Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Padamu


__ADS_3

"Waduh, bapak teladan."


"Aku gak mengharapkan itu. Bagiku anak-anak dan istri itu yang utama. Di saat-saat seperti sekarang ini saat mereka butuh aku, aku ingin ada untuk mereka. Nanti kalau anak-anakku sudah besar pasti mereka akan mencari dunianya sendiri, sahabat, dan pekerja dan istri pun sama. Kalau dari awal kita meninggalkannya karena pekerjaan apa sekiranya saat sudah tua ia masih mau bersamaku?"


"Kan Kakak cari uang untuk mereka?"


"Tapi uang tidak bisa menggantikan apa yang hilang. Aku merasakan di kedua orang tuaku begitu. Almarhum Ibuku, setelah memilikiku, dia berhenti bekerja. Dia mengurusku karena tahu Ayah sibuk. Setelah kepergiannya, aku lebih ingat dia dibanding Ayahku. Apa-apa yang diajarkannya dulu padaku masih aku ingat jelas, tentang pentingnya arti keluarga karena itu aku ingin meneruskan apa yang diajarkan ibuku dulu."


"Mmh ...." Raven mengangguk-angguk. "Sayang aku hanya punya kenangan buruk tentang orang tuaku yang bercerai."


Abra menepuk bahu Raven. "Segala sesuatu yang terjadi itu adalah pelajaran untuk membuat kamu jadi manusia yang lebih baik lagi. Meninggalkan yang buruk dan mengerjakan yang baik."


"Seperti kerjaanmu yang suka gonta-ganti pacar itu!" sahut Shasa.


Abra dan Raven tertawa.


"Iya, udah enggak kok. Aku belajar dari masa lalu aku yang buruk. Walaupun aku udah berusaha ngejauhin sesuatu yang bikin masalah, tapi memang kalau dari awal kita bermain-main di sekitar masalah itu, ya gak jauh-jauh pasti kena juga."


Shasa dan Abra saling pandang dan mengerut kening.


"Kamu ngomong apa sih Bang ... gak jelas," komentar Shasa bingung.


"Ya pokoknya aku berusaha jadi orang yang berbeda sekarang. Ngak kayak dulu lagi. Lebih selektif, pokoknya."


"Deee yang serius ...." ledek Abra.


Ketiganya tertawa.


-------------+++-----------


Erik menatap anaknya yang sedang sarapan. Iba. Ia merasa sebagai orang tua yang gagal karena tidak mengetahui rumah tangga anak perempuannya yang bermasalah dan anaknya tidak mencarinya untuk tempat berbagi cerita tapi malah bicara dengan orang yang baru ia kenal yang notabene orang lain di banding keluarganya sendiri. Ia merasa gagal membangun komunikasi dengan anaknya. "Maaf Ayah tidak tahu, kalau kalian ...."


"Tidak apa-apa Yah," jawab Diandra santai. Mungkin karena sifat tomboinya itu membuat ia kuat menjalani kehidupan pernikahannya yang bak neraka karena setiap hari pasti menerima kekerasan dari suaminya. Pria itu juga pintar, tidak melukai tubuh istrinya di bagian wajah atau tempat-tempat yang terlihat lainnya karena itu selama setahun kejahatannya ini tak tercium.


Padahal kemarin itu, ia datang ke rumah anaknya ingin menanyakan tentang hubungan Diandra dengan Damar karena ia kurang setuju dengan hubungan mereka berdua itu dan kebetulan ia bertemu dengan suami anaknya yang juga baru datang secara bersamaan sehingga mereka bisa masuk ke dalam rumah itu bersama-sama.


Namun kenyataan menunjukkan sebaliknya. Yang ia curiga malah adalah orang baik dan orang yang ia anggap anggota keluarga malah menusuknya dari belakang. Sungguh, apa salah dirinya hingga harus mendapati kehidupan rumah tangga anaknya yang tidak bahagia.


"Maaf ayah tidak peka dengan kehidupan rumah tangga kalian."


"Tidak apa-apa Yah. Aku sebenarnya merasa akulah yang salah karena akulah yang memilih calon suami aku sendiri dan aku gagal." Tiba-tiba mendung menggelayut di kedua matanya.


Erik segera berdiri dan mendatanginya. Ia membungkuk pada anak perempuannya yang masih duduk di kursi itu lalu memeluknya.


Wanita itu menangis sesegukan.


Erik mengeratkan pelukannya. Ia pun tak tahan hingga mengalirkan air mata. "Padahal orang tua adalah tempat seorang anak kembali, baik ataupun buruk dirinya."


Diandra menangis sejadinya. Ia memeluk ayahnya erat.


-----------+++-----------


"Kau mau ke mana?" Erik melihat Diandra telah berpakaian rapi keluar dari kamarnya.


"Kantor Yah."


"Kantor? Kamu tidak ingin di rumah dulu? Keadaanmu masih belum sehat." Erik meletakkan cangkir tehnya.


"Aku gak bisa Yah, tinggal di rumah karena nanti pikiranku buntu. Lebih baik aku bekerja, jadi menghilangkan pikiran buruk itu dari kepala."


"Mmh." Ternyata Diandra mirip dengan dirinya yang biasanya menyibukkan diri bila sedang ada masalah. "Ayah sudah menyewa pengacara untuk masalah perceraianmu dengan suamimu."


"Makasih Yah."


Erik melirik Diandra. "Boleh Ayah tanya, bagaimana caranya kamu bisa berkenalan dengan Damar?"


"Oh, gak sengaja Yah. Dia datang ke hotel kita."


"Ke hotel?"


"Iya. Dia itu kerja di perusahaan untuk penyuplai barang-barang perlengkapan kamar mandi hotel dan dari anak buahnya ia mendengar perusahaan kita butuh perusahaan rekanan karena mau ganti perusahaan rekanan yang lama."

__ADS_1


"Oh, begitu."


Diandra pamit pada Erik untuk berangkat, tapi Erik masih terlihat penasaran.


"Hubunganmu dengannya apa Ndra?"


Wanita itu tersenyum. "Aku menyukainya Yah, tapi aku gak tau perasaannya."


Erik terdiam sejenak. "Sebaiknya kamu menjauhinya dulu Ndra, karena kamu sedang dalam proses perceraian."


"Iya Yah."


Ternyata Regan menolak cerai hingga mau tak mau Erik menyerahkan kasus ini ke polisi agar proses cerai anaknya segera tuntas dan Regan di tahan. Keluarga Regan kemudian datang pada Erik untuk melakukan negoisasi. Setelah pihak keluarga membujuk Regan akhirnya disepakati proses perceraian secara baik-baik.


Kabar ini juga akhirnya mampir ke telinga Abra. Ia mendatangi adiknya, ikut merasa prihatin.


------------+++-----------


Rumah baru akhirnya selesai. Abra dan Shasa segera pindah ke rumah baru dibantu Raven. Si kembar Lione dan Lina yang sudah bisa berjalan sangat senang dengan rumah baru mereka sehingga mereka berlarian di dalam rumah berkejar-kejaran berdua membuat pusing Shasa yang menjaganya.


"Lina ... Lione ... aduhh, kalian jangan berlarian terus. Mami saja capek, apa kalian tidak?"


"Mamito ...!" Lina berlari ke sudut ruangan sedang Lione mengejarnya dari belakang.


"Amito ...!" teriak Lione.


"Aduhh, anak-anak ini ...," keluh Shasa.


"Sha, anak-anak dibawa ke kamar saja biar gampang menjaganya," saran Abra yang sedang membawa barang-barang dalam kotak.


"Tapi bagaimana menangkapnya, lari mereka kencang sekali!"


"Sini, aku tangkap." Raven tiba-tiba sudah menangkap Lione di tangan kiri dan ... ia berhasil menangkap Lina di tangan kanan. Kedua bocah itu mengerak-gerakkan kakinya sambil tertawa kegirangan. "Ayo kita bawa kedua anak nakal itu ke atas."


Shasa kemudian mengikuti Raven menaikki tangga.


Sorenya rumah hampir rapi, tinggal meletakkan barang-barang ke tempat yang semestinya. Untung saja Abra sudah punya 2 pembantu dan seorang penjaga rumah barunya sehingga memudahkan ia pindahan.


"Oh, pasti. Aku selalu ikut ke mana adikku pergi. Aku sangat takut kehilangan dia lagi. Kira-kira ada yang jual rumah gak di sekitar sini?"


"Astaga Raven ...." Abra tergelak. "Makanya cari istri Ven."


"Saat ini cukup Shasa aja. Aku belum ingin berumah tangga. Pusing kayaknya lihat kalian."


Abra kembali tergelak. "Kayaknya kamu bakal jomblo lama nih!"


"Biarin. Yang penting ada kalian. Kalau aku butuh tinggal datang saja ke sini. Kan ada kamu sebagai kakak, ada Shasa kalau rindu adik dan ada si kembar kalau kangen anak kecil."


"Ven, kamu gak ingin punya keluarga sendiri?"


"Sekarang ini aku lagi pengen karir Kak, dan sekolah. Aku gak mau nunda-nunda kayak Kakak gitu. Kalau hidup sendiri kan gak ada yang halangi."


"Iya sih ...." Abra menepuk lengan Raven. "Puas-puasin masa mudamu ya, sebelum terbelenggu seorang istri."


"Sip!" Raven mengangkat kedua ibu jarinya.


"Apa? Memangnya punya istri setidakmenyenangkan itu?" tanya Shasa mengerut kening saat keluar dari kamarnya di lantai atas sambil menggendong kedua bayi kembarnya yang mulai berat.


"Eh, bukan begitu Sayang." Abra panik dan segera berdiri dari duduknya.


"Waduh, gawat. Bisa perang Dunia kedua nih. Ah, kabur ah," gumam Raven yang segera pamit dan bergegas keluar.


Shasa segera masuk lagi ke dalam kamar. Abra mengejarnya ke lantai atas dan langsung masuk ke kamar. Dilihatnya istrinya ngambek di atas tempat tidur sedang si kembar berusaha turun dari tempat tidur.


"Eh, eh, eh ...." Abra menangkap kedua bocah kembar itu dan menggendongnya. Ia mendatangi tempat tidur sambil membawa kedua bocah itu mendekati ibu mereka. "Sayang, Mamito lagi marah masa sama Papito padahal tadi Papito cuma nasehati Om Raven lho! Bukan ngomongin Mamito ...," ucapnya pada si kembar.


Entah mengerti atau tidak, kedua bocah kembar itu mendengarkan ayahnya dengan serius.


"Bilang Mamito, Papito sayang sama Mamito."


"Mamito!"

__ADS_1


"Amito!"


Si kembar seperti memohon membuat Shasa yang tadinya ngambek akhirnya menerbitkan senyum kecilnya mendengar kedua anaknya memanggilnya.


"Papito gak mungkin bilang Mamito beban karena Papito gak bisa hidup tanpa Mamito."


"Mamito!"


"Amito!"


Kembali kedua bocah itu memanggil ibunya membuat gadis itu tak bisa menahan senyum. Pria itu mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi istrinya. Sekali, kemudian berkali-kali hingga terbit senyum lebar di wajah gadis itu.


"Papito!"


"Apito!"


Abra menoleh pada kedua anaknya dan mengecup kening mereka satu-satu. Keduanya memeluk mereka berdua membuat Abra menyandarkan tubuhnya pada istrinya.


"Maafin Papi, Mi."


"Mamito!"


"Amito!"


"Iya, iya ...." Abra mendengarkan ralat dari kedua anaknya.


Shasa tersenyum bahagia.


------------+++------------


Damar terkejut ketika hendak keluar dari pintu utama kantornya karena melihat Diandra duduk di kursi sofa di lobi kantor.


Saat itu, jam pulang kantor telah berlalu setengah jam yang lalu. Ia memberanikan diri mendekat. "Kamu menungguku?"


"Oh, iya Kak." Diandra segera berdiri.


"Ada apa ya, kan hotelmu memutuskan untuk menggunakan jasa perusahaan lain."


"Iya, secara profesional aku harus memilih yang terbaik." Terdiam sebentar. "Apa Kakak marah?"


"Oh, tidak apa-apa. Itu kan hak perusahaanmu."


"Beneran Kakak gak marah?"


"Beneran Andra, kenapa aku harus marah."


Masih ada orang yang berlalu lalang di sekitar mereka karena memang jam pulang kantor.


"Lalu kenapa Kakak selalu menghindar setiap kali aku telepon. Ada meeting, sibuk dengan kerjaan sampai malam. Apa Kakak sesibuk itu?"


Damar mengusap belakang kepalanya. "A-aku memang sesibuk itu, maaf."


"Sekarang?"


"Eh ...." Kalau berhadapan langsung dengan orang, Damar kesulitan berbohong. Ia tampak kebingungan mencari alasan untuk saat itu.


"Mau meeting dengan klien di luar."


"Ah, ya ...." Namun kemudian Damar malu sendiri karena Diandralah yang mencarikannya alasan.


"Kenapa Kakak menghindar?"


"Pekerjaanku kan sudah selesai Ndra."


Wanita itu masih menatapnya membuat pria itu tertunduk. "Aku ingin ketemu kamu, apa tidak boleh?" ucapnya kesal.


"Boleh Ndra, boleh ...." Pria itu menggangguk-angguk dalam tunduknya. Keduanya pergi keluar bersama. Damar membawa wanita itu ke mobil. Mereka kemudian berangkat untuk makan malam bersama.


___________________________________________


Hai reader terima kasih masih terus membaca kelanjutan cerita puisi cinta topeng Cinderella dan jangan lupa vitamin author ya? Ini visual Abra dengan rumah barunya. Salam, ingflora💋

__ADS_1



__ADS_2