahan dan gerakannya yang mulai tidak fokus. Rika pasti sudah mabuk.
"Ahh, sudah ikut saja." Raven menarik tangan gadis itu keluar dari tempat itu. Ia memasukkan Rika ke dalam mobil dan mencoba menyetir. Walaupun sedikit mabuk, ia beruntung selamat sampai ke tempat tinggalnya, sebuah kos-kosan yang sedikit terbuka.
Setelah memarkir mobil di depan kamar kos-kosannya yang tidak jauh dari pintu pagar, ia membawa Rika masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu luas.
Gadis itu langsung naik ke atas tetap tidur dan tidur di sana. Bukan apa-apa, ruangan di kamar itu dan hanya ada tempat tidur, meja dan lemari yang di lengkapi dengan kamar mandi sehingga tidak ada tempat beristirahat selain di tempat tidur.
Belum lama ia tertidur ia merasakan seseorang tengah meraba dadanya. Pria itu terbangun. Saat ia melihat ke samping, gadis itu sedang menatapnya.
"Kenapa kalian membuatku jadi tidak berharga?" Gadis itu mulai menangis lagi.
"Haduh, cengeng banget sih lho!" ledek Raven. "Udah gue bantuin juga," gumamnya.
Namun yang terjadi, Rika malah menangis lebih kencang membuat Raven panik. Guna membukam mulut Rika, ia menciumnya. Anehnya ciuman itu malah bukan saja membukam mulut gadis itu tapi juga mengantar mereka ke sebuah hasrat lain yang timbul tanpa diminta.
Awalnya perlahan, dan terlihat Rika tak menampik. Selanjutnya segalanya seperti sudah lumrah terjadi. Keadaan mereka yang mabuk pun ikut menyumbang keterbukaan yang membuat mereka semakin kehilangan kontrol diri. Mereka kemudian tenggelam dalam kenistaan yang mereka ciptakan sendiri. Kelelahanlah yang akhirnya membuat mereka berhenti, dan tak lama keduanya tertidur.
-------------+++------------
Raven terbangun lebih dulu dan menyadari hari mulai gelap. Saat ia ingin bergerak bangun, ia menyadari seseorang tengah memeluk tubuhnya. Seorang wanita. Ia berusaha menajamkan ingatan pada apa yang terjadi sebelumnya, dan perlahan ia mulai ingat semuanya.
Tentu saja ia ingat karena ia melakukannya setengah sadar, tapi bagaimana dengan gadis itu?
Pelan-pelan ia berusaha melepas diri dari pelukan gadis itu. Rika sedikit terusik tapi kemudian tidur lagi. Di dalam selimut pria itu meyakini keduanya tidak memakai busana selembar pun. Ditengoknya ke lantai dan ia bisa melihat beberapa pakaiannya tergeletak di sana. Dengan Hati-hati ia turun dan mengenakan pakaiannya.
Sebentar ia termenung. Sepintar-pintarnya ia mempermainkan hati wanita, ia tidak akan pernah membawa sampai ke tempat tidur. Ini yang pertama kali buatnya pada gadis yang baru di kenalnya dan ia menyesali. Tidak pernah terlintas di pikiran, ia akan bermain sejauh ini. Ini sudah kelewat batas. Bagaimana kalau gadis ini sampai hamil karena ia belum ingin memikirkan soal pernikahan dan tanggung jawab. Ia masih jauh dari kata siap.
Lebih baik ia sudahi saja bermain dengan gadis ini dan mulai mencari yang baru. Lagipula gadis itu sepertinya punya masalah keluarga yang Raven tak ingin tahu dan juga tak ingin terlibat di dalamnya.
__ADS_1
Setelah menyalakan lampu, pemuda itu melangkah ke pintu. Terdengar seperti suara mobil masuk ke perkarangan kos-kosan itu.
Raven mengernyit dahi. Sangat jarang ada penghuni kos-kosan yang memiliki mobil seperti dirinya karena ia menyewa kos-kosan yang cukup murah.
Ia berada di situ juga bukan karena miskin tapi apartemen tempatnya tinggal sedang direnovasi dan kos-kosan itu adalah tempat terdekat dari apartemennya yang ia tahu, sehingga ia pindah ke sana.
Pemuda itu mengintip keluar. Seorang gadis keluar dari mobil beserta seorang pria dengan membawa tas besar. Sepertinya gadis itu baru akan pindah ke kos-kosan itu.
"Makasih ya Kak," ucap Shasa pada Kevin.
"Oh, gak papa." Kevin membawakan tas Shasa ke depan kamar gadis itu. "Ini?"
"Iya Kak." Shasa mengambil kunci kamarnya.
Raven terbelalak melihat Shasa. Gadis itu ... Ia hampir tak percaya dengan matanya. Berulang kali ia mengucek-ngucek matanya tapi yang ia lihat tak kunjung berubah. Bagaimana bisa?
Terdengar suara seorang gadis berdehem. Raven menoleh. Rika telah bangun dengan melilitkan tubuhnya dengan selimut. Ia menundukkan kepala dan menelan ludah sebelum bicara. "Aku ...."
"Aku tak ingat apa-apa," jawab Raven cepat.
Terlihat keraguan pada gadis itu menguap. Dengan cepat tanpa bersuara gadis itu memungut pakaiannya di lantai dan pergi ke kamar mandi dengan selimut melingkar di tubuhnya. Raven merasa lega.
Ia mencoba mengintip kembali keluar pintu tapi sulit karena gadis itu sepertinya sudah masuk ke kamarnya. Ia terpaksa menunggu.
Tak berapa lama, Rika kembali keluar dengan membawa selimut yang kemudian ia letakkan di atas tempat tidur. "Aku pulang." Kedua mata gadis itu seperti canggung dan tak ingin melihat Raven. "Aku sudah pesan taksi." Ia memperlihatkan HP-nya pada Raven.
"Oh, ya udah."
Tak lama, taksi yang di pesan datang. Raven membukakan pintu untuk Rika. Bertepatan dengan itu, mobil Kevin keluar dengan membawa Shasa. Raven melihat Shasa tapi tidak dengan Rika. Gadis itu terlalu canggung untuk melirik ke tempat lain.
Ah, sial! Padahal aku ingin memastikan apa yang aku lihat. Ah! Raven mengeratkan genggaman.
Rika masuk ke dalam taksi dengan menunduk. Lebih cepat meninggalkan tempat itu lebih baik. Ia saat ini tidak sedang bisa berpikir jernih, tapi menambah masalah yang lain dengan tidur dengan pemuda yang baru dikenalnya. Itu sangat bodoh! Ia belum pernah sebodoh ini sebelumnya.
Dirapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan itu dan ia menyandarkan punggungnya ke belakang. Dengan kepala yang masih sedikit pusing akibat terlalu banyak minum, ia menatap keluar jendela. Tak terasa untuk kesekian kalinya air matanya masih mengalir.
Mau dihadapkan ke mana dirinya. Ia sudah tidak punya tempat berlindung. Kebanggaan akan dirinya pun telah runtuh. Sekarang ini ia harus menghadapi segala kemungkinan yang tak mengenakkan tapi dari semua, ia tak bisa berpaling dari keluarganya. Keluarga yang telah membesarkannya, walaupun itu hanya keluarga palsunya.
Taksi berhenti di depan gerbang rumahnya. Rika turun dan masuk ke dalam. Ternyata Papa dan Mama masih menunggunya dengan cemas.
Mama segera menghampiri. "Rika, kau dari mana saja?"
Kata-kata yang amat dirindukannya. Netral gadis itu tak mampu menahan tangis.
Mama segera memeluknya. "Rika, mulutmu bau ...."
"Hoek!" Rika menutup mulutnya dan berlari ke arah kamar mandi tamu yang letaknya tidak jauh dari situ.
Mama dan Papa saling berpandangan. Damar yang baru menuruni tangga juga terlihat bingung. Mama segera menyusul Rika ke kamar mandi.
____________________________________________
__ADS_1
Ada yang baru nih, novelnya.