
Damar langsung melengos ketika pintu ruang kerja direksi dibuka. Abra dan istrinya keluar dari ruangan itu.
Pria itu melihat Damar yang meja kerjanya tak jauh dari pintu masuk ruangannya, lalu ia menghampiri. "Damar ya? Kakak Rika kan? Mulai hari ini aku akan bekerja di sini jadi aku mohon kerja samanya ya?" Ia menyodorkan tangannya pada pria itu.
Damar menyambutnya ragu-ragu. Kamu pikir aku senang punya bos seperti kamu? Cih! Jadi ipar pun aku tak suka. Pria itu hanya diam tak bicara.
"Sepertinya aku yang lebih tua di sini. Aku panggil kamu Damar, tidak apa-apa kan?" tanya Abra lagi.
Shasa hanya melihat saja keduanya dari samping. Ia masih sangsi dengan Damar, karena itu ia tidak ingin jauh dari suaminya bila berada di kantor itu. Bayangannya tentang kejadian di dalam mobil itu masih menakutinya.
"Eh, iya," jawab Damar singkat.
"Kalau ada apa-apa tolong bantu aku ya? Aku masih belum banyak tahu seluk-beluk kerja di perusahaan ini."
"O ya," jawab pria itu pelan.
Jawaban Damar yang singkat membuat Abra penasaran. Apa Damar tipe pendiam, atau ada hal lain. Abra tak ingin berprasangka buruk. Mungkin karena mereka belum saling mengenal, makanya pria itu tak banyak bicara.
"Oh, aku harus ke divisi lain. Maaf ya?" Damar pamit.
"Oh ya." Abra hanya melihat kepergian Damar dengan sedikit bingung. "Apa Damar memang seperti itu Sha?" tanyanya pada istrinya. "Tidak banyak bicara."
"Aku tidak begitu dekat dengannya." Kini Shasa pun juga menjawab dengan singkat dan meninggalkannya.
Abra kembali bingung dengan sikap keduanya. Ada apa? Ah, entahlah. Mungkin pertengkaran antar saudara lagi. Mmh ....
Sekitar jam 3 sore, Abra mengajak istrinya pulang.
"Kenapa?"
"Mmh, hari ini aku malas berada di kantor karena masih belum banyak tahu yang ingin aku kerjakan. Sebaiknya aku bawa pulang saja berkas-berkas ini beberapa dan mempelajarinya di rumah." Tiba-tiba pria itu memeluk istrinya.
"Eh, Mas ini di kantor," tegur Shasa kaget. Ia tak menyangka Abra melakukannya lagi di kantor itu.
"Kamu nanti masak, aku ingin makan masakanmu."
"Oh ... ya sudah." Shasa mengangguk.
Pria itu melepas pelukan, kemudian mendatangi meja dan mencari berkas-berkas yang akan dibawanya. "Ada bahan yang perlu dibeli di supermarket gak Sayang?"
"Sepertinya."
"Ya udah, yuk!" Abra memutar tubuhnya dengan memeluk beberapa file.
Pria itu kemudian menemani istrinya belanja di supermarket dan kemudian pulang. Di apartemen, Abra sibuk membaca file-file yang di bawanya sedang Shasa sibuk di dapur. Setelah masakan matang, mereka makan.
"Sha, bagaimana kalau kamu kuliah saja?" ucap Abra sambil mengunyah.
"Mmh, tapi kan aku harus memimpin perusahaan?" Shasa pun juga sama, sedang mengunyah makanannya.
"Perusahaan itu serahkan saja padaku karena kamu, aku lihat belum bisa memimpin perusahaan. Bukan maksudku mengambil alih tapi biarkan aku yang mengelola. Saat kamu butuh laporan atau ingin memeriksa perusahaan kamu tinggal datang karena sebenarnya pemilik perusahaan tidak perlu mengurus detail perusahaan juga tidak apa-apa. Datang saja sekali waktu jika perlu agar kamu bisa fokus kuliah. Bukankah itu yang diinginkan Ommu?"
"Apa begitu ya?" tanya gadis itu lugu.
Abra mencubit kedua pipi istrinya dengan lembut karena gemas. "Makanya kamu kuliah, biar tambah cerdas. Lagi pula kuliah juga cuma 4 tahun Sayang."
"Tapi nanti gimana kalau Roadshow lagi?"
"Gampang Sayang, nanti tinggal minta cuti atau kamu kuliah online aja. Gimana?"
"Mmh ...." Shasa menerawang.
"Coba kamu tanya Raven, enaknya gimana."
"Mmh, ok."
"Oh, ya. Aku lupa tanya apartemen kosong buat Raven, lagi." Abra memukul keningnya.
Shasa tertawa pelan.
-----------+++----------
Damar memandangi Abra heran.
"Ada apa?"
"Istrimu tidak ikut? Shasa?"
"Oh, dia aku minta untuk mendaftar kuliah."
"Kuliah?" Damar mengerut kening. Apa bukan akal-akalan dia saja untuk menguasai perusahaan milik istrinya. Oh, aku tahu. Pria tampan ini pasti seorang Casanova. Apa dia punya wanita lain di luar sana? Bodoh kamu Shasa. Bagaimana kalau benar Abra punya wanita lain di luar sana, bagaimana? Pria tampan seperti suamimu itu pasti tak cukup dengan satu wanita.
"Iya. Ke depannya Shasa akan ikut memimpin perusahaan. Karena itu ia harus punya pendidikan yang cukup yang bisa membantunya memimpin dan membesarkan perusahaan."
Damar menautkan alisnya. Serius?
"Kenapa?"
"Eh, jadi dia pergi sendiri mencari tempat kuliah?"
"Oh, enggak dia pergi ke kampusnya Raven."
"Raven? Siapa itu?"
__ADS_1
"Abangnya. Apa kamu tidak tahu?"
"Abangnya?" Damar mengerut dahi. "Bukankah Shasa anak tunggal?"
"Oh, sepertinya kamu tidak tahu ya? Shasa punya kakak angkat yang tinggal di tempat kos-kosannya."
Lambat-lambat Damar mengingat Raven, tetangga Shasa yang selalu mengikuti gadis itu. Bahkan pernah menghajarnya dulu. "Oh, dia ...."
"Kau kenal?" Abra balik bertanya.
"Eh, i-iya." Damar terdengar gugup.
Abra mengerut alis. "Kau kenapa?"
"Oh, tidak." Damar mengalihkan wajahnya.
"O ya, aku mau kembali ke pabrik. Kamu bisa temani aku?"
"Aku?" tanya Damar tercengang.
"Iya."
"Eh, ok." Damar mengikuti Abra. "Biar aku yang menyetir."
"Ok." Abra memberi kunci mobilnya.
-----------+++-----------
"Ven, siapa nih? Pacar lu?" Beberapa teman Raven mendatangi pemuda itu bersama Shasa. Gadis itu langsung berlindung di balik tubuh Raven.
Pemuda itu tersenyum miring melihat gadis itu yang berpindah ke belakangnya. "Udah, lu jangan gangguin adek gue dong!" ucapnya pada teman-temannya.
"Adek lu, wah manis ... Boleh kenalan gak?" tanya salah seorang dari mereka.
"Boleh, tapi dia udah nikah. Jangan lu goda ya, ntar suaminya marah."
"Wah, lu bo'ong lu ya?"
"Beneran. Lu mau ngerasain bogem mentah suaminya?"
Pemuda itu memastikan dengan menatap Raven. "Beneran?"
"BENERAN!!!" jawab ketiga teman Raven lainnya pada pemuda itu tepat di depan wajahnya sehingga Raven tertawa.
Shasa pun tersenyum sambil berpegangan pada lengan Raven.
Akhirnya mereka berkenalan.
"Shasa."
"Vino."
"Akbar."
"Aldo."
"Adek lo kok kawin duluan Ven. Lo kapan?" tanya Radit yang kepincut wajah polos Shasa.
"Ah, resek lo!"
Yang lain tertawa.
"Kenapa lo bawa adek lo ke sini?" tanya Akbar.
"Mau daftar kuliah, dia. Biarin lah terlambat dari pada enggak."
"Kayaknya gue pernah lihat dia di mana ya? Wajahnya familiar banget deh!"
"Alah, yang manis aja, pura-pura kenal." sindir Vino sambil tertawa.
"Oh, adek gue bintang iklan," jawab Raven.
"O iya! Pasta gigi Whitea sama bumbu masak apa itu ...." Akbar menepuk tangan karena lupa nama mereknya.
"Iya, betul," jawab Raven.
"Bener kan gue ...."
"Wah, keren. Bintang iklan masuk kampus kita," jawab Radit yang masih terpukau wajah manis Shasa.
"Yang kemaren heboh di acara gosip karena nikah sama lawan mainnya."
"Iya, betul!" kembali Raven membenarkan.
"Terus, ngapain kuliah kalau udah tenar? Kan nyari duitnya gampang? Main film aja," tanya Vino.
"Justru dia jadi bintang iklannya gak sengaja. Dia udah lama niat mau kuliah. Sekarang suaminya nyuruh dia kuliah," terang Raven.
"Lah kalau udah kawin mah jadi ibu rumah tangga aja deh, kalau cewek," terang Vino.
"Sok tau lho, ngurusin istri orang ...," ledek Albar.
"Udah ah, ganggu aja lo! Gue mau ke kantin!" Raven menarik gadis itu.
__ADS_1
Namun keempat teman-teman Raven terus mengikuti dan duduk bersama di kantin. Mereka duduk bersama Shasa dan mengobrol bersama. Kadang Shasa tertawa melihat teman-teman Raven bercanda. Mereka kemudian makan siang bersama.
------------+++-----------
Abra membuka pintu.
"Sayang, kamu udah pulang?" Shasa menyambutnya dengan menghampirinya di pintu. Ia masih menggunakan celemek karena dari dapur.
Abra meraih pinggang ramping itu dan mengecup bibir ranum di depannya. Gadis itu melingkarkan tangannya pada leher kokoh pria tampan itu dengan sedikit berjinjit. Rindu tak berjumpa seharian membuat keduanya terpaku tatap. Saling menyampaikan rasa kehilangan dan sayang bersamaan.
"Gimana harimu Sayang?"
"Baik. Sampai kenalan sama teman Raven." Gadis itu tertawa.
Tawa itu memabukkan, membuatnya gila. "Aku rindu padamu Sayang."
"Mau makan malam sekarang?" tanya gadis itu.
"Aku mau makan kamu aja sekarang." Pria itu mulai mencumbunya di mulai dari leher jenjang gadis itu.
"Ih, Mas kok genit sih," ucap gadis itu malu-malu.
"Mas lagi on nih Sha. Kamu mau ya?" bujuk pria itu. Ia mengangkat tubuh istrinya dengan kedua tangan dan gadis itu menjepit pinggang kokoh pria itu dengan kedua kakinya. Abra membawanya ke kamar.
Setengah jam kemudian.
"Mas, kamu gak makan?"
Pria itu mengeratkan pelukannya pada istrinya. "Mas masih kangen." Ia merapatkan tubuhnya pada Shasa.
"Ih, Mas ... gak laper?"
Pria itu memainkan rambut istrinya. "Laper sih ...."
Shasa meraih tangan suaminya. "Ngak mau makan?"
Abra mengecup wanitanya di pipi. "Yuk!"
Tak lama, mereka mandi dan makan.
"Kenapa kok tumben sih Mas," tanya Shasa.
"Mmh? Kan biasanya tiap hari." Abra mengunyah dengan lahap. Ia sepertinya memang sudah kelaparan.
"Bukan. Baru ketemu langsung minta. Kayak gak pernah dikasih aja," ledek istrinya.
Abra tersenyum. "Pria itu seperti itu. Kadang hasratnya datang tiba-tiba, karena itu diwajibkan segera menikah."
"Masa sih?" Gadis itu hampir tak percaya.
"Iya. Beda dengan wanita. Mereka bisa menahannya."
"Oh ... begitu. Bahaya juga ya Mas ya?"
Abra tertawa. "Dan aku beruntung, sudah punya istri."
"Mmh."
----------+++---------
"Kamu kenapa Sha?" Abra menghampiri istrinya di kamar mandi.
Gadis itu menekan tombol air di toilet. Terdengar suara air yang mengalir deras. Ia menyeka mulutnya sambil berdiri. "Gak tau Mas, aku ngerasa gak enak badan."
"Apa kamu mau ke dokter?"
"Mmh ... hari ini aku ingin rebahan aja di tempat tidur ya?"
"Aku lihat kamu seminggu ini susah sekali makan padahal kegiatan kampusmu kan juga berat. Sebentar lagi mau ujian. Apalagi kita mau roadshow lagi, jadi stamina kamu harus bagus. Sudah, ke dokter saja, sekalian minta vitamin agar bisa menjaga kesehatan."
Gadis itu melirik Abra dengan matanya yang sayu. "Rasanya kalau istirahat sebentar, mungkin akan lebih baik. Sepertinya cuma itu."
"Eh, gak boleh diagnosa sendiri. Ayo ke dokter, memangnya kamu kuliah kedokteran," pinta pria itu sambil bercanda.
Shasa tersenyum lemah.
"Ya?" Pria itu mulai menarik gadis itu dalam pelukan.
"Mmh."
----------+++----------
Abra bingung melihat dokter dengan wajah datar menatapnya.
"Kenapa dok?"
"Sudah pernah periksa ke dokter lain?"
"Mmh? Maksud dokter apa? Sa-sakitnya gak parah kan dok?" Abra terbata-bata bicara karena pikiran sekilasnya sudah menakutinya. "Dok!" Ia berdiri dan mengguncang-guncang kerah baju wanita itu. Ia syok, ia ketakutan.
Sekilas ia teringat bagaimana ibunya dulu mulai sakit. Padahal awalnya ia terlihat sehat. Sangat sehat, tapi seperti bunga yang layu, tubuhnya perlahan melemah dan akhirnya kehilangan kesadarannya.
___________________________________________
__ADS_1
Yuk, yuk! Kepoin yang satu ini.