
"Pa, aku ingin membesarkan anak ini. Tolong bantu aku, Pa ...." Rika datang merangkak dan memeluk kaki ayahnya.
"Tapi kamu butuh suami, Rika."
Gadis itu menggeleng dan mengangkat kepalanya. "Gak usah Pa. Aku bisa membesarkannya sendiri."
"Rika, kamu tidak bisa begitu. Ayo, beri tahu Papa agar Papa bisa bicara padanya."
Kembali Rika menggeleng. "Aku udah putusin Pa, aku mau membesarkannya sendiri." Ia melepas pelukan.
"Pria itu harus bertanggung jawab Rika, kau harus menikah."
"Banyak kok orang yang punya anak tapi gak punya suami," celetuk Rika asal.
"RIKA, Papa tidak suka kamu meniru sesuatu yang buruk!!" Dengan suara keras Adam berdiri dari duduknya.
Rika tertunduk.
"Beritahu Papa, siapa orangnya!!" Kembali Papa membentak.
Rika kembali menangis mendengar bentakan Papa yang cukup membuat ia syok. Papa belum pernah membentaknya seumur hidupnya.
"Rika ...." Papa menghela napas dengan menekankan suaranya. Baru kali ini ia begitu emosi pada sikap Rika yang menutupi identitas ayah calon bayinya, padahal biasanya ia bisa mengendalikan diri pada setiap reaksi keras anaknya setiap kali ia menasehati gadis itu. Mungkin karena ini menyangkut hidup Rika dan ia merasa perlu. Walaupun sesudahnya ia merasa menyesal. "Papa juga harus memberitahu kedua orang tuamu," gumamnya sambil menggaruk-garuk dahi.
"Paaa, jangan Pa. Jangan usir aku dari siniii." Rika kembali memohon. Ia menangis tersedu-sedu seraya memegangi kaki Papa.
"Tapi mereka berhak tahu, Rika, dan satu lagi. Kau harus menikah! Aku tak mau kau mempermalukan keluarga ini. Tinggal kamu atau Papa yang bicara pada laki-laki itu!" Adam meninggalkan kamar itu dengan segera.
Rika kembali berurai air mata. Mama mendekatinya dan membawanya ke atas tempat tidur. Ia mengusap pucuk kepala Rika. "Ka, maksud Papa baik. Kau harus punya suami yang bertanggung jawab atas dirimu dan anakmu. Pikirkan juga pandangan orang terhadapmu kalau kamu tidak punya suami. Bukan saja pandangan orang buruk terhadap keluarga ini tapi juga terhadap dirimu, dan pasti kamu tidak mau itu terjadi kan? Papa sayang padamu tapi tolong juga, bantu dia setidaknya merasa lega telah membesarkanmu walaupun kamu tidak bisa jadi kebanggaannya."
Mendengar itu, tangis gadis itu pecah. Mama kemudian duduk di samping gadis itu dan memeluknya. Hangat.
"Kamu wanita. Hargai dirimu agar orang lain juga menghargaimu, mmh?" Mama menepikan rambut panjang Rika yang mulai maju ke depan.
Gadis itu mengangguk dalam tangisnya.
"Sekarang kamu cuti kuliah dulu ya?"
Gadis itu kembali mengangguk seraya memeluk wanita itu. "Mama ...."
----------+++---------
"Halo Honey(sayang)."
"Honey?" Dahi Shasa berkerut.
"Iyalah Sayang. Nanti kamu makan siang aku jemput sekalian belanja."
"Belanja? Belanja apa?"
"Belanja makan malam lah Sayang, kan kamu mau masak."
"Masak?"
"Honey, kita kan lagi belajar jadi suami istri jadi kamu belajar mengurus aku dan rumah sementara aku yang anter jemput kamu dan kasih uang belanja." Terdengar tawa Abra di ujung sana.
"Ih, kamu ada-ada aja." Wajah gadis itu merah padam, padahal ia sedang berada di kantor.
"Eh, kan benar itu. Nanti aku jemput kamu ya Sayang."
"Tapi belanjanya pas pulang kantor aja ya?"
"Ya udah terserah kamu Sayang. Sampai nanti."
Shasa menutup teleponnya dengan senyum di kulum. Ia melihat sekitar di mana teman-teman sekantornya yang mencuri dengar pura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Kembali gadis itu tersenyum sendiri.
-----------+++----------
"Kamu mau makan apa?" Shasa berdiri di depan rak daging. "Ayam lagi?"
"Mmh, boleh."
"Tapi tadi sudah makan ayam. Kok gak bosen sih?"
"Kan bisa di masak macam-macam. Tadi aku makan steak, terus bisa digoreng kecap, goreng tepung, dibuat soto, dibalado, macem-macem sih!"
__ADS_1
"Kan rasanya sama?"
"Yang sama itu hatiku padamu."
"Ih, sekarang sudah pinter ngerayu ya?" Namun tak ayal wajah gadis itu merah padam.
"Aku ngerayunya khusus untuk kamu aja Sayang." Abra tersenyum.
"Ih, bohong!" Pipi gadis itu kembali memerah.
"Iya, bener. Khusus untuk iklan ini, aku banyak belajar. Aku kan gak punya pengalaman jadi cari-cari di internet bagaimana agar hubungan perkawinan itu langgeng dan ternyata ya ... hubungannya harus tetap sama dengan waktu mereka pacaran dulu agar hubungan suami istri itu tetap dekat."
"Mmh ...." Walaupun itu hanya pura-pura tapi Shasa terlihat senang. "Tapi kita pacaran gak pernah begitu."
"Begitu gimana? Memang kita pernah pacaran?"
Ditanya begitu gadis itu menjadi malu. "Ih!"
"Iya, iya, maaf Sayang, aku cuma becanda." Abra tertawa pelan seraya mengalungkan tangannya pada lengan gadis itu. Ia sedikit membungkuk sambil meletakkan dagunya pada bahu gadis itu dan melirik wajahnya. "Marah ya?"
Shasa merengut.
"Jangan gitu dong Sayang, aku bisa menderita. Senyum dong."
"Ih, kamu bener-bener makin pintar ngerayunya ya!" Shasa makin terperangah dengan gaya bicara pria itu padanya, seolah-olah dia pacarnya.
"Kenapa? Suka?"
"Ih, enggak!" Wajah Shasa kembali merah padam.
"Bohong ...," goda Abra.
"Ih, udah ah! Aku mau belanja, ini. Jangan di godain terus dong ah!"
"Iya, iya." Abra mulai serius, tapi Shasa mulai tersipu-sipu. Tak ayal, ucapan Abra melambungkan angannya.
Setelah berbelanja, mereka ke apartemen Abra.
Shasa memasak sedang Abra membersihkan rumah. "Katanya aku yang bersihin rumah?"
"Oh, aku suami yang baik, akan membantu istrinya membersihkan rumah."
"Kamu masak apa Sayang?"
"Ayam goreng tepung."
Abra menghampiri. "Kok kamu gak pernah manggil aku 'Sayang' sih?"
"Eh?" Gadis itu bingung dengan pertanyaan Abra yang tiba-tiba. "Eh, rasanya aneh ...."
"Gak boleh gitu dong. Suami istri itu harus sama-sama cinta dan saling mengungkapkan."
Diprotes begitu, Shasa bingung menjawabnya karena ia tidak pernah melakukan itu bahkan pada Bima sekalipun.
Abra meraih tangan gadis itu. "Mulai dong kamu panggil aku Sayang, karena mungkin nanti ada di skenarionya."
"Eh, masa sih?"
"Iya, jadi kamu harus membiasakan diri panggil aku 'Sayang'."
"Memangnya aku harus ngomong di dalam iklannya?" Shasa yang sedang membalut ayam dengan tepung, terkejut.
"Tergantung skenarionya. Ada yang pakai dialog ada yang enggak. Skenario dan adegannya kan lagi dibuat."
"Tapi aku kan belum pernah ngomong di iklan."
"Jangan takut. Kan ada aku di sana Sayang. Eh, kok tali celemekmu lepas." Abra memperhatikan celemek Shasa yang maju ke depan. Dengan sigap Abra berpindah ke belakang gadis itu dan mengikatkan tali celemek yang terlepas. "Lain kali kalau mengikat talinya yang benar ya?"
"Iya," jawab Shasa canggung. Sedikit tak nyaman pria itu ada di belakangnya.
"Kok masih belum panggil 'Sayang' Sayang?" Abra mengerakkan kepalanya ke samping melirik Shasa.
"Sa-yang," jawab gadis itu dengan perasaan aneh.
"Latihan terus dong! Coba lagi." Abra berpindah ke samping gadis itu.
__ADS_1
"Sayang." Gadis itu melirik Abra dengan canggung. Wajahnya memerah.
"Lagi." Abra tersenyum senang.
"Sayang."
"Bagus. Kayak gitu ya manggil aku sekarang. Pakai 'Sayang' ya Sayang ya?"
Shasa mengangguk dengan masih tersipu. Ia berusaha meneruskan pekerjaannya membalut ayam dengan tepung agar Abra tidak memperhatikan sikapnya yang mulai salah tingkah. Abra hanya tersenyum simpul.
Makan malam, mereka hanya makan ayam goreng tepung buatan Shasa, tapi pria itu sudah cukup senang. "Besok bikin yang 2 menu ya? Pakai sayur."
"Aku gak pintar masak. Ngak tau."
"Kan bisa cari di internet. Atau besok aku yang masak makan siang. Kita cari di internet dan praktekkin sama-sama. Kita belajar sama-sama."
"Kalau begitu aku gak bisa pergi kerja dong," protes Shasa.
"Lah, kan sebelumnya juga begitu? Saat kita mau syuting, kamu ikut denganku hingga berhari-hari."
"Tapi itu karena mereka beriklan menggunakan jasa kantorku. Kalau sekarang kan tidak."
"Tapi aku rasa prosesnya harusnya sama. Coba kamu izin dulu dengan Pak Bima."
Sementara Shasa menelepon Bima, Abra kembali mencomot ayam goreng di hadapannya. Pria itu asyik makan ayam goreng itu sambil mendengarkan Shasa menelepon pacarnya.
"Jadi boleh?"
"Kan demi berhasilnya iklan itu kan? Lakukan saja."
"Terima kasih Kak." Shasa menutup teleponnya.
"Bener kan?" tebak Abra.
"Tapi, berarti besok aku gak kerja ya? Kamu gak kerja juga?"
"Oh, aku bebas. Sudah lama aku tak cuti."
"Tapi kan 2 bulan yang lalu masuk rumah sakit?"
"Tapi aku tak menikmatinya. Kali ini aku ingin cuti fokus pada iklan ini." Abra mencondongkan tubuhnya ke depan. "Fokus padamu."
Sukses, kalimat terakhir membuat jantung Shasa berdegup kencang. Pipinya memerah dan ia salah tingkah. "Apaan sih!" Ia menunduk mencoba melakukan sesuatu tapi ia tak tahu apa.
Abra tersenyum karena berhasil menggodanya.
"Eh, tapi kalau masak untuk makan siang, aku datang jam berapa? Kita belanja dulu gitu?"
"Oh, iya ya? Coba kita lihat macam-macam menu makanan dulu di internet jadi besok tinggal masak." Abra melihat HP-nya. "Bagaimana kalau besok mmh ... kamu datang pagi-pagi aja? Sekalian masak untuk sarapan." Pria itu kemudian mengangkat kepalanya sebentar kemudian kembali fokus pada HP-nya kembali.
"Mmh?" Ini sih aku benar-benar jadi ibu rumah tangga namanya. Shasa memperhatikan Abra. Pria itu terlihat serius melihat HP-nya hingga tak sadar Shasa tengah memandanginya.
Entah kenapa, pertemuan mereka kembali dalam sebuah iklan membuat gadis itu kemudian bisa jujur pada dirinya sendiri bahwa ada bunga-bunga rindu yang ia jaga rapi di dalam hati. Tersimpan rapat karena terlarang dan kini keluar dari persembunyian dan menari bebas di depan mata.
Ia merindukan pria itu diam-diam dan itu tersembunyi di dasar hatinya yang paling dalam agar tidak menimbulkan masalah, tapi tetap saja rindu itu bukan manusia yang membuatnya. Ia bisa mendatangi siapa saja yang sedang jatuh cinta, dan tidak bisa berlari darinya. Cinta, kenapa kau begitu rumit? Anak nakal yang tidak bisa diatur.
"Mmh?" Abra merasa Shasa terdiam tanpa suara saat ia mengangkat kepalanya. "Sudah dapat menu buat besok ya?"
"Eh, belum." Shasa mulai membuka HP-nya. Ia melirik pria itu yang kembali fokus pada HP di tangannya.
Ia meragukan hatinya. Lagi. Mungkinkah kali ini ia membelot?
----------+++----------
Rika terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat Damar sedang berdiri menatapnya. "Ada apaan sih?" Ia terduduk sambil mengucek-ngucek matanya.
Pria itu duduk di tepian tempat tidur. "Gue denger lo hamil ya?" Ia meledek adiknya.
"Brengsek!" Rika memukul lengan Damar.
Pria itu tertawa terkekeh-kekeh. "Baru kali ini gue lihat lo takluk ama nasib lo!"
Rika menatap pria itu tajam di balik matanya yang sudah berkaca-kaca.
Damar berhenti dari tawanya dan menatap balik adiknya. Tiba-tiba ia memeluk tubuh Rika erat. Gadis itu terkejut.
__ADS_1
"Kamu pikir aku kakak yang jahat ya? Padahal kenyataannya, kamu adik yang nakal."
Rika terharu. Ia menangis di pelukan Damar.