Puisi Cinta Topeng Cinderella

Puisi Cinta Topeng Cinderella
Keluarga


__ADS_3

Eh, beneran gak papa? Pak Bima bisa seikhlas itu? Beneran gak sih dia cinta sama Shasa, masa gak ada cemburu-cemburunya sama sekali sama pacarnya? "Pak, Bapak beneran suka gak sih sama Shasa? Kok gak ada cemburu-cemburunya sama sekali Shasa deket sama pria lain?" Rasa penasaran Haris membuat kalimat itu terlontar dengan sendirinya.


"Aku akan melamarnya."


Haris terkejut. "Sudah bilang pada Shasa?"


"Sudah. Rencananya Minggu depan mau ketemu Omnya."


"Yakin Pak?"


"Lho, kalau tidak yakin kenapa aku melamarnya?"


"Karena didesak keluarga?"


Wajah Bima tiba-tiba berubah. "Aku sudah mendapatkan semua yang aku inginkan dari Shasa, lalu apa lagi?"


"Eh, tidak tahu Pak. Hanya Bapak yang tahu soal ini. Soalnya pacaran Bapak sama Shasa tuh kayak kurang greget. Kurang nano-nano gitu Pak, tapi mungkin saya salah. Mungkin kalian memang berjodoh satu sama lain karena kalau tidak takut salah satu dari kalian menyesal. Sekarang kan musim orang selingkuh Pak, yang saling cinta aja selingkuh apa lagi yang enggak, jadi pastiin perasaan Bapak sama Shasa itu benar adanya."


"Aih, musim duren yang ada Ris bukan musim selingkuh," ledek Toto.


"Aish!" Haris geram pada Toto tapi Bima dan yang lainnya tertawa.


"Jangan Kotbah selasa Ris, Kotbah tuh Jum'at." Toto masih meledaknya.


"Lo cari masalah aja Toto."


"Lah emangnya elu udah pernah pacaran?" tangkis Toto.


"Belum."


"Nah itu ...."


Yang lainnya tertawa.


"Tapi setidaknya tidak ada yang tersakiti karena terpaksa pacaran."


"Pacaran dulu, baru tahu rasanya," sela Vera.


"Tul," sambung Toto.


Kembali ruangan penuh dengan gema tertawa. Bima hanya geleng-geleng kepala. Kedekatannya pada para pegawai membuat ia disenangi sekaligus dihormati oleh semua bawahannya.


Ia kemudian kembali ke ruang kerjanya. Di sana ia menarik kursi dan duduk di samping meja kerjanya. Ia kemudian membuka HP-nya dan melihat foto yang diambil tadi berpose berdua dengan Shasa.


Foto itu ia kirim ke orang tuanya di kampung. Orang tuanya sangat senang dan bertanya kapan ia akan serius meminangnya. Bima memberitahukan mereka, akan bertemu dengan om Shasa terlebih dahulu.


Ia menghela napas. Pencariannya akan calon istrinya telah selesai. Shasa adalah tipe wanita idaman yang sangat sempurna yang telah lama dicarinya dan harusnya ia gembira, tapi entah kenapa jauh di dalam lubuk hati ia masih bertanya-tanya seolah ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam dada dan ia tidak tahu apa. Ia berharap itu bukan sesuatu yang berarti.


Shasa mudah-mudahan kita berjodoh. Ya Allah, dekatkanlah hati kami dan jangan jauhkan. Aku sudah lelah patah hati.


----------+++-----------


Rika makan di kantin bersama teman barunya Jeslyn dan Vania, tapi ia merasa risih dengan pandangan seorang pemuda terhadapnya yang duduk sedikit jauh dari mereka. Pria tampan yang merasa yakin dengan siapa yang diliriknya.


"Siapa sih tuh cowok, ngeliatin gue mulu?" tanya Rika setengah menertawakan sebab ia selalu meremehkan semua pria yang memandangnya.


Kedua temannya menoleh.


"Oh, itu. Casanova planet ini. Jangan deket-deket dia kalo gak mau dimaenin hatinya," sahut Jeslyn, gadis berambut panjang dengan mata yang sedikit menyipit. Kulit putihnya memberitahu bahwa ia masih keturunan Cina.


"Mmh, Casanova? Tampan keren dikit doang bangga," cibir Rika.


"Dia tuh, player(playboy) yang pintar berkelit. Udah banyak yang jadi korbannya. Kejar-kejar cewek, dah dapet hatinya eh ditinggal. Udah banyak yang tahu kok, tapi masih banyak aja yang ketipu sama dia," jelas Vania.


"Mmh, dosen satu kena," sela Jeslyn memberi tahu sambil mengunyah Sushinya.


"Alamat nilai bagus terus deh!" Vania menimpali.

__ADS_1


Ketiganya tertawa.


Rika masih melirik pemuda itu yang sedang mengobrol dengan teman-temannya dan masih melirik dirinya, dan pemuda itu seperti berusaha tebar pesona. Gadis itu kemudian mengacuhkannya.


Setelah makan di kantin Rika dan teman-temannya keluar dengan melewati meja pemuda itu dan tiba-tiba pemuda itu memberanikan diri mendatangi Rika.


"Halo, boleh kenalan gak?" Pemuda itu menyodorkan tangannya.


Rika memainkan bibirnya, sengaja memperlama seakan ia sedang berpikir.


"Ayo, jangan jual mahal dong nanti rugi, tau."


"Rugi apanya," gadis itu sedikit mencibir.


"Rugi karena lo butuh gue."


"Apa?"


"Yakin karena gue bisa lihat masa depan lo!"


"Aih ...." teman-teman pemuda itu mulai bersorak.


Rika meninggalkannya diikuti Jeslyn dan Vania.


"Kenapa? Lho takut kenalan ma gue? Takut jatuh cinta?" tantangan pria itu diikuti sorak teman-teman pria itu.


Rika panas mendengarnya. Ia berbalik. "Enak aja, emang gue takut?"


Jeslyn dan Vania terkejut.


"Rika ...." Vania berusaha menahannya.


Rika malah menyodorkan tangannya. Pemuda itu menyambutnya.


"Rika."


Teman-teman pemuda itu bersorak sedang teman-teman Rika sedikit cemas.


Sebuah takdir baru saja tersambung, menunggu untuk bergulir.


----------+++----------


Pintu terbuka tanpa terdengar ketukan dan Kevin muncul dari balik pintu. "Kamu sendiri Bra?" Ditemuinya adiknya yang duduk di kursi sofa sendirian. Abra bersandar di kursi dengan malas dan terlihat tidak ingin melakukan apapun. Ia melirik Kevin sekilas dan meluruskan pandangan. Kevin mendatanginya. "Bra, kira-kira Shasa udah selesai belum, cari kos-kosannya?"


"Gak tau Kak," jawab Abra tanpa menoleh, malas.


"Telepon dong."


"Kan dia sama pacarnya?" Abra menoleh.


"Barangkali mau ke sini?"


"Ya gak mungkinlah Kak, mungkin mereka pergi ke mana gitu."


"Atau mungkin dia di apartemen?"


"Sudah, Kakak urusin pekerjaan kakak saja, kenapa harus cari Shasa?"


"Rame rasanya kalau ada dia." Kevin tersenyum.


Abra malah merengut. "Bagaimana kalau mereka bersama hingga nanti malam?"


Kevin terdiam sejenak. "Kau benar juga ya?" Kemudian ia pergi dan menghilang di balik pintu.


Tinggal Abra yang terlihat kesal karena gara-gara Kevin ia kembali memikirkan gadis itu. Saking kesalnya ia menendang meja di depannya dan kemudian mengerang kesakitan.


----------+++----------

__ADS_1


Rika sangat senang pulang jalan-jalan dari mal bersama Jeslyn dan Vania. Di tangannya tergantung tas belanja yang sudah menumpuk.


Taksi yang ditumpanginya baru saja pergi. Ia melihat sekilas pada mobil sedan yang sedang berhenti tepat di depan pintu utama rumahnya. Ia mengacuhkan karena mobil itu bukan mobil mewah. Gembel mana lagi yang sedang berkunjung ke rumahku, pikirnya.


Ia segera masuk pada pintu yang terbuka lebar. Di ruang tamu ada sepasang pria dan wanita yang tak lagi muda duduk berhadapan dengan orang tua Rika. Dari ruang tengah ada Damar yang ikut mengamati pembicaraan mereka. Mereka semua menoleh ke arah Rika saat gadis itu masuk.


Sekarang bintang yang sedang dibicarakan datang. Damar tersenyum penuh arti. Ini pasti seru nih!


"Ini Rika?" tanya wanita paruh baya itu menoleh pada Papa Rika.


Papa Rika tak menjawab karena gerak matanya menandakan ketidaknyamanan.


"Siapa Pa?" Mata Rika terlihat jijik dengan dua orang pria dan wanita yang terlihat hidup sederhana tapi seperti mengenal dirinya.


"Rika, tolong kamu salim dulu dengan mereka," pinta Papa Rika.


Karena tak ingin dibilang tak sopan, ia melakukannya dengan enggan. Ia bersalaman dengan keduanya. Ketika ia hendak menaiki tangga, Papa memanggilnya.


"Rika, duduk di sini Papa mau bicara." Papa menepuk-nepuk dudukan sofa di sampingnya. Mama menggeser duduknya sehingga Rika harus duduk di tengah-tengah mereka.


Rika menurut dan meletakkan barang belanjaannya beserta tas kampusnya di samping kursi sofa, kemudian ia pun duduk di sana.


Dalam keadaan sedikit menunduk, Papa berucap. "Rika. Yang didepanmu ini Mama kandungmu."


Dada gadis itu seperti tertusuk ribuan panah saat mendengarnya. Diperhatikannya wanita paruh baya di depannya. Wajahnya kalau diperhatikan memang mirip dirinya. Ternyata ia banyak mengambil raut wajah ibunya, tapi tidak. Sejak kapan wanita itu berani kembali setelah meninggalkannya selama belasan tahun? Untuk apa dia kembali?


Emosinya saat itu membuat darahnya mendidih. Setelah ia jatuh miskin, ia kembali? Lalu, apa yang diinginkannya? Kembali pada Papa atau ingin memeras uangnya? Lalu pria yang di sampingnya ... pasti selingkuhannya kan? Rika menyipitkan matanya melihat lelaki paruh baya yang duduk di sebelahnya.


Rika menoleh pada Papa. "Pa, untuk apa mereka di sini, usir saja mereka Pa! Kalau perlu, berikan uang yang mereka minta dan usir mereka! Rika muak melihat mereka Pa, apalagi dia berani bawah selingkuhannya ke sini, benar-benar wanita tak tahu diri!" Dengan lantang Rika berucap dengan air matanya yang mulai berjatuhan. Jadi karena inikah Papa tak pernah cerita soal Mama? Karena Mama berselingkuh dengan pria lain karena itu Papa menyembunyikannya dariku?


Papa hanya diam. Dengan wajah datar pria itu meneruskan kalimatnya yang belum selesai. "Mereka datang ingin menjemputmu, Rika." Ia dengan susah payah menelan ludahnya.


"Papa!! Mana mungkin aku tinggal dengan orang miskin seperti mereka, aku takkan mau. Salah sendiri ketika ayah miskin dulu dia meninggalkan Papa, kini saat Papa kaya dan mereka miskin mereka memeras Papa dengan memintaku? Serahkan saja uangnya Pa, atau laporkan saja mereka ke polisi!"


Papa menghela napas. "Rika ...."


"Aku tidak mau tahu, aku tidak ingin ikut mereka!" Rika segera berdiri dan mengambil tasnya.


"Rika, Papa belum selesai bicara."


"Aku tidak mau dengar!" Rika menolaknya, memakai tas dan melangkah ke tangga.


"Rika, mereka Mamamu ... dan juga Papamu."


Rika syok. Mereka orang tuaku? KEDUANYA orang tuaku? Lalu Papa Adam itu ... bukan papaku? Jadi selama ini ....


"Mamamu ingin bercerai karena Papa tidak bisa memberinya keturunan tapi Papa tak pernah berikan hingga ia ber ...." Papa menghela napas dengan kasar. Sesak mengingat masa lalu yang belum bisa ia lalui hingga detik ini. "Karena ia hamil kamu, akhirnya Papa meminta syarat agar ia memberikan kamu padaku kalau ingin bercerai, tapi secara lahiriah kau adalah anak mereka."


Saat itu juga Rika menjatuhkan tas belanjanya. Dunia serasa runtuh di hadapannya. Semua itu bohong kan? Bohong ... kan? Air matanya pelan tapi pasti jatuh berlomba melewati pipi. Kenapa jadi begini? Aku ini sebenarnya anak siapa? Anak kedua gembel itu?


Hatinya belum menerima. Terlalu pedih untuk ditelan. Tidak adakah yang mengerti apa yang aku rasakan?


Rika segera berbalik arah. Ia segera berlari keluar lewat pintu utama.


"Rika!" teriak Papa tapi tak diindahkan.


Gadis itu berlari hingga keluar pagar. Ia terkejut melihat sebuah mobil parkir di seberang rumah dan ada Raven di dalamnya. Ia mendatangi mobil pemuda itu.


Pemuda itu terlihat kebingungan. "Eh, maaf. Aku tadi mengikutimu dari kampus." Ia berterus terang.


Gadis itu seperti tak peduli. Ia menaiki mobil Raven.


"Eh?"


_____________________________________________


Bagaimana dengan novel yang satu ini?

__ADS_1



__ADS_2