
"Oya, bagaimana acara akikah anaknya Raven? Istrinya baru melahirkan kemarin 'kan?" tanya Erik pada Abra.
"Oh iya, aku dititipi undangan untuk hari Minggu, acara akikah anaknya di rumah. Ayah mau datang?" Abra menyodorkan kartu undangan.
"Mmh, nanti lihat dulu ya? Kalau kondisi Kevin membaik, Ayah akan pergi. Rumahnya dekat dengan rumahmu 'kan? Bayinya perempuan ya?"
"Iya, namanya Qorin."
"Ayah, aku juga mau ikut Yah," sela Kevin tiba-tiba.
"Kevin, kamu tidak usah ke mana-mana."
"Tidak, aku mau ikut."
"Kevin, sekarang saja kamu masih terbaring lemah di tempat tidur, apa mungkin saat itu kamu sudah membaik, mmh?"
"Kalau aku sudah kembali normal 'kan bisa?"
"Sudah, tidak usah."
"Aku akan pergi. Nanti aku akan datang bersama ambulan dan bodyguard."
Abra menahan tawa.
"Ck! Kenapa kamu keras kepala sekali sih, Kevin. Biasanya kamu tidak begini."
"Kan kasihan Kalula, belum jalan ke mana-mana."
"Kalula siapa?" Ayah mengeyit dahi.
"Ini, anak ini." Kevin menunjukkan bayi Safiyah.
"Kau mau mengganti namanya ya?"
"Kenapa? Sekarang 'kan dia milikku." Ternyata Kevin ingin memamerkan anaknya pada banyak orang.
"Kevin." Erik berdiri dan mendatangi tempat tidur anaknya. "Bagaimana kalau orang-orang menanyakan anak ini, menanyakan ibunya?"
"Anak ini anakku dan ibunya tidak ikut."
"Tidak semudah itu Kevin."
"Tapi kan aku benar."
Erik hanya menghela napas. Uliyah masih memangku Safiyah seraya melihat perdebatan mereka, ayah dan anak ini.
Tiba-tiba ibu ikut bicara. "Bagaimana kalau wanita itu, siapa namanya, bercerai dengan suaminya dan menikah dengan Kevin."
"Ibu!" ucap Kevin dan Erik bersamaan.
"Itu kan dosa, menyuruh seseorang bercerai."
"Lagipula hubungan aku dan Uliyah hanya berteman, iya kan Ul?" tanya Kevin pada wanita itu.
Uliyah mengangguk pasrah. Abra pun bingung pada situasi yang terjadi. Keduanya, Uliyah dan Kevin, punya keinginan sendiri yang tidak bisa dipaksakan. Lagipula, aneh juga ketika Kevin menyebut hubungan mereka hanya pertemanan ketika keduanya bisa punya anak karenanya.
-------+++--------
Benar saja. Setelah Kevin sehat, ia mengajak bayi Kalula untuk datang ke acara akikah bayi Raven dan Danisa. Dia tidak datang dengan sendiri. Ada ambulan, Bodyguard dan seorang Babysitter datang bersamanya. Ia datang dengan menarik perhatian banyak orang-orang yang ada di sana.
Erik dan Karen sibuk menerangkan ketika orang-orang mulai menanyakan tentang Kevin, anaknya, serta ambulan yang menyertainya, sedang Kevin sibuk memamerkan Kalula pada banyak orang dan makan di sana.
Kevin, ia merasa hidupnya kembali berwarna sejak bertemu dengan bayi Kalula. Ia merasa lebih sehat dan lebih bahagia. Ada yang ia ingin perjuangkan di masa depan.
"Pa-pa."
__ADS_1
"Apa Sayang? Papa makan dulu ya?" Pria itu menoleh pada Babysitter-nya sambil mengunyah. "Apa Lula sudah makan? Susunya sudah?"
"Sudah Pak."
Pria itu menoleh pada bayi itu. "Lula mau makan? Mau makan ini?" Ia menyodorkan bayi itu nasi sesendok dan bayi itu membuka mulutnya.
"Jangan Pak, belum boleh," ingat Babysitter itu.
"Eh, belum boleh ya?" Kevin tak jadi memberikan nasi itu pada Kalula.
"Sini Sha, tuh lihat bayi Kevin." Abra ternyata datang menghampiri bersama bayi Rafael dalam gendongan. Istrinya, Shasa menyusul bersama si kembar.
"Aih, cantik sekali ini. Siapa namanya?" Shasa datang melihat bayi Kalula yang sedang digendong Babysitter Kevin.
"Kalula tante," jawab Kevin mewakili.
Shasa coba menggendongnya dan bayi itu tak menangis. "Wah ... ini seumuran semua ya, cuma beda bulan. Qorin, Rafael dan Kalula."
"Wah, seru ini, bisa sekolah sama-sama," komentar Abra.
Kevin tersenyum senang. "Aku juga ingin mengantarnya sekolah."
Abra sebenarnya senang melihat gairah hidup Kevin yang sepertinya hidup kembali setelah bertemu dengan bayi itu tapi bagaimana dengan bayi itu? Apa ia tak butuh ibu? "Apa Ibunya masih suka menjenguk?"
Kevin cemberut. Shasa langsung menyenggol lengan suaminya karena tidak sensitif.
Mau tak mau Abra diam dan mengurus bayi Rafael.
Sepulang dari rumah Raven, Kevin pergi ke Mall. Ia membelikan lagi beberapa baju dan mainan buat Kalula. Setelah selesai di satu toko, Kevin berniat berbelanja lagi di toko lainnya tapi ia merasakan ada yang berubah dari dirinya. Ia segera tahu dan mencari Bodyguard-nya. "Kamu ...," katanya memegang kepalanya.
"Apa Pak," jawab Bodyguard itu, tapi sebelum Kevin sempat menjawab ia sudah jatuh pingsan.
Bodyguard itu segera menggendong dan melarikannya ke ambulan, mobil yang memang mengantarkan mereka ke sana. Mereka semua kembali ke rumah sakit.
Setelah siuman, pria itu mencari Kalula. Ternyata bayi itu sudah berada di dalam tempat tidur bayinya yang kecil.
Bayi itu tengkurap di atas tempat tidur dan melihat Kevin bangun. "Pa-pa."
"Kalula, kau tidak apa-apa 'kan? Maaf, Papa ngak bisa menemani kamu ke mana-mana."
"Pa-pa." Bayi itu hanya bisa menggigit mainannya.
----------+++-----------
Uliyah sangat lelah. Hari ini banyak sekali pasien demam berdarah di rumah sakit itu sehingga pekerjaannya tak ada habis-habisnya, bahkan saat sudah waktunya ganti shift, ia dan teman suster yang menggantikannya juga ikut membantu pekerjaan agar semua cepat tertangani.
Setelah berganti baju, ia duduk di pos jaga sekedar melepas lelah. 6 bulan telah berlalu sejak ia melepas anaknya Safiyah dan banyak yang telah terjadi. Ia bercerai dari suaminya dan sekarang tinggal berdua dengan ibunya di sebuah kamar kos-kosan kecil untuk mereka berdua. Ia sedang menata hidupnya kembali.
"Mbak haus?" Seorang pria tampan yang sedang menggendong seorang anak kecil, menyodorinya sebuah botol minuman air mineral.
Wanita itu terkejut. Ia melirik gadis kecil dalam gendongan pria itu. Matanya berkaca-kaca.
"Mbak, ini minumnya. Air putih kok, bukan minuman alkohol."
Wanita itu tersenyum menatap pria itu. Ia meraih botol air mineral yang ditawarkan.
"Boleh kenalan?" Kini pria itu menyodorinya tangan.
Masih dengan wajah haru, wanita itu menyodorkan tangannya. Mereka berjabat tangan.
"Kevin."
"Uliyah."
"Mmh, anakku sebentar lagi berulang tahun yang pertama tapi dia tidak punya ibu. Bolehkah aku melamarmu, agar nanti anakku punya ibu?"
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Uliyah langsung memeluk leher pria yang sedang setengah membungkuk ke arahnya itu. Air matanya bercucuran karena haru.
"Apakah ini artinya 'iya'?"
"Iya," jawab wanita itu dengan suara serak seraya mengangguk.
Kevin memeluknya.
"Papa." Gadis kecil digendongan Kevin itu terlihat bingung.
Uliyah segera melepas pelukan dan ingin menyentuh Kalula tapi gadis kecil itu terlihat tegang.
"Mungkin dia sudah mulai lupa," ucap Kevin sambil tersenyum dan mengusap punggung Uliyah. "Tidak apa-apa, kita mulai lagi dari nol."
Wanita itu mengangguk dengan senyum bahagianya. Selagi ia menghapus air matanya, Kevin mengeluarkan sebuah kota cincin dan menyerahkan pada Uliyah.
"Kau masih ingat ini?"
Uliyah mengambil kotak cincin itu dan membukanya. Sebuah cincin emas dengan berlian berwarna pink yang mengawali perkenalan mereka pertama kali. "Ini .... "
"Coba pakailah."
Uliyah mengambil dan mengenakan di jari manisnya. Pas. Jemari Uliyah yang ramping itu terlihat cantik dengan cincin berlian itu. "Tapi ini punya siapa?" tanyanya bingung.
"Sebenarnya aku membelinya karena kesal, dan aku merasa sial karena cincin itu tapi ternyata cincin itu bertuan dan aku kini telah menemukan calon pemiliknya yaitu kamu."
Uliyah sangat bahagia. Ia kembali memeluk pria itu. Kalula cemburu karena ada yang menarik perhatian ayahnya hingga ia menangis. Kevin dan Uliyah tertawa seraya mencoba menghentikan tangis gadis kecil itu.
---------+++---------
Kevin akhirnya menikahi Uliyah di rumah sakit dengan hanya dihadiri kerabat dekatnya saja.
Ibu Uliyah bahagia melihat anak satu-satunya menemukan kebahagiaannya kembali. Abra ikut hadir bersama keluarga kecilnya, begitu juga keluarga Raven, Damar dan juga Bima. Bima sedang bergembira karena Rika tengah hamil 4 bulan. Lengkap sudah kebahagiaan pria itu karena ia ternyata bisa punya keturunan.
Setahun kemudian Uliyah hamil. Kevin bersikeras meninggalkan rumah sakit karena ia bisa hidup dan tinggal di rumah dengan pengawasan istrinya. Ia kemudian membeli rumah dekat rumah sakit agar ia bisa memeriksakan tubuhnya setiap kali ia sakit.
"Papa."
"Iya Sayang."
Gadis kecil itu berlari-lari mendatangi Kevin yang sedang mengerjakan pekerjaannya pada laptop di atas meja makan. Ia sedang menemani putrinya menonton TV.
"Mau lihat Dedek," rengek Kalula mengacak-acak rambutnya karena bosan sambil bersandar di pangkuan Kevin.
"Kamu ngantuk ya?" Pria itu mematikan laptopnya dan menggendong Kalula.
Gadis kecil itu diam saja dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang ayahnya.
Kevin membawanya ke kamar. "Tapi kalau Adek sudah bobo, jangan digangguin ya? Kamu tidur saja sama Papa biar Mama sama Adek."
"Iya."
Ternyata Uliyah tidur dengan bayinya di tempat tidur bayi. Kevin kemudian membawa Kalula yang sudah mengantuk ke tempat tidurnya. Ia menidurkan gadis kecil itu tapi ia sendiri juga tertidur.
Ssst! Jangan berisik. Sudah ya?
T A M A T
___________________________________________
Selesai sudah cerita Abra dan Shasa di Puisi Cinta Topeng Cinderella. Berikutnya, yang ingin baca novel CEO author yang baru, judulnya, CEO And Twins. Juga bisa membaca novel2 author yang lainnya dengan mengklik di akun author. Terima kasih sudah membaca novel author sampai selesai dan silahkan memberikan like, vote, hadiah dan komen terakhir. Salam ingflora💋
__ADS_1