
"Pak ...." Shasa menghela napas.
"Aku tidak mau melihat kamu menderita begini Sha, aku merasa bersalah tapi sekaligus merasa bertanggung jawab. Kenapa kita tidak mulai dari awal saja, aku janji aku akan memperbaiki semuanya." Bima merasa bersalah karena Shasa sepertinya terpaksa bekerja dengan Kevin, dan itu semua ia yakini adalah kesalahannya. Kesalahannya bila sampai Shasa menikah dengan Kevin.
Kembali gadis itu menghela napas sebelum memulai bicara. "Aku sudah dengan seseorang Pak."
"Jangan bohong padaku Shasa, hanya untuk mengakhiri. Yang terjadi waktu itu bukan kesalahanku. Rika—"
"Pak," sahut Shasa memotong kalimat Bima. "Sudah tidak ada yang bisa dimulai."
Bima menatap nanar pada gadis di depannya. "Tapi Sha, ada orang lain yang ingin merusak hubungan kita dan orang itu—"
"Kak!" Shasa berusaha menyadarkan Bima. "Aku sudah mengikhlaskan apa yang terjadi, jadi aku tidak ingin kembali."
"Kamu tidak memaafkanku." Bima tertunduk.
"Tidak, aku memaafkanmu."
"Tidak, kamu tidak memaafkanku."
"Kak," lirih Shasa.
Bima mengangkat kepalanya.
"Bagaimana kalau ini terjadi padamu. Aku mencium pria lain di hadapanmu, lalu aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Percayakah kamu padaku?"
Ada genangan air mata yang menganak sungai di sudut mata pria itu.
"Kamu mungkin memaafkanku tapi pasti sudah tidak bisa mempercayaiku lagi." Shasa terdiam sejenak. "Kalau aku sudah tidak lagi percaya padamu, masihkah bisa kita meneruskan rencana pernikahan kita? Bukankah landasan sebuah pernikahan itu adalah rasa saling percaya? Kak, aku tidak yakin kita bisa saling membahagiakan pada akhirnya."
Bima tertunduk, tapi ia masih menyodorkan kotak cincin itu pada Shasa. "Beri aku kesempatan untuk menunjukkan padamu bahwa aku masih bisa dipercaya."
"Kak."
"Tolong Sha. Ini penting buatku."
"Aku sudah—"
"Sha ...." Bima mengambil tangan gadis itu dan meletakkan kotak cincin itu di sana.
"Kak."
Pria itu pergi dengan tergesa-gesa. Shasa hanya bisa melihat punggung mantan pacarnya itu menjauh. Mungkin, Bima masih gamang akan perpisahan dengan dirinya hingga gadis itu coba memakluminya. Mungkin, beberapa hari lagi ia akan mengembalikan kotak cincin itu pada Bima.
Langit gelap ditaburi bintang-bintang. Begitulah kehidupan. Walaupun tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya tapi selalu saja ada hal-hal baik yang akan di dapatkan kalau kita percaya. Setidaknya itu yang diyakini Shasa tentang kehidupannya yang sendirian sebagai seorang anak yatim-piatu. Semoga bahagia mendatanginya segera.
------------+++----------
"Bapak terlambat," terang Raven. "Tadi Kakak Bapak sudah jemput Shasa pagi-pagi sekali."
"Apa?" Abra terkejut. "Ke mana?"
"Aku dengar pergi ke studio, tapi aku gak tahu studio yang mana."
Abra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia yakin, Kevin pasti pergi ke studio yang paling jauh, tapi masalahnya bukan jarak tapi ia tidak ada waktu untuk mengejar Shasa karena tanggung jawabnya di kantor sedang banyak. Ia bertanggung jawab dengan siaran harian dan lagipula ia sudah janji kencan nanti sore dengan Shasa, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
"Ya, ok. Makasih ya?"
"Ya, sama-sama." Raven menganggukkan
kepalanya.
------------+++------------
__ADS_1
Shasa mengedarkan pandangan melihat studio itu yang tidak terlalu besar yang digunakan untuk acara talkshow(berbincang). Ada beberapa kamera TV yang menyorot ke tengah dan meja kursi yang sudah diatur di depannya.
Saat gadis itu bersandar pada meja dan memperhatikan gambar di dinding, Kevin mendekat dan mengapit dengan kedua tangan menyentuh meja di samping tubuh gadis itu. Shasa segera menyadari kehadiran Kevin di belakangnya dan memutar tubuhnya ke arah pria itu. "Pak Kevin."
Pria itu tersenyum padanya.
"A-ku tidak bisa bergerak kalau begini," ucap gadis itu terbata-bata ketika Kevin makin mendekatkan tubuhnya.
"Jangan salahkan aku. Salahkan dirimu yang seperti magnet, membuatku tak ingin jauh darimu."
"Kevin, aku tidak nyaman." Shasa tidak suka dengan apapun itu yang kini dikerjakan pria itu.
Kevin masih memandangi wajah gadis itu yang mulai kebingungan.
"Kevin, aku ngak suka," kata gadis itu berusaha sopan tapi tegas. Ia melengos ke arah lain karena jarak mereka terlalu dekat.
Akhirnya Kevin bergerak menjauh. "Menurutmu bagaimana, studio ini?" Ia mencoba mengalihkan perhatian.
"Mmh, aku tidak mengerti tapi studionya cukup untuk acara talkshow sih, tak perlu besar karena tidak ada penonton di studio." Gadis itu menyelesaikan kecanggungan yang tersisa dengan keluar dari tempat itu. Tempat itu terlalu sepi, hanya ada satu dua orang yang berada di dalam studio.
Gadis itu mulai mengerti. Kevin tidak berubah. Ia mendengarkan tapi tidak berubah. Percuma bicara dengannya.
"Sha, mau ke mana?" Kevin mengejar.
"Mmh, aku tidak nyaman di sini," kata gadis itu jujur.
Kevin terpaksa mengikutinya. "Mau lihat studio luar TV Indo yang lain?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena tidak penting. Aku kan cuma Sekretaris."
"Bisa saja kan, ada yang menanyakan padamu tentang letak studio luar yang dimiliki TV Indo dan kamu harus tahu itu."
"Bagaimana kalau letak persisnya?"
Shasa menghentikan langkahnya. "Bisa lihat di map internet atau menelepon langsung ke tempat ini. Tidak susah kan?"
"Tapi mumpung ada aku, aku akan tunjukkan tempatnya. Ayo!" Kevin melangkah lebih dulu.
Pria itu memang susah dibujuk, keinginannya sangat keras hingga mau tak mau Shasa harus mengikutinya.
Menjelang siang mereka datang ke kantor. Shasa lebih dulu keluar karena Kevin sedang menerima telepon. Saat itu sudah menjelang makan siang. Ia baru saja hendak masuk lewat pintu depan ketika seseorang yang dikenalnya datang menghadang.
"Sha."
"Kak Damar?"
"Aku dengar kamu putus dari Bima ya?"
Shasa tidak mau mendengarkan. Ia tidak ingin bicara dengan sepupunya itu hingga ia melengos pergi. "Maaf."
"Sha." Damar meraih tangan gadis itu dan menariknya ke parkiran. "Ikut aku."
"Kak Damar." Shasa berusaha melepaskan tangannya tapi pria itu semakin mempererat genggaman. "Kak!"
Mereka sampai di samping mobil Damar. "Aku serius padamu. Bagaimana kalau kita menikah saja."
"Apa?" Shasa terperangah. Kenapa ada satu orang lagi yang ingin melamarnya? "Apa kamu sudah gila? Kita kan bersaudara."
"Kita kan saudara tiri. Aku menyukaimu. Aku tidak main-main denganmu."
__ADS_1
"Dan aku tidak ingin menikah denganmu." Ini benar-benar konyol. Shasa berusaha pergi dari situ tapi Damar menghalangi.
"Kita bicara baik-baik ya? Bagaimana kalau kita bicara di mobil."
"Sudah selesai. Aku tidak mau meneruskan."
"Shasa, kita ini sudah saling mengenal. Maafkan kesalahanku waktu itu tapi aku serius denganmu. Kalau kamu butuh saling mengenal lebih dekat dulu, aku gak masalah kok. Aku bisa."
Namun keseriusan Damar sudah terlambat. Shasa sudah terlanjur muak. "Sudah Kak. Biarkan kita jadi saudara saja. Aku gak mau merubahnya."
"Tunggu Shasa, dengarkan aku dulu. Ayo kita ke mobil, dan bicarakan ini pelan-pelan."
Damar mengajak Shasa masuk mobilnya tapi gadis itu tidak mau. "Kak, aku sedang bekerja."
Damar meraih tangan Shasa. "Sebentar saja."
"Ngak."
Namun Damar memaksa. Ia menarik Shasa ke mobil.
Tentu saja mengingat pengalaman dengan Damar sebelumnya membuat gadis itu panik. "Kak, lepaskan!"
"Sebentar saja Sha," bujuk pria itu.
Tiba-tiba seseorang menarik Damar dengan kasar dan memukul wajahnya.
Bugg!
"Sopan sedikit sama perempuan ya!" ucap Kevin kesal. Ia tak tahan ada orang yang berusaha menyakiti wanitanya.
Pipi Damar memerah. "Aku ini saudaranya, bodoh!!"
"Aku tahu, tapi yang bodoh itu kamu! !" Kevin mengacungkan jarinya ke wajah Damar dengan marah.
"Hei ini urusanku dengan saudaraku, kamu hanya orang luar!"
Bugg!
Kevin kembali menghajarnya. Hati dan kepalanya sudah panas dan ia tidak bisa bermain kata-kata. Hanya tinjunya yang bisa mewakili perasaannya.
"Sudah, sudah, sudah! Ayo Pak kita ke dalam saja." Shasa berusaha melerai dengan membawa Kevin pergi. Tentu saja karena Shasa yang membawanya, pria itu menurut saja.
Tinggal Damar yang ditinggal sendirian merasa kesal. Niatnya untuk kembali dekat dengan gadis itu menemui jalan buntu. Ia menendang ban mobilnya dengan keras hingga kakinya kesakitan. "Auuuh!" Ia melompat-lompat mengangkat satu kakinya yang sakit.
Di ruang kerja Kevin, pria itu sedang berusaha meredakan amarahnya tapi ia juga senang telah menolong Shasa dari pria lain yang tertarik padanya. Ia juga merasa berjasa telah menolong Shasa hingga pastinya gadis itu berhutang budi padanya.
"Maaf ya Pak. Gara-gara saya, Bapak jadi bertengkar dengan orang lain."
"Tidak apa-apa selama kamu selamat aku senang," ucap pria itu dengan senyum lebar. Selama Shasa merasa berhutang budi dan gadis itu mulai meliriknya, ia akan lakukan. Apapun. Apapun yang bisa merubah pendirian gadis itu tentang dirinya, ia akan melakukannya sebab itu satu-satunya keajaiban yang ia butuhkan.
--------+++--------
Abra kerepotan. Pekerjaannya yang sudah banyak di lapangan bertambah dengan adanya masalah di sana sini.
Ada beberapa pegawai yang tiba-tiba tidak masuk kerja karena sakit, membuat beberapa pekerjaan di beberapa divisi kedodoran karena harus mengejar target. Apalagi target harian. Bahkan karena itu beberapa pegawai terpaksa diperbantukan di divisi lain sehingga pegawai di sana harus siap kerja 2 kali lebih banyak dari yang biasa karena semua orang harus saling membantu. Itu yang diterapkan Abra agar pekerjaan cepat selesai.
Bahkan yang bekerja ekstra dibelikan makan siang gratis oleh Abra agar mereka semangat untuk mengerjakan tugasnya. Tentu saja, di bawah kepemimpinan Abra, banyak pegawainya yang berusaha membantunya.
Belum lagi panggung di salah satu studio yang telah dirusak orang. CCTV di area itu entah kenapa rusak sehingga tidak diketahui siapa yang telah merusak panggung itu, padahal panggung itu akan digunakan untuk acara siaran langsung nanti malam. Bagian kreatif terpaksa mengakali panggung yang rusak itu agar bisa dengan cepat diperbaiki.
Karena itu, saat makan siang pun Abra masih mengurusi pekerjaan yang terbengkalai. Ia bahkan tidak punya kesempatan untuk mencari Shasa di kantornya. Shasa pun demikian. Ia diberi banyak pekerjaan oleh Kevin sehingga jam makan siang, ia makan di mejanya sambil mengerjakan tugas di laptop kantor.
Jam 3 Kevin memulangkan Shasa karena tahu Abra masih sibuk bekerja. Apalagi di hari sabtu itu semua orang pulang lebih awal, tapi tidak dengan Abra. Ia masih mengawasi pegawainya yang masih belum menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Shasa berangkat dari kos-kosan ke restoran yang dijanjikan Abra hanya saja ia tidak tahu kalau Kevin mengikutinya.
Di sana ternyata Abra sudah memesankan meja untuk mereka sehingga Shasa tinggal duduk menunggu pria itu. Kevin menunggu di parkiran. Ia kemudian di telepon asistennya bahwa Abra telah berangkat dari kantornya sehingga Kevin bersiap-siap keluar dari mobil. Ia masuk ke dalam restoran dan mendatangi Shasa.