Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Menikah


__ADS_3

Shasa baru saja membuka pintu, saat Abra memberondongnya dengan banyak permintaan.


"Ayo Sha, udah telat ini. Kita harus cepet soalnya Ayah—" Pria itu tertegun.


Shasa telah mendandani dirinya dengan sedikit dewasa, lembut dan cantik.


"Sha ...."


Gadis itu berdiri dengan gamis sederhana berwarna abu-abu. Abra hampir tidak mengenalinya karena wajahnya sedikit berbeda.


"Oi!" Raven menepuk bahu Abra. "Katanya mau ke KUA, udah telat nih! Kok malah bengong."


"Eh, em ... ayo Sha." Pria itu menarik bahu gadis itu.


Gadis itu bergerak keluar lalu mengunci pintu. Kemudian mereka berdua naik ke dalam mobil Abra.


Setelah pria itu mengendarai cukup lama, akhirnya mobil mereka sampai ke sebuah gedung pemerintahan yang halamannya asri di tanam sedikit tanaman di pelataran parkirnya. Abra memarkirkan mobilnya dekat pagar, sedangkan mobil Raven di sampingnya.


Mereka kemudian turun dan Raven membawakan mas kawin kedua calon pengantin; mukena, Al Qur'an, dan seperangkat perhiasan. Mereka segera masuk ke dalam gedung.


Sangat mudah menemukan tempat untuk mereka menikah itu karena letaknya tidak jauh dari pintu masuk dengan mengikuti papan petunjuk arah yang ada dan mereka segera menemukannya. Sebuah ruangan dekat taman di mana Erik menunggunya di depan pintu. "Ayo lewat sini!"


Ketiganya masuk. Di sana, di tengah ruangan, Adam beserta istri menunggu di depan sebuah meja pendek dengan seorang pria berpeci hitam. Ia adalah seorang penghulu yang telah menanti kedatangan mereka.


Abra segera duduk di seberang meja Adam, karena ditunjuk ke sana, sedang Shasa duduk agak menjauh bersama Raven setelah pemuda itu meletakkan mas kawinnya di atas meja. Erik duduk berseberangan dengan pak penghulu.


Setelah mendengar wejangan dan tauziah dari pak penghulu kemudian pria itu memulai akad nikahnya.


Abra diberi contekan di selembar kertas agar bisa lancar menyebutkannya dengan benar. "Sebentar ya?"


"Ada apa?" tanya ayah di sampingnya.


"Latihan sebentar. Aku belum latihan," bisik Abra pada ayahnya. Karuan saja, tingkahnya mengundang senyum. Bahkan Shasa menunduk sambil senyum dikulum.


Abra ternyata cukup grogi. Ia mencoba bergumam membacanya dengan jantung berdetak cepat, hingga ia sulit berkonsentrasi. Beberapa menit berlalu tapi Abra belum juga usai berlatih hingga ayah menepuk bahunya. "Sudah, bacakan saja. Kan ada contekannya, tinggal baca bismillah, inshaallah lancar," jamin ayah pada Abra.


Abra menurut hingga akad itu akhirnya di mulai. Pria itu menyatukan tangannya dengan tangan Adam. Ia mendengarkan instruksi pak penghulu. Sesuai tuntunannya akhirnya ia lancar menyelesaikannya.


"Sah!" ucap pak penghulu.


Saat itu juga dada pria itu terasa lega. Segala keraguan dan kendala telah ia lewati. Kini gadis itu telah resmi jadi miliknya. Ia kini telah memiliki istri yang akan menemaninya mengarungi bahtera hidup bersama dalam suka maupun duka dan menjadi penyemangat hidup di hari-hari indahnya ke depan. Semoga Allah selalu melindungi ikatan suci ini hingga maut memisahkan. Sehidup dan sesurga, selamanya.


Shasa didudukan di sampingnya dan disodori buku nikah mereka untuk di tanda tangani. Setelah itu mereka saling menyematkan cincin nikah mereka.


"Nah, sekarang sudah boleh mencium istrinya," terang Pak penghulu.


Abra yang tidak mengerti langsung mengecup bibir Shasa. Karuan saja wajah gadis itu bersemu merah. Hadirin pun tertawa. Abra yang tidak tahu, bingung melihat orang-orang menertawakannya.


"Di kening Kak, ya Ampun." Raven tertawa.


Abra yang akhirnya mengerti hanya tersenyum lebar. "Ngak papa udah halal. Ya Sayang ya?" Ia melirik Shasa yang terlihat malu-malu.


"Maaf ya Pak, istriku tidak ikut karena dia menjaga anakku Kevin di rumah sakit," ucap Erik pada Adam.


"Tidak apa-apa, kami memaklumi keadaanmu," jawab Adam prihatin.

__ADS_1


"Ok, kita langsung ke rumah sakit saja. kini giliran Bima yang akan menikah dengan Rika." Erik beranjak berdiri diikuti Adam dan istrinya. "Ayo Bra kita ke rumah sakit. Bima terpaksa harus di nikahkan di rumah sakit karena keadaan fisiknya," ajak ayah pada anaknya.


"Ayo Sha." Abra membantu istrinya berdiri. "Ven, kamu mau ikut?"


"Eh, gak kenal. Lagipula, sebentar lagi ada kelas."


Abra mengerut kening, tapi akhirnya melambaikan tangan pada pemuda itu yang berangkat lebih dulu.


Ia membawa sendiri mas kawinnya lagi ke dalam mobil diiringi Shasa. Erik, Adam dan istrinya telah masuk ke dalam mobil masing-masing dan mulai mengantri keluar perparkiran itu. Mobil mereka bersama-sama meluncur di jalan menuju rumah sakit.


Pernikahan Bima dan Rika dilewati dengan rasa haru. Yang pria lumpuh dan yang wanita hamil tapi wajah-wajah mereka semua di sana menampilkan raut bahagia karena mereka telah melewati masalah dengan baik, terutama para pengantin baru. Senyum mereka terukir indah pada pasangan mereka.


Setelah beberapa lama, Shasa dan Abra berpamitan. "Semoga cepat sembuh dan segera dapat momongan," ucap Abra pada Bima.


"Ya mungkin sekitar beberapa bulan lagi," jawab Bima seraya tersenyum.


"Eh, masa?" Abra terkejut.


"Iya. Rika kan sudah hamil 3 bulan," ucap pria itu jujur. Ia meraih lengan istrinya yang tersenyum manis padanya.


"Mmh?" Abra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan menoleh pada Shasa. Sepertinya istrinya juga tidak tahu karena terlihat bingung. "Itu—"


Tiba-tiba Shasa mencubit lengan Abra. Saat pria itu menoleh, gadis itu menggeleng kepalanya pelan.


Erik juga ikut mendengar dan merasa heran tapi ia tidak berani menanyakannya karena saat itu semua orang sedang bergembira. Yang pasti ia cukup puas dengan menduga-duga.


"Aku juga mendoakan kalian agar cepat dapat momongan juga," ujar Bima pada Abra.


"Oh, iya Terima kasih, tapi kami belum—"


Pria itu kembali salah tingkah. Aduhh ... apa salahku sih, dari tadi dicubit terus? "Eh, kami pamit dulu ya?" Abra dan Shasa bersalaman pada Rika dan Bima. Juga pada Adam dan Erik.


"Kenapa cepat pulang?" tanya Erik pada Abra. "Mau cepat bikin bayi juga?" ledeknya yang membuat seisi ruangan itu tertawa.


"Ayah ...." Abra mengusap belakang kepalanya sedikit malu dan wajah Shasa merah padam.


"Iya, juga gak papa, Ayah dukung."


Kembali tawa menggema di dalam ruangan itu.


"Ya sudah hati-hati di jalan."


Abra dan Shasa kemudian berpamitan pada semua orang di sana. Mereka meninggalkan rumah sakit.


"Yang, kenapa sih kamu cubit-cubit aku terus?" tanya Abra di parkiran.


"Ya, jangan tanya yang gak perlu ditanya," jawab Shasa cemberut.


Abra mencubit pipi istrinya lembut. "Mmh! Kamu cerewetnya bikin gemes. Untung sayang."


Shasa meliriknya dan tersenyum. Keduanya menaiki mobil. Tak lama, mobil itu meninggalkan rumah sakit.


Gadis itu heran ketika Abra membelokkan mobilnya ke arah apartemen. "Aku mau pulang dulu, ganti baju sama baju yang tadi buat kerja," protesnya.


"Mmh? Gak usah ke kantor dulu. Kita bobok dulu yuk!"

__ADS_1


Wajah Shasa memerah. "Apaan sih, ini masih siang. Udah mesum aja ...."


"Mesum? Ini aku suamimu lho sekarang, bukan orang lain! Masa dibilang mesum." Abra menunjuk wajahnya. "Biar mesum juga halal. Lagipula aku ngajakin kamu nemenin aku tidur bukan begituan. Eh, tapi kalau kamu mau begituan ya aku ayo aja. Siapa takut!" tantangan Abra lagi.


Wajah gadis itu makin memerah dan tak berani bicara. Detak jantungnya seketika tak beraturan mendengar tantangan suaminya.


Mereka kemudian turun di parkiran dan masuk ke dalam gedung hingga naik lift dan masuk ke dalam apartemen.


Abra menggandeng Shasa masuk ke kamarnya. "Ayo Yang temenin aku."


"Mmh," sahut gadis itu malu-malu.


Pria itu menarik istrinya hingga ke tepian tempat tidur. "Buka jilbabmu Sayang."


Shasa menurut. Ia melepaskan jilbabnya di hadapan suaminya. Bahkan Abra membantunya membuka ikatan rambutnya.


Pria itu menyugar rambut istrinya yang panjang. "Cantik. Kamu cantik."


Pipi istrinya kemerahan. Abra lebih dulu naik ke atas tempat tidur dan menyusup masuk ke dalam selimut, kemudian ia menanti istrinya untuk mengikutinya. Shasa lalu melakukan hal yang sama masuk ke dalam selimut.


Pria itu membaringkan tubuh di atas tempat tidur seraya menarik istrinya dalam pelukan. Ia menarik selimut hingga setinggi bahu gadis itu dan mendekapnya erat.


Walaupun hanya dekapan, wajah gadis itu masih tersipu-sipu menerima perlakuan Abra padanya. Ia bahagia dan pria itu memejamkan mata.


"Aku sudah lama ingin begini denganmu. Bersantai dan memelukmu." Pria itu mendesah pelan.


Jadi dia tidak ingin melakukan hal itu atau bagaimana? Terdengar dengkuran halus dari mulut Abra. Shasa menghela napas. Pasti semalam dia begadang lagi gara-gara pekerjaan, hah ....


Ia memutar tubuhnya mendongak melihat wajah pria itu yang cepat sekali sudah tertidur. Shasa tersenyum. Lucu sekali melihat pria itu mudah sekali tertidur jika lelah. Wajahnya ... tampan sekali. Apa dia tak sadar bahwa dirinya tampan? Gadis itu kembali tersenyum. Aku punya suami yang sangat tampan. Shasa memeluk suaminya dan merebahkan kepala di dada bidang pria itu. Nyaman dan hangat. Sebentar kemudian gadis itu juga ikut tertidur dengan nyenyaknya.


Shasa terbangun saat ia merasakan kecupan lembut di kening, pelipis, mata dan ke yang lain di sekitar wajah sehingga ia bangun dengan terkejut. "Mmh?" Matanya masih menyipit tapi berusaha mengintip siapa yang berusaha mencium seluruh wajahnya. "Kak Abra?" Gadis itu terkejut dan mengangkat kepalanya. "Kamu ...!"


"Mesum? Kamu lupa ya? Aku kan suamimu," ucap Abra dengan senyum lebarnya.


Shasa berusaha mengumpulkan kesadaran dan mengingat kembali apa yang terjadi sambil membuka matanya lebar-lebar. Ia mulai ingat ia telah menikah dengan laki-laki itu. "Oh, iya ...."


Senyum Abra masih mengembang. Ia mencondongkan wajahnya ke depan sambil memperhatikan bibir merah milik istrinya itu. "Kalau begitu, aku boleh ...." Ia mengecup bibir berlipstik merah itu pelan. Tak ada reaksi. Kini ia mendaratkan bibirnya lebih lama pada bibir istrinya. Gadis itu menutup mata. Kini bibirnya menelusuri bibir gadis itu pelan, menyelaminya, menyampaikan rasa cintanya dengan memperdalam penelusuran sampai ia menekan belakang kepala gadis itu ke arahnya guna menikmatinya lebih dalam. Cinta, kini di sampaikan lewat ujung lidahnya. "Sayang, aku sangat mencintaimu."


Shasa menatap wajah suaminya dengan lembut. Ia mendiamkan saja saat pria itu mengusap keningnya dengan punggung tangan kokoh miliknya, hingga menepikan anak rambutnya pelan.


Pria itu kembali mengecup kening gadis itu. "Kalau aku minta lebih dari ini ... boleh?"


Gadis itu mengangguk, walau jantungnya berdegub kencang. Sihir yang bernama cinta sedang memenjaranya. Berdua mereka berlomba menyampaikan rasa atas nama cinta hingga sampai ke kepuasan yang tak terhingga rasanya itu. Mereka melepas lelah hingga terkapar dengan saling berpelukan.


"Sayang, I love you," ucap pria itu terengah-engah. "Aku baru tahu surga dunia hanya saat bersamamu."


Dilihat istrinya yang kelelahan bersandar di dada bidangnya. Abra menarik selimut hingga ke leher untuk menghangatkan tubuh mereka.


Ia menunduk dalam dekapan, mengusap rambut istrinya di kening yang basah oleh keringat. Gadis itu memeluknya erat.


____________________________________________


Ketemu lagi reader. Abra dan Shasa sudah nikah nih? Ada yang kepo dengan kehidupannya sampai punya anak gak? Ayo hujani author dengan komen, like, vote, hadiah dan koin. Ini Shasa dengan gamis sederhananya di hari pernikahannya. Salam, ingflora 💋


__ADS_1


__ADS_2