
"Gua harus gimana dong ris?" tanya Ratih pada temannya, sembari terus mondar mandir kesana kemari seakan akan ingin mencari ketenangan.
"Lo bisa duduk diem nggak sih?" kesal wanita yang bernama Risa tersebut, sembari melemparkan bantal yang mendarat tepat diwajah Ratih.
"Ish...sialan loh." kesal Ratih yang langsung meraih bantal tersebut dan melemparkannya ke arah Risa.
"Eitss, nggak kena." ejek Risa yang dengan lihaynya langaung menghindar dari lemparan bantal Ratih.
"Kalau ternyata kampus kita jauh dari rumah om tampan gue giamana dong?" tanya Ratih yang langsung berjalan dan duduk disamping Risa.
"Eottokke Ris? Eottokke?" tanya Ratih dengan wajah berapi api namun dengan sorotan matanya yang tampak sedih.
"Tih, dengerin gue." kata Risa yang langsung memegang pundak Ratih. Dari tatapan mata Risa seolah olah ia ingin mengatakan sesuatu yang sangat penging membuat Ratih iku deg deg an sendiri.
"Jodoh itu udah ada yang ngatur tih, kalau dia jodoh lo ya..lo bakalan jadi kok sama dia. Jadi, ngapain sih lo tibet banget kayak gini?" ucap Risa kemudian dengan satu tarikan nafasnya.
"Geomawo." ucap Ratih dengan senyum dibibirnya.
"Sama sama." hawab Risa yang ikut tersenyum.
"Heh!" bentak Ratih yang membuat Risa dengan refleksnya langsung melepaskan tangannya dari bahu Ratih dan terjengkang ke belakang.
"Jodoh itu emang nggak kemana mana, tapi saingamnya ada dimana mana. Pokoknya gue harus nyingkirin semua saingan gue." ucap Ratih dengan penuh emosi.
"Gila ya loh, lo bikin kaget gue aja tau." kesal Risa yang langsung menimpuk Ratih dengan bantal disampingnya.
Pukkk
"Ishh..." ringis Ratih.
"Gaya lo sok sok an mau apa tadi? nyingkirin orang orang yang deketin bujang lapuk itu? nyingkirin janda aja nggak becus loh." sinis Risa tepat sasaran.
"Heh...." bentak Ratih yang tak terima.
"Apa? apa? lo nggak terima gue ngomong kenyataannya?" tantang Risa.
"Gue belum kalah yah, Om Bayu itu cuma mau respect aja sama janda itu kan kasihan udah janda nggak ada yang merhatiin. Oh ya...satu lagi, apa lo bilang tadi? bujang lapuk? heh...anaconda Om Bayu itu bukan bujang lapuk tau. Toh umurnya aja masih sekitar berapaan yah?" pikir Ratih menjeda ucapannya.
"Kalau dilihat lihat tuaan dia dari pada Pak Rio, Pak Rio aja masih 27 tahun udah nikah." sahut Risa membicarakan salah satu dosen dikampusnya.
__ADS_1
"Lah, itukan Pak Rio nya aja yang udah kebelet kawin, gue baru inget kalau umur Om Bayu itu baru sekitar 30 tahunan kok. Lagian yah, nggak ada yang tau juga kalau umurnya udah 30 an orang body nya aja. Euh....mantab boss."jawab Ratih penuh keyakinan sembari menerawang seakan akan membayangkan tubuh Om Tampannya tersebut.
"Budubusetttt." kaget Risa mendengar ucapan Ratih.
"Sadar tih, sadarrr woy!" Risa mengguncang guncang tubuh Ratih seakan akan ingin menyadarkannya.
"Lo ngebayaingin aneh aneh kan."
Plakk....Risa menampar Ratih, berharap agar gadis perawan tersebut segera sadar dari bayangan kotornya
"Auhhh." ringis Ratih sembari memegang pipi bekas tamparan Risa, sebenarnya tamparannya sama sekali tidak sakit. Namun Hanum terkejut karena tamparan itu tiba tiba menariknya untuk kembali kealam sadarnya.
"Brengsek loh." kesal Ratih menatap tajam Risa.
"Jujur deh tih sama gue, lo emang se suka se cinta itu apa sama Om Bayu?" tanya Risa dengan penih rasa penasaran akan jawaban yang akan keluar dari kulut temannya itu.
"Banget banget banget." jawab Ratih dengan wajah seriusnya.
"Dan berkat Om Bayu juga yang bikin gue dlsadar akan yang namanya benci sama cinta itu beda tipis ris." lanjut Ratih.
"Bisa aja hal yang paling lo benci saat ini, bakal jadi hal yang paling lo sukai suati hari nanti." ucap Ratih memberikan petuah.
"Setuju, gue bilang kalau gue bakalan buka bisnis yang bakalan melejit satu tahun kedepan." jawab Ratih sungguh sungguh.
"Apa? apa?" tanya Risa yang tampak penasaran.
"Rujak cingur, gue mau buka usaha rujak cingur." jawab Ratih penuh keyakinan, tiba tiba saja senyum yang tadinya melengkung indah dibibir Risa langsung pudar seketika.
"Lo gila ya?" tanya Risa dengan wajah tak percayanya.
"Kenapa?" tanya Ratih yang tak mengerti akan maksud dari pertanyaan Risa.
"Bisnis loh nggak masuk akal tau nggak." kata Risa kemudian.
"Emang kenapa sama bisnis gue? salah? eh...gue kasi tahu ya neng ya bisnis kuliner sekarang tuh lagi naik daun tau, bisnis fashion keluarga lo? hah...lewat." ucap Ratih penuh percaya diri.
"Sejak kapan lo suka sama rujak itu?" tanya Risa yang membuat kepercayaan diri Ratih luntur seketika.
"Gue emang nggaks suka, tapi gue udah terlanjur bilang itu sama Eomma." jawab Ratih dengan raut wajah sedihnya.
__ADS_1
"Dari awal aja rencana loh udah salah." balas Risa mengejek.
"Tapi kan ada lo ris." ucap Ratih yang langsung mendekati Risa.
"Maksud lo apaan?" tanya Risa dengan kening berkerut, seolah olah mencium bau bau tidak enak.
"Gue kan buka usahanya sama lo." jawab Ratih kemudian membuat Risa membelakkan matanya dengan mulut terbuka lebar.
"Mak gue juga udah setuju kok, kalau nanti nggak lancar ya cari yang lainnya aja kan gampang. Lagian lo juga tau kan kalau itu cuma akal akalan gue doang biar bisa ke Surabaya." jawab Ratih langsung membungkam mulut Risa yang hendak mengeluarkan aksi protesnya.
....
Beberapa hari kemudian selepas kejadian tersebut Risa dan Ratih memutuskan untuk pergi ke mall, mengurus segala sesuatu yang digunakan untuk kepindahan mereka membuat mereka ikut merasakan lelah. Lelah karena harus menjawab pertanyaan pertanyaan kepo dari teman temannya, maklum lah karena Risa dan Ratih orangnya terkenal ramah hingga memiliki banyak teman dekat namun tak sedekat Risa tentunya.
"Ris, gimana kalau sebelum loh pindah kita ngadain pesta perpisahan?" usul Mira sembari mencomot makanan ringan ditangannya.
"Ngapain? nggak penting tau nggak." jawab Ratih.
"Jangan gitu dong, ayolah sama anak anak juga." Sahut Gita ikut menimpali.
"Menurut gue nggak penting acara gituan." tolak Ratih dengan halus.
"Ya ellah tih tih, ayolah sekali kali kita nongki nongki di...taulah lo." balas Mira.
"Kemana?" tanya Ratih yang tampak penasaran.
"Heh temen temen, jangan racunin otak temen gue dong." sahut Risa yang tau maksud Mira.
"Pantes aja kalian nggak maju maju, orang temenannya sama orang kudet kayak gini." timpal Mira geleng geleng kepala.
"Kan lo juga temen gue!" sahut Ratih dengan senyum tengilnya.
Tosss...Ratih dan Risa ber tos ria sembari mengejek Mira.
"Oke, gue setuju. Tapi jangan pas malam pindahan kita, kita pergi besok gimana?" tawar Risa yang dijawabi dengan anggukan kepala oleh Mira dan Gita.
~Hidup terlalu singkat untuk memikirkan kemungkinan kemungkinan kecil. Nikmati apa yang kamu miliki hari ini, bukan yang kemungkinan kamu miliki dihari esok~
^Daud Antonius^
__ADS_1